
Malam hari telah menjelang. Adam tengah duduk di tengah tengah keluarganya untuk makan malam. Di tatapnya sang mama yang kesehatannya kian membaik. Adam tersenyum pada sang mama ketika mata mereka bertemu.
Sang mama membalas senyumannya dengan sangat anggun dan tulus. Adam benar benar bahagia saat ini. Kembali di tengah tengah keluarga yang hangat seperti dulu. Tidak ada kata kata yang bisa untuk mengungkapkan perasaannya saat ini kecuali bahagia.
Adam menatap Allan adik laki lakinya yang masih saja sibuk dengan urusan kantor meski tengah berada di meja makan menyantap makanan dengan memegangi ponselnya.
Kemudian, tatapannya beralih kepada Allina saudara kembar Allan yang berprofesi sebagai model busana itu. Adik perempuannya itu selalu makan dengan sangat hati hati. Pemilih makanan karena takut tubuhnya menjadi gemuk dan tak ideal lagi sebagai model.
Padangan matanya kemudian tertuju pada Ellen si bungsu. Gadis manis yang tengah mempersiapkan gelarnya menjadi master di sebuah universitas ternama Kanada di usianya yang baru 21 tahun.
Adam menatap Mom dan Dad nya yang masih saja mesra meskipun usia mereka sudah tua. Ada kebahagiaan di sana. Adam tau bahwa kebahagiaan sang mama adalah dirinya mau memaafkan sang mama.
Well...
Itulah kebahagiaan sesungguhnya. Bersama orang orang yang sangat di cintai di dunia ini.
Sama halnya dengan siapapun di dunia ini, keluarga adalah nomor 1. Karena sejatinya, keluarga adalah tempat dimana kita akan kembali merasakan hangatnya kebersamaan.
*******
Dua bulan telah berlalu, pagi ini Adam berencana pamit kepada sang mama dan keluarganya yang lain. Dirinya akan kembali ke Singapura. Mengingat kesehatan sang mama sudah lebih baik dari 2 bulan yang lalu. Cahaya wajah sang mama juga lebih terlihat segar dan cerah.
Saat ini, Adam berada di kamar tidur sang mama. Kamar yang sangat luas dan juga nyaman di penuhi dengan bingkai photo seluruh anggota keluarganya dari mereka yang masih anak anak hingga kemudian lulus universitas.
Adam menatap sang mama yang sedang duduk santai di atas sebuah kursi goyang kayu berwarna coklat klasik, tengah membaca buku kesayangannya dengan menghadap ke teras kamarnya.
Adam menatapnya dengan seksama kemudian mendekat dan memeluk sang mama dari belakang kursi goyang yang sedang di duduki wanita itu.
"Mom..." Adam berseru sambil mencium puncak kepala sang mama dari belakang.
"Ah... ternyata itu kamu sayang... ada apa...? Tumben sekali pagi pagi kau mengunjungi mommy...?" tanya sang mama.
Adam melepaskan pelukannya dari sang mama dan mulai beranjak ke teras dan berdiri di hadapan sang mama.
Wanita tua yang tadinya tengah membaca itu, mendengarkan dengan seksama kata kata sang putra sulung, kemudian tertegun mendengar ungkapan putranya itu. Kemudian menatap mata sang putra dengan tatapan sendunya.
"Tidak bisakah kau tetap berada di sini nak...? Aku masih belum cukup puas melepas rindu denganmu... aku merasa kau berada disini terlalu cepat nak... apa kau tidak ingin terus di sisi mommy mu ini nak...?" ungkap sang mama.
Adam tidak bisa menatap wajah sang mama yang tengah kecewa. Pandangan matanya tertuju pada taman dan juga kolam ikan yang sedang di bersihkan oleh para pelayan di mansion ini.
"Aku tidak bisa mom... aku harus kembali. Aku punya bisnis sendiri disana yang tengah berkembang pesat... Di bawah naunganku, ada jutaan orang yang mengadukan nasip hidupnya di pundakku... Aku tidak mungkin membiarkan mereka begitu saja... sedangkan aku menjadi seperti sekarang karena kesetiaan mereka..." kata Adam sembari berpaling dan menatap sang mama.
