
Sesampainya Adam dan Mina di sebuah kota yang ada di Kalimantan Tengah, yaitu Kota Sampit. Ya... Ayah dan Ibu serta adiknya Mina berkerja di perkebunan kelapa sawit yang ada di Kota Sampit itu.
Perasaan Mina campur aduk. Ia tidak tau nanti apa yang akan terjadi. Tapi, feellingnya mengatakan, bahwa ia tidak akan di beri kelancaran. Entahlah...
Adam dan Mina memasuki pelataran sebuah pondok yang panjang menjuntai. Itu mungkin adalah tempat tinggal untuk para pekerja yang berkerja di peekebunan kelapa sawit. Merasa tidak ada pergerakan orang di sekitar bangunan, Adam dan Mina kembali untuk menunggu di dalam mobil yang di sewa oleh Adam sekaligus berserta supirnya. Lebih tepatnya karena tidak ada tanda tanda kehidupan disana.
Adam menatap ponselnya yang dari tadi memberikan notifikasi. Ya... itu adalah pesan pesan dari orang suruhan Adam serta pesan dari Stanly. Ia membaca pesan dari orang suruhannya dahulu. Adam menatap gambar hasil jepretan orang suruhannya.
Seorang wanita berusia di atas 50 tahun, Seorang pria berusia hampir 60 tahun, serta seorang pemuda yang usianya lebih muda dari Mina, yang Adam yakin, mereka adalah keluarga Mina. Calon istrinya.
Adam menatap Mina yang tengah terlelap di pangkuannya. Ia bersyukur untuk hal ini. Setidaknya, Mina sudah tidak menolaknya lagi. Hanya saja, Adam merasa bersalah pada wanita yang ada di pangkuannya itu.
Adam mengelus rambut Mina perlahan. Pak sopir yang sedari tadi keluar, saat ini tengah duduk di sebuah bangku di bawah pohon besar dekat mobil yang terparkir.
Cukup lama Adam dan Mina menunggu orang tua Mina kembali dari perkebunan. Adam yakin, hari ini akan lancar.
Adam mengelus kepala Mina dengan lembut. Entah berapa kali Mina terlelap dan terbangun. Pria itu masih di posisi yang sama. Lelah perjalanan dari Bandar Udara yang ada di Sampit bagian perkotaan, membuat Mina sering tertidur. Apalagi di tambah hormon kehamilannya yang sangat cepat mengantuk dan bermalasan.
Dari kejauhan, Adam melihat sepasang suami istri dan seorang pemuda tengah berjalan kembali berserta pekerja lainnya. Adam tau, ia tidak mungkin membangunkan Mina yang tengah terlelap tidur. Perlahan, Adam membaringkan kepala Mina di jok mobil yang memang lebar dan dapat untuk rebahan.
Adam keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka. Orang yang ia tau adalah keluarga Mina. Adam tersenyum menghampiri pondok yang menjadi tempat mereka untuk pulang.
"Permisi..." ucap Adam pada orang tua Mina yang tengah duduk di teras pondok mereka tinggal.
"Iya..." sapa ke 3 orang disana dengan serentak.
"Ada yang bisa saya bantu Mr...?" ucap Trisno adik dari Mina.
"Saya ingin bertemu dengan Bapak serta Ibu Sapto Utomo...." Adam berkata dalam bahasa Indonesia.
"Saya di sini... Ada apa ya...? Ada perlu apa anda mencari saya...?" ucap Pak Sapto ayah dari Mina.
"Kedatangan saya kemari, saya ingin membicarakan hal yang sangat penting dan mendesak, bisakah saya masuk ke dalam rumah anda dahulu, agar saya bisa menjelaskan maksud dari kedatangan saya kemari..." ucap Adam pada Pak Sapto.
"Oh... iya... mari, mari silahkan masuk..." ucap Pak Sapto.
"Bu... tolong buatkan minum, dan kamu Tris, temani bapak di dalam, bapak tidak mudeng dengan omongan pria itu, logatnya aneh..." ucap Pak Sapto pada sang putra, dan hanya di angguki oleh anaknya.
Sesampainya di dalam, Adam duduk di kursi bambu rakitan. Rumah yang sangat sederhana serta nyaman untuk di huni. Rumah yang di sediakan oleh PT tempat dimana mereka bekerja saat ini.
Trisno dan Pak Sapto duduk di seberang Adam. Menatap heran pada pria bule yang ada di depannya itu.
