My Maid And I

My Maid And I
Part 29. My Maid and I.



Stanly pov..


Seumur hidupku, baru kali ini aku di tolak wanita. Bahkan dulu seorang wanita bersuamipun mau aku ajak kencan. Dan ini adalah hal yang paling memalukan yang pernah terjadi di hidupku.


Aku mengira semua wanita sama. Aku mengira dengan uang yang aku punya, aku bisa memilih wanita sesukaku semauku. Satu satunya hanya Mina yang menolak ketampananku.


Pekerjaanku menjadi asisten pribadi sekaligus tangan kanan juga orang kepercayaan Boss, tentu saja dengan imbalan gaji yang tidak sedikit. Itu lebih dari cukup untuk diriku bersenang senang dengan siapapun yang aku mau.


Tapi hari ini, mendengar penolakan halus dari mulut Mina, membuatku sadar bahwa setiap wanita memanglah sama sama wanita, tetapi memiliki sifat dan sikap yang berbeda.


Meskipun awalnya aku hanya berusaha menggodanya berusaha memancingnya, tapi malah membuatku terhunus dengan belati yang tidak terlihat. Penolakan Mina begitu halus, ia mengatakan bahwa ia menghormatiku selayaknya ia menghormati tuannya dan telah menganggapku sebagai kakaknya.


Tidak seharusnya aku menguji imannya dan juga kesetiaannya pada sang suami. Sudah barang tentu jika memang seorang wanita menikah dan memiliki keluarga, meskipun terbentang jauh di ujung utara dan selatan bumi sekalipun mereka terpisah, jika memang wanita itu mencintai suaminya, ia tidak akan pernah sekalipun berpaling dari sang suami. Walau diiming imingi bongkahan emas berlian sekalipun.


Aku mengacak acak rambutku frustrasi. Seandainya aku dapat menemukan wanita yang memiliki sifat yang sama dengan Mina, aku dengan segera menikahinya dan membuatnya menjadi ratu di hatiku.


Aku menatap pantulan wajahku di cermin. Wajah ini adalah wajah seorang Lady killer. Penakluk wanita. Tapi, sangat menjijika pikirku. Aku harus berubah. Aku tidak ingin terus hidup dalam jurang maksiat ini selamanya.


Aku berlalu dari kamar mandi dan berjalan menuju ranjang kurebahkan tubuh ini ke atas kasur dengan tengkurap. aku belum mengenakan pakaianku. Handuk masih dengan setia melekat di pinggangku untuk menutupi aset berhargaku.


Aku mulai merasakan kantuk yang sangat berat. Perlahan lahan aku mulai memejamkan mata dan hanyut kedalam alam mimpi.


*******


Pagi menjelang, matahari masih malu malu mengintip di balik awan di ufuk timur. Mina telah terbangun sedari tadi. Saat ini, ia tengah membersihkan kaca jendela apartemen bagian dalam. Dan melepas gorden untuk ia cuci.


Pakaian kotor tuannya belum dia bawa keluar. Pasalnya tuannya itu belum terbangun dari tidurnya. Selasai membersihkan semua ruangan, Mina membawa gorden kotor ke tempat cuci pakaian dan merendamnya. Sambil menunggu rendaman cucian, Mina membuat bubur untuk sarapannya. Sementara menunggu bubur matang, ia menumis tahu dan kacang buncis. Membuat sup ayam dan menggoreng telur yang sudah ia campur dengan tomat dan daun sledri.


Setelah bubur matang dan juga makanan yang lain tersaji, Mina mencuci peralatan masak serta membersihkan dapur.Kemudian mencuci rendaman gorden dan membilasnya kemudian dikeringkan di mesin cuci. Sambil menunggu mesin cuci berhenti, ia membersihkan tempat cuci pakaian dengan menyikatnya berualang ulang.


Mina menjemur gorden itu dengan cepat. Ia sudah sangat lapar. Sedari pagi ia bangun, ia hanya meminum 2 gelas air putih hangat saja. Mina menatap jam sudah menunjukan pukul 8:30 am. Meski ini lebih pagi dari biasanya dia sarapan, ia tetap akan memakannya agar sakit magh nya tidak kambuh.


