My Maid And I

My Maid And I
s2. moo part l5 ... 21+



Ada adegan di atas 21 + harap bijak memilih bacaan, skip jika tidak berkenan.


"Malam itu, aku dan Kak Adam pulang dari pertemuan rutin yang di selenggarakan oleh perusahaan milik keluarga" Allan memulai.


" Karena mobil yang aku kendarai mogok kehabisan bahan bakar, aku memutuskan ikut menumpang di mobil milik Kak Adam. Kak Adam menghubungi Sarah istrinya dalam perjalanan pulang dan terkejut saat mengetahui istrinya berada di sebuah Club malam yang tengah menemani sahabatnya yang saat itu dalam keadaan patah hati. Sahabatnya yang tak lain ialah dirimu. Karena penasaran aku ikut dengannya. Sesampainya di sana, aku tidak mengira jika aku akan bertemu denganmu". ucap Allan sambil menatap Jane dengan sendu.


"Allan, lalu apa yang terjadi bagaimana bisa aku berada di dalam apartemen milik Adam...?" tanya Jane penasaran.


"Jane, malam itu Sarah pingsan karena anemia dan Adam membawanya ke Rumah Sakit. Aku yang tidak tega meninggalkanmu di sana sendirian, akhirnya menemanimu dan mendengarkan keluh kesahmu. Kau dalam keadaan mabuk berat dan terus meracau. Aku membawamu ke apartemen Kak Adam karena aku tidak tau kau tinggal dimana. Aku tinggal disana sementara. Setelah menikah, apartemen itu kosong. Kak Adam meminjamkannya padaku. Tanpa mengubah isi apartemen itu sama sekali. Foto dan juga barang barang milik Kak Adam masih ada di tempat semula..." Allan mulai bercerita.


Flash back...


"Jason... kau sungguh tega padaku... kau menghianatiku... aku membencimu..." Jane terus meracau tanpa sadar.


"Tidak kah kau tau jika aku mencintaimu dan berharap kita terus bersama...?" Jane hampir kehilangan kesadarannya.


Allan yang memang sudah lama ingin mengenal lebih dekat dengan Jane masih tetap setia duduk disana menemani gadis yang tengah patah hati itu. Allan mengangkat tubuh Jane keluar dari Club itu ketika gadis itu mulai tak sadarkan diri bermaksud untuk mengantarnya pulang dan memasukannya ke dalam mobil milik Adam, sementara Adam mengendarai mobil milik istrinya saat menuju ke rumah sakit . Ia meminta Allan untuk menemani sahabat sang istri agar tidak di ganggu oleh pria hidung belang.


Allan masih mendengar gumaman Jane. Gadis itu bicara sendiri sambil cekikikan dan terkadang menangis meraung raung membuat Allan bingung untuk mengatasi gadis itu.


"Jane... di mana kau tinggal...?" Allan bertanya.


"Kemanapun bawa aku pergi dari sini. Aku mohon sayang... hanya kita berdua..." ucap Jane sambil cekikikan.


"Baiklah... karena aku tidak tau kemana tujuanmu, mari kita ke tempatku..." ucap Allan bingung. Ia tidak tau kemana harus bagaimana menghadapi seorang gadis yang tengah patah hati serta mabuk itu.


Dalam perjalanan, Jane masih tetap saja meracau dan bersumpah serapah pada pria yang bernama Jason itu. Allan hanya menghela nafasnya pelan dan tetap berkonsentrasi untuk menyetir.


Perlahan gadis itu tertidur dan perjalanan mereka ke apartemen hanya di selimuti keheningan serta deru mesin mobil saja. Allan menggendong gadis itu di punggungnya dan memasuki lift. Sesampainya di dalam apartemen, ia membaringkan Jane dengan sangat hati hati. Sejenak, Allan duduk di bibir ranjang sambil memandang wajah Jane dengan seksama. Ia begitu mengagumi wajah gadis itu sedari pertama kali ia datang ke rumah untuk bertemu Allina saudara kembarnya itu.


Saat itu pertama kali gadis itu menyinggungnya dengan senyum menawan bak seorang putri. Jane begitu cantik dan sederhana. Allina, Jane dan Sarah merupakan sahabat yang menggeluti dunia yang sama. Dunia permodelan. Meskipun saat itu, mereka belum terkenal, tapi Jane cukup membuat Allan tertarik. Sehingga pria itu terus mengikuti perkembangan karier Jane.


