
Di dalam taksi.
Adam dan Mina masih terdiam dengan pikiran mereka masing masing. Tidak ada kata kata ataupun obrolan dari mulut mereka. Mina menatap pemandangan malam hari yang begitu indah itu dengan termenung. Meski ia mengagumi keindahan itu, pikirannya tidak sepenuhnya terpusat pada pemandangan malam ini.
Lampu lampu telah di nyalakan. Pemandangan gedung serta bangunan lain di malam hari lebih gemerlap dengan warna warni lampu yang cantik.
Dari dalam taksi yang ia tumpangi itu, Mina memandanginya dengan perasaan yang sulit di artikannya. Dan akhirnya pemandangan itu tenggelam tertelan jarak yang semakin jauh.
Adam tidak tau harus berbuat apa. Ia tidak pernah semalu dan semarah ini. Ia ingin memaki wanita yang saat ini duduk di sampingnya ini dan membuatnya menyesal karena menolak dirinya. Tapi, ia urungkan karena ucapan wanita itu ada benarnya.
Sesampainya mereka di depan gedung apartemen, setelah membayar taksi, Adam langsung meninggalkan Mina dengan langkah cepat. Mina berjalan lebih perlahan agar bisa memberikan waktu dan juga ruang untuk pria yang menjadi tuannya itu agar lebih berpikir rasional dan masuk akal.
Mina memutuskan untuk duduk sebentar di loby apartemen, membiarkan tuannya kembali dahulu ke atas. Ia tidak ingin membuat pria itu bertambah marah dengan berada di dekat pria itu.
Adam yang tidak melihat Mina ikut masuk ke dalam lift, ia mencari sekeliling dam melihat wanita itu sedang duduk di sofa loby dengan wajah murung.
Adam juga memberikan wanita itu waktu untuk sendiri. Adam kembali masuk ke dalam lift dan membiarkan maidnya itu sejenak. Ia kembali ke dalam apartemennya itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Adam menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas kasur dan menatap langit langit kamarnya.
Ia sudah dengan jelas mendengar alasan Mina menolak untuk menjadi kekasihnya tadi. Kini ia bisa mengerti dengan jelas bahwa wanita itu tidak membutuhkan materi tetapi sebuah hubungan yang utuh dengan sebuah kesetiaan. Adam menghela nafasnya kasar.
Ia tau, ia bukan lelaki baik sebelumnya. Tapi, ia mulai menjadi lebih baik dan berubah sejak ia menikahi istrinya. Ia tidak lagi bergonta ganti kekasih lagi semenjak saat itu hingga saat ini. Ia masih mengingat jelas kata kata Mina yang menyatakan bahwa ia ingin menjadikan wanita itu kekasih yang ke berapa.
Adam sudah tidak ingat lagi berapa ia dulu memiliki mantan kekasih. Karena ia tidak menghitungnya. Adam mendengar suara pintu masuk apartemennya tertutup. Ia tau jika Mina lah yang masuk. Ia akan memberi ruang bagi wanita itu untuk berpikir.
--------
Sementara itu, Stanly sedang berada di sebuah cafe dengan seorang wanita yang selama ini menemanina bicara dan mengobrol. Wanita itu juga menepati janjinya, tidak pernah lagi ia melakukan hal bodoh itu dengan siapapun. Mereka menjadi teman baik.
"Mr. Stanly, mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu di sini. Lusa saya harus kembali ke Indonesia karena masa kontrak kerja saya sudah habis. Jadi, malam ini saya ingin menghabiskan waktu dengan anda sebagai malam terakhir. Apa anda bersedia...???" tanya Sali pada Stanly.
Stanly yang tidak fokus mendengarkan ucapan Sali, hanya menganggukan kepalanya tanda setuju. Sali yang mendapat persetujuan dari Stanly, begitu senang dan gembira. Mereka melewati malam itu dengan selalu bersama.
Tengah malam, Stanly mabuk berat ia meminta Sali untuk mengantarnya ke apartemen miliknya. Setelah mendapat izin dari security apartemen, Sali membawa pria itu menuju lantai 11 menggunakan lift. Sali masih begitu ingat dengat tempat tinggal pria yang kini menguasai sepenuh hatinya itu.
Sesampainya di dalam apartemen, Sali memapah Stanly ke dalam kamar milik pria itu. Setelah melepaskan sepatu juga jas serta dasi pria itu, Sali membuka 2 kancing kemeja milik Stanly agar pria itu merasa sedikit nyaman. Tapi tangannya di cekal oleh Stanly dan dirinya jatuh kedalam pelukan pria itu.
Tanpa pikir panjang, ia menyerahkan dirinya pada pria yang ia cintai itu dan terjadilah pergulatan panas di antara mereka. Sali hanya berpikir bahwa dirinya tidak akan hamil serta memanfaatkan moment indah malam ini sebagai malam perpisahan mereka.
Setelah mereka selesai dengan pergulatan panasnya, Stanly tertidur dan Sali masih saja menatap pria yang baru saja menggagahinya itu dengan penuh cinta. Ia mengambil ponsel miliknya dan mengambil foto pria itu dengan dirinya sebagai kenangan terakhirnya.
Sali berganti mengambil ponsel milik Stanly dan memfoto dirinya dan pria itu yang sedang berpelukan itu dan menyimpannya ke galeri foto pria itu. Agar pria itu tau bahwa mereka melewati malam panas yang mengairahkan.
Tapi, ia melihat foto seorang wanita yang seperti ia kenal. Banyak sekali foto wanita itu di dalam ponsel Stanly. Seketika rasa bahagia di hatinya sirna dan di liputi rasa penuh kekecewaan. Sali mengirim foto wanita itu ke ponselnya dan ingin mencari tau nantinya ketika ia berada di kampung halamannya. Ia juga mengirim foto terbaru yang baru saja pria itu ambil. Wanita yang mungkin ia kenal itu baru saja keluar dari sebuah pintu kamar hotel serta keluar dari sebuah hotel ternama dan mewah di sini dengan seorang pria bule.
Sali bangun dan mulai memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia merasa kecewa dengan pria yang saat ini terbaring di ranjang itu. Ia menyukai seorang wanita yang mungkin adalah salah satu sahabatnya. Sali selalu mendengar keluh kesah pria itu tentang wanita yang di cintainya itu.
'Aku akan cari tau apakah dia salah satu sahabatku dan sedang berada di sini...' batin Sali dan memakai pakaiannya kembali.
Setelah menatap pria yang ia cintai itu, ia berlalu ke pintu keluar dan meninggalkan apartemen yang menjadi kenangan manisnya itu. Setelah sampai di pelataran apartemen, ia memanggil taksi dan masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang bercampur aduk.
Ia kembali ke rumah sang majikan ketika hari sudah benar benar larut malam yang hampir subuh dengan menangis. Ia kecewa, selain ia tidak bisa bersama pria yang ia cintai saat ini, lagi lagi ia patah hati. Sali mengusap air matanya dan mencoba menerima kenyataan saat ini.
Salimah / Sali