My Maid And I

My Maid And I
MOO part 31. Pemakaman Salimah



Langit mendung, matahari tidak mau menampakkan diri di pagi hari. Alam seakan sepakat menemaninya dan tahu bahwa saat ini hatinya tengah berkabung.


Orang orang telah kembali ke rumah masing-masing. Tinggal Jono serta ibu dan adiknya. Tidak lupa pula bayi mungil yang ada di gendongan sang ibu.


Jono menatap pusara sang istri yang baru saja selesai ditimbun dengan tanah. Matanya merah dan membengkak. Meskipun ia seorang lelaki, namun ia tidak sanggup menahan kesedihannya. Ia telah kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Meskipun ia merasakan kekecewaan yang mendalam terhadap sang istri, tapi ia masih berpikir secara logis. Bahwasanya ia ada yang menemani ketika ia berada di dalam titik keterpurukan.


Jono merasakan kehampaan itu kembali. Merasakan kehilangan itu kembali. Delapan bulan ia hidup bersama Salimah. Tidak membuat Jono tidak mencintai Salimah. Meskipun wanita itu dengan sengaja menjebak nya, ia tetap bersyukur karena ia merasa tidak sendirian ketika ia mengalami keterpurukan.


Jono menaburkan bunga di atas tanah yang masih baru itu untuk yang terakhir kalinya. Jono memandangi nama sang istri yang tertera di atas kayu itu dengan penuh penyesalan. Ia tidak mungkin bisa berjumpa kembali dengan sang istri. Jono hanya mampu berdoa agar sang istri di terima di sisi Tuhan. Dan Tuhan mengampuni dosa dosanya.


"Nak... anakmu menangis..." suara Bu Ratmi sang ibu membuyarkan lamunan Jono. Dengan cepat ia bangkit dan menerima bayi mungil itu kedalam dekapannya.


"Oh... sayang... kenapa anak ayah menangis... Ayo kita lihat ibu... kita pamitan ke pada ibu... " gumam Jono sambil menggendong bayi yang ia beri nama Salina S Putri Raharjo.


Jono menggendong putri nya itu mendekat ke pusara sang istri. Walau bagaimanapun, ia sudah jatuh cinta pada bayi mungil itu. Semenjak ia menerima bayi itu untuk ia adzan ni.


"Sal... ini putri kita... meskipun bukan darah daging ku, aku akan menyayangi dia layaknya seperti anak ku sendiri. Aku tau, siapa ayahnya. Dan aku akan memberi tahu dia ketika ia sudah mampu untuk menerima kenyataan. Walau bagaimanapun, suatu saat ia berhak tahu. Aku memberinya nama Salina S(Stanly) Putri Raharjo... Walau bagaimanapun juga, ia lahir di dalam pernikahan kita. Aku sebagai kepala rumah tangga berhak untuk memberi nya nama belakang ku. Maaf, aku tetap memberikan sebagian dari nama pria itu. Untuk mengingatkan agar aku tidak terlalu mengekang nya suatu saat nanti. Tenanglah di alam sana... Aku akan menjaga dan menyayangi dia layaknya anak ku sendiri. Sesuai dengan janji ku... " Janji Jono.


"Bu... Joko... ayo kita pulang... sebentar lagi akan turun hujan. Tidak baik untuk kesehatan ibu dan juga tidak baik untuk putriku..." ajak Jono pada sang ibu.


Bu Ratmi dan Joko mengangguk meng iyakan. Mereka meninggalkan tempat pemakaman umum di kampung nya itu dengan berjalan kaki menuju jalan raya. Ayah sambung Jono menunggu di jalan raya setelah mengantar rombongan keluarganya yang datang untuk melayat.


"Mas... aku mohon... Jangan ceraikan aku... Aku tidak bersalah mas... aku tidak membunuh bayi kita mas... Sungguh... " Yuni memohon pada sang suami. Ia duduk bersimpuh di depan suami nya setelah mendapat kabar bahwa bayi yang ia lahir kan telah meninggal dunia.


Ia terjatuh di dalam kamar mandi saat akan keluar dari sana. Ia terpeleset dan mengakibatkan terjadinya pendarahan saat kandungan wanita itu baru berusia 7 bulan. Mau tidak mau ia harus melahirkan bayi prematur. Setelah 5 hari di dalam ruang perawatan intensif, bayi itu tetap tidak bisa selamat.


Yuni dinikahi pria yang menjadi anak dari bos dimana tempat ia bekerja delapan bulan lalu. Mereka menikah karena Yuni di jebak oleh salah seorang teman kerjanya. Yang tak lain adalah Wiwik. Pria itu membenci Yuni karena mengira jika wanita itu telah merencanakan penjebakan agar menjadi nyonya di rumah nya.


