My Maid And I

My Maid And I
Part 28. My Maid and I.



Tidak ada percakapan di dalam lift selama perjalanan dari tempat parkir menuju lantai 12. Mina dan Adam masih diam membisu dengan pikiran mereka masing masing.


Ting...


Pintu lift terbuka. Mina keluar mendahului tuannya dan berjalan menuju pintu masuk apartemen. Ia menyisipkan ibu jarinya kedalam mesin pintu otomatis. Setelah pintu terbuka, ia menyakakan lampu ruang utama.


Adam masuk ke dalam apartemen dengan menarik kopernya dan berjalan menuju kamar utama, kamarnya. Tidak ada yang berubah gumamnya dalam hati. Tetap bersih dan juga rapi seperti biasanya.


Adam meletakan kopernya di dekat ranjang dan ia merebahkan tubuhnya di atas kasur. Perjalanan yang melelahkan telah ia lalui dan ia membutuhkan mandi atau berendam di air hangat agar tubuhnya rileks.


Ia bangkit dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah mengisi penuh Bath-tub dengan air hangat, ia menanggalkan semua pakaiannya dan masuk kedalam Bath-tub yang telah ia beri wewangian aroma terapi.


Sejenak ia menenangkan pikirannya. Tiba tiba saja, ia teringat kata kata Mina dan juga air mata kesedihan wanita itu. Ia tahu, kata katanya tadi begitu kasar, bahkan dirinya mengatakan seolah olah Mina adalah seorang jal*ng. Dan yang membuatnya menyesal adalah ia terlalu marah pada wanita itu.


Tak seharusnya ia marah pada Mina. Dia bukan siapa siapanya. Hanya seorang pekerja di rumahnya. Tapi, ia tidak ingin kejadian dimana maidnya yang dulu terulang pada Mina. Meskipun bukan Stanly pelakunya melainkan pria entah darimana dulu. Tapi besar kemungkinan jika ia membiarkan saja mereka, mereka akan melewati batas.


Mina wanita yang terlalu polos, meskipun telah bersuami dan memiliki 2 orang anak. Ia tidak tau kerasnya hidup yang sesungguhnya. Bukan menghinanya, tapi memang dia berasal dari tempat yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota besar dan kehidupannya sangat nyaman tidak ada kerasnya perseteruan dan kehidupan glamour melanda selama hidupnya.


Bahkan jika yang memberinya perhiasan itu bukan Stanly melainkan pria lain, sudah tentu wanita itu harus mau mempertanggung jawabkan dengan memberikan tubuhnya pada pria itu. Adam tau dengan jelas karena di dunia ini tidak ada yang gratis.


Berhenti dengan pemikirannya, Adam bangkit dari Bath-tub dan membersihkan dirinya di bawah guyuran Shower air hangat. Beberapa saat kemudian, ia meraih handuk dan berjalan ke luar kamar mandi menuju lemari pakaiannya.


Tatanan pakaiannya selalu rapi dan sesuai tempatnya. Adam tersenyum getir, mengingat ia begitu keras pada pekerjanya itu. Ia tau, Mina wanita yang kuat dan pantang menyerah. Ia selalu berusaha belajar serta melakukan apapun yang ia suruh. Sungguh jika wanita itu tidak mengalami kerasnya kehidupan dan terlahir kaya sepertinya, mungkin ia tidak akan berusaha dengan begitu keras dan giat.


Setelah memakai pakaiannya, Adam keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur. Ia bermaksud untuk mengambil air minum.


Setelah meneguk habis air mineralnya, ia membuka kulkas bermaksud mencari makanan untuk ia makan. Tapi hanya bahan bahan mentah saja.


Ketika Adam akan mengetuk pintu kamar Mina, bermaksud untuk meminta wanita itu untuk membuatnya makanan. Tapi ia urungkan saat mendengar isakan tangis dari dalam kamar itu. Ia tau pasti maidnya tengah menangis pilu karena kata kata kasarnya tadi.


Adam berbalik menuju kamarnya dan merebahkan tubuh lelahnya di ranjang. Satu tangannya ia letakan di atas keningnya. Berharap kantuk segera datang. Ia menyesali kata katanya pada Mina. Ia tau tidak semua wanita sama. Ia akan meminta maaf esok pagi.


************


Mina tengah menangis pilu. Kata kata tuannya itu memang benar. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Ia menerima hadiah mahal dari seorang pria yang bukan suaminya. Sudah barang tentu orang lain akan beranggapan bahwa dirinya telah menyerahkan harga dirinya pada pria itu.


