
"Tolong lepaskan saya... Tuan..." ucap Mina memohon dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Pria itu tidak menjawab, hanya mulai menyeretnya ke sebuah pintu masuk di antara bangunan yang mereka lewati. Mina mengikuti langkah pria itu dengan langkah gontai, pasalnya pria itu berjalan dengan begitu cepat serta menariknya dengan kasar.
Mina tidak bisa berpikir apa apa. Ia sudah kehilangan pikiran jernihnya. Ia tidak tau di mana ia berada saat ini. Ia tidak bisa berpikir dengan tenang. Panik, takut serta gemetar jadi satu. Ia sudah berpikir negatif dahulu setelah memasuki sebuah kamar yang berisi tempat tidur.
Pria itu melepaskan genggaman tangannya dan merebahkan tubuhnya di kasur tanpa melepas topi serta kaca mata hitamnya. Mina hanya berdiri mematung di tempat semula. Air matanya sudah mengalir deras dengan di iringi gemetar di seluruh tubuhnya.
"Mina kemari dan istirahatlah, apa kau tidak capek jalan jalan seharian ini sampai berlari lari untuk menghindariku... Tenanglah... Tidak usah takut, aku tidak akan memperkosamu..." ucap pria itu dalam rebahannya.
Mendengar suara yang tidak asing, Mina langsung memanggil pria itu. " M-Mr...!!!" ucap Mina dengan gemetar namun air matanya sudah berhenti.
"Hmm..." jawab pria itu.
"Apakah benar ini anda...???" tanya Mina tidak percaya.
"Ya... kemarilah..." ucap Adam sambil bangkit dari rebahannya dan duduk di pinggiran kasur.
Pria itu melepas topi serta kaca mata juga jenggot tebalnya. Dan benar saja, pria itu adalah Adam tuannya. Mina yang tadinya begitu ketakutan karena mengira pria itu orang asing, saat ini merasa lebih tenang.
"Apa aku menakutimu...???" tanya Adam pelan, karena masih melihat tubuh maidnya itu gemetaran.
"I - iya... Mr... tentu saja saya ketakutan..." ucap Mina mengiyakan.
"Ini aku, kau tidak perlu takut..." ucap Adam.
"Sini berbaring istirahat dulu... nanti kita bisa jalan jalan lagi..." tambahnya.
"Tidak Mr... saya di sini saja..." ucap Mina menolak.
"Kenapa...??? Bukankah aku bukan orang asing...???" tanya pria itu santai.
"Iya... anda memang bukan orang asing untuk saya, tapi anda majikan saya..." ucap Mina mengingatkan.
"Lalu...??" Adam bertanya.
"Tidak benar jika satu kamar juga istirahat di satu tempat tidur yang sama..." ucap Mina yang sudak tidak terisak.
"Apa kau ingin kamar yang lain atau kau takut jika aku akan memperkosamu...???" tanya Adam tiba tiba.
"Tentu saja ada kemungkinannya Mr..." ucap Mina mengiyakan.
"Apa yang membuatmu begitu yakin...???" tanya Adam memastikan.
"Kita hanya berdua di dalam sini... dan itu membuat saya merasa canggung dan takut..." ucap Mina jujur.
"Apa yang kau takutkan dariku...??" yanya Adam mengintrogasi.
"Tentu saja saya takut anda akan memaksakan kehendak anda kepada saya Mr... apa lagi saya pernah melihat serta mendengar anda sedang berfantasi dengan tubuh saya serta menyebut nama saya..." ucap Mina tanpa sadar dan langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya yang sudah keceplosan bicara.
Adam menganggukan kepalanya mengerti. Tapi itu ia jadikan alat untuk memancing Mina, apakah wanita itu akan terpancing dengan ucapannya.
"Oh... jadi kau melihatnya..." ucap Adam sambil menunjuk miliknya dengan ujung jarinya.
Mina tidak menjawab hanya menundukan kepalanya menahan malu karena mulutnya keceplosan. Ia juga tidak ingin mengingat hari itu, dimana pria itu memainkan miliknya yang besar dan berfantasi dengan tubuhnya sambil memekikan namanya. Mina bergidik ngeri.
Adam yang melihat Mina menunduk dan tidak menjawab pertanyaannya itu, tentu tau bahwa wanita itu telah melihatnya. Untuk menepis rasa malunya, Adam langsung bangkit dari duduknya dan menghampiri Mina.
Mina Yang melihat kaki sang tuan berjalan menghampirinya, mulai mundur ke belakang. Tubuhnya berhenti ketika sudah menempel tembok.
"Apa kau tidak ingin merasakannya...???" tanya Adam menggoda.
"Tidak Mr... saya tidak mau...!!" tolak Mina sambil menggeleng.
"Aku rasa, kau penasaran kan....???" goda Adam lagi.
"Tidak..." jawab Mina jelas.
"Jangan membohongiku Mina... aku rasa kau ingin merasakannya..." ucap Adam berasumsi.
