My Maid And I

My Maid And I
Part 65. My Maid and I.



Mina merasa lelah dengan kesehariannya. Meskipun ia bekerja membersihkan sebagian Mansion milik tuannya yang baru, ia begitu bosan dengan apa yang ia kerjakan. Tidak tau harus berbuat apa setelah dengan cepat mengerjakan tugasnya.


Ponselnya tertinggal di tempat kerjanya yang lalu di Singapura. Ah.. ralat, lebih tepatnya ponsel itu milik tuannya terdahulu. Ia tau dan hafal nomor suaminya tapi, ia tidak tau di mana tepatnya dirinya saat ini.


Yang menjadi kendala, ia tidak mempunyai ponsel serta tidak bisa dengan mudah mengakses ke luar Mansion saat ini. Hanya ketika ia check up kesehatan saja di rumah sakit ia bisa melihat dunia luar, itu pun harus dengan supir pribadi tuannya yang baru. Ia tidak tau apakah dirinya masih berada di Australia atau dimana. Ia seakan terpenjara di tempat ini. Yang ia tau, saat ini dirinya begitu suntuk dan tidak bisa berbuat apa apa.


Meskipun begitu, beruntungnya seorang pria yang kini menjadi tuannya telah menyelamatkan dirinya dari genggaman tuannya terdahulu. Meskipun ia begitu tidak menyukai tempat ini. Bekerja dengan begitu banyak pelayan lain, membuatnya terkucilkan.


Selain tidak tau bahasa mereka ketika mereka membicarakannya. Dan selain bahasa Inggris ia tidak tau mereka berbicara bahasa apa. Mina berusaha berbaur dengan mereka, namun mereka selalu menghindarinya.


Hanya Ellie yang mau berteman dengannya serta menemaninya di sebagian ruangan yang ia tempati serta ia bersihkan sendiri. Mina juga merasa aneh dengan sikap tuannya yang baru. Semua pelayan menempati rumah yang di sebut rumah belakang yang memang letaknya di belakang Mansion yang ia tinggali saat ini, hanya dirinya sendiri yang berada di sebuah ruangan Mansion sebelah timur.


Ada kejanggalan dengan setiap hal yang ia lalui. Ellie hanya mengatakan, jika dirinya hanya di tempatkan bersama Mina saja, ia tidak tau dengan apa yang terjadi sebenarnya.


Mina hanya menghela nafasnya pelan sudah 1 setengah bulan ia berada di tempat ini, berputar putar dengan kesehariannya yang sama. Selama itu pula ia lupa jika dirinya telah terlambat datang bulan.


Pagi itu, ia begitu pusing dan mual serta dingin disertai menggigil. Mina kira, ia hanya masuk angin seperti biasanya. Tiba tiba saja kepalanya begitu berat dan ia merasa sekelilingnya berputar putar. Mina ambruk di lantai saat dirinya sedang menelap kaca jendela.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤


Ketika dirinya terbangun, Mina telah terbaring di ranjang dan seorang wanita tua tengah duduk di kursi dekat dirinya terbaring. Wanita tua itu tersenyum cerah. Ada sekelebat ingatan di pikiran Mina, ia merasa wanita tua itu mirip seseorang. Namun entah siapa.


"Oh... My dear... kau sudah siuman...???" tanya wanita tua itu.


Mina hanya mengangguk sembari berbaring. Mina tersenyum pada wanita itu. Wanita tua itu nampak anggun dengan pakaian rumahan wanita modern. Mina hanya tidak tau ingin berbuat apa. Ia menatap sekeliling dan hanya ada wanita itu.


Seorang Dokter wanita masuk dengan membawa resep obat serta vitamin. Mina terheran dengan kedatangan wanita itu, karena setau dirinya, ia hanya masuk angin biasa. Dan itu pun bisa cepat sembuh jika ia minum air rebusan jahe serta madu.


"Selamat Nona atas kehamilan anda. Saya harap anda bisa menjaga kehamilan anda dengan tidak melakukan aktifitas yang berat. Cukup sekedarnya saja...." ucap sang Dokter dengan tersenyum cerah.


"Oh... My Dear... terima kasih kamu mau mengandung cucuku... aku akan sangat senang jika kau tinggal bersama denganku..." ucap wanita tua itu sambil mengusap rambit Mina.


