
Setelah melalui hari dengan penuh kejutan, Mina tengah berdiri di balkon untuk menikmati semilir angin malam. Ia merasa begitu bahagia saat ini. Ayah , Ibu , Adik serta Anak-anaknya saat ini berada di sini , di dekatnya. Tidak lagi terhalang jarak berkilo kilo meter. Tentu saja itu karena dari usaha sang suami yang rela merogoh kocek banyak untuk mendatangkan keluarganya.
Mina sangat bersyukur karena mendapatkan suami yang sangat mencintai serta menyayanginya. Meskipun tau jika dirinya penuh dengan kekurangan. Mina menyadari jika dirinya benar benar penuh dengan kekurangan. Apa lagi tadi siang ia mendapati seorang wanita yang dulu mengaku sebagai kekasih suaminya itu telah menghinanya.
Sudah barang tentu ia mulai mengerti dengan bisikan serta kasak kusuk dari mulut para tamu serta kolega bisnis sang suami. Ya, ia di berikan kelas khusus bahasa setiap 3 kali dalam seminggu. Untuk antisipasi serta agar dirinya mampu untuk berkomunikasi dengan orang lain di sekitarnya selain bahasa inggris yang ia ketahui secara otodidak itu.
"Hah..." Mina menghela nafasnya kasar.
Ia merasa sangat berat menjalani kehidupan sebagai istri seorang pengusaha kaya serta menjadi menantu orang ternama di Kanada. Ya, kehidupannya berbanding 180°. Dari seorang istri pria biasa berubah menjadi seorang istri pria miliarder.
Banyak gunjingan serta tatapan yang tidak mengenakan dari setiap tamu undangan sang suami tadi. Mina menyadari, ia bukanlah wanita yang anggun serta jauh dari kata sempurna. Tapi, ia berusaha untuk selalu memiliki sifat serta sikap yang baik. Kapanpun dan di manapun ia berada.
Mina takut, jika Adam suaminya malu dengan keadaan dirinya yang memang serba kekurangan dan serba buruk dalam segala hal. Ia takut jika setelah melahirkan, suaminya itu akan mengusirnya kembali ke Indonesia. Bukannya ia tidak ingin kembali ke negara tercinta. Tapi, jikapun harus kembali, ia ingin bersama pria yang sudah mulai mengisi relung hatinya itu.
Ya, Adam Abraham Johanson pria yang menjadi suaminya saat ini.
Mina menatap halaman mansion milik mertuanya itu dengan tatapan sendunya. Dari balkon kamarnya dan Adam, ia bisa melihat kolam renang yang luas serta air berwarna biru jernih. Mina sangat ingin berenang jika saja ia tidak memiliki phobia air yang dalamnya melebihi tinggi tubuhnya. Ia takut jika kejadian yang dulu ia lalui, akan kembali terjadi jika dirinya berenang.
Ia ingat dengan jelas saat dirinya masih duduk di kelas 2 SMP. Ia tengah berdarma wisata ke pemandian air panas serta kolam renang terbaik yang ada di kota kelahirannya itu. Ia tersenggol temannya yang sedang berlarian, Mina terpeleset dan terpental ke dalam kolam renang yang airnya dalam sedalam 2,5 meter. Mina ingat jika dirinya tidak siap jatuh di sana dan membuatnya menelan begitu banyak air dan kehabisan nafas.
Mina merasa ada seseorang yang menolongnya dan mengangkatnya ke atas permukaan. Saat ia sadar, ia melihat kerumunan orang serta teman temannya serta seorang kakak kelas yang menolongnya serta memberinya nafas buatan. Ya, Mina ingat jika kakak kelasnya itu adalah pria yang menjadi ayah dari anak anaknya serta mantan suami yang saat ini berada jauh di Indonesia.
Itulah mengapa Mina dulu berusaha mendapatkan restu begitu keras dari ibu mantan suaminya, karena ciuman pertamanya di renggut oleh sang kakak kelas yaitu Mas Jono . Dulu, sewaktu merasakan rasanya cinta monyet, ia mencintai seorang pemuda namun, ia di tolak mentah mentah oleh pemuda itu. Mina menjadi sosok yang berbeda semenjak itu. Ia berjanji dalam hatinya, siapapun yang mendapatkan ciuman pertamanya dialah yang harus menjadi suaminya kelak.
