My Maid And I

My Maid And I
season 2 moo part 09.



adam menatap pantulan stanly di kaca spion dengan tatapan tajam. ia menatap asistennya yang saat ini tengah menyetir menuju kediaman orang tuanya. setelah menempuh perjalanan jauh dari singapura, mereka keluar dari airport dengan mengendarai mobil milik adam yang memang telah di siapkan oleh supir pribadinya.


"stan... apa kau ingin melanjutkan rencana mu untuk mendapatkan allina...???" adam bertanya dengan suara datar.


"iya... boss... tentu, aku harus melanjutkan rencana itu... dan mungkin saja di dalam perut adik anda telah hadir stanly junior..." jawab stanly penuh kemantapan.


"apa kau tidak takut dengan orang tuamu... dan bagaimana jika dia menyakiti allina lagi...??? apa kau siap dengan segala konsekuensinya...???" adam meyakinkan.


"aku tidak takut pada apapun... akan aku jaga orang yang aku cintai dengan segenap jiwaku meskipun dengan mengorbankan nyawaku sekalipun..." suara stanly terlalu bersemangat.


adam pun hanya menganggukan kepalanya tanda faham. karena ia pun pernah berada di posisi stanly saat ia tengah memperjuangkan mina.


"boss... aku tidak akan melepaskan allina lagi kali ini. aku baru menyadari ketika ellen menamparku ketika ia meminta pertanggung jawaban pada gadis yang telah kurenggut kesuciannya yang tak lain adalah kakak perempuannya. ketika aku ingin bertanggung jawab pada gadis itu yang aku kira itu ellen. ellen memintaku untuk memutar rekaman cctv ruang santaiku di dalam apartemen. agar aku percaya jika gadis yang kunodai bukanlah ellen..." stanly menghela nafasnya pelan dan memulai kata katanya lagi.


"aku akan berusaha untuk mendapatkan adikmu dengan sebaik baiknya. jika tidak bisa dengan cara ini, aku akan lakukan dengan cara lain..." ucap stanly mantap.


"hampir saja aku membuat ellen membenciku karena perbuatanku pada kakak perempuannya. tapi, setelah melihat dengan detail isi cctv apartemenku, ternyata allina lah yang memulai permainan menggairahkan kami... aku rasa, adik anda masih mencintaiku sama seperti aku mencintainya... karena dengan begitu jelas aku masih merasakan keperawanan adik anda... aku meminta bantuan ellen hanya untuk membuat allina merasa kehilangan diriku... apa lagi mungkin saat ini, dia sedang membutuhkan aku untuk bertanggung jawab... aku meminta ellen untuk berpura pura menjadi kekasihku selama anda membebas tugaskan aku di kanada. aku ingin berkonsentrasi merebut perhatian allina. aku ingin meminta izin kedua orang tua anda untuk meneruskan rencanaku ini... apa anda keberatan boss...?" ucap stanly meminta pendapat adam.


"aku tidak mengizinkan jika ellen sampai tersakiti stan... kau tau sendiri bukan, dia itu adik kesayanganku... aku hanya takut jika dia jatuh hati padamu dan kau membuatnya terluka... dia belum pernah jatuh cinta. aku tau dia takut jatuh cinta dan menjalin hubungan karena ulah ku yang telah berlalu...." ucap adam dengan nada datar. ia merasa kawatir jika ellen nantinya terluka.


"aku akan meyakinkan ellen agar tidak jatuh hati padaku... boss..." stanly meyakinkan.


"baiklah... atur apa pun yang kau butuhkan... aku harap kau tepati janjimu...!!!" adam kembali menatap keluar jendela.