"Kalau boleh saya bertanya, ada maksud apa anda datang kemari...?" Trisno memulai.
"Perkenalkan, nama saya Adam Christian Johanson. Saya adalah majikan dari Sarmina putri anda yang berkerja di Singapura..." Adam memperkenalkan diri di depan Pak Sapto.
"Apa... kakak perempuan saya membuat masalah di rumah anda Mr...?" tanya Trisno lagi.
"Ah... Tidak... Mina tidak membuat masalah. Hanya saja, saya yang membuat masalah..." ucap Adam.
"Jadi, begini... Bla bla bla bla...." Adam mulai menceritakan semuanya agar mereka paham dan mengerti apa maksud dan tujuannya datang.
.
.
.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
.
.
.
Mina menggeliat dan bangkit dari rebahannya, ia duduk di tempat semula sambil mengerjapkan matanya pelan. Ia memandang ke sekitar, mencari cari pria yang sedari tadi di sampingnya. Mina menatap ke luar jendela mobil. Hari sudah gelap. Lampu lampu sekitar rumah pun sudah di nyalakan. Namun, ia tidak menemukan pria itu di luar sana.
Mina beranjak dari tempatnya duduk dan membuka pintu mobil, ia hendak keluar dari dalam sana. Tapi, pak sopir yang tengah duduk di dekat pohon bangkit dan langsung menghentikan Mina atas suruhan dari Adam tadi.
" Kemana Mr Adam, Pak...?" tanya Mina saat ia sudah berdiri di luar mobil.
"Mr Adam ada di dalam Nyonya... Anda di minta menunggu saja di sini..." ucap pak sopir.
"Saya ingin masuk untuk bertemu dengan keluarga saya, Pak... Ijinkan saya untuk masuk ke dalam..." ucap Mina dengan memelas.
Pak Sopir langsung masuk ke dalam rumah untuk memberitahu Mr Adam bahwa sang Nyonya sudah terbangun dan ingin memaksa masuk. Mina hanya pasrah duduk di kursi bawah pohon untuk menunggu. Ia juga was was, jantungnya berdebar sangat cepat. Seakan akan akan copot dari tempatnya karena saking cepatnya.
Mina mendengar suara Mr Adam yang memanggilnya dari teras rumah itu. Memintanya untuk mendekat. Mina beranjak dari tempatnya duduk dan menghampiri pria itu dengan perasaan gusar.
"Mina kemarilah... mereka ingin bertemu denganmu..." ucap Adam sambil tersenyum.
Adam menggenggam telapak tangan Mina dan menuntunnya untuk masuk kedalam rumah itu. Dari dalam rumah, Ayah, Ibu serta adiknya tengah menunggu sambil duduk di bangku bambu. Senyum di wajah mereka terpancar penuh dengan kerinduan.
"Nak... kemarilah..." ucap Pak Sapto melambai meminta Mina untuk mendekat.
"Pak... Bu... maafkan Mina ya...? Mina tidak bisa menjaga amanat dari Bapak serta Ibu untuk menjaga diri di negeri orang. Serta maafkan anakmu ini yang mungkin saja menikah tidak hanya sekali seumur hidup... Kesalahan anakmu ini merupakan aib untuk keluarga. Maafkan anakmu ini..." ucap Mina sambil bersimpuh di depan orang tuanya.
Ibu dan Pak Sapto hanya menangis mendengar ucapan Mina setelah tadi mendengar penjelasan dari pria Bule yang telah menodai anaknya itu serta harus kehilangan keluarganya.
Yang lebih membuatnya marah ialah, mantan menantunya itu lebih memilih uang di banding putrinya yang saat itu masih bersetatus istri. Ia tidak pernah menyangka, keputusannya mengijinkan putrinya, Mina untuk bekerja di luar negri adalah awal dari kehancuran biduk rumah tangga anak perempuannya itu.
Nasi sudah menjadi bubur. Meskipun menjadi bubur, tetap harus di nikmati dan di syukuri. Pak Sapto menatap pria Bule yang telah membuat anaknya itu menjadi janda serta tengah mengandung benih dari pria itu.
Dengan lapang dada orang tua Mina mengizinkan Mina di persunting pria Bule itu, tapi dengan syarat pria Bule itu harus seiman dengan Mina.
Adam menyetujui syarat itu. Agar Mina sah menjadi istrinya serta miliknya seutuhnya. Ia memutuskan untuk menjadi mualaf saat itu juga.