
"Sayang... Aku menginginkanmu..." gumam Adam yang tersendat sendat karena gairah yang masih belum tertuntaskan.
Mina menatap mata sang suami dengan masih duduk di atas ranjang. Mina menatap benda pusaka sang suami yang sudah berdiri tegak tepat di hadapannya itu dengan sedikit bergidik ngeri.
"Bie..." gumam Mina.
"Iya... Sayang...." jawab Adam.
"A-aku..." suara Mina terbata.
"Kenapa ... Sayang... Ada apa Hm...?" tanya Adam dengan senyum mengembang dan menghampiri Mina di atas ranjang.
Iya yakin jika sang istri sudah mulai tersulut gairah. Setelah hampir 10 hari mereka tidak beradu. Adam mendekati wajah Mina yang sudah memerah karena malu. Mina mengalihkan pandangannya pada netra sang suami yang terlihat begitu mendamba.
"Bie..."
"Iya... Sayang..."
"Aku... Harus memasak untuk makan siang..." gumam Mina sambil terus menatap netra sang suami.
"Apa kau tega membiarkannya sedih...?" gumam Adam sambil mengangkat tangan Mina dan meletakannya di atas benda pusakanya.
"Bie... Tapi ini masih siang..." gumam Mina takut menyakiti sang suami.
"Jangan mengalihkan pembicaraan sayang... Aku butuh kamu saat ini... Tidak peduli siang ataupun malam..." gumam Adam dan langsung mendaratkan bibirnya ke bibir Mina.
Adam perlahan membuka pakaian yang di kenakan Mina dengan masih berpagutan di bibir sang istri. Tidak ada penolakan dalam diri Mina yang membuat Adam begitu bersemangat.
Adam terus mencumbui serta menciumi tubuh Mina dan membawa Mina berbaring di atas tempat tidur.
" Bergeraklah... Sayangku... Jangan hanya menggodaku..." Adam bergumam dengan penuh gairah. Apa lagi menatap perut buncit sang istri yang membuatnya bertambah **** di matanya.
"Bie..."
"Iya... Sayang..."
"Kemarilah..." pinta Mina pelan.
...
Setelah pergulatan panas mereka, Mina tertidur begitu lelapnya. Sampai ia melupakan untuk menyiapkan makan siang untuk anak anaknya serta mertuanya.
Adam masih saja menciumi punggung sang istri serta membenamkan wajahnya pada ceruk leher sang istri. Menghirup wangi tubuh sang istri yang sering membuatnya melayang itu.
Adam mencium pucuk kepala Mina dengan lembut. Membiarkannya beristirahat. Adam membersihkan dirinya di kamar mandi dan pergi ke luar untuk makan siang.
Di ruang makan sudah ada Ayah dan Ibunya serta anak anak Mina, anak sambungnya. Tak lupa pula Allina dan Ellen yang memang tidak kemana mana.
"Em... Maaf... Dad Adam... Di mana ibu...?" tanya Eko dengan bahasa Indonesia yang tentu di mengerti oleh Adam.
"Ah... Ibu...?"
"Ibu mu sedang istirahat sayang... Dia mengantuk, aku tidak tega membangunkannya..." jawab Adam lembut.
"Kau tidak menggempurnya sampai dia kelelahan kan...?" tanya Marriane dengan bahasa mereka. Ia cukup mengerti dengan situasi wajah sang anak. Ya... tentu saja ia paham dengan apa yang baru saja terjadi tentunya.
Menantunya itu tidak akan melupakan kewajibannya memasak untuk makan siang serta melewatkan makan siang bersama mereka.
"Diamlah... Sayang... Kau tau kan mereka baru saja diam diaman selama seminggu lebih. Tentunya dia sangat merindukan istrinya itu..." Alvin meminta sang istri agar tidak mengusik putranya.
" Dad... Bisakah jangan membicarakan hal terlalu menyebalkan itu di meja makan..." Ellen tiba tiba ikut menyambar.
"Hey... kenapa kau senewen sayang...?" Alvin tidak terima teguran putri bungsunya itu.
"Oh... Iya... Iya... Sayang ku... Mari mulai makan..."
Sementara Allina hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik bungsunya yang tengah kelaparan.
