
*Hari pernikahan Allan dan Jane serta Allina dan Stanly. part 1
Mansion Johanson, satu bulan kemudian.
Allina nampak cantik dengan gaun putih pernikahannya.
Ia tengah duduk sambil di rias oleh MUA. Wajahnya tak henti hentinya tersenyum sembari tangannya membelai perutnya yang mulai membuncit. Tak pernah sekalipun ia berharap bisa kembali bersanding dengan Stanly. Pria yang menjadi cinta pertamanya. Serta pacar pertamanya.
Karena keegoisan ibunda dari sang kekasih , ia dan Stanly harus berpisah dengan cara yang menyakitkan. Dan sehingga dulu membuat pria itu menjadi lady killer tak terkendali.
Dalam hati Allina, ia berjanji. Jika kelak suatu hari nanti, ada seorang anak ataupun lebih, mengaku menjadi anak suaminya, ia akan menerima anak itu sebagai anaknya pula. Karena kesalahan yang Stanly lakukan, merupakan dirinyalah yang memulainya. Seandainya kala itu ia tidak menerima keinginan ibu dari Stanly, ia tidak akan kehilangan sosok setia pria itu. Allina hanya menghela nafasnya pelan dan kembali fokus pada make up wajahnya.
Dari kejauhan, Mina menatap adik iparnya yang tak henti hentinya mengulas senyum. Wajah ayunya lebih sering tersenyum di banding pertama kali dirinya datang. Mina lega karena tentu saja ia tidak perlu lagi melihat wajah cemberut dan murung milik Allina. Mina tersenyum tulus untuk sang adik iparnya itu.
Mina menghampiri Allina dengan berjalan perlahan. Perut buncitnya mulai susah untuk di bawa berjalan. Usia kandungannya telah menginjak 9 bulan. Dan hanya menanti saat kelahiran bayinya. Kadang nafasnya juga ngos ngosan saat menaiki tangga. Sehingga Adam meminta pada orang tuanya untuk memberikan ruangan lantai pertama untuk mereka tempati.
"Al... Kau sangat cantik..." sapa Mina sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih kakak ipar atas pujianmu..." Allina membalas senyuman sang kakak ipar.
" Aku juga berterima kasih padamu kak... Aku tidak tau harus membalasmu dengan apa. Karnamu lah, aku bisa kembali dengan dia..." gumam Allina sambil menunjuk prianya. Yang saat ini tengah tertawa besama Adam dan Allan.
"Al... Ini sudah jalan takdir. Ternyata takdirku dan takdirmu itu bersangkutan. Mungkin, jika kakakmu tidak memaksakan kehendaknya padaku, takdirku dan takdirmu tidak akan bertemu... Saat ini, kita hanya perlu menjalaninya saja dan bersyukur dengan semua ini..." Mina tersenyum lembut.
Allina hanya mengangguk sambil tersenyum tulus. Senyuman yang selalu ia singkirkan dari wajahnya.
"Apakah Nona Jane ada di ruang sebelah...?" tanya Mina pada Allina.
"Kurasa, ia disana kakak ipar. Apakah kau akan menghampirinya...?" tanya Allina balik.
"Iya... Aku ingin menyapanya Al... Karena walau bagaimanapun, ia juga akan menjadi istri Allan. Serta menjadi adik iparku pula. Tak seharusnya kita tidak bertegur sapa bukan...?" ucap Mina kemudian ia tersenyum hangat.
"Iya... Kak... pergilah... sapalah dia... Jane juga pasti sangat kesepian, karena sejak ia memutuskan berhenti dari dunia permodelan, ia telah menutup semua akses agar tidak berkomunikasi dengan teman lainnya... Ya meskipun, ia tetap mengundang teman temannya..." Allina berucap mempersilahkan Mina untuk pergi menghampiri calon istri kembarannya itu.
Sementara Allina masih di hias oleh MUA, Adam melihat gerak gerik istrinya dari tempat ia berdiri bersama Allan serta Stanly. Adam tercekat saat melihat sang istri memasuki ruang di mana Jane berada. Karena takut sesuatu terjadi, Adam langsung menghampiri sang istri setelah berpamitan pada mempelai pria yang tak lain ialah Allan dan Stanly.
Di dalam ruangan,
"Anda sangat cantik Nona Jane..." sapa Mina dengan senyum hangat.
"Terima kasih Nyonya Adam..." Jane membalas senyuman Mina dengan senyuman tulusnya pula.
"Saya rasa, saya belum meminta maaf ke pada anda secara resmi Nyonya... Maafkan saya atas perlakuan saya yang menampar anda dahulu...." ucap Jane tulus.
