My Maid And I

My Maid And I
S2 MOO PART 26



Pagi yang mendung. Awan hitam serta kabut menghiasi halaman luar Mansion Johanson. Pemandangan dengan jarak 10 meter pun tidak terjangkau dengan penglihatan mata. Membuat udara serta hawa dingin menusuk tulang.


Mina tengah menyiapkan air hangat untuk putrinya mandi. Mina selalu menyempatkan diri untuk bangun pagi. Selain udara pagi bagus untuk ibu hamil karena masih segar dan tentunya tanpa polusi. Mina beranjak dari kamar mandi menuju ranjang untuk membangunkan putrinya. Ranjang serta ruangan yang di hiasi kartun Hello Kitty berwarna pink muda. Kartun kesukaan putrinya itu.


Mina tidak berhenti bersyukur setiap saat. Ia mendapatkan suami, mertua serta ipar yang baik.Mereka mau menerima dirinya serta anak anaknya di rumah bak istana ini. Tidak hanya syukur yang selalu ia panjatkan untuk Allah SWT. Tapi juga ia berusaha untuk membalas semua kebaikan keluarga sang suami dengan perlakuan baik pada mereka.


"Sayang... Bangunlah... Hari sudah pagi... Ayo... Bangun... Ibu sudah menyiapkan air hangat untuk kamu mandi..." ucap Mina lembut membangunkan putrinya dengan telaten.


Dwi Ariana mulai menggeliat dan mengerjapkan matanya pelan. Ia tersenyum manis karena mendapati sang ibu berada di dekatnya. Dia masih seorang gadis kecil yang manja. Meskipun sudah kelas 2 sekolah dasar.


"Bu... Tapi aku masih mengantuk... Dan juga, pagi ini sangat mendung serta dingin... Apa tidak boleh aku tidur lagi Bu...?" tanyanya lembut serta memperlihatkan puppy eyes. Mina menggeleng pelan. Entah dari mana putrinya belajar hal itu.


"Jangan sayang... Tidak boleh tidur lagi, nanti kamu kesiangan, sedang guru bahasamu pasti akan segera datang..." Mina mengingatkan sang putri.


"Bu... Aku malas belajar bahasa inggris... Karena sulit sekali..." tolak sang putri.


"Sayang, jangan seperti itu... Kasihan Dad Adam yang sudah menghabiskan biaya yang banyak untuk mendatangkan guru pribadi untuk mu... Jadi, ayo bangun... Ibu akan memandi kan kamu..." Mina terus membujuk sang putri.


"Baiklah... Bu..." Ariana beranjak dari kasurnya dan mengikuti sang ibu untuk memasuki kamar mandi.


Dan setelah sang putri berpakaian rapi, Mina mengajak sang putri untuk turun ke lantai bawah. Mereka akan menyantap sarapan bersama di pagi hari dengan keluarga sang suami.


Di sana sudah ada Adam dan ke dua saudarinya. Serta tak lupa kedua mertuanya dan anak lelaki Mina yaitu Eko.


"Selamat pagi semua..." sapa Mina dengan senyum tulus.


"Selamat pagi..." balasnya serentak.


Mina duduk di samping kursi yang di duduki sang suami. Adam meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Adam tersenyum dan tangannya yang semula menggenggam tangan Mina, kini beralih ke perut buncit istrinya itu.


"Sayang... Jangan terlalu capek... ok... Aku takut kamu kenapa napa. Biarkan pelayan saja yang membantu keperluan Ariana. Atau biarkan dia belajar mandiri sayang...." Adam berbisik.


"Iya... Bie... Aku hanya mengawasi serta menunjukan bagian bagian mana saja yang belum terjangkau dari busa sabun. Selebihnya, aku membiarkannya melakukan semuanya sendiri. Ia cepat belajar... Sungguh aku tidak melakukan apa apa..." bisik Mina membalas ucapan sang suami.


"Ekhem..."


Suara deheman Alvin sang ayah mertua menghentikan percakapan Mina dan Adam.


"Lanjutkan obrolan kalian nanti. Kita sarapan dahulu..." ucap Alvin dengan senyumnya.