Selama hampir 8 bulan, mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Tidak ada rasa simpati ataupun empati pria itu pada diri Yuni. Bahkan, pria itu sering kali tidak pulang ke rumah. Yuni hanya berdua dengan anak perempuannya yang sudah duduk di bangku SD kelas 5 itu setiap hari nya.


Kesedihannya adalah ketika ia mendengar hinaan dan cacian yang ia dapatkan setiap hari selama hampir delapan bulan hidup dengan lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin serta pengayoman diri nya.


Saat ini, Yuni hanya pasrah dan tidak akan mengemis cinta dari pria itu lagi. Setelah pria itu menalak nya dan pergi dari tempat itu, ia duduk di kursi tunggu dengan di temani oleh sang anak. Eka Saputri. Buah cintanya dengan suami pertamanya.


Ia tengah menanti bayinya yang akan ia bawa pulang untuk di kebumikan di kampung halamannya. Ia tidak akan kembali ke rumah sang suami ah ralat mantan suami. Ia akan hidup di desanya lagi dan akan memulai semuanya dari awal.


Setelah membayar administrasi di rumah sakit yang cukup menguras kantong. Yuni di temani putri nya kembali ke kampung halamannya ketempat orang tua nya dengan menggunakan taksi. Ia berbohong pada sang supir taksi jika sang bayi tengah tertidur pulas.


Ia tidak cukup uang untuk membayar ambulans milik rumah sakit untuk mengantarkan mereka kembali ke kampung halamannya.


Tiga hari pasca pemakaman Salimah, Salina menangis tanpa henti. Bayi mungil itu tidak mau meminum susu formula yang biasa ia minum.


Pada saat itu, Yuni datang untuk melayat ke rumah Jono. Ia melihat seorang bayi yang tengah menangis di dalam dekapan ibu nya Jono. Dengan rasa penasaran, Yuni mendekati sang ibu dari mantan mertua temannya itu.


"Bayinya kenapa Bu...?"tanya Yuni pada Bu Ratmi.


"Dia menangis terus nak... dia tidak mau minum susu formula yang biasa ia minum... Sedari tadi pagi... sampai ibu bingung harus bagaimana..."


jawab Bu Ratmi sambil tersenyum menatap Yuni.


"Boleh saya gendong Bu...?" ijin Yuni dengan penuh harap.


"Boleh..." Bu Ratmi memberikan bayi dalam gendongan nya pada Yuni.


"Ya ... Allah... kamu cantik sekali bayi manis... siapa namanya Bu...?" tanya Yuni pada Bu Ratmi. Bu Ratmi menatap binar bahagia di mata Yuni .


"Namanya Salina..." jawab Bu Ratmi.


"Nama yang cantik seperti orang nya..." gumam Yuni.


"Halo... Salina... ini bibi... bibi adalah teman baik ibumu... salam kenal... " Yuni mengajak bayi mungil itu bercengkerama. Dan ajaib nya. Bayi itu merespon dan terdiam sejenak dari tangisnya.


Setelah mengobrol dan bercerita panjang lebar mengenai kehidupan rumah tangganya serta bayinya yang telah meninggal, Yuni memutuskan untuk memberikan ASI nya pada Salina. Dan ia akan setiap hari datang untuk menyusui bayi itu.


Bu Ratmi bersyukur karena ada yang bisa menyusui cucunya. Dan ia akan dengan mudah cepat kembali ke rumah suaminya di desa tetangga.


Jono yang mendengar Bu Ratmi tengah bersenandung sholawat, ia menghampiri sang ibu yang tengah menggendong putri nya itu.


"Bu... Salina sudah tidur...?" tanya Jono.


Bu Ratmi mengangguk sambil tersenyum.


"Wah nyenyak sekali tidur nya... sudah habis susunya Bu...?" Jono mengelus pipi putrinya itu dengan lembut.


" Dia minum ASI... " jawab Bu Ratmi.


"ASI punya siapa Bu... di daerah sini kan sedang langka orang punya bayi Bu...?" tanya Jono penasaran.


" Tamu kamu tadi... temannya Salimah dan mantan istri kamu Sarmina. Kalau tidak salah namanya Yuni... " jawab Bu Ratmi.


" Dia baru saja kehilangan bayi nya... dan suaminya baru saja menceraikan nya setelah bayinya di nyatakan meninggal... saat ini dia hanya sedang menunggu proses perceraian nya... Setelah pukul palu... ia sudah resmi menjadi janda... apa mungkin ini jalan Tuhan untuk membuat Salina mempunyai ibu lagi ya..." Bu Ratmi antusias.


"Bu... jangan ngawur lah... jangan berandai-andai..." Jono menepis anggapan ibunya.


" Tapi, kan bisa jadi nak ... itu adalah rencana Tuhan untuk kamu..." Bu Ratmi tidak mau kalah.


"Entahlah... Bu... Jono juga tidak tahu..." jawab Jono sambil mengambil alih putri nya. untuk ia bawa ke dalam rumah.