"Ya... Ampun... Nona Jane, jangan menyebutku seperti itu... Cukup panggil aku Kak Mina... Agar kita lebih akrab... Karena kita akan menjadi saudara serta keluarga..." Mina tersenyum.
"Nona Jane... Sebernarnya aku sudah memaafkanmu. Aku juga ingin meminta maaf padamu karena telah menyerobot Mr Adam dari mu... Apa kau bersedia memaafkanku...?"tanya Mina lembut.
"Nona Jane... Bolehkah aku memelukmu...?" tanya Mina ragu.
"Tentu... Kak Mina..." jawab Jane sambil merentangkan tangannya dari tempat dirinya duduk.
Mina menghampiri Jane dan memeluknya dengan erat.
Dari belakang pintu, Adam langsung menghampiri sang istri. Takut sesuatu terjadi pada sang istri.
"Sayang..." Adam memanggil sang istri dan langsung menariknya dari dekapan Jane dan memeluknya dengan posesif.
"Apa yang kau lakukan Nona Jane...?" tanya Adam penuh selidik.
"Saya tidak akan melakukan hal buruk pada istri anda..." jawab Jane santai.
"Bie... Nona Jane tidak berbuat apapun padaku, jadi jangan pernah berpikiran buruk padanya. Dia akan menjadi adik ipar kita. Serta menjadi bagian dari keluarga Johanson. Jadi, mari kita berdamai dan hilangkan dendam di dalam hati kita...." Mina tersenyum sambil mengusap lengan Adam yang terbalut jas Tuxedo hitamnya.
"Baiklah sayang, aku turuti semua inginmu..." suara Adam melembut.
"Nona Jane, bersiaplah... Acara akan segera di mulai..." sapa seorang kerabat wanita itu.
"Baiklah... Nona Jane bersiaplah, kuucapkan selamat atas pernikahanmu, selamat bergabung menjadi bagian dari keluarga besar Johanson..." Adam tersenyum tulus saat mengucapkan kalimat itu. Ia dan Mina kembali ke aula pernikahan adik kembar mereka.
Adam menyadari, dengan melepas semua dendam di dadanya, ia menjadi lebih bebas dan bahagia. Ia menggenggam tangan Mina dan mengajak nya duduk di kursi terdepan. Kursi terdekat dengan altar pernikahan.
Alvin dan Marriane menyapa sang besan yang tak lain adalah orang tua Stanly. Musuh bebuyutan mereka sewaktu muda.
"Anthony... Apa kabar...??" sapa Alvin ramah.
"Yah... Kabarku tentu tidak baik baik saja... Karena putrimu sudah membuat putraku buta akan cinta... Bahkan rela meninggalkan kami hanya demi dia..." jawab Anthony penuh penekanan.
"Hey... Ayolah... kita sudahi dendam lama kita. Aku sudah memaafkan perbuatanmu itu. Aku juga sudah melupakan bahwa kita pernah berseteru. Kasihan anak anak kita, mereka saling mencintai. Setidaknya, kau tidak mendapatkan Marriane, tapi putramu mendapatkan putri nya Marriane. Aku juga berharap, kau jangan terlalu cuek dengan Anita. Dia wanita yang baik Anthony, kita nikmati masa tua kita dengan menanti cucu yang akan lahir. Aku harap, kita tidak perlu lagi ada dendam kesumat..." ucap Alvin panjang lebar.
"Alvin, segampang itu kau memaafkanku! Aku tidak mudah memaafkanmu... Seandainya saat itu kau tidak menyerobot Marriane dari tanganku, saat ini aku sudah bahagia dengannya. Aku masih membencimu sahabat lamaku.... oh... ralat, musuh lamaku..." Anthony sarkas.
"Hey... Anthony, Apa kau akan membawa dendam kesumat itu sampai kau mati...?" tanya Alvin geram.
Anthony mengangkat bahunya tanda tidak tau.
"Hey... Ayolah kawan, lihatlah istrimu itu..." ucap Alvin menunjuk Anita yang tengah mengobrol dengan salah satu tamu.
"Lihatlah... wanita itu begitu mencintaimu. Dia rela berada di sisimu sampai akhir. Dia bahkan masih setia padamu sampai saat ini. Aku tau kehidupanmu yang monoton itu. Kau tidak pernah menyentuh istrimu sampai puluhan tahun, tapi melampiaskan pada wanita j*lang di luaran sana. Anthony, tataplah ia, kau akan merasa kehilangan dirinya suatu saat nanti..." Alvin mengingatkan.
"Bukan urusanmu..." balas Amthony dan melenggang pergi meninggalkan Alvin yang masih berdiri di samping kolam renang.