Sesampainya di meja makan, Mina tercengang dengan sosok pria yang tengah duduk memunggunginya di kursi ruang makan.


Tuannya telah bangun dan baru saja selesai mandi. Itu terlihat dari rambutnya yang masih basah. Pria itu menggunakan kaos putih polos dan celana pendek rumahannya.


"Good morning Mr..."sapa Mina.


Pria itu berbalik mencari asal suara. "Hmm... good morning..." balasnya. Adam menatap Mina dengan seksama. "Kopi... " pintanya.


Mina tidak menjawabnya, melainkan hanya mengangguk dan berbalik menuju dapur.


Sesaat kemudian, ia kembali dengan secangkir kopi pesanan sang tuan.


" Sorry..."


Mina hanya terdiam dan menatap lekat wajah tuannya itu. Ia tidak mengerti dengan apa yang tuannya katakan. Mina berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman tangan tuannya itu.


"Lepaskan tangan saya Mr...." kata Mina pelan.


Adam tersadar dan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mina.


"Ambilkan aku mangkuk Temani aku sarapan, kita sarapan bersama...." kata pria itu sarat perintah.


Mina mengambil 2 mangkuk dan 2 piring serta sendok dan 2 gelas air putih.


'Bukankah bubur itu aku buat untuk diriku sendiri.... kenapa ia ikut makan...?? La nanti aku kena omel lagi gimana nih...!!!' bati Mina seraya meletakannya di atas meja.


"Duduk lah..." pinta sang tuan.


"Kita sarapan bersama..." kata pria itu meneruskan.


Mina mengambil bubur dan menuangkannya ke dalam mangkuk kemudiam memberikannya pada sang tuan. Adam mengamati wajah Mina dengan jarak 1 meter dari tempat dirinya duduk. Waniya itu sudah tidak menggunakan kalung pemberian asistennya.


Adam tersenyum dan mulai menyendokan buburnya dan memasukannya ke dalam mulut.


Aroma jahe dan juga minyak wijen menyeruak masuk ke dalam mulutnya. Adam cukup menikmati bubur tawar buatan Mina yang dipadukan dengan sup ayam yang gurih. Tumisan tahu dan kacang buncis juga terasa nikmat di mulutnya. Sepotong telur dadar yang hanya di beri campuran tomat dan sledri itu juga terasa gurih di mulutnya.


Adam tidak pernah sarapan nasi ataupun bubur selama ini. Adam menikmati sarapannya dengan sesekali mencuri pandang pada Mina yang juga tengah menikmati sarapannya. Adam tau mengapa Mina kini berubah menjadi cantik.


Itu berasal dari pola makan yang sehat dan seimbang serta mengurangi konsumsi gula dsn minyak. Semua makanan yang sedang dinikmati juga kurang rasa asin. Bisa di bilang tidak ada rasa. Bagi Adam, rasa tidak masalah.


Porsi makan Mina juga sedikit berkurang. Mina tanpa sengaja menatap mata tuannya. Namun buru buru ia mengalihkan pandangannya.


Adam menyeruput kopinya. 'Benar apa kata mu Stan... kopi buatan Mina memang yang terbaik...' batin Adam kemudian tersenyum.


Mina beranjak dari duduknya dan mulai membereskan serta membersihkan peralatan makannya. Dan membawanya ke dapur. Mina meminum susu low fat segarnya dengan berdiri memunggungi sang tuan dan santai di dapur.


Adam terkekeh geli melihat Mina meminumnya dengan menutup hidungnya. Adam tau, karena sebagian orang tidak suka bau susu segar. Begitu juga dirinya.


Adam membawa cangkir kopinya ke ruang kerjanya. Ia mendaratkan pantatnya di sofa untuk duduk dan memeriksa lap topnya.


Mina membereskan meja makan dan mulai mencuci piring kotor serta lainnya. Hari ini hari minggu. Karena sang tuan sudah kembali, ia harus berbelanja bahan makanan dengan kualitas premium kembali seperti sedia kala.


Mina bergegas ke kamarnya. Setelah mandi dan bersiap siap, hanya tinggal meminta izin atau pamit pada tuannya itu. Kartu ATM milik tuannya juga masih ada pada dirinya.