
Adam dan Mina kini tengah sarapan di mansion keluarga Johanson. Alvin dan Marriane menyambut hangat besan serta cucu mereka. Anak dari menantunya itu.
Tidak ada keraguan dalam diri mereka untuk menerima kehadiran anak anak Mina, sang menantu. Mereka tidak bersikap dingin ataupun cuek terhadap anak anak dari Mina. Kehangatan terpancar dari sikap dan perlakuan mereka pada Eko dan Dwi.
Mina tersenyum hangat. Ia juga dapat merasakan betapa sayangnya sang suami pada mereka. Bahkan, Adam sang suami telah memindahkan mereka untuk tinggal bersamanya di sini. Tak ada kata lain selain rasa syukur yang teramat tulus dari hatinya untuk yang maha kuasa. Karena tanpa ridho Ilahi, ia tidak akan menikmati semua itu.
CEKLEK...
Mina mendongakan kepalanya ke arah suara yang berasal dari pintu masuk. Ia melihat Allan sang adik ipar tengah berjalan gontai memasuki ruang utama dengan sedikit terhuyumg huyung. Tidak ada rona semangat seperti biasanya. Mina yakin telah terjadi sesuatu diantara sang adik ipar dengan wanita yang dulu mengaku kekasih dari suaminya itu.
"Bie..." gumam Mina sambil menyentuh lengan sang suami yang tengah asik mengobrol dengan Eko dan Dwi.
"Ada apa sayang...?" tanya Adam sambil menoleh pada sang istri.
"Itu..." ucap Mina berbisik sambil menunjuk Allan yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa ruang utama.
"Baiklah... sayang... akan aku lihat..." ucap Adam berbisik sambil mengelus perut Mina dengan lembut. Setelah berpamitan dengan orang tua serta mertuanya, Adam menghampiri Allan.
Mina hanya menatap kepergian sang suami dan adik iparnya menuju ruang yang biasanya untuk berdiskusi. Mina kembali menfokuskan pandangannya pada orang tuanya yang sangat jarang bersama. Tatapan Mina tertuju pada sang adik yang tidak begitu menikmati sarapannya.
"Tris... Apa kamu nggak suka makanan yang ada di sini...?? Kenapa makanmu sangan sedikit...??" tanya Mina pada Trisno adik kandung satu satunya itu.
Trisno hanya tersenyum. Ia merasa tidak enak telah menyinggung makanan dengan memakannya sedikit. Ia merasa belum terbiasa makan makanan model model milik bule itu.
"Maaf... Mbak, hanya belum terbiasa saja... biasanya kalau pagi kan aku makan nasi he... he... he..." seloroh Trisno.
"Apa aku buatin nasi goreng Tris...?" tanya Mina pada sang adik.
"Tidak usah Mbak.. aku nggak enak sama mertuamu juga suamimu... Seper5tinya juga Bapak sama Ibu juga makanannya di paksa masuk... tuh..." tunjuk Trisno pada ke dua orang tuanya.
Mina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Bagaimana tidak, orang tuanya yang keturunan asli Jawa yang sehari makan 3 kali dengan nasi, saat ini harus sarapan roti sandwich dan sosis daging.
"Bu... Pak... apa makanannya kurang enak...?? Atau Bapak sama Ibu mau sarapan nasi...??" tanya Mina pada orang tuanya itu.
"Wah... boleh juga Mina... itu yang aku ma-..." suara Ibu Sapto menghilang karena mulutnya di bekap oleh suaminya.
"Tidak usah Nduk... kami menikmati sarapannya kok..." ujar Pak Sapto yang tidak ingin membuat malu putrinya itu.
"Mina... Apa yang terjadi dengan orang tuamu, apa yang mereka bicarakan...??" tanya Alvin sang ayah mertua menggunakan bahasa inggris.
"Ah... itu Dad... mereka sangat menikmati sarapannya. Terima kasih kata mereka..." ucap Mina mewakilkan keluarganya namun berbohong.
"Well... Sama sama..." ucap Alvin sambil tersenyum.
Dari lantai atas turunlah Allina dan Ellen untuk bergabung dengan mereka.
"Good morning..." sapa keduanya pada mereka dengan senyum cerah.
Trisno terbengong menatap 2 bidadari yang sangat cantik itu. Ia melongo sambil menatap Ellen tanpa berkedip.
"Tris..." tegur Mina lagi.
"Eh... iya Mbak... ada apa...???" tanya Trisno pada sang kakak sesaat setelah sadar dari lamunannya.
