
Masih Mina Pov...
Aku berjalan mengikuti langkah kaki Mr Adam yang cepat namun berwibawa. Pria yang sangat ingin aku hindari saat ini tengah mencengkram lenganku dengan kuat dan menyeretku dengan cepat menuju ruang makan milik pria itu yang selama ini belum pernah aku datangi, yaitu di Mansion tengah yang merupakan berada di gedung utama.
Pria itu duduk tepat di sampingku. Tidak ada senyuman di wajahnya. Hanya yang kulihat ia lah tatapan kerinduan. Tapi tidak mungkin kan pria itu merindukanku. Hah... rasanya dadaku begitu sesak. Harus duduk di samping pria itu. Pria yang sudah mengambil kehormatanku sebagai istri dari seseorang. Jika tidak takut dosa serta takut tidak bisa menjumpai keluargaku lagi, aku ingin menancapkan pisau daging ini di jatungnya agar pria itu langsung mati di tanganku.
Makan siang yang biasanya aku lalukan bersama teman sepekerjaanku Ellie kini harus bersama lelaki ba*****n yang tidak ingin aku temui lagi. Tiba tiba saja piringku di ambil oleh pria itu dan di ganti dengan piring miliknya yang dagingnya sudah di potong potong.
"Well... makanlah..." ucapnya sambil memotong lagi daging yang tadinya milikku.
Tidak ada perbincangan sama sekali masih sama seperti dulu. Sesekali ku lirik pria itu menggunakan ekor mataku. Pria yang sama sekali tidak berubah. Cukup aku akui, pria itu tampan. Tapi kelakuannya tidak tampan sama sekali.
Aku begitu muak melihat wajah itu. Makanan yang seharusnya masuk ke dalam mulutku pun tidak masuk sama sekali. Daging sapi panggang yang biasanya aku sukai pun, aku tidak berselera sama sekali.
"Apa kau tidak suka makanannya...???" ucap pria itu.
Aku tidak menjawab dan langsung memasukan setusuk daging ke dalam mulutku. Tiba tiba, mual menyerangku. Aku langsung berlari ke arah whastafel dan memuntahkannya.
"Sorry...." ucap pria itu di belakangku sambil menekan nekan tengkuk ku.
Aku diam dan tidak memberi respon apa pun. Setelah berkumur serta membasuh mukaku, aku berlalu kembali menuju kursi yang tadi aku duduki dan mendaratkan pantatku disana.
Ini lah yang paling aku benci selama kehamilan. Seandainya saja ada orang lain yang mengalami morning sicknes menggantikan diri ku, pasti aku akan sangat berterima kasih. Aku mengambil Jeruk dan langsung mengupasnya tanpa meminta izin aku langsung memasukannya ke dalam mulutku.
Aku tersenyum karena rasa mualku langsung hilang. Sementara pria itu menatapku dengan mata melotot. Seakan ia tidak mengizinkanku untuk memakannya. Aku pura pura tidak melihatnya dan langsung memasukan beberapa siungan jeruk itu kedalam mulutku sampai penuh. Niat awalnya, aku ingin membuat pria itu ilfeel padaku.
Wanita tua yang tadi sempat menemuiku, datang dan duduk di kursi seberang. Wanita itu tersenyum melihat tingkahku yang katanya lucu. Mr Adam hanya menghela nafasnya dan langsung menghampiriku. Menyingkirkan keranjang buah yang memang hanya terisi jeruk serta apel saja.
"Jangan memakan jeruk terlalu banyak Mina... nanti kau akan sakit perut dan menyakiti anakku...." ucap pria itu.
'Apa...!!! Anakku....!!!! Pria gila ini... Iya memang anak di dalam perut ini anakmu....' Batin ku kesal.
Aku mendengus kesal dan hendak berdiri, namun di tahan oleh pria itu untuk tetap duduk.
Aku begitu kesal dengan dirinya. Aku ingin sekali mencakarnya dan mencincangnya menjadi kecil kecil.
"Duduklah... Mom ingin berbicara padamu..." ucap pria itu.
Aku hanya diam dan duduk dengan tenang di kursi. Tapi ketenanganku tidak menyurutkan rasa benciku pada Mr Adam.
"Baiklah... kita mulai diskusinya..." ucap wanita tua itu.
