My Maid And I

My Maid And I
Part 18. My Maid and I



Adam melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang di jalanan yang mulai padat dengan segala aktifitas mulai dari pejalan kaki dan juga mobil mobil yang berlalu lalang.


Seminggu sudah Adam di kota kelahirannya ini. Meskipun ia kemari untuk melihat keadaan sang mama, namun tidak ada interaksi sedikitpun di antara mereka. Adam merasa canggung begitu pula sang mama. Masih bertahan dengan ego masing masing. Dan begitu sulit untuk membuka hati.


Adam hanya menghela napasnya pelan saat mendapati jalan yang ia lalui mulai macet. Ia mendengar suara klakson disana sini. Dan juga orang orang yang saling memaki maki dengan mulut mereka.


Bagaimanapun caranya, ia harus segera sampai di rumah sakit dimana mamanya di rawat. Setelah sekian lama menjauhi mama, mungkin inilah waktunya untuk dirinya bisa memaafkan kesalahan sang mama pikir Adam.


Meskipun membenci sang mama seumur hidupnya pun tidak akan pernah mengembalikan Sarah ke sisinya lagi. Itu yang membuatnya berpikir sejenak. Itu adalah kata kata Mina kepada suaminya. Ketika suami Mina menyesal dengan semua yang iya lakukan namun penyesalan tidak akan mengembalikan keadaan seperti semula.


Begitu pun dengan dirinya pikir Adam. Meskipun membenci mamanya seumur hidup tidak akan merubah kenyataan saat ini. Sarah selamanya takan kembali. Adam hanya berpikir saatnya untuk membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama.


Kemacetan sudah mulai terkendali. Adam melajukan mobilnya menuju rumah sakit yang berada di bawah naungan perusahaan sang papa. Setelah memakirkan mobilnya di parkiran halaman rumah sakit, Adam keluar dengan tergesa gesa.


Sementara itu, Ellen mengikutinya di belakang mengimbangi langkah sang kakak. Adam melihat Allan baru saja keluar dari lift dengan Allina kembarannya. Adam menghampiri adik kembarnya itu dengan cepat.


"Al... di mana Mommy....?" Adam bertanya.


"Kak..."sapa keduanya.


" Mommy sedang istirahat sekarang... kondisinya saat ini lebih baik dari sebelumnya..." Allan menjelaskan.


"Aku harap kau mau menemani Mommy sampai dia sembuh kak... Mommy juga begitu mengharapkan maaf darimu... aku harap kau tidak akan menyesal nantinya... yang sudah lalu biarkan berlalu kak..." kata Allan panjang lebar.


Adam terdiam mencerna kata kata sang adik dan menganggukan kepalanya.


"Aku akan menemui Mommy sekarang..." kata Adam sambil berlalu menuju lift yang akan mengantarnya ke ruang VVIP. Ellen hanya terdiam mengikuti sang kakak di belakangnya untuk melihat keadaan sang mama.


Sementara itu Allan dan Allina sudah berada di mobil pribadi mereka untuk kembali ke kantor masing masing.


Adam masuk ke ruangan dimana sang mama dirawat diikuti Ellen sang adik. Wajah sang mama tampak begitu pucat dan kurus. Ellen mendekati sang mama sambil menangis terisak.


Adam memandang sang adik yang terisak dan mendekatinya kemudian menariknya ke dalam pelukannya.Mata Adam tertuju pada Monitor detak jantung dan juga selang infus yang menempel di pergelangan tangan serta jarinya itu seakan mengingatkan dirinya tentang Sarah.


Dimana dirinya begitu putus asa saat itu. Mengharap keajaiban Tuhan agar Sarah terbebas dari sakitnya. Sarah benar benar telah terbebas dari sakitnya namun, wanita itu juga pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


" Adam... my son..."


Lamunan Adam buyar ketika mendengar namanya di panggil oleh wanita yang tengah terbaring di ranjang rumah sakit itu. Sementara Ellen melepaskan diri dari pelukan sang kakak dan berbalik mendekati sang mama.