"Saya tidak mau...!!! Mr... bisakah anda kembali beristirahat..." mina mengalihkan pembicaraan
"Tidak usah mengalihkan pembicaraan Mina... peganglah... kau akan suka..." ucap Adam sambil meraih tangan Mina. Tapi Mina menepisnya.
"Tidak mau ya tidak mau, kenapa memaksa...!!!" ucap Mina lantang keberaniannya mulai datang.
"Tidak usah teriak, jika kau teriak lagi, aku cium mau...??? Ah... atau kau rindu dengan kecupanku....???" tanya Adam dengan senyum menggodanya. Entahlah... dia sudah lama tidak merayu wanita. Rasanya juga di hatinya mulai bergemuruh, tidak seperti dulu ia begitu expert....
Perlahan lahan, wajah Adam mendekati wajah Mina untuk mencium wanita itu.
Mina langsung memalingkan wajahnya, sehingga samping kepalanya mengenai hidung Adam. Karena pria itu sedang menunduk saat akan mengecup Mina. Adam yang mendapati hidung mancungnya terkena pelipis kepala Mina, ia hanya mengerang sambil memaki.
"Oh... shit..." gumam Adam sambil memegangi hidungnya yang mulai mimisan.
Mina yang masih berdiri di dekat tembok, hanya menatap sang tuan yang sedang mencari tisu namun tidak tersedia di kamar itu. Mina meraih ranselnya dan mengambil tisu dari dalam ransel kemudian menghampiri sang tuan.
"Ini tisunya Mr..." ucap Mina sambil menyodorkan tisu kecil miliknya.
Adam hanya menatap mata Mina dengan amarah di wajahnya. "Saya minta maaf... Mr... saya tidak sengaja dan saya hanya mencoba menghindar. Saya mohon kepada anda, bersikap seperti dahulu mungkin lebih baik untuk anda dan juga saya. Layaknya Tuan dan pelayannya saja itu sudah cukup..." ucap Mina sambil mengelap darah yang mengalir di hidung tuannya.
Adam hanya terdiam sambil duduk agar Mina dapat membersihkan darah mimisannya yang masih saja mengalir menggunakan tisu yang dibawanya. Adam menatap Mina dengan seksama saat wanita itu berada di hadapannya. Wanita Asia Tenggara yang sederhana dan cantik jika di lihat dari dekat.
"Mina, apa kau tau... kau wanita pertama dan tersulit untuk aku taklukan...." ucap Adam sambil menatap manik mata Mina yang berwarna coklat tua.
Mina yang masih menahan tangannya di hidung sang tuan hanya terperangah sambil tersenyum.
"Benarkah... Mr...???" tanya Mina pelan.
"Hmm... kau memang tersulit..." jawab pria itu.
"Sudah berapa banyak wanita yang Mr tiduri...???" tanya Mina sambil menatap mata grey tuannya itu.
"Aku lupa... aku tidak menghitungnya...kenapa...???" tanya Adam pada Mina.
"Tidak, saya hanya bertanya..." ucap Mina dan menjauh dari sang tuan untuk membuang tisu yang sudah berlumuran darah.
Tangannya di cekal oleh sang tuan. "Mau kemana...???" tanya Adam pada Mina.
"Ke toilet membuang tisu dan mencuci tangan saya..." jawab Mina.
Adam melepaskan tangan Mina dari genggaman tangannya. Membiarkan wanita itu pergi ke toilet.
"Apakah kau tidur di dalam toilet Mina...???" tanya Adam sambil menggedor pintu di depannya setelah setengah jam wanita itu tidak keluar.
Adam yang tidak sabar langsung membuka pintu di depannya dengan keras. Dan benar saja, Mina yang di tunggu tunggu ternyata tertidur sambil duduk di toilet sambil bertumpu di dinding.
Adam tersenyum melihat Mina tertidur. Ia mengangkat tubuh wanita itu untuk keluar dari dalam toilet dan direbahkannya tubuh itu di atas kasur. Adam melepas sepatu Mina dan meletakkannya di lantai. Adam mengusap rambut Mina dengan pelan.
"Kau bahkan lebih suka tidur di toilet di banding tidur denganku di ranjang. Seumur hidupku, kau wanita pertama yang menghindariku dan tidak mau menghambur ke dalam pelukanku. Aku benar benar menghargaimu Mina... Maaf..." ucap Adam dan mencium pucuk kepala wanita itu dengan lembut.
Adam merebahkan tubuhnya di sisi Mina berbaring. Ia ingin memeluk wanita yang selalu menolaknya itu di saat wanita itu tidak sadar dalam tidurnya. Adam menatap Mina dengan intens, ia tersenyum melihat wanita itu terlelap.
'Sekejap saja Mina, aku ingin merasakan kehangatan tubuhmu di saat kau tidak sadar. Maafkan aku... yang selalu mempersulit dirimu... memarahimu... mungkin ini hukuman dari Tuhan kenapa aku mulai jatuh cinta padamu...' batin Adam. Pria itu mendekap tubuh Mina erat.
Sesaat rasa kantuknya mulai menguasai dirinya, Adam yang masih memeluk Mina pun ikut terlelap karena lelah.