"Aku tau, kau sedang mengandung anak dari perbuatan Adam, putraku... Lalu, apa yang kau inginkan... Kompensasi atau sebuah pernikahan resmi...???" tanya wanita tua itu.
Aku tidak habis pikir dengan ucapan wanita tua itu. Menikah... oh... tidak... Bukankah aku masih resmi istri seseorang... Aku juga tidak akan setuju tentang itu.
"Saya tidak mengharapkan apa pun...!!!" ucapku penuh percaya diri.
"Lalu..." ucap wanita tua itu.
Wanita itu hanya terperangah dengan jawabanku. Ia menggelengkan kepalanya dan langsung mengajak Mr Adam untuk masuk ke dalam ruangan tadi meninggalkanku sendirian di ruang makan.
Tapi, saat aku akan beranjak, Mr Adam menghampiriku dan langsung mencengkeram lenganku lagi. Menyeretku ke hadapan wanita tua tadi.
"Mom... aku akan tetap menikahinya...aku ingin anak itu terlahir dengan keluarga utuh...!!!" Mr Adam berseru.
"Nak... wanita itu bersuami... kenapa kamu tega memisahkannya....???" ucap wanita itu lagi.
"Mom... aku sudah memberikan kompensasi pada suaminya... dan pria itu bersedia menceraikan Mina... Maka dari itu, aku akan tetap menikahinya..." ucapan Mr Adam membuatku terbelalak sempurna.
Tubuhku lemas seketika. Aku tidak menyangka jika suamiku akan menceraikan aku tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya. Aku tidak menghianatinya. Aku hanya di perkosa, bukan atas keinginanku sendiri untuk menghianatinya. Air mataku meleleh di pipi.
Aku tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Tidak pernah terlintas di pikiranku akan berpisah dengan pria yang sangat aku cintai. Pria yang pernah aku perjuangkan. Berjuang mendapatkan restu dari orang tuanya.
Seketika hatiku hancur berkeping keping. Tapi tunggu, aku tidak percaya dengan mulut pria bajingan ini. "Mr... saya rasa anda telah berbohong pada saya..." ucap ku dengan penuh intimidasi.
"Aku tidak berbohong...!!!" ucap pria itu.
"Saya ingin bukti...!!!" ucap ku.
"Baiklah... bukti apa...???" tanya pria itu lagi.
"Saya ingin membuktikannya dengan melihat sendiri dan mendengar sendiri dari mulut suami saya..!!!" ucap ku dengan nada tinggi.
"Saya ingin kembali ke Indonesia Mr...!!!" ucapku dengan nada tinggi.
"Untuk saat ini aku tidak akan mengijinkan Mina... kehamilanmu sangat rentan karena trimester awal... aku takut terjadi apa apa padamu juga pada anak kita....!!!" ucap Mr Adam penuh kawatir.
"Halah... itu hanya alasan anda saja Mr... saya tau, anda pasti berbohong, buktinya anda berbelit belit dan tidak mengijinkan saya pulang ke Indonesia... Dugaan saya benar kan...???" ucapku penuh dengan emosi.
"Aku... tidak berbohong...!!!" ucap Mr Adam mulai tersulut emosi.
"Kalau begitu, mana buktinya...????" seruku penuh emosi.
Pria itu hanya diam membisu. Sementara itu, wanita yang katanya ibu dari Mr Adam hanya menatap kami dengan tatapan heran serta tersenyum. Entah apa yang membuatnya tersenyum lebar.
"Baiklah... kita ke Indonesia... aku akan buktikan jika aku tidak berbohong padamu...!!!" ucap pria itu dan langsung meninggalkan aku serta wanita tua yang katanya ibu nya itu di ruang makan.
Aku menghela nafasku panjang. Tidak pernah aku mencari masalah dengan orang lain. Entah itu siapa pun. Aku ingin hidup dengan tenang tanpa masalah. Tapi hidup di dekat pria itu, pasti ada saja yang perlu di perdebatkan sejak insiden pemerkosaan itu.
"Hah..." aku menghela nafasku dengan kasar.
Sebuah tangan mengusap usap punggungku dengan lembut. "Jangan pikirkan masalah yang terlalu berat, kasihan janinmu...!!!" ucap nya dan berlalu menyusul Mr Adam.
Mina Pov end...