
Adam dan Mina saat ini berada di ruang keluarga. Mereka duduk bersama orang tua serta 2 saudari nya. Tak lupa pula Allan dan Jane. Sementara Eko dan Dwi Ariana telah berlalu ke ruangan mereka untuk belajar bersama dengan guru bahasa Inggris.
Tidak ada percakapan yang keluar dari mulut mereka. Yang ada hanya kebisuan serta keheningan di sana. Hati Jane penuh dengan gemuruh serta was was. Seandainya pun jika mereka menolaknya, itu merupakan hal yang lumrah. Itu semua karena keburukan yang telah dirinya lakukan. Itu lah yang ada di dalam pikiran Jane.
"Jadi..." Alvi memulai.
"Apa yang akan kau katakan Al...???" tanya Alvin pada sang putra kedua nya.
Allan menghela nafasnya pelan serta menggenggam tangan Jane. Seakan mencari kekuatan.
"Dad... Mom... Aku membawa Jane kemari untuk meminta restu. Aku ingin menikahinya..." jelas Allan gamblang.
"Apa Nona Jane sudah setuju dengan keputusan mu...?" tanya pria tua itu.
"Dia sudah setuju Dad..." jawab Allan dengan semangat.
"Apa tidak ada paksaan dalam hubungan ini Nona Jane...?" tanya Alvin pada Jane.
Jane menggelengkan kepalanya.
"Tidak Mr Johanson senior..." jawabnya lembut.
"Ckk..."
Decikan keluar dari mulut Adam dan membuat semua orang menatapnya terkejut.
"Bie..." Mina berbisik sambil mencubit pinggangnya.
"Hah... Baiklah... Aku sudah tidak tahan ingin mengatakan ini... Sebenarnya apa yang sedang anda rencana Nona Jane ...?" tanya Adam gamblang.
"Maksud anda apa Mr Adam...?" tanya Jane yang tidak mengerti dengan pertanyaan dari mulut Adam.
"Tidak perlu berpura pura... Anda pasti tau dengan apa yang aku maksud..." ucap Adam sinis.
"Sungguh, aku tidak tau maksud anda Mr Adam..." jawab Jane jujur.
"Kak..." Allan menyelah.
"Al... Apa kau tidak tau atau buta dengan apa yang ada di hadapanmu. Tentu saja wanita di sampingmu itu punya niat terselubung. Dia tidak mendapatkan diriku dan sekarang dia mengincar dirimu. Atau lama lama, dia mengincar hartamu..." ucap Adam penuh penekanan.
Jane beranjak dari tempat duduknya dan ingin segera pergi dari tempat itu. Ia merasa tidak di hargai di tempat ini. Serta tidak di inginkan kehadirannya. Tapi tangan Allan meraih tangannya dan menggenggamnya erat.
"Jangan pergi Jane... Aku tidak akan melepasmu lagi. Aku mohon..." Allan memohon.
Sementara Alvin, Marriane, Allina dan Ellen hanya menatap Allan dengan sendu. Mereka melihat tatapan Allan pada Jane penuh dengan cinta dan pengharapan.
Sementara Adam memutar bola matanya jengah. Dengan kelemahan Allan seperti itu, akan membuat wanita iblis itu dengan cepat menguasai milik Allan.
"Al... Sejak kapan kau menjadi pria lemah dan cengeng seperti itu... Hmm... ? Sungguh sekarang kau menjadi orang lain dan bukan Allan yang aku kenal..." Adam mengutarakan apa yang ada di benaknya karena sudah jengah dengan keadaan ini.
"Tapi kenapa harus Jane...?" tanya Adam dengan nada tinggi.
"Lalu... Kenapa kau juga harus menikahi kakak ipar...!?" tanya Allan berbalik pada Adam.
"Tentu saja karena kenyamanan Al... Aku juga mencintainya..." ucap Adam dengan nada tinggi.
"Itulah yang aku rasakan pada Jane kak... Karena aku juga mencintainya... Bahkan melebihi dari mencintai diriku sendiri..." penuh kujujuran dalam ucapannya.
Mina mengusap lengan Adam dan menggelengkan kepalanya agar sang suami tidak perlu berdebat lagi dengan sang adik. Mina sudah cukup sensitif dengan obrolan perdebatan mereka. Yang membuat dirinya harus mengingat masa masa tersulitnya sebelum menyerah untuk hidup bersama dengan sang suami.
Adam melihat kilatan mata sang istri yang hampir menangis. Mata sendu nan teduh itu membuat Adam sadar. Ia memang tidak perlu lagi untuk berdebat. Toh dengan atau tanpa restu dirinya, Allan akan tetap menikahi wanita iblis itu. Seperti ucapan sang istri tadi.
Adam menghela nafasnya pelan. Ia tidak tega melihat wajah sang istri yang murung. Karena tentu saja itu bisa berdampak buruk pada calon anaknya.
Mina memang wanita yang Tuhan pilihkan untuk dirinya. Ia mampu meredam amarah serta emosinya dengan cepat. Wanita itu pula lah yang telah menyatukan dirinya lagi dengan keluarganya, terutama orang tuanya.
"Baiklah... Al... Aku tidak akan menghentikan keinginanmu untuk menikahi wanita itu. Kau lihat sendiri kan kakak iparmu ini tidak suka jika ada perdebatan di rumah ini... Baiklah ... Al... Aku mengalah... Nikahilah dia... Buatlah dia bahagia..." ucap Adam tulus pada sang adik.
"Dan untuk anda Nona Jane, aku berharap anda menikahi adikku karena mencintainya bukan karena hartanya..." Adam menatap wanita yang dulu pernah merusak mahligai cintanya dengan Sarah.
Setelah mengucapkan apa yang ada di hatinya, Adam berpamitan pada orang tua serta saudaranya untuk kembali ke kamar. Selain ingin mengurung istrinya, ia juga harus mengerjakan tugas kantornya yang belum selesai. Serta memantau perusahaan yang ada di Singapura lewat laptopnya.
...
Setelah berdiskusi dengan saudara kembarnya, Allan kembali membawa Jane menuju kamarnya. Allan senang. Karena janjinya dengan Allina akan terkabul. Bahwa mereka akan menikah bersama sama dan di hari yang sama. Allan juga tidak menyangka jika kelemahan sang kakak ada pada istrinya. Jika ia tau sedari awal, ia akan menghasut sang kakak ipar untuk membuat sang kakak menyetujui hubungannya dan Jane.
Allan bersyukur, karena sang kakak ipar lah keluarga besarnya bersatu. Dan karena sang kakak ipar juga, dirinya bisa bersatu dengan wanita yang sangat ia cintai.
...
"Bie..."gumam Mina lembut dan manja.
"Hm..." jawab Adam sekilas.
"Kenapa kau setuju...?" tanya Mina sambil mengalungkan lengannya di leher Adam dari belakang, saat pria itu tengah duduk di kursi sambil memangku laptopnya.
"Aku melakukannya karena dirimu... Sayang ..." jawab Adam lembut.
"Bagaimana bisa...?" tanya Mina penasaran.
"Iya... karena aku tau jika dirimu tidak akan suka melihat aku berseteru dengan saudaraku..." Adam meletakan laptopnya di meja.
Ia meminta Mina untuk duduk di pangkuannya. Adam menatap netra hitam Istrinya itu dengan sendu. Bibirnya mencium pipi cuby Mina dengan lembut. Tangannya mengelus perut buncit sang istri yang membuatnya begitu takjub. Wanitanya terlihat sexy serta mengagumkan.
"Sayang... Bisakah kita melakukannya...?" tanya Adam pelan dan hanya di angguki oleh Mina.