Mereka menikmati sarapan yang di buat sang koki pribadi Mansion Johanson. Mina sudah tidak di ijinkan untuk memasuki dapur sejak kehamilannya mulai memasuki jalan 8 bulan. Meskipun begitu, kadang Mina masih saja sesuka hatinya. Dan kadang membuat Adam marah. Karena Mina mengabaikan intruksinya. Dan kadang, Adam mengurung Mina di dalam kamar bersama dirinya.


Adam dan yang lainnya memusatkan perhatian pada pintu yang di buka lebar lebar oleh sang pelayan. Pandangan mereka terpusat pada pria yang tengah masuk sembari menggenggam tangan seorang wanita. Ya.... Mereka tau jika pria itu adalah Allan. Sepuluh hari pria itu tidak berada di tengah tengah mereka. Tapi itu tidak menjadi soal bagi Alvin dan Marriane. Karena mereka tau jika sang putra kedua mereka tengah berjuang untuk mendapatkan cinta sejatinya.


Adam membelalakan matanya melihat wanita yang selama ini di bencinya. Tanpa menghabiskan sarapannya, Adam langsung pergi meninggalkan ruang makan dan naik ke tangga menuju ruang tidurnya yang ada di lantai atas.


Mina yang mengerti dengan situasi suaminya, ia langsung menyusul sang suami dengan cepat setelah menyapa Allan serta Jane dan mempersilahkan mereka duduk sambil menunggu orang tua Allan sarapan. Tak lupa pula, Mina menawari mereka sarapan sebelum naik menghampiri sang suami. Namun di tolak dengan halus oleh Jane.


...


Mina menghampiri Adam yang tengah menatap luar jendela kamarnya sambil mengepalkan tangannya. Mina hanya menghela nafasnya pelan. Ia tidak ingin terjadi perang dingin di antara Sang suami dengan sang adik ipar. Mina berdiri sambil menatap sang suami. Ia sedang berpikir untuk mencari solusi agar sang suami menerima apa pun keputusan Allan nantinya.


"Bie..." Mina menghampiri sang suami dan memeluk sang suami dari belakang tubuh pria itu.


Adam merasakan usapan lembut tangan istrinya pada dada bidangnya serta nafas wanita itu di punggungnya. Ia tau jika sang istri sedang berusaha membuatnya lebih tenang. Sang istri juga pastinya tidak suka melihat jika dirinya berseteru dengan saudaranya apa lagi itu adalah saudara kandung. Adam paham jika Mina tengah berusaha meyakinkan dirinya agar mau menerima keputusan Allan.


" Sayang... Jika kau disini hanya untuk meyakinkan aku untuk memberi mereka restu serta menerima keputusan Allan untuk hidup bersama wanita itu, sebaiknya kau kembalilah ke sanร ...." suara Adam serak penuh penekanan.


Deg...


"Kapan aku mengatakan agar kau menerima mereka Bie...? Aku tidak mengatakannya...." ucap Mina sambil mengurai pelukan tangannya pada tubuh Adam.


"Jika dengan hal itu bisa membuatmu tenang, aku tidak akan mengganggu mu..." ucap Mina sambil berlalu menuju pintu kamar mereka. Sebelum keluar Mina memandang sang suami yang tengah menatapnya datar.


"Bie... Jika mereka berjodoh, Meskipun kau menolak untuk merestui Allan bersama wanita itu sekalipun, mereka akan tetap terus bersama. Sebaliknya, jika kau merestuinya namun tidak berjodoh, mereka tetap akan berpisah. Dan satu lagi, karena kau sudah menolakku tadi, aku tidak akan mengganggu mu..." Mina berbicara seraya membalikan tubuhnya dan berlalu keluar kamar.


Tinggalah Adam yang termenung sambil menggelengkan kepalanya. Ia tidak mau harus kembali ke masa di mana ia jauh dengan sang istri. Tidak mau lagi tidur tanpa pelukan dari wanitanya itu. Mina wanita yang lembut, dan sabar. Lagi lagi Adam membuat Mina tersentil perasaannya. Apa lagi wanita itu tengah mengandung.


Dengan cepat Adam keluar dari kamarnya. Mencari sang istri. Di lihatnya Mina tengah berjalan dengan langkah gontai di sepanjang koridor. Dengan cepat, Adam meraih tubuh Mina dan memeluknya dari belakang.


"Sayang... Maafkan aku..."