Mamanya telah siuman. Ellen tersenyum pada sang mama dan sang mama pun membalas senyuman Ellen. Adam melihat sang mama tersenyum dengan tulus. Adam mendekati sang mama ketika tangan lemas sang mama melambaikannya.


Tangan Adam di genggam dengan erat oleh sang mama. Ellen yang mengetahui bahwa kakak dan mamanya butuh ruang untuk bicara, ia pamit keluar untuk pergi mencari sarapan di kantin rumah sakit.


***


Setelah Ellen berlalu pergi. Adam duduk di kursi di samping mamanya berbaring. Adam terdiam menatap manik biru yang di wariskan kepada adik adiknya itu dengan tatapan sendu. Tedak ada percakapan di antara mereka setelah bermenit menit berlalu.


"Mom..." Adam memulai.


" Memang tak seharusnya aku memisahksn kalian. Aku bisa melihat betapa kalian saling mencintai... aku menyesal nak... telah merenggut kebahagiaanmu... kumohon maafkan mommymu ini..." kata wanita itu sambil terisak.


" Aku sudah memaafkanmu mom...." kata Adam pelan.


"Benarkah nak...?" tanya sang mama.


Adam menganggukan kepalanya sambil tersenyum. Sang mama bangkit dari tidurnya dan memeluk Adam dengan erat sembari menangis.


"Terima kasih nak... kau mau memaafkan mommy mu ini.... terima kasih sayang..." Kata wanita itu sembari mencium puncak kepala Adam.


"Iya ...mom..." Adam tersenyum.


" Istirahatlah... aku akan menjagamu sampai kau sembuh mom..." kata Adam sembari membaringkan tubuh sang mama di ranjang.


"Benarkah nak..?" tanya sang mama.


Adam hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Hari hari berlalu dengan cepat. Setelah kepulangan sang mama dari rumah sakit, Adam hanya berkonsentrasi untuk kesembuhan sang mama. Papanya yang saat ini selalu mendampingi sang mama berada di rumah bersamanya.


Ellen, Allan, dan Allina sudah kembali ke urusan harian mereka masing masing. Papanya yang selalu setia mendampingi sang mama sendari hari pertama dirinya dan sang mama mengibarkan bendera putih itu, tersenyum lega.


Melihat kembali interaksi anak sulung dan istrinya itu membuat dirinya begitu bahagia setelah beberapa tahun rumah besarnya ini begitu suram tidak ada canda dan tawa sama sekali.


Setelah mengantar sang mama istirahat di kamar utama, Adam kembali ke ruang keluarga mendekati papanya yang tengah menikmati secangkir teh herbal itu.


"Dad..." sapa Adam.


"Hmmm... oh... kau nak...." kata sang papa.


"Mommy mu tidur....?" tanya pria tua itu.


Adam menganggukan kepalanya dan mendudukan tubuhnya di seberang sang papa. Adam memandang sang papa yang madih tetap tampan walau sudah termakan usia.


Pria yang selalu menjadi panutan dalam hal berbisnis itu tengah membaca majalah FORBES yang tercetak foto dirinya di sampul majalah.


Adam membelalakan matanya tidak percaya dengan apa yang di lakukan sang papa.


"Dari mana kau mendapat majalah itu Dad...?" tanya Adam.


"Hey... nak... apa kau lupa....? Aku ini pelanggan setia majalah ini... tentu saja aku punya nak..." kata sang papa.


Adam terkekeh mendengar sang papa bergurau. Adam begitu menyesal tidak sering menjenguk orang tuanya yang semakin hari semakin tua itu. Guratan keriput yang mulai memenuhi wajah dan seluruh tubuhnya itulah yang membuat Adam begitu menyesal.


Untungnya saja dirinya cepat menyadari semuanya berkat seseorang. Ya seseorang itu adalah maidnya di Singapore. Wanita itu yang mengajarkannya arti kasih sayang di antara keluarga.


'Aku harus berterima kasih pada wanita itu' batin Adam.