
"Jadi selama 1 minggu ini kamu sendiri dek..?"
"He'em ..." Mina mengangguk. "Kenapa....?" tanya nya.
"Emang tidak ada momongan gitu seperti anak atau orang tua jompo atau hewan apalah....?" tanya sang suami.
"Tidak ada mas..."
"Memang majikan kamu singgel apa gimana dek...?" tanya sang suami.
" He'em... mas... dia singgel... duda palah..." jawab Mina.
" Ngga ada orang lain yang serumah gitu... dek...?"
"Ngga mas... emang kenapa...?" Mina malah berbalik bertanya.
" Dia kan laki laki dan kamu perempuan dek... masa tinggal serumah... bukan muhrim lo dek... nanti kalau terjadi apa apa gimana dek...?" sang suami mengingatkan.
" Ya ... enggak lah... mas... istrimu ini bukan tipe tipe penggoda dan juga majikanku juga tidak akan mungkin tertarik dengan wanita seperti aku... lagian fisik aku dan wajah aku bukanlah termasuk kriteria dia... sedang dia kan orang yang sangat kaya... mencari wanita cantik selusin pun tinggal menjentikan jarinya...😅😅😅 ngga mungkin majikanku tertarik sama aku.... mas..."
" Jadi kamu jangan kawatir ok... diriku cintaku setiaku hanya untuk kamu walaupun kita terpisah jarak berkilo kilo meter... kamu percaya kan sama aku...?" Mina memandang mata sendu suaminya.
" He'em dek... kamu ngga bohong kan...? aku takut kamu bohong..."
Mina memandang wajah suami yang ia rindukan dengan seksama. Mata, bibir dan semua yang ia rindukan ada di depan matanya walaupun tidak bisa dia peluk. Mina tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku ngga bohong mas...apa kamu meragukan kesetiaanku...?." Mina bertanya pada sang suami.
" Baiklah aku percaya.."
"Jadi, bagaimana dengan pekerjaan kamu mas...?" tanya Mina.
" Ya... lancar dek..."
" Alhamdulillah mas kalau begitu..." kata Mina.
"Ya... Alhamdulillah banget dek... itu yang aku harapin agar bisa bantu kamu untuk segera melunasi hutang kita... dek... kamu vicol aku sambil makan dek...?" tanya sang suami.
" He'em... mas... aku lagi makan burger .... tadi aku habis belanja di super market... Mas mau...?" jawab Mina dengan riang.
Jono suami Mina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Gimana mau ngasih aku dek... kan kita jauh... nanti mungkin waktu kamu pulang aku di beliin dan juga anak anak ya dek..." kata sang suami.
Mina menganggukan kepala sambil tersenyum.
" Kamu kelihatan seneng banget dek... aku juga melihatmu lebih ceria dari minggu kemarin... aku jadi sedikit lebih lega dan tenang sekarang... kamu tidak tertekan seperti minggu kemarin.... aku jadi seneng melihatnya..." kata sang suami.
" Mas... masa aku harus bermuram durja terus sih... meski banyak beban di hidup kita, tak seharusnya kita selalu mengeluh dan juga bersikap pesimis... kita jalani saja..."
"Dan setelah 1 bulan lagi, aku bisa mengumpulkan uang untuk kita lunasi semua hutang kita..."
Suami Mina terdiam menatap mata sendu nan teduh milik istrinya yang sudah 8 bulan tidak bersama itu. Ya hampir setahun memang mereka tidak bersama. Mengingat dulu dirinya mengantarkan sang istri ke sebuah PJTKI di sebuah kota dan meninggalkannya disana.
Tidak ada hal yang lebih menyakitkan dari hal itu dulu. Ketika dia meninggalkan sang istri di dalam sana untuk mengadu nasib dengan TKW lain dan dirinya kembali kerumah dengan membawa pesangon sejumlah uang dari PJTKI dengan perasaan yang menggondok di dadanya.
Bagaimana tidak, dia seakan akan telah menjual sang istri dan menukarnya dengan uang.
Dan hanya bisa mengantar sang istri di depan Pintu gerbang yang tinggi. Bahkan sampai hari penerbangan sang istri pun ia hanya mendapat kabar saja. Tidak ada kontek langsung dengannya.
