
Acara sarapan sudah selesai. Sang tuan beserta asistennya telah berangkat ke kantor. Mina yang telah membersihkan semua piring dan gelas bekas sarapan mereka tadi, bergegas memasuki kamar tidur sang tuan untuk mengganti seprei kotor milik tuannya itu dengan seprei yang bersih.
Sejam sudah ia telah berkutat membersihkan kamar tidur serta kamar mandi tuannya itu. Setekah menutup kembali pintu kamar milik sang tuan, ia membawa peralatan kebersihan serta seprei kotor ke tempat cuci. Mina istirahat sejenak. Mendaratkan pantatnya di kursi ruang makan. Perasaannya kini benar benar tidak enak. Seakan sesuatu sedang terjadi dengan salah satu keluarganya entah itu anak / suami / orang tuanya.
Mina mengambil ponsel nya yang biasa ia letakan di meja makan ketika ia berkutat dengan pekerjaannya. Mencari nomor kontak suaminya dan langsung menekan dial.
Setelah tersambung, terdengar suara keramaian disana. Namun sang suami tidak berbicara apa apa.
"Hallo... Asalamuallaikum Mas..." kata Mina, tapi belum ada jawaban dari sana.
"Hallo... Mass..." sambungnya lagi.
Namun tetap belum ada jawaban.
"Hallo... hallo... Mass...." Mina semakin panik.
Air matanya mulai menetes, entahlah ia begitu takut. Setelah beberapa menit, akhirnya ada jawaban dari sang suami.
"Hallo... asalamuallaikum dek... kamu lagi apa...??" tanya sang suami.
"Wa allaikum sallam ... mas..." jawab Mina terisak.
"Lo... kok nangis dek. ada apa...???" tanya sang suami lagi.
"Kamu yang kenapa mas... kenapa sendari tadi kamu nggak jawab meski sudah tersambung. Terus, itu tadi suara apa rame rame banget...? Bikin aku kawatir tau nggak...!!!" kata Mina dengan nada tinggi.
"Ah... iya ...dek... aku minta maaf, tadi itu ada orang ketahuan mencuri, entah itu tadi orang mana, terus tadi Dwi anak kita disekap sama orang itu. Terus aku dan yang lain, berusaha untuk membujuk agar dia mau melepaskan Dwi. Akhirnya, pas dia lengah, ia di ringkus dengan cepat. Tapi Dwi, pingsan dan syok. Maka dari itu, aku tidak menjawab salam kamu..." kata sang suami panjang lebar.
"Terus, gimana keadaan Dwi... Mas... apa ia baik baik saja dan sudah sadar...???" tanya Mina panik bercampur kawatir.
"Ya ... Alhamdulillah dek... dia udah sadar... hanya saja, masih syok..." kata sang suami menenangkan.
"Aku mau bicara dengannya mas..." Mina memohon.
"Iya... dek bentar.. ya..." kata sang suami pelan.
"Mas... aku pindah ke Vcall aja...aku mau sekalian lihat wajahnya... aku juga kangen banget sama dia...." kata Mina.
"Ya ... udah dek... kamu ganti gih... aku tunggu..." ucap sang suami.
Mina bergegas mengganti via Vicall. Setelah tersambung, ia menatap sang putri bungsunya dengan tatapan sendunya. air matanya tidak dapat terbendung lagi. Tumpah ruah di sertai isakan. Putrinya saat ini tengah tertidur, setelah beberapa waktu yang lalu, ia histeris dan ketakutan.
"Mas... Eko dimana...?" ucap Mina menanyakan putra sulungnya.
"Masih di pesantren dek... dia belum di izinkan pulang sama pengasuhnya disana... kenapa kamu juga kangen sama putra sulung kita...?" tanya sang suami.
"Tentu saja mas... ibu mana yang tidak merindukan anaknya..." jawab Mina pelan.
"Besok kalau pas Eko lagi cuti, aku usahain telpon kamu ya dek..." kata sang suami.
"Iya... mas... aku harap bisa cepat melihat dia..." kata Mina.
"Ibu sama bapak lagi ke sawah mas...?" tanya Mina lagi.
"Iya... dek... ibu sama bapak kamu sudah berangkat ke sawah... sedang ibuku, sudah ikut suaminya ke desa tetangga..." jawab sang suami.
"Terus, siapa yang nempatin rumah ibu kamu mas...?" tanya Mina penasaran.
"Untuk sementara kosong dek... nanti kalau adik perempuanku kembali, paling dia yang nempatin...." jawab sang suami lagi.
"Bukannya adik perempuanmu itu ikut suaminya dikota mas...?" tanya Mina.
"Oh... gitu ya mas..."
"Oh... iya... dek, majikan kamu udah pulang kan, kok masih sepi aja...?" tanya sang suami.
"Dia sudah berangkat ke kantor... mas..." jawab Mina.
"Dia masih suka marahin kamu...?" tanya sang suami lagi.
"Enggak kok... mas... udah jarang marahnya., kan aku udah pinter masak disini... jadi, dia udah jarang komplen lagi kok..." jawab Mina.