Sang mama terdiam. Menatap sang putra dengan kecewa namun tidak dapat di pungkiri bahwa putranya itu memang memiliki kehidupannya sendiri. Ia hanya menyesal dengan sikapnya dulu. Berusaha memisahkan putranya dengan wanita yang sangat di cintainya itu. Seandainya dulu dirinya tidak begitu bersikeras memisahkan mereka, saat ini sang putra tidak akan pergi dari sisinya. Terlebih lagi, mungkin rumah yang besar ini telah di hadirkan seorang cucu. Ia ingin melihat putranya bahagia dengan menikahi seseorang yang saat ini di cintai putranya itu. Ia tidak akan memaksakan kehendaknya lagi pada sang putra maupun putra putrinya yang lain. Tidak ada hal yang membuatnya bahagia saat ini kecuali anak anaknya bahagia.
"Nak... meskipun aku berat melepasmu, aku tidak punya daya untuk menahanmu. Kau punya kehidupanmu sendiri saat ini. Jangan kau terus berlarut larut meratapi kepergian Sarah. Carilah seseorang dan menikahlah dengan wanita itu yang dapat mengisi kekosongan hatimu saat ini... aku akan sangat berdosa dan menyesal berlarut larut jika kau masih bertahan dengan kesendirianmu... nak... aku tidak akan melarang lagi hubunganmu dengan siapapun asalkan kau bahagia dan kau mencintainya... dia juga membalas cintamu... aku akan menerima apapun keputusanmu kelak..." kata sang mama dengan air mata yang menetes di pipinya.
Adam menatap sang mama tertegun melihat air mata yang mengalir di pipi wanita tua itu. Adam menghampiri sang mama dan meraih pipi itu kemudian mengusapnya pelan.
"Hey... Mom... kenapa menangis... aku tegaskan padamu Mom... untuk saat ini, aku masih menikmati kesendirianku ini Mom... jangan pernah memaksaku lagi untuk menikahi siapapun... aku masih berkonsentrasi dengan karierku... Ah... dan juga aku belum menemukan calon ataupun kandidat yang tepat sebagai partner hidupku... jadi, kumohon padamu Mom... biarlah ini berjalan sebagaimana mestinya... kelak saat aku sudah menemukan seseorang yang cocok akan aku bawa kemari dan ku perkenalkan padamu... Mom..." kata Adam panjang lebar.
Adam mencium puncak kepala sang mama dan memeluknya erat.
"Aku sangat menantikan saat itu nak... aku akan sangat bahagia saat kau mau membawa wanita yang akan kau jadikan istri. Dan aku berjanji asal kau bahagia apapun keputusanmu aku akan menyetujuinya..." kata sang mama sambil melepas pelukannya pada sang putra.
"Aku tidak akan memaksakan kehendak ku lagi pada mu ataupun adik adikmu... kembalilah dengan selamat... aku akan sangat merindukanmu..." kata sang mama yang masih terisak di hadapan Adam.
"Mom... berjanjilah kau selalu sehat... aku sudah memaafkanmu... jangan kau ungkit lagi masalalu mom..." kata Adam di antara isak tangisnya. " Dan mungkin Sarah di surga juga tidak akan bahagia jika aku selalu bersedih... aku mulai mengiklaskan dirinya... 6 minggu yang lalu, ia hadir dalam mimpiku... meskipun tidak ada kata kata terucap darinya, aku tau ia bahagia. Bahkan dirinya selalu tersenyum..." Adam mulai bercerita. "Tepatnya seminggu setelah aku memaafkanmu mom..., aku mengunjungi makamnya dan sepulang dari sana aku mengunjungi mansion yang dulunya aku bangun untuknya... aku tertidur disana dan ia hadir dalam mimpiku dia begitu bahagia mom... sebelumnya, dia tidak pernah hadir dalam mimpiku walaupun barang sekejap. Maka dari itu mom... aku minta maaf karena pernah membencimu...." kata Adam sambil mencium tangan sang mama.
"Aku menyesal pernah membencimu..." tambahnya kemudian mencium kening sang mama.
"Aku menyayangimu mom..."
"Aku juga menyayangimu nak..."