
Sore hari menjelang. Setelah ia bersiap siap untuk mengemasi barang barangnya, Adam pergi ke ruang kerja sang papa. Adam memang harus kembali ke Singapura. Meskipun ini akan sedikit sulit untuknya meninggalkan keluarganya di sini.
Pertengahan bulan Maret yang masih dingin ini tidak membuat dirinya menunda kepulangannya ke Singapura. Meskipun salju tidak lagi turun dan sebagian es di luaran rumah masih tebal dan belum mencair, tapi tak ada hal yang membuatnya untuk tetap tinggal.
Sang mama telah pulih dan sehat. Sang papa juga sehat tidak ada keluhan apapun. Penerbangan Internasional pun telah beroprasi sejak sepekan. Karena tidak akan ada lagi badai salju di bulan ini.
Adam berjalan menyusuri setiap ruang di mansion ini. Mansion yang di lengkapi dengan penghangat ruangan di setiap sudutnya ini, memudahkan siapa saja untuk melakukan aktifitas tanpa mantel yang tebal. Kolam ikan yang pagi tadi dibersihkan oleh pelayan dari salju dan juga dedaunan, terlihat sangat indah.
Bunga teratai yang membeku, ikan koi berwarna cerah menghiasi kolam di taman itu. Adam memandang setiap sudut ruangan yang masih tertata rapi dan tidak pernah berpindah tempat dari dulu. 'Aku akan merindukan tempat ini...' batin Adam kemudian tersenyum.
"Kak..."
Adam mencari suara itu, Adam menatap adik laki lakinya tengah berdiri di pintu masuk utama. Menarik kopernya dan menghampiri Adam.
" Kau akan kembali...?" tanya Allan pada sang kakak. " Tidak bisakah kau tetap tinggal...? Aku baru saja kembali dari perjalanan bisnisku di luar negeri. Tak bisakah kau berada di sini seminggu lagi mungkin...?" Allan memohon.
"Aku harus kembali Al... Stanly membutuhkanku. Seharusnya sejak 3 minggu yang lalu aku kembali. Karena cuaca disini buruk, dan memaksaku untuk tetap tinggal. Saat ini meskipun salju masih tebal, badai salju tidak lagi turun sejak sepekan. Saatnya aku kembali. Kau bisa mengunjungiku nanti Al... Aku akan bahagia ketika kau datang bersama seseorang untuk berlibur di sana..." kata Adam kemudian tersenyum penuh arti.
"Sekeras apapun aku menahanmu, tidak akan mampu untuk membuatmu tinggal. Kehidupanmu ketenangan yang kau cari aku menghargainya kak... kembalilah... jika itu membuatmu bahagia. Aku senang keluarga ini kembali menjadi keluarga yang hangat seperti dulu. Aku harap kau selalu bahagia kak..." Allan memeluk sang kakak dengan erat.
Adam membalas pelukan adiknya tak kalah erat. " Al... aku titip orang tua kita... saudara kita... dan juga bisnis dari orang tua kita. Kembangkan lagi agar menjadi besar... aku percayakan semuanya padamu..." kta adam kemudian melepaskan pelukannya dari Allan.
" Iya... kak... aku akan berusaha lebih giat mengembangkan usaha Dad..." kata Allan.
"Aku harus menemui Dad... ia menungguku di ruang kerjanya... Al... terima kasih... aku menyayangimu..." kata Adam sembari berjalan meninggalkan Allan yang berdiri mematung di ruang tengah.
-----------
Di ruang kerja Johanson senior.
Adam mengetuk pintu ruang kerja sang papa. Kemudian membukanya dengan pelan. Adam mencari sosok yang menjadi panutannya dan juga idolanya sejak kecil. Pria tua yang menjadi papanya sekaligus orang yang telah membuatnya berada di dunia ini tengah memberi makan burung kenari nya. Pria tua itu begitu antusias dengan peliharaannya sampai tak mendengar kedatangan Adam.
"Dad..." sapa Adam.
Pria tua itu memalingkan wajahnya menatap sang putra.
"Ah... kau sudah datang son....? Kemarilah..." kata sang papa sambil melambaian tangannya pada Adam.
Adam mengikuti sang papa dan duduk di sofa berwarna coklat de seberang meja kerja sang papa. Pria tua itu mengeluarkan sebuah berkas dari dalam laci meja kerjanya kemudian berjalan menghampiri Adam dan duduk di samping Adam.
" Son... ini adalah surat kuasa harta warisan yang memang seharusnya menjadi milikmu. Aku sudah membaginya menjadi 6 bagian... saham di perusahaan masing masing 15% dan perkebunan anggur yang berada di luar negeri semuanya sudah aku bagi rata. meskipun kau sudah punya usaha sendiri, tapi kau juga punya hak atas warisan itu. meskipun tidak seberapa di banding hartamu saat ini. Jadi, terimalah..." kata sang papa sambil menyodorkan map yang berisikan surat kuasa itu kepada Adam putra sulungnya.
" Dad... berikanlah milikku pada Allan... agar ia memiliki kedudukan yang tinggi di antara yang lain di JHS Company... aku tidak menolak pemberianmu, hanya saja Allan lebih berhak atas harta itu..." kata Adam pada sang papa.
"Son... kumohon jangan tolak pemberianku... ini adalah satu satunya hal terakhir yang bisa aku lakukan untukmu..." sang papa memohon.
"Dad... dengan engkau membuatku berada di dunia ini memiliki raga yang utuh, memberiku tempat tinggal dan juga membekali aku dengan pendidikan yang tinggi, bagiku itu adalah sebuah warisan yang tak terhingga... itu sudah cukup Dad..." Adam menatap sendu wajah sang papa.
"Dad... aku tidak bisa.... harta itu milik Allan.,.."