Tapi sekarang ia merasa benar benar lega. Meskipun ia hanya bisa memandang dari layar hp itu sudah lebih dari cukup untuk saat ini.
Ia berdo'a di dalam hatinya agar tidak ada lagi kesusahan yang menimpa sang istri yang tengah berada jauh darinya.
"Mas..."
"Mas..."
"Mas..., Jono..." Mina memanggil sang suami yang tengah melamun.
"Hey... Mas Jono... kok melamun sih...!!!" suara Mina mengeras.
"Eh... iya dek... kenapa...?" tanya sang suami setelah sadar dari lamunannya.
"Aku cuma tanya kok kamu melamun mas..?"
"Oya.. dek... ibu ku mau nikah lagi dan akan ikut suaminya di kampung sebelah..." kata sang suami.
"Emang kamu sudah setuju mas...? Terus gimana pendapat dari adik adik kamu...?" tanya Mina.
" Mereka sih.. setuju setuju aja dek... lagian juga calonnya itu orang baik baik kok..." jawab sang suami.
"Oh... ya kalau gitu selamat mas... aku juga ikut seneng dengernya..."
" Udah dulu ya... dek... soalnya ini ada orang mau beli semen..." kata sang suami.
" Iya ... mas... kalau begitu semoga lancar dan laris manis tanjung kimpul dagangan laris duit ngumpul..." kata Mina.
"Amin... sayang... makasih do'anya..."
"Iya... mas... aku tutup ya...."
"He'em.." jawabnya.
" Asallamua'llaikum..."
"Wa'allaikum sallam..." jawab suami Mina.
****
Sementara itu Adam di Canada tengah menutup ponselnya. Ia tersenyum karena baru saja melihat interaksi suami istri yang di anggap cukup saling percaya pada pasangan masing masing.
Yang lebih membuatnya tertawa saat ini ialah, ketika Mina mengatakan bahwa dirinya hanya dengan menjentikan jari tangannya saja bisa untuk mendapat selusin wanita yang ia mau dan dengan senang hati berlari ke pelukan dirinya.
Adam menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia meletakan ponselnya di atas nakas dan membaringkan tubuhnya di kasur. Adam berbaring dengan menyelipkan kedua tangannya di bawah leher. Pikiran pria itu terus menerawang kemana mana dan tanpa terasa ia terlelap ke dalam mimpi.
Keesokan paginya, Adam terbangun pukul 07:05 am. Ia mendengar suara deruman mobil di garasi Mansion orang tuanya.
Adam bangkit dari ranjangnya dan mengintip dari balik tirai jendela.
Adam memandang halaman sekitar garasi. Seorang penjaga tengah menutup gerbang dan menguncinya.
Tok...
tok...
tok...
Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Adam bergegas membuka pintu itu untuk melihat siapa disana.
"Kak..." Ellen memanggil.
" Good morning my little sister..." Adam menyapa dengan senyumnya.
"Ada apa El... kenapa wajahmu panik...?" tanya Adam penasaran.
" Kak... Mommy... dia colapse...." Ellen berkata sambil menitikan air matanya.
" Bagaimana bisa...? Bukankah semalam dokter berkata ia baik baik saja...?" suara Adam meninggi.
"Aku... aku tidak ta-..." kata kata Ellen terputus ketika ponsel Adam berbunyi nyaring.
Adam bergegas meraih ponselnya dan melihat nomor Allan yang tengah menghubunginya.
"Hallo..." Adam memulai.
"Kak... datanglah ke rumah sakit kita... Mommy selalu memanggil nama kamu kak..." suara Allan panik.
" Baiklah... aku akan segera kesana..." Adam meletakan ponselnya dan menghampiri sang adik.
" El... Mommy butuh kita... bersiap siaplah... kita pergi ke rumah sakit bersama..." kta Adam syarat akan perintah kepada sang adik.
"Bagaimana keadaan Mommy kak....? Apa dia kritis...?" tanya sang adik.
"Bersiaplah dan tunggu aku di garasi..." Adam berlalu ke kamar mandi meninggalkan sang adik yang sendari tadi berdiri mematung. Ellen berlari keluar sembari menangis karena takut terjadi apa apa dengan Mommy nya.