
Mansion itu tetap bersih dan tertata rapi.
Pelayan yang datang seminggu sekali dari kediaman orang tuanya untuk membersihkan tempat tersebut atas keinginan sang mama. Yang begitu menyesal dengan apa yang dilakukannya pada sang menantu.
Adam memasuki mansion dengan perasaan bimbang. Akankah ia terlarut dalam jurang masalalu. Sedangkan masa depan masih harus terus dijalani.
Seorang penjaga rumah menyambutnya dengan senyuman ramahnya. Pria paruh baya yang menjaga kediamannya yang tak berpenghuni dengan beberapa pria lain di setiap sudut rumahnya.
"Selamat siang Tuan....?" kata sang penjaga sambil membukakan pintu utama mansion Adam.
"Hmm..." Adam menjawabnya dengan deheman saja.
Sang penjaga hanya bisa menghela napasnya pelan. Bagaimanapun, pria itu yang membayar dirinya pikir sang penjaga.
Adam menelusuri setiap detail mansion yang seharusnya ia persembahkan pada sang istri dulu. Bagaimana mungkin kini hanya sebuah angan.
Adam memasuki ruang tengah yang menampakan sofa yang tertata rapi yang tak pernah di duduki oleh siapapun selama itu.
'Seharusnya ruangan ini adalah tempat dimana aku dan Sarah bisa bercengkrama dengan anak anak kami nantinya' batin Adam.
Pria itu berlalu menuju pintu kamar utama yang berada di sebelah barat dari ruangan tersebut.
Setelah sampai di dalam kamar utama, air matanya tidak bisa terbendung lagi ketika ia melihat foto sarah yang besar berada di dinding kamar tersebut.
Menampakan kecantikan yang begitu ia rindukan kehadirannya. Adam mendekat dan menyentuh foto Sarah dengan tangannya.
"I miss u... aku benar benar berharap bahwa kau berada di surga terbaik Sarah... maaf aku tidak bisa menjagamu dengan baik... ku persembahkan tempat ini untukmu...." Adam bebisik di depan foto itu. Adam menatap dalam dalam foto sang istri yang ada di depannya dan beralih ke beberapa pigura kecil yang berjejer rapi di lemari.
Adam berjalan menuju sebuah ranjang dan berbaring di atasnya. Sebuah ranjang yang ia siapkan dulu untuknya dan Sarah. Ranjang yang besar dan empuk. Elegant dan terkesan sederhana namun mewah. dipudukan warna putih dan krem keabu abuan warna kesukaan Sarah serta lampu gantung yang sangat indah.
Adam memejamkan matanya. Tanpa terasa ia telah terlelap terbuai dalam mimpinya. Di dalam mimpinya, ia berjumpa dengan Sarah. Wanita itu tengah tersenyum memperlihatkan giginya yang tertata rapi dan indah.
*Dalam mimpi Adam...*
"Sarah.... benarkah ini kau sayang.....?" tanya Adam tak percaya.
Namun wanita itu hanya tersenyum dan juga menyentuh pipi Adam dengan lembut.
"Aku sangat merindukanmu... Sarah...." Adam menarik wanita itu kedalam pelukannya.
"Sarah... kembalilah bersamaku..." kata pria itu sambil merenggangkan pelukannya dan menatap manik mata keabuan Sarah.
Sarah hanya tersenyum sembari menggeleng. Tapi tangan wanita itu menunjuk kepada sebuah pintu rumah yang tak asing bagi Adam. Pintu rumah keluarganya, Sarah membukakan pintu itu untuk Adam. Didalam sana ada orang tuanya beserta adik adiknya yang tengah tersenyum. Ada seorang wanita lagi yang tidak begitu jelas wajahnya namun Adam tau bahwa wanita itu tengah tersenyum padanya.
Adam tidak bisa menebak siapa wanita tersebut. Ketika Adam menoleh untuk menggapai tangan Sarah, Adam terkejut bahwa Sarah tengah melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar. Senyuman itu lambat laun menghilang di telan cahaya menyilaukan mata.