"Jangan bikin malu Mbak... ya Tris... Dia itu adik ipar Mbak... jadi jangan coba coba untuk menyukainya...!!" gumam Mina menasehati adiknya itu.
"Suka tak apa lah Mbak... ketimbang benci... iya nggak...???" seloroh Trisno yang tidak terima nasehat kakak perempuannya itu.
"Tris... ada pepatah jawa kalau adik kakak menikahi adik kakak itu tidak baik... 'Koyo gedhang sak tundun dipangan dewekan wae ra di bagi ambi wong lio' (Seperti pisang satu pohon di makan sendiri tanpa di bagi dengan orang lain). Dan tentunya tidak akan menambah saudara..." seloroh Mina.
"Iya... Mbak... aku tau... tapi itu adik ipar Mbak cantik banget... ga bosen mandangin..." Trisno masih tetap melirik Ellen dengan mata nya.
"Hus... Kamu di bilangin kok ngeyel sih... Tris..." Mina gemes dengan adik lekaki nya itu.
"Mina... kemana Adam....???" tanya Marriane sang ibu mertua.
" Oh... itu Mom... tadi Allan datang. Wajahnya nampak kacau... jadi, aku memintanya untuk menemui Allan..."jawab Mina pada sang ibu mertua.
"Oh..." Marriane hanya ber oh ria saja mendengar jawabah dari sang menantu.
Sementara Alvin, ia tau persis apa yang terjadi. Di mana mana ada CCTV serta mata mata di Mansionnya. Jadi, sudah tentu ia tau apa yang terjadi pada putra ke 2 nya itu. Alvin beranjak dari duduknya dan berjalan ke ruang diskusi atau lebih tepatnya ruang rapat keluarga di samping ruang kerjanya. Setelah berpamitan pada istri serta besannya.
.....
Di ruang diskusi...
Allan dan Adam tengah berdebat.
"Al... kenapa harus wanita itu...? Kau tau sendiri kan, kalau aku membencinya... Aku juga muak melihat wajahnya... Apa tidak ada wanita lain yang ingin kau persunting...? Aku harap, bukan dia... Dia sudah membuat mendiang istriku menderita dengan semua fitnahnya... Aku tidak akan setuju...!!!" Ucap Adam penuh penekanan.
"Aku harus dan akan tetap menikahinya kak... dengan atau tanpa izinmu...!!!" ucap Allan dengan meninggikan suaranya.
"Baiklah... Katakan apa yang menyebabkan dirimu begitu bersi kukuh untuk menikahi wanita tidak tau malu itu...?" tanya Adam dengan nada suara yang sudah merendah.
"Karena aku telah merusak dirinya. Akulah yang telah merenggut keperawanannya kak... Maka dari itu, restui aku untuk bersamanya ..." Allan memohon pada sang kakak.
"Jadi, kau adalah pria brengsek yang tidak bertanggung jawab itu Al...?"geram Adam sambil tangannya mengepal.
"Iya... itu aku kak..." jawab Allan.
"Dasar brengsek..." Adam memukul wajah Allan berkali kali dengan kepalan tangannya. Ia begitu marah setelah mengetahui sang adiklah yang membuatnya harus menanggung malu serta membuat mendiang istrinya menderita. Ia tidak menyangka jika adiknya seorang pecundang. Pecundang yang tak mau mengakui kesalahannya.
Adam begitu murka. Ia ingin membunuh adiknya saat ini juga agar ia puas. Namun ia urungkan. Meskipun brengsek, darah yang mengalir dalam tubuh mereka adalah darah yang sama dan begitu kental terikat tali persaudaraan. Adam mengepalkan tinjunya dengan sekuat tenaga dan melepas kepalan tangannya perlahan.
"Pukul aku kak... pukul aku... meskipun aku mati, Sarah tidak mungkin kembali lagi. Ia sudah tenang di alam sana. Aku mengakui kesalahanku saat ini. Setelah mengetahui jika Jane mengejarmu karena ingin meminta pertanggung jawaban darimu. Ia mengira jika kaulah yang telah mengambil keperawanannya. Aku mengira jika Jane mencintaimu dengan tulus. Maka aku mengalah, membiarkannya mengejarmu meskipun aku tau Sarah akan terluka. Aku menyesali diriku yang telah menjadi pecundang. Kak... maukah kau memaafkan adikmu yang pecundang ini...???" pinta Allan tulus sambil mengatupkan kedua telapak tangannya memohon maaf pada Adam sang kakak.
"Aku tidak tau..." jawab Adam dan beranjak keluar dari ruang diskusi itu dengan perasaan berkecamuk.