My Maid And I

My Maid And I
Part 52. My Maid and I.



Pagi hari menjelang, meskipun matahari belum berpendar menampakan sinarnya, Mina memang harus melakukan aktifitasnya sehari hari di sini dengan baik. Mina yang semalam suntuk tidak tidur karena menangis, saat ini begitu terkejut dengan mata dan wajahnya yang begitu bengkak.


Sebelum keluar dari kamarnya, ia telah mandi dan berganti pakaian. Sesampainya di dapur, ia mengambil es batu dan kain bersih untuk mengompres pelan pelan matanya yang membengkak. Tidak lupa pula, ia mencuci kain lap yang tadi malam ia rendam di panci yang ia letakan di kichen sink itu. Kain yang ia gunakan untuk mengelap minyak goreng yang tidak sengaja ia tumpahkan dan membasahi baju serta perutnya, yang mengakibatkan dirinya harus mandi lagi. Minyak goreng bekas untuk menggoreng ayam kemarin yang seharusnya ia buang tapi ia lupa.


Masih berkutat dengan pekerjaannya, Mina mendapati sang tuan telah rapi menggunakan pakaian kantornya. Mina terheran, ia menatap jam di dinding baru saja menunjukan pukul 06:30 am. Tentu saja ia belum memasak makakanan untuk sarapan sang tuan.


Dengan mata yang masih sedikit bengkak, Mina menghampiri sang tuan yang tengah duduk di sofa ruang tv, pria itu sedang memakai kaos kakinya.


"Anda sudah bersiap untuk ke kantor Mr...? Lalu, anda ingin sarapan apa saya masakan dulu...???" tanya Mina sambil berdiri di samping sang tuan.


"Tidak perlu... aku akan sarapan di kantor...!!!" jawabnya dingin.


"Oh... Ya sudah...!!!" jawab Mina dengan memanyunkan bibirnya dan berlalu kembali berkutat dengan pekerjaannya.


Adam menengok ke arah maidnya saat ini. Wanita itu sedang membersihkan ceiling fan yang ada di atas ruang tamu dengan menaiki tangga. Adam menatap mata Mina yang masih bengkak serta menghitam seperti mata panda itu.


Adam berjalan menuju pintu keluar apartemennya dengan melewati Mina begitu saja tanpa basa basi dan berlalu keluar serta menutup pintu itu dengan sangat keras. Mina tersentak kaget dengan apa yang ia dengar dan tiba tiba saja tubuhnya oleng, tangga yang ia naiki bergerak tidak seimbang. Mina berusaha untuk menyeimbangkan tubuhnya kembali, namun nihil.


Seakan hilang kesadaran, ia menutup matanya karena merasa bahwa tubuhnya melayang dan...


BRAKKK....


Tubuhnya terpental jatuh. Namun, ada sesuatu yang aneh. Tubuhnya tidak merasakan dinginya lantai ataupun empuknya sofa. Yang ia rasakan adalah kehangatan tubuh serta hembusan nafas seseorang di wajahnya. Mina membuka matanya, tatapan matanya bertemu dengan mata grey milik sang tuan. Mina terpana melihat mata nan teduh itu.


"Bisakah kau bangun dari atas tubuhku Mina...??" suara bariton tuannya menyadarkan Mina dari lamunannya yang seakan tenggelam ke dalam, dalamnya mata sang tuan.


"Ah... maaf... maaf Mr... saya tidak sengaja dan terim-" kata kata Mina terputus saat itu, ketika dengan cepat tangan sang tuan meraih tengkuknya dan mencium Mina sekilas.


"Itu hukuman untukmu karena lagi lagi kau jatuh ke pelukanku.... meskipun kau menolaknya..." ucap Adam sambil tersenyum.


Mina segera bangkit dari atas tubuh sang tuan yang berbaring terlentang di atas lantai dengan perasaan malu. Mina segera mengambil tangga dan juga lap yang tadi ia gunakan. Sesaat Adam melupakan kemarahannya pada sang maid dan juga melupakan bahwa ia kembali untuk mengambil ponselnya yang tertinggal di nakas kamar tidurnya.