"Al... Stanly belum menghubungimu...?" Adam bertanya pada sang adik dengan masih menikmati makan siangnya.
"Sudah kak... Katanya, saat ini ia berada di Singapura..." jawab Allina.
"Oh..." Adam hanya ber oh ria saja.
"Eko..." gumam Adam memanggil putra sambungnya.
" Iya... Dad..." jawab Eko pelan.
"Bagaimana dengan pelajaran bahasamu di sini...? Em... Maksudku pelajaran bahasa Inggrismu. Apa mungkin sudah cukup untuk kau bisa berpartisipasi dengan orang lain di sini...?" tanya Adam pada sang anak sambung.
"Entahlah... Dad... Aku belum bisa memutuskan. Belajar bahasa Inggris dan bahasa Arab itu lebih gampang bahasa Arab. Dalam 2 tahun di dalam pesantren saja sudah membuatku lancar berbahasa Arab. Tapi dengan belajar berbahasa Inggris, aku harus extra konsentrasi. Dan mungkin, aku akan menyelesaikan pendidikan SMP ku dengan Home schooling sesuai dengan apa yang Dad rencanakan..." Eko menjelaskan pada sang ayah sambung.
"Baiklah... Sayang... Aku mengerti..." Adam mengiyakan.
"Lalu bagaimana dengan adikmu...?" tanya Adam pada Eko.
Adam menatap gadis kecil yang selalu saja diam jika di hadapan keluarganya. Tapi akan sangat ceria jika bersama sang kakak atau sang ibu.
"Dia belum terbiasa dengan keadaan disini Dad... Dia mungkin masih enggan untuk berpartisipasi dengan dunia barunya ini. Tapi, ia juga cepat belajar dan juga tanggap Dad..." Eko berbicara seolah ia dan sang ayah sambung adalah anaknya tanpa rasa canggung.
Alvin hanya mendengarkan apa yang di bicarakan dari sang anak dengan sang cucu dari menantunya itu. Alvin tidak menyangka jika anaknya akan sangat peduli dengan anak dari menantunya itu. Ia tak habis pikir dengan apa yang ada di benak anaknya itu. Ia mau menerima anak dari pria lain. Tapi ia juga cukup memahami jika anaknya adalah pria yang bertanggung jawab dan tanggung jawabnya tidak tanggung tanggung.
Ia menyukai cara Adam mencintai istrinya.
...
Mina menggeliat pelan. Ia merakan lelah yang tak berkesudahan serta rasa lapar yang mulai menyerangnya. Melayani suaminya yang sudah semingu lebih tidak menjamahnya, membuat Mina harus punya energi lebih. Mina duduk perlahan di atas kasur. Tubuhnya lemas tak bertenaga. Anak yang masih ada di dalam perutnya itu memberontak minta di beri makan.
Saat akan yurun dari ranjang, Mina mendapati makan siangnya sudah tertata rapi di atas meja kecil yang berada di dekat sofa. Mina tersenyum, karena bukan hanya makan siangnya saja yang ada di atas meja, tapi ada sebuket bunga mawar merah yang tersimpan rapi di sana.
Mina memunguti pakaiannya dan menyimpannya di keranjang pakaian kotor. Ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah menggunakan pakaiannya, Mina menikmati makan siangnya di atas balkon kamarnya. Ia ingin menghirup udara segar siang hari mrnuju sore hari di sana. Karena selain ia tidak di perbolehkan memakan makanan di dalam kamar. Pamali untuk orang Jawa. Ia masih tetap menjunjung teguh serta tinggi norma nya sebagai orang Jawa.
Dari tempat ia duduk, ia melihat jika sang suami tengah mengajari putrinya untuk mengayuh scooter. Dan Eko tengah memainkan bola golf dengan ayah mertuanya. Mina tersenyum bahagia. Bahagia dari lubuk hatinya.
Adam adalah pria yang baik. Setia dan tanggung jawab pikir Mina. Ia tau jika suaminya itu tidak akan mudah melupakan kenangan tentang mendiang istrinya. Ia juga bersyukur karena dapat memiliki pria itu juga. Mau menerima dirinya dengan segala kekurangannya.
Adam
Mina
Alvin
Marriane