Dulu, Mina dan Jono tidak saling kenal meskipun satu kampung. Tapi, semenjak kejadian itu, mereka mulai dekat. Itu karena olok olokan dari teman teman serta sahabat mereka. Mina tersenyum mengingat masa SMP nya dulu. Tanpa ia sadari nika Adam sang suami memandanginya dari samping tempatnya berdiri.
"Apa yang kau pikirkan sayang...?" tanya Adam yang penasaran melihat senyuman Mina yang begitu mendamaikannya.
"Bie... Terima kasih karena memberikanku kejutan yang sangat besar hari ini. Aku tidak tau aku harus membalasnya dengan apa padamu Bie..." ucap Mina sambil mengelus rahang kokoh milik suaminya yang saat ini tengah menatapnya dengan penuh cinta.
"Kau tidak perlu membalasnya dengan apapun, cukup dengan cara kau tetap berada di sisiku apapun yang terjadi. Serta menjadi ibu dari anak anakku kelak. Kau tau sayang, meskipun kau sudah melahirkan 2 orang anak dari pernikahanmu yang lalu, tapi aku berharap agar kau selalu sehat dan bugar agar kau bisa melahirkan anakku tidak hanya satu. Karna aku ingin mansion yang aku bangun khusus untukmu ramai penuh dengan canda dan tawa dari anak anak kita...." Adam berbicara sambil menangkupkan kedua tangannya pada kedua sisi pipi Mina dan
menatap kedua bola mata istrinya itu dengan tatapan sayunya.
"Terima kasih untuk do'anya Bie... semoga Tuhan mengabulkan do'amu..." ucap Mina tulus.
"Amien... sayang..." uca Adam lembut kemudian mengecup pucuk kepala Mina dengan penuh cinta.
"Ada satu hal lagi yang ingin aku katakan padamu, masuklah.... sungguh angin malam tidak baik untukmu, apa lagi kau tengah mengandung..." Adam menuntun Mina masuk ke dalam kamar dan menutup pintu balkon rapat rapat.
"Duduklah sayang, tunggulah disini sebentar..." ucap Adam dan ia berlalu ke sebuah lemari yang menyimpan berkas berkas milik Adam.
Adam menghampiri Mina dengan sebuah map berwarna hijau tua. Mina hanya menatap map itu dengan pikiran yang bertanya tanya. Adam duduk berhadapan dengan Mina yang hanya terhalang meja kecil di sana. Mata Mina masih saja tertuju pada map berwarna hijau tua itu.
' Map apa itu...?' batin Mina.
"Sayang, selama aku di Singapore, aku meminta seseorang untuk melihat keadaan putra putrimu di Indonesia. Aku juga memberikan pengawalan secara diam diam pada mereka. Aku juga meminta salah satu anak buahku melihat keadaan mantan suamimu berserta istri barunya itu..." Adam menghela nafasnya pelan.
"Aku juga meminta mereka untuk menyelidiki perlakuan istri barunya pada putra putrimu. Aku tidak menyangka jika istri dari mantan suamimu itu tidak mau menerima mereka di rumah itu. Aku tau jika itu adalah rumah dari usahamu serta mantan suamimu itu dulu sewaktu kalian masih bersama. Tapi mengapa ia tidak mau menerima kehadiran anak anak dan mantan suamimu itu tidak protes apapun terhadap perlakuan istrinya saat ini. Padahal mereka anak kandungnya..." Adam menghela nafasnya kasar seakan berat untuk mengatakan hal itu pada Mina.
"Mina sayangku... maafkan aku, karena tanpa izinmu, aku mengambil alih hak asuh putra putrimu atas nama dirimu. Aku sudah memenangkan hak asuh mereka di pengadilan agama melalui pengacara. Aku membawa mereka kemari untuk seterusnya. Aku tidak mau kau bahagia disini bersamaku namun anak anakmu tidak bahagia bersama kita. Maka dari itu, aku sudah membawa mereka serta memberi mereka home schooling dahulu sebelum mereka masuk ke sekolahan umum. Aku sudah mengurus surat kepindahan mereka kemari. Tanpa seizinmu, aku mengambil mereka dari mantan suamimu..." ucap Adam kemudian memberikan map berwarna hijau itu pada Mina.