***


mina tengah menyiapkan makan siang untuk ibu serta ayah mertuanya. dengan hati hati ia menyiapkan makanan yang memang harus kurang rasa asin serta gurih. karena kedua mertuanya itu benar benar harus menjaga kesehatan tubuh mereka.


marriane dan alvin tengah duduk menanti di kursi ruang makan. mereka sangat antusias dengan menu yang di siapkan menantunya. menu rebusan dari negara indonesia. menggunakan sayuran yang baru saja di petik dari halaman belakang rumah mereka.


marriane menatap menantunya yang memang setiap harinya tidak pernah senang untuk berdiam diri. meski kehamilannya sudah mulai terlihat besar, ia masih bergerak sesuai kehendak hatinya. ia tersenyum menatap kegesitan menantunya yang memang sangat sulit di atur. jika saja ada adam, pasti ia akan sering melihat mereka berdebat.


ia tau, mina bukanlah wanita manja. dia wanita mandiri dan juga pekerja keras. maka dari itu, ia tidak suka jika harus berdiam diri dan duduk santai. pasti ada ada saja yang ia lakukan. marriane tersenyum tatkala ia mengetahui alasan menantunya tidak ingin duduk diam.


flash back...


ia takut jika nanti menantunya kelelahan dan adam akan memarahinya lagi dan mengira membuat menantunya itu menjadi pelayan.


"mom... aku tidak ingin bermalas malasan dan membuatku sulit untuk melahirkan dengan normal... ini kehamilan ke 3 ku. aku tidak ingin anak yang aku kandung menjadi lemah karena aku kurang gerak. aku akan selalu berhati hati saat melakukan kegiatanku apapun itu mom... aku merasa bosan jika tidak melakukan apapun" ucap mina memelas.


"sayang, kan kau bisa pergi jalan jalan dan shoping pergi berbelanja serta bersenang senang di mall... atau pergi ke salon untuk perawatan kulitmu ..." marriane menawarkan.


"mom... sorry... tapi, itu bukan tipeku... aku terbiasa hidup sederhana dan tidak bermewah mewah.... aku akan marah kalau adam membeli barang barang yang tidak aku butuh kan serta tidak penting seperti tas, sepatu, dan lainnya. aku takut mom, jika kelak aku mati, barang barang itu meminta pertanggung jawaban ku di akhirat..." ucap mina sendu.


"sayang... kenapa kau berbicara seperti itu. jangan menakuti mommy... dong..." marriane merasa takut dan tercubit dengan perkataan mina.


" itu nyata mom... apa lagi jika barang barang yang kita gunakan hanya untuk pamer serta tidak berguna selain hanya untuk pamer...." mina meyakinkan sambil terus mencabuti ruput dengan tangannya.


"berhentilah sayang... nanti tanganmu kasar dan adam akan memarahi mommy... apa kau suka mommy di marahi anak mommy sendiri...?" ucap marriane memelas serta mengalihkan pembicaraan mereka.


"mom... aku ingin berkebun... apa mommy setuju...???" ucap mina antusias dengan senyum memohon.


marriane syok dengan permintaan menantunya yang tentu saja di luar expekstasinya. ia menggelengkan kepalanya. karena ia mempunyai menantu yang sangat langka. di saat semua wanita menyukai kemewahan, dia tidak suka kenewahan. disaat srmua wanita menginginkan harta anaknya, ia palah biasa biasa saja. marriane menghela nafasnya pelan.


"oke... tapi dengan satu syarat..." marriane menyetujui.


"duh... syarat apa lagi mom...? jangan bilang kalau aku harus duduk manis sambil menatap tukang kebun yang melakukannya..." ucap mina lemas.


"tidak sayang, biarkan tukang kebun yang membuat lahan untuk di tanami sayur atau apapun yang kamu inginkan. dan juga, mommy juga ingin bergabung dengan apa pun kegiatanmu saat berkebun..." ucap marriane memberi ide.


"tapi mommy masih belum sembuh total...!" mina mulai kawatir.


"jika tidak di izinkan, maka tidak ada kata berkebun...!" keputusan marriane sudah finall.


mina menghela nafasnya pelan dan mulai memikirkan keinginan mertuanya itu dengan memilah milah kebaikan serta mungkin hal buruk terjadi. apa lagi jika mertuanya itu sampai kelelahan. serta ia juga harus mendapat izin dari suaminya itu. yang tentu saja tidak akan mengizinkan.


mina berjalan ke kursi di bawah pohon mapel dan mendudukan pantatnya disana dengan wajah lesu. dari kejauhan, marriane terkikik geli melihat tingkah menantunya yang merajuk.


flash back off...