Mina hanya diam tidak berkata apa pun. Suaranya tercekat di tenggorokan dan tidak bisa di keluarkan.


Mina Pov...


Apa yang harus aku lakukan... Ya... Allah... kenapa cobaan ini begitu berat. Belum sembuh luka yang di lakukan Mr Adam terhadap diriku... Kini, aku harus mengandung benih dari pria itu. Sedangkan saat ini aku tidak tau dimana diriku berada.


Aku harus berkata apa pada suamiku kelak... Apa yang akan di pikirkan suamiku tentang diriku. Meskipun hati ini tidak menghianatinya, tapi tubuh ini tidaklah sesuci dulu. Orang lain pernah menyentuhku serta menjamahku. Aku merasa kotor dengan tubuhku dan tidak pantas untuk menjadi istri mas Jono lagi. Tapi, bagaimana cara agar aku bisa menghubungi suamiku. Mungkin dengan memintanya untuk menikah lagi atau apapun itu, tapi aku tidak punya ponsel saat ini. Baru saja aku bekerja 1 bulan lebih di tempat ini, aku tidak mungkin meminta izin membeli ponsel. Dan juga, pasti saat aku hanyalah TKI ilegal. Bagaimana caraku menghubungi suamiku. Aku merasa sudah tidak pantas berdampingan dengannya.


Menangis pun tidak ada gunanya. Tidak akan merubah apa pun saat ini. Ku seka air mata yang menetes dan duduk di ranjang nan empuk itu. Aku bangkit dan berjalan menuju pintu dimana seorang Dokter serta wanita tua yang entah siapa itu keluar dari sana.


Aku membuka pintu perlahan. Aku dapat mendengar suara seseorang yang tidak asing di balik pintu yang katanya sangat terlarang untuk aku dan Ellie masuki. Aku begitu penasaran dengan apa yang ada di balik pintu itu. Untungnya, pintu itu tidak tertutup dengan rapat, sehingga aku bisa dengan mudah melongok ke dalam ruangan tersebut.


Tiba tiba saja, nafas ku tercekat dan lebih parah dari pada tadi sewaktu Dokter mengatakan bahwa aku hamil. Yang membuatku sangat sulit untuk bernafas saat ini ialah, aku melihat pria kejam itu tengah mengobrol dengan wanita tua tadi dan memanggilnya dengan sebutan Mom...


Jadi, Mr Adam adalah anaknya...!!! Jadi, ini adalah alasan wanita itu mengatakan terima kasih padaku karena sudah mengandung cucunya. Aku baru menyadari teka teki yang selama ini mengganjal di hatiku. Aku berjalan dengan langkah gontai kembali ke kamar tidur. Selain tubuhku lelah, lemas serta rasa mual yang mulai hadir kembali.


Tubuhku lemas dan terhuyung, tidak sengaja aku menyenggol sebuah guci besar dan


"PRANGGGG...."


guci itu jatuh dan pecah menjadi serpihan kecil di lantai. Aku hendak beranjak meninggalkan tepat ini tapi....


"Berhenti disana...!!!" perintah sebuah suara seorang pria aku kenal dengan jelas.


Aku berdiri mematung saat suara bariton nan serak itu menyuruhku berhenti. Aku tidak menatap pria itu. Aku tidak takut juka di marahi, hanya saja aku takut jika kejadian 1 setengah bulan yang lalu terulang kembali.


Pria itu, ah... lebih tepatnya Mr Adam berjalan menghampiriku. Suara sepatunya yang mendominasi itu berhenti tepat di belakangku. Aku berusaha untuk tidak terlihat gemetaran dan takut. Aku juga tidak mau di anggap lemah oleh Mr Adam.


Saat aku akan beranjak dari tempatku berdiri, Mr Adam mencekal tanganku dan menjauh dari pecahan guci keramik itu. Wanita tua juga keluar dari ruangan yang sama dari Mr Adam, hanya tersenyum simpul.


" Adam... ajak kekasihmu makan, kemudian suruh ia minum vitamin agar bayinya sehat...." ucap wanita tua.


"Baik lah... Mom...." ucap wanita tua itu.