Ada rasa kagum serta bahagia dalam diri Allan karena ia dapat sedekat ini dengan sang idola. Allan yakin, jika ia mampu bersanding dengan gadis ini, ia akan bahagia serta tidak akan berpaling ke gadis lainnya.


Allan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Ia yakin jika dirinya terlalu banyak berharap serta berkhayal pada hal yang tidak masuk akal. Sedangkan dirinya tidak punya apa apa untuk membahagiakan gadis pujaannya itu. Allan terus menerawang akankah ia mampu menggapai bintang yang terlalu tinggi untuk ia raih, sementara dirinya bukanlah apa apa. Hanyalah seorang calon Dokter muda yang ingin mengabdikan hidupnya untuk kemanusiaan.


Saat Allan hendak beranjak dari duduknya, tangannya di tahan seseorang. Allan menatap tangan itu yang tak lain adalah milik Jane. Ia menatap Jane, gadis itu telah membuka matanya namun masih dengan tatapan sayu.


"Jangan pergi... Ku mohon... jangan tinggalkan aku..." ucap gadis itu.


Allan hanya diam dan terus menatap gadis itu dengan tatapan iba. Bagaimana tidak, gadis itu tengah patah hati dan membutuhkan setidaknya perhatian agar gadis itu merasa nyaman dan sedikit mengurangi kesedihannya itu.


"Tidurlah... aku di sini di sisimu..." ucap Allan lembut.


Jane bangkit dari rebahannya dan meraih tubuh Allan kemudian memeluknya dengan erat.


"Berjanjilah padaku untuk tidak pergi dari sisiku..." gumam Jane pelan. Wajahnya sudah ia sematkan di leher pria itu.


Dengan berani, Jane mencium bibir Allan dan mlumatnya pelan. Seakan ia begitu rindu akan rasa pria itu. Allan yang syok dengan apa yang terjadi dengannya saat ini, ia langsung melepaskan tautan bibirnya itu dan berusaha untuk membaringkan gadis yang tengah mabuk itu.


Namun, Jane yang begitu tersiksa karena merindukan kekasih hatinya itu, langsung berhambur ke pelukan Allan dan memeluk pria itu lebih erat lagi. Allan yang tidak tau harus berbuat apa, ia hanya mencoba melepaskan tubuh Jane yang melekat di tubuhnya itu. Namun, Jane tidak mau melepaskannya begitu saja.


Allan yang mendapatkan pernyataan cinta dari sang idola, hanya mampu tersenyum sambil menerima apa yang wanita itu berikan. Ya, meskipun ia tau jika pernyataan cinta itu untuk pria lain. Tapi Allan cukup bahagia karena bisa sedekat itu serta seintim itu dengan sang idola. Meskipun dirinya merasa bersalah karena memanfaatkan kesempatan di saat gadis itu sedang tidak berdaya.


Allan merasakan Jane melepas pakaian yang melekat di tubuhnya itu dengan cepat dan terburu buru dengan bibir mereka yang masih bertaut. Setelah Allan tidak menngenakan apapun, tinggal dirinya melepas pakaian yang di gunakannya. Allan berusaha meraih kesadarannya meraih kewarasannya agar tidak terjerumus dalam suatu hal yang terlarang. Ia tidak ingin jika dirinya terlalu terjerumus dan masuk ke dalam lebih dalam lagi.


Perlahan ia mendorong jane dan melepaskan tautan bibirnya di bibir gadis itu. Ia tidak ingin terlena lebih dalam lagi. Allan menatap mata serta wajah gadis itu dengan rasa bersalah. Namun, Jane menitikan air matanya merasa di tolak dan tidak di inginkan. Allan mengusap air mata Jane pelan.


"Bahkan kau juga tidak menginginkan aku..." ucap gadis itu sembari air matanya terus mengalir dari pulupuk matanya.


