
Mina membaca map yang di berikan oleh sang suami. Berisikan surat keputusan hak asuh putra putrinya dari pengadilan agama kota kelahirannya itu. Mina begitu bahagia, pasalnya selain ia bisa berkumpul dengan anak anaknya, ia menyadari jika suami bulenya itu, saat ini mau menerima mereka sebagai bagian dari hidup pria itu.
Rasa syukur tidak pernah terhenti dari dalam lubuk hati Mina. Ia tau, jika ini merupakan hadiah dari kesabarannya dahulu. Ia tidak pernah berpikir untuk membawa putra putrinya kemari. Selain ia tidak punya wewenang akan apapun disini, ia juga tidak punya cukup biaya untuk membawa mereka kemari. Meskipun ia menggenggam sebuah Platinum Card pemberian suaminya, tapi ia tidak berani menggunakannya untuk masalah pribadi.
Ia hanya mampu meminta izin untuk mengirimi mereka 200 Dollar saja untuk kebutuhan putra putrinya setiap bulannya. Selebihnya, ia tidak menggunakan kartu itu untuk hal lain. Ia cukup tau diri siapa dirinya. Selain itu, ia sudah terbiasa hidup hemat ketika hidup dengan Mas Jono dulu sehingga ia tidak pernah neko neko.
Makanan yang ia konsumsi pun lebih dari kata mewah untuk dirinya. Ia tidak pernah sekalipun memilih makanan disini. Ya... Selain daging ba*i tentunya. Ia begitu bersyukur dengan rahmat Allah yang maha esa yang telah memberikan kehidupan nyaman.
Mina menitikan air matanya.
"Hey... Sayang... kenapa kau menangis...? Hmm... ?" tanya Adam pada Mina dan langsung menarik tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Di usapnya kepala Mina pelan sambil sesekali menciuminya dengan lembut.
"Jangan menangis di hari bahagia ini. Aku akan merasa bersalah karena telah merusak kebahagiaan keluargamu sayang. Aku tau jika apa yang aku lakukan ini tidak sepadan dan itu semua tidak bisa menghapus kesalahan yang aku lakukan padamu. Tapi, ijinkan aku untuk membahagiakan kamu serta mereka. Seandainya saja istri dari mantan suamimu itu menyayangi mereka dengan tulus, aku hanya cukup mengiriminya uang untuk tunjangan pendidikan mereka. Tapi, wanita itu tidak menyayangi mereka sama sekali. Jadi, aku mengambil mereka melalui jalur hukum. Maafkan aku karena tidak memberi tahukanmu sebelumnya..." ucap Adam dengan masih tetap memeluk Mina erat.
Mina menggelengkan kepalanya. Wajahnya menengadah menatap wajah sang suami dengan mata terus berkaca kaca.
"Jangan bicara begitu Bie ... Aku selalu diam tidak memberi tahukanmu untuk mengambil mereka, karena aku pikir, mereka bahagia tanpa aku di sisi mereka. Tapi kenyataannya,...." suara Mina tercekat karena ia tak mampu berkata kata lagi. Ia tidak menyangka jika Salimah tidak mau menerima putra putrinya meskipun dulu mereka bersahabat.
"Jangan menangis lagi ya sayang... Mereka sudah berada di sini bersama kita... Besok, ajaklah mereka jalan jalan ke Mall untuk membeli segala kebutuhan mereka di sini. Dan satu lagi, kenapa kamu tidak pernah menggunakan Platinum Card yang aku berikan padamu selain mengirimi uang putra putrimu di Indonesia setiap bulannya. Kau tau sayang,aku bahkan mengirimi uang untuk putra putrimu lebih banyak dari yang kau berikan setiap bulannya. Kau begitu pelit pada dirimu sendiri... Kenapa...? Hmm...?" tanya Adam sambil mencubit pipi cuby Mina dengan gemas.
Mina yang tidak terima jika dikatai pelit pada dirinya langsung memanyunkan bibirnya.
"Aku bukannya pelit pada diriku sendiri Bie... Tapi, aku itu sudah terbiasa hidup hemat. Jadi, jangan salahkan aku yang seperti ini... Ah... iya, dengan aku bisa hemat, kau bisa jadi tambah kaya kan Bie...???" ucap Mina dengan polosnya membuat Adam gemas dan langsung mengecupi wajah Mina tanpa henti.
Mina begitu menggemaskan dan membuat Adam sangat ingin memakannya saat ini. Tapi, Adam urungkan karena tau jika sang istri kelelahan setelah acara syukuran tadi.
"Kau tidak berhematpun, aku tetap kaya sayang... jadi, jangan terlalu pelit pada dirimu sendiri..." ucap Adam sambil tersenyum.