"Ya... syukur dek... kalau udah gak suka marah..." kata sang suami lega.
Setengah jam berlalu, Mina pamit untuk menutup pembicaraan mereka. Ia harus kembali beraktifitas mencuci pakaian kotor serta seprei sang tuan. Setelah mengucapkan salam, ia menutup teleponnya dan meletakan kembali ponselnya di atas meja.
-----
Sementara itu, Adam juga meletakan ponselnya dan melepas earpone yang ia gunakan. Setelah itu, ia memanggil sekretarisnya untuk masuk.
Seorang wanita cantik keturunan tiong hoa baru saja masuk ke ruangan Adam, dengan membawa map yang di minta pria itu. Iya, dia adalah sekretaris Adam di kantor. Wanita bertubuh langsing tinggi cantik berkulit putih dan juga berambut panjang. Wanita itu bernama Alice Lim.
Di belakangnya juga hadir seorang pria yang tak tak lain adalah asisten Stanly. Tak lupa pula pria itu juga membawa tumpukan map yang 2 bulan terakhir ia tangani. Hanya Stanly yang di izinkan untuk menemaninya di ruangan kususnya itu.
Setelah Adam menerima map tersebut , ia menyuruh Alice sang sekretaris untuk kembali ke ruangannya dan ia mulai membuka map map itu kemudian mempelajari 1 per 1 isi dari map itu. Sampai ia lupa istirahat makan siang karena saking banyaknya pekerjaan di kantornya itu.
Sang asisten juga tidak mempersoalkan Boss nya yang sangat teliti mempelajari isi map tersebut. Karena sejatinya, ia selalu jujur melakukan pekerjaanya dan mengabdi pada sang Boss...
"Istirahatlah... Stan...!" perintah Adam.
Stanly menatap sang Boss kemudian menggeleng."Saya akan istirahat jika anda juga demikian Boss..." kata sang asisten.
"Wajahmu pucat Stan... kurasa semalam kau terlalu bersemangat dan cukup menguras tenaga dengan salah satu kekasihmu... istirahatlah, dan ambilkan aku makan siangku di rumah... aku sudah meminta Mina memasakan makan siangku..." kata Adam sarat perintah.
"Baiklah... Boss... jika anda memaksa..." jawab Stanly kemudian ia beranjak dari sofa yang sedari tadi ia duduki.
Seperginya Stanly, Adam kembali memutar ulang percakapan Mina dan sang suami, ia menangkap kata kata pembantunya itu begitu merindukan putranya. Yang tengah menempuh pendidikan di sekolah khusus di kampung halamannya.
Begitu juga dirinya, saat ini ia juga merindukan putra yang seharusnya hadir di hidupnya dulu.
Flash back...
Waktu itu, Sarah tengah hamil besar, hamil 7 bulan anaknya. Ketika wanita yang begitu ia cintai itu, kembali ke kehidupannya lagi. Seakan ia tidak akan pernah pergi untuk selamanya.
Sebulan setelah kembalinya Sarah dalam hidupnya, wanita itu kontraksi setelah terjatuh dari tangga. Anak yang seharusnya lahir 1 bulan lagi, harus terlahir cepat dari prediksi dokter anaknya terlahir prematur dan harus di rawat di inkubator selama 2 bulan di rumah sakit. Ia berharap semuanya baik baik saja.
Tapi, Tuhan berkata lain. Putranya itu, harus menghembuskan nafas terakhirnya karena kelainan jantung yang memang sudah ia bawa dari kandungan.
Kepergian putranya yang ia beri nama Jhonatan itu telah menjadi pukulan terbesar dalam hidup Sarah, istrinya. Berhari hari ia tidak mau makan dan menangisi kepergian putranya tanpa henti. Bahkan sampai menangis histeris setiap harinya dan membuat Adam bingung menghadapi Sarah sang istri.
6 bulan setelah kepergian sang putra, Sarah mulai melupakan dan merelakan anaknya itu dengan iklas. Namun, lagi lagi dia harus di hadapkan dengan kenyataan pahit. Dirinya divonis terkena kanker darah yang sudah mulai menggerogoti tubuhnya.
Berbulan bulan ia berada di rumah sakit melakukan berbagai cara agar ia bisa sembuh dan sehat seperti sedia kala. Pengobatan bahkan kemo telah ia jalani sampai ia bosan. Namun ia tidak putus asa, karena tentunya Adam selalu berada di sisinya.
Adam senantiasa mendampingi Sarah tanpa lelah. Bahkan membawa tugas tugasnya dari kantor ke rumah sakit agar selalu berada di sisi istrinya. Tapi, lagi lagi Tuhan berkehendak lain membawa orang yang ia cintai di dunia ini untuk pergi selamanya.
Tanpa terasa, ia meneteskan air matanya dan kesadarannya kembali dari kenangan masa lalu.
Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke toilet ruang kerjanya itu untuk membasuh mukanya.
'Sayangku... aku harap, kalian selalu bahagia di surga...'