My Maid And I

My Maid And I
Part 30. My Maid and I.



Rencana berbelanja sendiri dengan tenang hanya angan belaka. Saat ini tuannya mengikutinya dari belakang. Mina menghela nafasnya kasar😧 melihat sang tuan begitu antusias memilih sesuatu untuk dirinya nanti tentunya. Mina membawa Stroller dan mendorongnya pelan sembali memilih milih bahan makanan yang akan di konsumsi tuannya itu dengan seksama dan meninggalkan tuannya yang sedang asik memilih beberapa snack yang sehat.


Mina melirik sang tuan dari kejauhan, sang tuan yang menggunakan kaos lengan panjang dan juga celana jeans panjang serta kaca mata hitam. Pria itu sedang begitu fokus pada sebuah merek bir. Pria itu kemudian menghampiri Mina dengan membawa 1krat bir dan beberapa kantong snack. Pria itu tersenyum santai tidak memperlihatkan matanya karena tertutup kaca mata hitamnya.


Adam menelusuri setiap lorong super market dan memilih milih barang sesuka hatinya dari rak dan memasukannya ke dalam stroller. Mulai dari bir, pasta, roti yang terbuat dari whole grain, buah buahan segar, sayuran segar,daging, susu, telur, ikan dan kebutuhan rumah lainnya.


" Mr... mengapa anda mengambil begitu banyak barang...??? Kita hanya perlu berbelanja untuk 1 minggu kedepan. Tidak perlu banyak banyak... minggu depan juga saya akan kembali untuk membelinya lagi.... agar tetap mengonsumsi makanan segar..." kata Mina mengingatkan.


"Well... sudahlah Mina... toh aku yang membayar kenapa kamu yang repot..." jawabnya ketus.


Mina mendengus kesal. Pasalnya, selain ia tidak bisa membeli pizza dan menikmatinya kali ini, ia harus menenteng barang bawaan itu sendiri. Ia tidak mungkin di izinkan makan makanan junk food. Maka dari itu, ia mulai cemberut dan menghela nafasnya.


'Bule mah... bebas... fulus banyak... tak paya banyak pikir nak beli ape... nak ambik ape... aku mah apa atuh...πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘' batin Mina dongkol.


Adam terkekeh melihat wajah Mina yang saat ini di tekuk menahan marah. Pasalnya ia masih saja mengambil sesuatu yang mungkin tidak terlalu penting dan menaruhnya di stroller yang sedang di dorong Mina.


"Kita ke kasir Mr..." kata Mina.


"Apa itu cukup...?" tanya nya sambil menunjuk barang barang yang akan ia beli.


"Lebih dari cukup...!!!" kata Mina dengan nada tinggi dan mendorong strollernya untuk mengantri di barisan kasir 2.


Banyak juga pengunjung yang berlalu lalang di dalam super market. Dari berbagai ras dan juga suku yang menempati negara kecil ini. Mina merogoh ponselnya yang berada di dalam tas kecil dan membukanya. Terpampang jelas foto dirinya dan sang suami. Mina menatap foto itu dengan tatapan sendunya.



Adam berdiri di belakang Mina. Wanita yang tingginya hanya sampai dagunya itu tengah memainkan ponselnya. Dan menatap foto suami beserta dirinya yang tengah berdampingan. Dengan jelas ia mampu melihat apa yang sedang Mina lihat saat ini. Adam terdiam dan terus mengamati wanita di depannya itu dengan seksama.


Sesampainya di kasir, Mina mengeluarkan semua yang tadi di pilihnya dan juga tuannya itu. 10 menit kemudian, ia menatap struk belanjaannya dan menerima kembali ATM yang tadi ia berikan. Mina tercengang dan terbelalak 😲 melihat nominal uang yang baru saja dibayarkan menggunakan ATM milik tuannya yang ia bawa selama ini.


$335 Dollar bagi Mina itu adalah nominal yang sangat besar. Mengingat gajinya hanya selisih sedikit dari struk belanjaannya kali ini. Mina menggelengkan kepalanya dan menghela napasnya kasar😧. Ia mendorong stroler berisi belanjaannya keluar dari antrian kasir dan keluar melalui pintu masuk utama, pintu yang sama persis sewaktu ia masuk tadi.


