My Maid And I

My Maid And I
Part 64. My Maid and I.



Mina membuka matanya perlahan. Yang ia lihat saat ini adalah warna putih dan cahaya terang entah cahaya apa. Bau cairan alkohol serta bau obat yang menyengat menembus indra penciuman Mina. Matanya menatap sekeliling dan ia mendapati dirinya terbaring di sebuah ranjang rumah sakit.


Mina mengerang karena mendapati tangannya nyeri saat ingin duduk. Ia menatap selang infus yang terpasang di pergelangan tangan kirinya dengan mengerutkan kening. Kepalanya juga masih sedikit pusing. Perutnya merasa lapar, namun di meja makan hanya ada buah buahan yang masih terbungkus plastik.


Mina mencoba duduk dengan perlahan dan menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terguncang. Ia menatap pakaian rumah sakit yang saat ini ia kenakan dan bingung karena pakaian yang ia pakai bukanlah pakaian biasa.


Ia masih dengan cermat menatapi pakaian yang ia kenakan saat ini. Berlogo rumah sakit di Sydney. Mina masih memikirkan di mana letak kota Sydney ini. Ia mengingat ingat dengan pelan pelajaran IPS geografi di sekolahnya dulu. Meskipun hanya lulusan SMP, ia cukup pintar di urusan pelajaran.


Mina tidak percaya dengan yang ia ingat. 'Bukankah Sydney itu di Australia...!!! 😲😲😲 Jangan bilang saat ini aku berada di negara bagian dari benua Australia ini...!!!' batin Mina syok berat.


Mina tiba tiba saja mendengar langkah seseorang datang dan membuka pintu kamar itu, dengan cepat Mina langsung merebahkan tubuhnya dan pura pura masih terpejam. Sesaat kemudian, ia merasakan bahwa orang itu datang menghampirinya dan telapak tangannya di genggam dengan erat.


Mina berusaha menajamkan indra pendengarannya saat suara serak seorang pria bergumam sesuatu.


"Mina... cepatlah... sadar... aku ingin kau memaafkanku... aku takut kehilanganmu..." gumam pria itu. Mina tau, suara siapa itu. Sesaat ia lupa dengan kejadian yang menimpanya. Tanpa terasa air matanya mulai menetes dan membasahi pelipisnya.


"Mina... Mina... kau sudah bangun...???" ucap suara berat dan serak itu. Air matanya semakin banyak dan isakannya mulai datang ketika ia benar benar mendengar suara pria itu di dekatnya dan dengan jelas suara pria itu ialah tuannya yang memperkosa dirinya sampai pingsan.


Mina menarik tangannya dari genggaman tangan pria itu, namun genggaman itu sangatlah kuat dan sulit untuk di lepaskan. Mina membuka matanya dengan pelan dan menatap mata pria itu dengan penuh rasa sakit dan kecewa di wajahnya. Matanya mulai berkaca kaca lagi, saat Mina menatap wajah pria di depannya itu dengan seksama.


Pria yang telah memperkosanya dengan kejam, kini duduk di dekatnya dan hanya berdua saja dalam ruangan ini. Seketika Mina ketakutan dan berteriak minta tolong sambil menangis histeris.


Seorang Dokter dan juga dua orang perawat datang setelah mendengar suara bell Emergenci yang memang di tekan oleh Adam. Setelah mendapatkan suntikan obat penenang dari sang Dokter, Mina kembali tertidur dengan lemas di pelukan Adam.


Setelah membaringkan tubuh wanita yang ia cintai, Adam menghampiri sang Dokter untuk berkonsultasi, bagaimana keadaan kondisi psikis kedepannya wanita itu. Sang Dokter memintanya untuk mebahas masalah itu di ruangannya yang memang adalah tempat pribadi Dokter itu.


"Untuk saat ini, mungkin anda harus menghindarinya dahulu, agar wanita itu terbiasa dengan kesehariannya serta sembuh dari traumanya. Jika anda nekat mendekati wanita itu terus, besar kemungkinan ia tidak akan sembuh dari depresinya" penjelasan dari sang Dokter.


"Baiklah... saya mengerti..." ucap Adam sambil mengangguk pelan.



Pria yang selalu tampil perfeck saat ini tidak memikirkan hal itu lagi. Adam berhenti di pagar rumah sakit dan menatap keadaan sekitar. Ia menghela nafasnya kasar saat pikirannya mulai tertuju pada Mina serta pekerjaanya yang mulai terbengkalai.


Saat ini bukan hanya Mina, tapi dirinya juga seperti ikut depresi. Seumur umur, dirinya tidak pernah seperti ini. Mata Adam memancarkan kesedihan mendalam. Ia mengusap wajahnya kasar dan pergi keluar dari rumah sakit itu untuk menenangkan dirinya.


☆


☆


☆


Sementara itu, Allan tidak pernah menyangka jika orang yang telah di perkosa sang kakak adalah seorang pelayan. Setelah mendapatkan informasi dari orang suruhannya, Allan membaca dengan detail biodata wanita itu.


Wanita itu menjadi pelayan sang kakak hampir 2 tahun. Itu membuktikan bahwa mungkin wanita itu tau jika sang kakak adalah orang yang sangat kaya. Ia mencoba menggoda sang kakak ketika sedang mabuk dan seolah olah dirinya di perkosa. Allan memiliki asumsi seperti itu, jika mungkin wanita itu akan menuntutnya kelak, ia sudah mempunyai senjata untuk melawan seorang wanita yang hanyalah pelayan.


Allan menyimpan map itu ke dalam tas nya. Sesaat kemudian, ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan dari sang kakak, yang mengatakan bahwa jika dirinya kembali ke kanada, ia diminta untuk membawa serta wanita itu dan di tempatkan di mansion yang ia bangun untuk mendiang Sarah. Sementara sang kakak akan kembali ke Singapura untuk mengurus bisnisnya.


Allan tidak habis pikir dengan sikap kakaknya saat ini. Tapi, ia cukup memahami jika kakaknya itu tengah merasa bersalah dengan semua yang di lakukannya, dan merasa harus bertanggung jawab dengan apa yang dilakukannya.


Sebulan telah berlalu sejak insiden pemerkosaan terhadap Mina yang di lakukan oleh Adam. Sebulan pula, Adam hanya menatap Mina dari layar ponsel yang terhubung dengan Mansion miliknya di Kanada. Adam tersenyum ringan di bibirnya. Kondisi wanita itu mulai membaik. Wanita itu mulai menjalankan aktifitasnya seperti biasa. Sesekali ia ceck up ke rumah sakit dan mengunjungi psikiater untuk memantau perkembangan kejiwaannya yang sempat depresi.


Mina di biarkan melakukan pekerjaannya dengan sesuka hati di Mansion miliknya. Tapi hanya ruangan khusus yang teruntuk dirinya saja.


Allan sesekali datang dengan berperan menjadi majikan Mina yang baru tentu itu atas usul dari kakak tercintanya. Perlahan lahan, ia memahami kenapa sang kakak menyukai dan mencintai wanita itu. Allan tersenyum melihat wanita itu. Wanita yang sederhana dan cantik natural apa adanya.