"Ayo kita tidur... kau harus istirahat..." ajak Adam sambil menuntun Mina ke ranjang mereka.
'Mina, aku kira kau akan membenciku... terima kasih karena kau tidak membenciku... aku menyayangimu selalu...' batin Adam dan langsung memejamkan matanya karena kelelahan.
...
Allan tengah berada di sebuah Club Malam yang ada di Ottawa. Ia begitu frustrasi saat ini. Setelah penantian panjangnya serta kesuksesannya dalam mencari pundi pundi uang menggantikan sang ayah di perusahaan besar keluarganya. Tetap saja sang pujaan hati yang telah ia rusak dulu, tetap tidak mau berpaling padanya. Allan mengira jika Jane mengejar Adam kakaknya, karena sang kakak orang yang kaya dan kompeten. Maka dari itu, Allan berusaha mengungguli sang kakak dengan sebaik baiknya meskipun itu bukan lah bidang yang ia tekuni dari awal. Itu semata mata untuk menarik simpati dari sang pujaan hati.
Setelah mengetahui kebenaran tentang dirinyalah di malam itu, Jane sama sekali tidak mau menerima pertanggung jawabannya. Allan meneguk whisky langsung dari botolnya. Rasa panas di tenggorokan nya tidak seperti panas di hatinya. Ia ingin sekali tenggelam atau apapun agar dapat melupakan peristiwa memalukan yang terjadi hari ini. Penolakan mutlak dari sang pujaan hati.
Allan ambruk di sana sambil menyebut nama Jane berulang kali. Asisten pribadi sekaligus sekretaris Allan menghampirinya dan membawa Allan kembali ke kediaman pria itu. Asistennya itu tau dengan jelas jika Allan saat ini tengah patah hati untuk yang ke 2 kalinya. Ia sangat ingat hari itu, hari dimana mereka bertemu dan menjadi sahabat hingga kini.
Dorian Javier Zoulas pria berkebangsaan Yunani yang menjadi tangan kanan serta kepercayaan Allan. Semenjak ia dan Allan pernah berada di sebuah kapal pesiar yang sama ketika berlibur, namun kapal itu di bajak oleh segerombolan bajak laut.
Demi menyelamatkan diri, Allan dan Dorian memotong sekoci untuk melarikan diri di tengah samudra Atlantik. Mereka berkelana berdua di tengah samudra selama berhari hari. Sampai di tolong oleh nelayan. Dua pria yang sama sama patah hati bertemu di kapal dan menjadi sahabat sampai saat ini.
Mereka kehilangan paspor dan kartu identitas. Namun Allan tidak kehabisan akal. Meskipun di tengah tengah sebuah pulau yang jarang orang memiliki internet, ia tetap berusaha menghubungi keluarganya di Canada.
Selama hampir 4 bulan Allan dan Dorian hidup di pulau dan tinggal di rumah orang yang telah menyelamatkan mereka. Dorian jatuh cinta pada putri dari penyelamatnya itu dan menikahinya dan tinggal di pulau itu bersama istrinya sebagai nelayan.
Allan kembali ke Canada saat Allan mengira ia sudah bisa Move on dari Jane. Kembali dan berencana pergi ke Afghanistan untuk menjadi dokter relawan di sana. Namun, pada saat itu, sang kakak memutuskan untuk pergi dari negaranya untuk menenangkan diri setelah kematian Sarah istrinya tanpa batas waktu yang jelas. Dan semua urusan perusahaan yang di pikul sang kakak di serahkan ke pundaknya.
Allan tau jika sang kakak tidak jadi menikahi Jane. Karena wanita itu telah menjebak istrinya. Allan dulu mengira jika Jane mencintai Adam dengan tulus makanya ia tidak ingin merusak kebahagiaan gadis itu. Membiarkan Jane mengejar cintanya meskipun ia sakit hati dan tentu saja menyakiti kakak iparnya. Dan ia mengira jika Jane merusak kebahagiaan sahabatnya bukan untuk meminta pertanggung jawaban pada sang kakak yang tidak pernah dilakukannya.
Allan menyesal karena telah menjadi pria pecundang hingga saat ini. Allan meminta Dorian untuk pergi menemuinya di Canada. Ia meminta pria itu untuk membantu mengurusi perusahaan serta menjalankan bisnis itu bersama sebagai orang kepercayaan. Dorian memboyong istri serta mertuanya ke Canada.
Dengan kejadian itu, Allan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Dan membawa Johanson Corp /JHS Corp menjadi pelopor alat medis terkemuka di dunia.
Namun, hari ini, Allan kembali ke masa di mana ia patah hati. Dorian hanya menghela nafasnya pelan dan membaringkan tubuh atasannya itu di atas ranjang dan menyelimutinya.