Meskipun tadi siang ia sudah menolaknya dengan keras, tapi asisten Stanly mengancam dirinya akan berbuat sesuka hatinya apa bila ia tidak mau menerima pemberiannya. Karena takut dengan ancaman itu, ia terpaksa menerimanya.


Mina menatap lehernya yang sekarang lebih kurus di cermin. Kalung itu memang pas di


lehernya.



Tapi rasanya tidak sepadan dengan penghinaan tuannya tadi. Ia melepas anting beserta kalung itu dan meletakannya di sebuah kotak kecil.


Mina menatap jaz milik asiaten Stanly yang tadi ia gunakan untuk menghangatkan badannya.


Ia merasa bersalah pada suaminya. Pasalnya, sejenak ia telah hanyut dalam gemerlap dunia dan melupakan statusnya sebagai seorang istri dan ibu. 'Maafkan aku mas... maafkan aku anak anakku...' gumamnya dalam hati.


Ia meraih ponsel di dalam tas kecil yang tadi ia bawa kemana mana. Ada begitu banyak pesan dari via Whats apps nya. Dari suami yang sangat ia cintai. Mina membaca 1 persatu isi pesannya.


My husband : Dek kok nggak telpon...??? Lagi sibuk ya....??? Ya udah, kerja dulu... aku juga lagi kerja...


12: 15 pm.


My husband : Masih belum kelar ya... kok nggak di baca...???


13: 25 pm.


My husband : Kamu nggak papa kan dek....???


14: 35 pm.


(Panggilan tidak terjawab My husband)


14: 50 pm.


15: 10 pm.


(Panggilan tidak terjawab My husband)


15: 30 pm.


My husband: Dek... aku kok kawatir dengan kamu... kamu baik baik saja kan... semoga hanya firasatku saja.


16: 30 pm.


(Panggilan tidak terjawab My husband)


17:00 pm.


My husband: Dek... tidak seperti biasanya kamu mengabaikan pesanku... jika sudah terbaca, segera hubungi aku...


20: 30 pm.


(Panggilan tidak terjawab My husband)


21: 15 pm.


Mina menatap jam digital di ponselnya. Waktu telah menunjukan pukul 22: 05 pm. Mina langsung menghubungi suaminya itu dengan via vi call.


My husband : "Asalamuallaikum dek..."


Me: "Wa'allaikum salam mas... , maaf mas aku baru bisa telpon kamu. hari ini aku sibuk sekali sampai tidak bisa pegang handphone... mas belum tidur...?"


My husband:" Aku belum ngantuk dek... kepikiran kamu terus, karena kamu tidak menjawab telfonku ataupun membalas pesanku. Aku takut kamu kenapa napa... tapi syukurlah bahwa kamu baik baik saja..." wajahnya tersenyum.


My husband:" Kamu sepertinya pucat dan kelelahan dek...!! Apa kamu sakit...?? Kamu sudah makan...???" penuh kekhawatiran di wajahnya.


Me:"Aku nggak sakit mas... aku tadi cuma mabuk kendaraan saja... sekarang udah mendingan kok..." sambil tersenyum.


My husband:" Memang kamu dari mana dek...???" tanyanya penasaran.


Me:"Aku habis ikut menjemput majikanku di bandara... dia baru saja kembali dari Kanada... Kamu kan tau sendiri mas kalau aku dari dulu selalu mabuk kalau naik kendaraan apapun,apa lagi kendaraan yang ber AC" tersenyum sambil menggeleng.


My husban:"Kamu ini dek... masih begitu saja... lantas dulu sewaktu kamu naik pesawat pas kamu berangkat kesitu, kamu juga mabuk kendaraan gitu...???" sembari tersenyum merekah memperlihatkan giginya yang putih dan rapi.


Me:" Iya gitu lah... mas... kamu tau sendiri...😂😂😂"


My husband:" 😆😆😆😆 kamu dek..." terkikik geli.


Setengah jam kemudian, mereka masih bercengkrama. Mina menatap jam di dinding kamarnya. Sudah hampir pukul 11 malam. Mina menatap wajah prianya itu dengan tatapan sendunya.


Me:" Mas... sudah malam... kamu istirahat dulu.. aku juga mau istirahat... kapan kapan kita sambung lagi ya...???"


My husband:" He'em... dek... kamu juga istirahat ya... selamat malam.... sayang ... semoga mimpi indah.... assalamuallaikum.."


Me:"Kamu juga mas... wa allaikum salam... aku tutup ya...???"


My husband:" He'em" sembari menganggukan kepalanya.


Mina menatap foto suaminya di handphonenya dan merebahkan tubuhnya di kasur. Lambat laun matanya tertutup dan mulai masuk ke dalam alam mimpi.