Adam menatap Mina dengan intens. Sesaat ia teringat bahwa ia baru saja mengecup bibir wanita itu sekilas. Adam tersenyum mengingatnya. Mina tengah berjongkok mengambil lapnya yang tadi sempat terjatuh.


Tanpa ia sadari, kaos yang ia kenakan tersingkap ke bawah dan memperlihatkan buah dadanya yang tengah di topang menggunakan bra berwarna coklat keunguan itu tepat di hadapan sang tuan yang tengah berdiri menatapnya.


Adam yang melihatnya hanya menelan ludahnya kasar dan memalingkan pandangannya ke arah lain. Agar ia tidak lagi melihat pemandangan itu . Pemandangan yang bisa membuat sesuatu dalam dirinya bangkit. Seandainya saja wanita itu adalah miliknya, ia akan langsung melahapnya saat ini juga.


Adam merasa frustrasi, sesuatu yang telah terbangun, sangat sulit untuk di tidurkan kembali. Terpaksa, ia kembali ke kamar sambil menutup pintu dengan keras dan mandi lagi menggunakan air dingin.


Mina yang mendengar pintu tertutup keras, mengira sang tuan telah pergi ke kantor. Ia bergegas menyelesaikan kegiatan bebersihnya di ruangan itu untuk segera membersihkan kamar sang tuan.


Sesaat, ia masuk ke dalam kamar sang tuan tentu saja untuk membersihkan ruangan itu dan memunguti pakaian kotor milik tuannya itu. Tapi, ia merasa heran. Pakaian pakaian yang tadi di gunakan sang tuan berserakan di atas lantai. 'Ah... mungkin Mr Adam tadi kembali sengaja ganti baju...' batin Mina hanya berpikir positif dan mulai memunguti pakaian itu dan meletakannya di keranjang pakaian kotor.


Sesaat Mina tertegun dengan suara dari kamar mandi. Terdengar suara gemercik air dari dalam kamar mandi. Mina penasaran, apa sang tuan lupa mematikan showernya. Pintu kamar mandi tidak tertutup rapat dan menyisakan celah.


Mina yang penasaran, langsung membuka kamar mandi milik tuannya itu. Matanya terbelalak sempurna saat melihat tubuh polos tuannya di bawah guyuran air dan tangan pria tengah memegang sesuatu yang sangat besar sambil memainkannya. Pria itu tidak melihat Mina yang sedang berdiri di tengah pintu, karena terhalang bathtub dan juga kaca transparan kamar mandi itu.


Mina gemetar tak karuan. Malu, takut dan juga syok di saat bersamaan. Ia memalingkan wajahnya dan hendak berlalu keluar tapi langkahnya terhenti saat ia mendengar suara sang tuan memekik tertahan memanggil namanya.


"AH.... MINA.... OH... MINAAAA..... OHHHH.....!!!"


Mina menutup telinganya dan langsung berlari keluar dari kamar sang tuan dengan perasaan yang tidak karu karuan. Wajahnya memerah dan malu. Ia menggelengkan kepalanya sambil keluar tanpa melihat ke depan. Mina berlari ke kamarnya dan tidak mengetahui kalau Mr Stanly asisten tuannya itu sedang duduk di ruang tengah sambil memainkan ponselnya.


Stanly hanya menatap bingung pada Mina yang tiba tiba keluar dari kamar sang Boss sambil berlari. Ia mengangkat bahunya tanda bingung namun penasaran. 'Kenapa Si Boss lama sekali... katanya berangkat pagi...' batinya mulai kesal.


Sementara itu, Mina tengah membenamkan kepalanya di bantal sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. Mina tidak mempercayai apa yang baru saja ia lihat. Ia berusaha untuk menepisnya dan membuang jauh jauh apa yang baru saja ia lihat.


'Hah... kumohon pergilah pikiran kotor...' pekik Mina dalam hati.