My Maid And I

My Maid And I
Part 55. My Maid and I



Mina memutuskan untuk melakukan pekerjaan paginya lebih awal dan tidak kembali tidur, karena takut nanti bangun kesiangan. Dia melakukan pekerjaannya dengan giat. Seperti biasanya, bukan karena sang tuan tengah memperhatikannya.


Mina tidak menghiraukan tuannya yang sendari tadi menatapnya. Entah itu sengaja atau tidak, Mina tidak peduli. Meskipun cukup canggung di perhatikan gerak geriknya oleh seorang pria, tapi mau bagaimana lagi, Mina hanya pasrah.


Adam masih duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Sesekali menatap Mina. Ia tau, jika maidnya itu melakukan pekerjaannya dengan agak canggung. Karena memang sesekali Adam melirik bahkan menatap Mina secara terang terangan. Seakan akan ia benar benar memperlihatkan bahwa dirinya memandang wanita yang ia sukai.


Matahari mulai mengintip dari celah celah gorden. Jam sudah menunjukan pukul 07: 30 am. Adam bangkit dari rebahannya untuk membuka gorden berwarna abu tua itu dengan perlahan. Ia memandangi kawasan sekitar apartemennya yang terlihat sangat padat dengan beberapa gedung apartemen serta HDB flat serta jalan raya yang mulai padat oleh kendaraan yang berlalu lalang.


Adam duduk kembali ke sofa dan tidak berkeinginan untuk berangkat ke kantor. Ia telah mengirimkan pesan pada sang asisten bahwa dirinya akan beristirahat di rumah dan cuti beberapa hari sampai ia merasa benar benar sehat.


"Anda tidak tidur Mr...." tanya Mina dengan membawakan sarapan untuk pria itu.


Mina meletakan makanan milik tuannya di meja dekat pria itu duduk. Pria itu tidak menjawab, hanya menganggukan kepalanya.



"Sarapan anda Mr..." Mina mempersilahkan.


Adam menatap sarapannya dengan seksama.


"Kenapa bubur lagi..." tanya Adam dengan suara lembut.


"Iya... Mr... untuk sementara anda makan bubur dulu. Ini bubur oat, saya baru saja membuatnya, bukan bubur beras sisa semalam, karena tadi memang bubur berasnya sudah habis...." ucap Mina pelan sambil menjelaskan.


"Oh... Suapi aku..." perintah Adam lembut.


"Maaf Mr... saya harus menyelesaikan pekerjaan saya dulu... Mr..." tolak Mina dengan alasan pekerjaannya.


"Bukankah menyuapiku juga bagian dari pekerjaanmu...???" ucap Adam.


"Bukan, itu bukan dari bagian pekerjaan saya..." sangkal Mina.


"Aku sedang sakit Mina...!!!" ucap Adam dengan nada meninggi.


"Mr... kalau orang sakit, tidak mungkin bisa berteriak dengan lantang seperti anda saat ini...!!" Mina ngeles.


"Kamu tidak percaya...??? Aku masih demam... peganglah dahi ku..." ucap Adam dan meraih telapak tangan Mina dan menempelkan ke dahinya.


"Baiklah..." ucap Mina dengan lemas dan meraih kembali mangkok bubur yang ia letakan di meja.


Terpaksa Mina menyuapi sang tuan, karena memang demam pria itu belum turun. Mina menyuapi tuannya dengan perlahan sambil sesekali menatap ke lantai agar ia tidak menatap mata sang tuan serta melihat wajah tampannya. Takut kepincut...😂😂😂😂...


Walau bagai manapun ia seorang wanita yang bisa saja khilaf, karena melihat indahnya ciptaan Tuhan.


Adam menatap Mina yang memang terlihat sekali kecanggungan di mata serta wajah wanita itu. "Apa kau tidak suka menyuapiku...???" tanya Adam pada Mina.


"Iya... saya tidak suka... Mr..." ucap Mina jujur.


"Kenapa...?" tanya pria itu sambil mengunyah toping buah yang di suapkan oleh Mina.


"Rasanya aneh... Mr..." ucap Mina pelan.


"Aneh kenapa...?" tanya Adam penasaran.


"Iya, aneh saja... anda di suapi seseorang yang bukan dari keluarga anda, kenapa anda mau...??? Sedangkan saya bukan siapa siapa anda...." ucap Mina.


"Tapi kau pelayanku... sudah sepatutnya seorang pelayan melayani tuannya dengan sebaik baiknya. Aku sudah menggaji mu...!!" ucap Adam.


"Ya... saya tau anda menggaji saya tapikan, rasanya tida relevan. Apa anda selalu manja pada semua pelayan wanita anda... meminta di suapi oleh mereka setiap kali anda sakit?" tanya Mina sambil menyuapi tuannya.


"Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa...???" tanya Adam dengan senyumnya.


"Ish... ish.... ish... sungguh tuan yang manja..." ledek Mina sambil memanyunkan bibirnya.


Adam yang melihat maidnya itu memanyunkan bibirnya, langsung menelan buburnya dengan cepat hingga tersedak.


"Uhuk... uhukk..."


Dengan cepat Mina mengambilkan air putih dan memberikannya kepada sang tuan.


"Makan dengan pelan pelan saja Mr... tidak usah cepat cepat... saya tidak akan memintanya kok..." ucap Mina meledek.


Adam yang sedari tadi sudah tidak sabar dengan ledekan Mina, langsung menarik lengan wanita itu yang sedang berdiri di hadapannya dan sontak wanita itu langsung duduk di pangkuannya dengan mata terbelalak sempurna.


"Apa yang anda lakukan Mr... lepaskan saya..." Mina berontak dari dekapan sang tuan.


"Tenanglah Mina, biarkan aku seperti ini sebentar..." ucap Adam dengan nada suara serak dan membenamkan kepalanya di ceruk leher Mina.


"Jangan seperti ini Mr... Saya mohon..." Mina memohon dan mulai berontak karena hidung sang tuan mulai mengendus endus kulit lehernya.


"Diamlah... Mina, atau kau akan membangunkan sesuatu yang sudah lama tertidur... jika sampai itu terjadi, kau harus bertanggung jawab..." ucap Adam penuh penekanan membuat Mina diam membeku dalam pangkuan sang tuan.


Mina terdiam, mengingat kejadian kemarin pagi dan bergidik ngeri karena melihat besarnya milik sang tuan. Adam tersenyum melihat dan merasakan Mina bergidik di pangkuannya. Sebisa mungkin, ia harus dapat menahan adik kecilnya agar tidak bangun.


Adam menarik kepala Mina agar wajahnya berhadapan dengan wajahnya. Mina masih memalingkan pandangannya ke samping. Ia tidak ingin menatap mata Grey milik tuannya itu.


"Cup..." sebuah kecupan mendarat di bibir Mina membuat dirinya terbelalak.


"Itu hukuman karena meledek ku..." ucap Adam setelah melepas kecupannya di bibir Mina.


Mina ingin menampar sang tuan, tapi tangannya di tahan oleh pria itu.


"Kau mau menamparku... hmm...??? Akan aku pastikan kau merasakan sakitnya saat aku memaksakan kehendakku padamu.... apa itu yang kau mau...???" tanya Adam dengan suara meninggi.


"Kumohon Mr... jangan seperti ini... ini semuanya salah...!!!" ucap Mina dengan air mata yang mulai mengalir.


Adam menatap manik mata maidnya yang mulai basah. Dan lagi lagi, ia menyakiti wanita itu dengan memaksanya untuk menerima perlakuannya. Sesaat ia lupa bahwa wanita itu masih milik pria lain.


"Pergiah...!!!" ucap Adam dengan suara meninggi. Adam membiarkan Mina berlalu pergi. Mina berlari ke dapur sambil menangis.


Adam mengepalkan tangannya hatinya sakit. Merasakan penolakan dari seorang wanita. Wanita yang sangat di inginkannya itu membuatnya begitu frustrasi. Entah mengapa ia begitu menginginkannya saat ini. Bertolak belakang dengan saat wanita itu pertama kali hadir di dalam hidupnya sebagai maid di rumahnya.


Hari hari Adam di lalui hanya berada di dalam kamar. Sesekali ia memanggil Mina untuk membuatkan sesuatu atau jika dia membutuhkan bantuan. Dan sesekali menjahili Mina untuk membuatnya menggerutu.


----------------


Pagi begitu cerah, matahari berpendar di ufuk timur, bias cahayanya menyilaukan mata. Dari lantai 12 apartemen milik tuannya, Mina menatap matahari terbit itu dengan senyum cerah.


Setelah menyibakan semua gorden serta membuka jendela, ia mematikan lampu lampu yang masih menyala. Hari ini hari Sabtu. Waktunya dirinya mengambil hari cutinya dari 1 bulan bekerja. Dan pertama kali bagi dirinya ingin berkeliling negara kecil itu. Biasanya ia hanya pergi ke tempat tempat terdekat saja.


Ia ingin menghabiskan hari libur atau offday nya dengan berjalan jalan mengintari tempat tempat yang menjadi Icon negara ini dengan hati riang. Setelah 3 hari berturut turut ia harus melayani kebutuhan sang tuan siang dan malam karena sakit.