Tanpa memedulikan tuannya yang kini selalu mengikutinya. Mina masih merasa dongkol dengan kata kata tuannya tadi malam. Meskipun ia tau ia salah, tapi tidak seharusnya pria itu mengatai dirinya dengan sebutan yang tidak mengenakan telinga.


Adam masih setia mengikuti Mina dari belakang nya. Membuat Mina mendengus semakin kesal dan menggerutu.


'Ini bule, apa tidak punya kerjaan ya... ngikutin aku terus. Kaya body guard saja... huh... mana banyak orang memandangku dengan tatapan aneh lagi... bikin malu saja... ganteng si iya... tapi kan dia si raja judes dan dingin.... eh... tunggu dulu.... sepertinya kok... dia sudah nggak judes lagi ya... kesambet setan apa sih dia... mending kayak dulu aja itu bule... dingin judes galak... lah sekarang palah jadi aneh.... kemarin saja dia ngatain aku kaya jal**g... kenapa sekarang palah buntutin aku terus.... hih....' Mina bergidik ngeri.


Adam masih setia membuntuti maidnya itu dan tersenyum melihat Mina ngedumel sendiri. 'Ternyata kamu cukup menarik Mina... andai saja kamu belum bersuami, ... ah... mikir apa kau Adam.... di hanya pelayanmu pembantumu bawahanmu....ingatlah siapa dia ...' tapi, Adam tetap melebarkan senyum nya.


Mina menaiki eskalator dengan menenteng stroler yang sangat penuh itu menuju lantai dasar. Mina bermaksud untuk keluar melewati pintu utama dan menyebrangi jalan raya.


Adam mencekal tangan Mina membuat wanita itu berhenti sejenak dan membalikan tubuhnya.


"Kau mau kemana...?" pria itu balik bertanya.


"Pulang..." jawab Mina pelan.


"Bukankah kita naik taxi saja...!!" kata pria itu.


"Silahkan anda sendiri... saya mau jalan kaki..." kata Mina dan berlalu memunggungi sang tuan.


"What....!!!! are you kidding me..? Jalan kaki...??? Sejauh itu.....???"tanya Adam pada Mina.


Mina berbalik menatap sang tuan dan menganggukan kepalanya.


"Kita naik taxi saja..." kata pria itu sambil memegang erat tangan Mina. "Atau tunggulah... aku akan menelpon Stanly..." kata pria itu dengan tetap memegangi tangan Mina.


" Maaf Mr... saya tidak mau mabuk kendaraan lagi... seperti kemarin..." kata Mina jujur.


Belum sempat ia menelpon sang asisten, ia menatap Mina dan melepas genggaman tangannya. Mengingat semalam Mina begitu lemas dan juga pucat ditambah lagi dengan kata kata kasarnya membuat Adam menghela nafasnya pelan.


" Baiklah, kita jalan kaki..." kata pria itu pelan dan mendahului langkah Mina.



Mina tambah ngedumel lagi. Lebih sebal karena pria yang menjadi tuannya itu berjalan sangat cepat. Ia tidak bisa mengimbangi langkah tuannya meskipun sudah sedikit berlari.


"Kau ini orang atau keong...??? Kenapa pelan sekali langkahmu....???" kata pria itu dan menyambar stroller itu dari tangan Mina.


Mina membelalakan matanya melihat tingkah tuannya.


"Kenapa kau begitu...???" tanya Adam. "Sudahlah...tidak usah terharu begitu... biarkan aku yang bawa...!!! Meskipun aku tuanmu, tapi aku tidak ingin orang lain menganggapku seakan tidak gentle membiarkan wanita membawa barang begitu banyak..." ketus pria itu.


Rasa terharu Mina menguap begitu saja. Tuannya memang tadi benar benar di rasuki jin baik. Bisa bersikap manis pagi tadi. Bagaimana tidak, sekarang sikap menyebalkannya mulai keluar lagi.


Mina mengikuti langkah tuannya yang panjang dan cepat itu dengan berlari menyebrangi jalanan yang tengah berhenti ketika Traffic light ( rambu2 lalulintas) berwarna hijau untuk pejalan kaki tentunya.


πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


"Apa bila ada kata kata dan juga ungkapan yang tidak sesuai, tolong maklumi saja... penulis amatiran... baru latihan jadi penulis... kadang kadang juga tidak fokus sama cerita sama lupa jalan cerita.


Cuma ingin mewujudkan impian masa sekolah dulu yang ingin jadi penulis".