Setelah benar benar tersadar, Adam bangkit dari ranjang kemudian mencari ponselnya di dalam saku celananya. Setelah membaca beberapa pesan dari sang asisten, Adam beranjak dari ruang tidur dan meraih jaketnya.
Adam pov...
Aku beranjak dari kamar yang seharusnya menjadi kamarku dan Sarah. Sesaat sebelum keluar dari pintu, kutatap foto Sarah di dinding. Aku tau, Sarah kini tengah berbahagia dengan kedamaiannya di surga. Karena sejatinya jika itu memang benar benar roh Sarah, tidak ada raut kesedihan sedikitpun.
Aku tersenyum menatap foto Sarah dan bergumam: " Berbahagialah di surga, akupun akan mencari kebahagiaanku disini sebelum menyusulmu di sana" kataku.
Aku berlalu dari kamar utama itu dan berjalan melewati ruang keluarga. Setelah sampai di halaman mansion, aku masuk ke dalam mobil yang aku tumpangi tadi dan mulai melajukan mobilnya menuju gerbang utama.
Adam pov ...
end...
Tangan Adam melambai pada penjaga sebelum dirinya pergi dari mansion nya itu. Pria itu melajukan mobilnya ke atas sebuah bukit yang tidak jauh dari mansionnya. Setelah sampai di atas sana, Adam akan keluar dari dalam mobil dan melepas safety belt yang masih terkunci di dadanya.
Sesampainya di luar, Adam menatap kediaman pribadinya itu dengan tatapan hampa. Bagaimana tidak, mansion yang ia bangun dengan susah payah untuk istrinya tercinta dulu, saat ini kosong dan hanya di huni beberapa penjaga saja.
Adam menikmati hembusan semilir angin dari atas bukit. Dinginya masih menusuk tulang. Salju memang tidak sedang turun tapi cukup dingin baginya saat ini. Karena beberapa tahun tinggal di negara tropis membuatnya sudah mulai terbiasa dengan hawa hangat negara itu.
Adam masuk kedalam mobil dan menatap mansion pribadinya itu dengan seksama dari dalam mobilnya. Pria itu mulai berlalu meninggalkan area tersebut dengan mengendarai mobilnya.
*******
Sementara itu , Mina tengah membukakakan pintu utama apartemen sang tuan. wanita itu tengah terperangah dengan kehadiran sang asisten yang terluka di bagian kepalanya.
" Hey... Mina... tolong aku...!" kata sang asisten membuyarkan keterkejutan Mina.
"Apa yang terjadi Mr Stanly...?" tanya Mina sambil meraih tangan pria itu dan menuntunnya membantu pria itu untuk duduk di sofa.
"Entahlah..." jawabnya.
" Bisa tolong ambilkan baskom berisi aur hangat dan juga kotak P3K...!!" kata pria itu.
"Ah... iya ... Mr... tunggu sebentar...." kata Mina dan bergegas ke dapur.
Setelah mendapat apa yang ia butuhkan tadi, Mina bergegas menghampiri sang asisten tuannya itu.
" Bagian mana saja Mr yang terluka... saya bantu membersihkannya..." kata Mina setelah meletakan baskom berisi air hangat dan kotak P3K di atas meja.
Stanly melepas jas dan kemeja yang ia kenakan dengan hati hati. Mina yang berada dihadapan pria itu, seketika terbelalak melihat tubuh pria di depannya yang putih serta penuh dengan otot dan berbentuk seperti roti sobek.
Stanly yang melihat Mina melongo itu terkekeh geli meskipun ia tau wanita di depannya itu telah menikah, tapi mungkin suaminnya tidak setampan dirinya.
" Kau kemarilah..." perintah pria itu.
"Tolong bersihkan lukaku kemudian berilah beberapa tetes obat dan balutlah menggunakan kasa..." kata pria itu pelan.
Mina yang tidak bergeming dari tempatnya serta keterkejutannya itu membuat sang pria menghela napas pelan.