Setelah mendapatkan izin dari sang tuan semalam, ia begitu senang. Sampai sampai ia tidak tidur dengan nyenyak karena saking senangnya. Pukul 10: 00 am nanti, ia akan berangkat. Untuk saat ini, ia harus bebersih dahulu. Agar ketika ia kembali dari hari liburnya, ia tidak perlu lagi melakukan pekerjaannya dan tinggal istirahat.


Mina tersenyum cerah. Ia tidak pernah seceria ini. Seakan ia sedang melupakan sejenak beban pikirannya. Dengan semangat ia bebersih kesana kemari sambil bersenandung ria.


Sementara itu, sang tuan yang berada di ruang kerjanya, tenggah tersenyum melihat tingkah maidnya itu lewat rekaman CCTV. Adam begitu senang melihat senyum cerah wanita yang menjadi pelayannya itu kembali. Mengingat ia selalu membuat wanita itu kesal karena permintaan permintaan konyolnya.


Adam meraih ponselnya mencari nomor kontak Stanly asistennya. Setelah menekan dial, ia tengah menunggu jawaban sambungan teleponnya.


"Halo.... selamat pagi...Boss... Ada apa pagi pagi anda menelpon ku... Boss... bukankah ini weekend...???" ucap Stanly dari sambungan line nya.


"Aku butuh bantuanmu Stan..." ucap Adam.


"Baiklah... Boss... bantuan apa yang anda ingin kan...???" tanya Stanly.


"Carikan 2 tiket VVIP untuk liburan ke Sentosa Island... serta booking kan hotel yang bagus. Aku ingin berlibur....!!!" ucap Adam sarat akan perintah.


"Baiklah... Boss... untuk kapan dan hari apa...???" tanya Stanly.


"Untuk hari ini jam 10 an... Bisa kan Stan...???" tanya Adam.


"Baiklah... Boss... di tunggu saja sebentar..." kata Stanly.


Setengah jam kemudian, Stanly datang dengan tangan kosong. Adam mengernyitkan dahinya sedang penasaran dengan sang asisten. Seakan tidak percaya bahwa anak buahnya itu tidak melakukan tugas dan perintah darinya dengan baik. Adam menatap tajam asistennya itu dengan bersedekap.


" Anda sudah sehat Boss...??" sapa Stanly dan menghampiri Bossnya yang tengah berdiri di dekat jendela ruang kerjanya.


Adam tidak menjawabnya, hanya mengangguk tanda mengiyakan. Matanya mencari cari sesuatu di tangan Stanly.


"Stan... di mana tiket yang aku pesan untuk masuk ke Sentosa...???" tanya Adam dengan masih bersedekap.


"Saya tidak membelinya Boss..." ucap Stanly.


"Kenapa... kenapa kau tidak menuruti perintahku...!!!" ucap Adam geram.


"Ke Sentosa Island tidak memerlukan tiket Boss... hanya membutuhkan uang yang banyak untuk naik transportasi kesana serta, tiket masuk hanya untuk ke wahana permainan saja... Setau ku sih... Boss..." ucap Stanly.


"Kau belum pernah kesana...???" tanya Adam penasaran.


"Belum..." jawab Stanly.


"Lalu kemana kau membawa jalang jalangmu ketika jalan jalan....???" tanya Adam.


"Mall... memangnya kenapa...??? Anda ingin mencontohku...???" tanya Stanly.


"Tidak..." ketus Adam.


"Benarkah selama kau bekerja disini belum pernah berlibur ke sana...???" tanya Adam sekali lagi.


"Tidak... aku tidak pernah kesana. Bukankah anda selalu meminta waktuku 24 jam. Kapan aku bisa berlibur dengan tenang dan nyaman...???" ketus Stanly tidak mau kalah.


"Kita sama..." gumam Adam.


"Lalu...???" tanya Stanly.


" Lalu apa...!!!???" Adam bertanya dengan nada tinggi.


"Tidak jadi...!!" ucap Stanly.


Adam mendengus kesal.


"Tanya yang benar...!!!" Adam geram.


Stanly menghela nafasnya pelan.


"Apa anda memesan 2 tiket ke sana dan membooking hotel disana untuk mengajakku berlibur...???" tanya Stanly datar.


"Kau bercanda Stan...???" kekeh Adam.


"Lalu anda akan pergi dengan siapa jika tidak denganku...???" tanya Stanly lagi.


"Jangan sok penting kamu... aku akan pergi dengan seseorang....!" ucap Adam.


"Siapa...???" tanya Stanly lagi.


"Bukan urusanmu...!!!" gumam Adam dan kembali duduk bersandar di sofa.


"Apa dia seorang wanita...???" tanya Sranly penasaran.


"Hmm...." jawab Adam.


"Siapa...??? Apa aku mengenalnya...??" tanya Stanly penasaran.


"Bukan urusan mu...!!!"