Allan menggeleng sambil tersenyum. Ia berusaha untuk tidak melirik gundukan yang dapat menjerumuskan dirinya ke jurang terdalam. Meskipun sesuatu dalam dirinya telah berdiri tegak dan ingin segera bertempur. Ia berusaha untuk tidak terlalu jauh menghayati perannya saat ini. Allan takut jika gadis itu bangun dan mendapati dirinya tertidur dengannya, gadis itu akan kecewa karena bukan pria yang ia cintai. Ia berusaha untuk terlepas dari gelayutan tubuh Jane.


Allan berbalik dan hendak meraih pakaiannya. Namun, pelukan jane dari belakang tubuhnya menghentikan langkahnya.


"Kumohon, cintai aku..." ucap Jane sambil memeluk Allan dengan erat dan dada telanjangnya bersatu dengan punggung telanjang pria itu.


Allan membalikan tubuhnya dan menatap sendu gadis di depannya itu.


"Jane, aku mencintaimu... sungguh... namun aku tidak ingin kita berbuat lebih..." ucap Allan lembut.


"Kau berbohong... jika memang kau mencintaiku, miliki aku saat ini juga..." ucapnya dengan air mata yang terus mengalir di pipi gadis itu.


Allan dengan cepat meraih tubuh Jane ke dalam pelukannya dan mendaratkan bibirnya di bibir gadis itu Mlumatnya dengan penuh gairah. Ia begitu frustasi. Ia ingin membuat gadis di pelukannya itu bahagia dan tidak ada lagi kesedihan di matanya. Ia ingin mencintai gadis impiannya itu dengan sepenuh hatinya selamanya.


Allan menarik gadis itu dan ambruk di atas ranjang. Dengan penuh gairah ia menciumi setiap lekuk tubuh gadisnya itu dengan penuh cinta dan hanya erangan pelan yang keluar dari mulut Jane menandakan kenikmatan. Ia tidak berpikir apapun untuk hari esok, di pikirannya saat ini, memiliki Jane sepenuhnya seutuhnya itu sudah cukup. Meskipun esok akan ada bayaran yang sangat mahal karena berani menyentuh gadis yang saat ini tak berdaya itu.


"Aaaakkhhhh...." erangan keluar dari mulut Jane saat dirinya berusaha membenamkan miliknya ke milik Jane. Milik Jane begitu sempit dan sangat susah untuk di tembus. Allan menatap ke bawah dan ia berusaha untuk membenamkan lagi miliknya itu.


"Aaaakhhhh..." erang Jane saat Allan berhasil memasuki dirinya. Allan tersentak kaget saat ia merasakan telah menembus sesuatu yang berharga milik gadis itu. Ia takin jika itu adalah keperawanan milik Jane yang telah ia renggut. Ia terus menatap kilatan mata gadis itu yang berusaha untuk tetap bertahan agar tidak terjatuh sambil menahan desisan di mulutnya.


"Jane... Aku mencintaimu...." gumam Allan dan mulai menggerakan pinggulnya.


Erangan serta desisan gadis itu memenuhi ttlinganya saat ia mulai menyentakan miliknya lebih dalam.


"Gigitlah bahuku jika itu bisa meredam rasa sakit di tubuhmu..." gumamnya di telinga Jane.


Jane menggigit bahu Allan dengan keras saat ia merasakan pria itu menghentakan miliknya begitu dalam. Bahu Allan begitu perih serta mengalirkan darah segar. Desisan, erangan geraman memenuhi kamar itu. Tubuh Allan di penuhi keringat karena panas di tubuhnya keluar begitu mematikan. Hidungnya terus mencium aroma tubuh Jane yang membuatnya hilang kendali.


Sesaat satu jam mereka bertempur dalam kubangan gairah. Allan merasakan dirinya akan mencapai puncak dari kenikmatan yang ia rasakan. Jane sudah terkapar dengan beberapa kali klimaks. Gadis yang saat ini sudah menjadi wanita seutuhnya itu lemas tak berdaya merasakan kenikmatan di tubuhnya.



Jane



Allan


😥😥😥 capek juga ketiknya... sama 😳😳😳 malu juga sih... 😂😂😂 btw... maaf baru up, ponsel author baru selesai perbaikan. karena akun dan juga draft kelanjutan ceritanya di ponsel ini jadi mau tidak mau harus di perbaiki. meskipun punya ponsel baru, tapi author lupa sama sandi buat masuk ke akun NT. 😂😂😂 maafkan keterlambatan ini para readersku yang tercinta....