
saat makan malam, allina tidak memakan makanannya dengan lahap. pasalnya ia tidak ada semangat sama sekali, semenjak ia mendengar ellen dan stanly menjalin kasih.
apa yang ia harapkan dari pria itu. memanglah kesalahan dirinya yang meninggalkan pria itu dulu. serta dirinyalah yang menyakiti pria itu sedari awal. siapapun akan sangat kecewa ketika sedang cinta cintanya serta sayang sayangnya di hianati oleh kekasih hatinya. meskipun itu bukanlah ke inginan dirinya ketika itu.
allina menatap kakak ipar yang sering ia sakiti itu. wanita itu tidak pernah membalas perlakuannya ataupun mengadukan kepada sang suami yaitu kak adam, kakak lelakinya. allina malu pada mina. bagai mana tidak, bahkan wanita itu selalu peduli terhadap dirinya. dan memperhatikan dirinya.
sementara itu, stanly masih mencuri pandang pada allina. ia memperhatikan wanita yang ia cintai itu tidak memakan makanannya dengan lahap. nafsu makan wanitanya itu tidak banyak bahkan cenderung sangat susah menerima makanan. stanly merasa kawatir dengan allina.
sementara itu, alvin ayah allina menatap stanly dengan perasaan bersalah padanya. alvin tau jika asisten putranya itu menyukai allina serta mencintai putrinya itu dengan sepenuh hati, ia hanya berharap jika keluarga lelaki itu menyetujui hubungan mereka dan menghapus dendam lama mereka. agar mereka bisa bersatu. meskipun alvin kecewa karena putrinya saat ini tengah mengandung dan menutupinya dari dirinya, yang membuatnya kecewa karena putrinya itu tidak mengatakan apapun tentang masalah yang sedang di alaminya. ia masih menunggu penjelasan serta kejujuran putrinya itu dari mulut anaknya sendiri.
alvin ingin memukuli stanly ketika pria itu ketika meminta izin untuk meminjam ellen untuk melancarkan aksinya untuk mendapatkan cinta allina lagi. mungkin dengan kedekatannya dengan ellen, akan membuat allina merasa kehilangan. sungguh, alvin tidak puas dengan ide itu. ia memutuskan untuk mengizinkan sementara saja untuk memancing putrinya itu menggunakan sang adik. selebihnya, alvin tidak mengizinkan lagi. ia juga tidak ingin jika putri bungsunya jatuh cinta dengan pria yang sama dan berebut dengan saudarinya.
alvin menghembuskan nafasnya kasar. marriane menatap sang suami dengan tatapan sendunya. ia tau jika suaminya merasa tertekan dengan apa yang di alami anak anak mereka. marriane mengelus lengan suaminya untuk saling menguatkan. alvin menatap wajah sang istri dan tersenyum penuh cinta.
allina memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena ia tidak ingin melihat pria yang ia cintai itu lebih lama. ia juga tidak ingin iri melihat kemesraan kak adam dengan kakak iparnya yang selalu penuh perhatian itu.
allina merebahkan tubuhnya di atas ranjang miliknya. ia mulai terlelap tanpa disadarinya dan hanyut ke dalam allam mimpi.
tengah malam, allina terbangun merasakan perutnya lapar. ia ingin memakan sesuatu yang di buatkan oleh kakak iparnya itu. ia bergegas keluar dari kamarnya dan menghampiri pintu kamar sang kakak. saat ia akan mengetuk pintu, allina mendengar desahan desahan sang kakak ipar dari dalam kamar itu. ia memutuskan untuk tidak mengganggu dan mengurungkan niatnya untuk meminta mina membuatkan sesuatu yang ingin ia makan di tengah malam. allina berlalu meninggalkan pintu kamar sang kakak dan turun ke dapur sendirian.
di lantai bawah, stanly tengah duduk di sofa dengan menyenderkan kepalanya. ia tengah menghisap rokoknya dalam dalam sebagai bentuk rasa frustasinya. ia mendapat teguran dari adam serta alvin di ruang kerja pria tua itu tadi dan membuatnya tidak bisa tidur karena memikirkan wanita yang ia cintai itu tersakiti. ia tau, seharusnya jika memang allina yang ia inginkan, ia harus berusaha untuk mendapatkannya.
stanly tersentak kaget dan langsung mematikan rokoknya saat ia melihat seseorang turun dari lantai atas. ia tau jelas dengan langkah kecil itu. ia tau jika itu adalah allina, wanita yang ia cintai. stanly tersenyum, di dalam kegelapan. ia memang tidak menyalakan lampu saat ia memutuskan duduk di sofa tadi. ia melihat gerak gerik allina dalam duduknya. wanita itu berlalu menyusuri lorong yang menuju dapur. stanly tau, jika allina tengah kelaparan karena saat makan malam tadi, wanita itu tidak memakan makanannya dengan benar.
stanly membuntuti allina dari belakang dan memperhatikan apa yang dilakukan wanita itu di dapur. stanly menggelengkan kepalanya saat melihat allina tengah memecahkan sebutir telur untuk ia masukan kedalam mangkuk, namun gagal karena telur itu pecah di atas meja dan mengotori tangan serta bajunya.
allina menghela nafasnya pelan. ia tau jika selama ini, ia tidak pernah sekalipun masuk ke dalam dapur dan berkutat di sana. sebenarnya ia juga tidak tau bagaimana caranya menyalakan kompor. dengan menahan perutnya yang lapar, ia memutuskan untuk memakan roti tawar dengan selai coklat. setelah menghangatkan susu segar ke dalam microwave, ia duduk di kursi sendirian. ia mencoba menikmati makan tengah malamnya itu dengan senyum.
stanly menghampiri allina dan duduk di samping wanita itu. allin tercekat saat mengetahui pria yang duduk di sebelahnya adalah stanly. dengan cepat ia melahap rotinya sampai sampai ia tersedak.
"uhuk... uhuk..."
dengan cepat stanly meraih susu yang ada di depan allina dan memberikannya pada wanita itu. allina menerima susu itu tanpa menatap stanly dan langsung meminumnya cepat. baru beberapa kali teguk, rasa amis dari susu itu membuat allina mual. ia langsung bangkit dari duduknya dan memutahkan isi perutnya di wastafel. stanly menghampiri allina dan mengelus tengkuk wanita itu dengan sabar. ia melihat jika allina tengah tersiksa karena mual.
"duduklah..." ucap stanly sambil menahan lengan allina ketika wanita itu ingin kembali ke kamarnya. setelah wanita itu mencuci muka serta berkumur.
allina hanya diam dan menurut. ia langsung duduk di kursi. tubuhnya lemas tidak bertenaga. ia menatap pria yang ia cintai itu tengah membersihkan wastafel serta mengelap meja. pria itu membersihkan pecahan telur serta kekacauan yang ia buat.
"kau ingin makan apa...?? biar aku buatkan..." tanya stanly singkat.
allina menggeleng. ia tidak ingin mengatakan jika dirinya lapar.
"al... aku tau jika kau lapar... bahkan saat makan malam, kau nyaris tidak memakan makananmu tadi...!" ucap stanly lembut pria itu masih berdiri dihadapan allina.
"tidak usah memperdulikan aku... aku takut dan tidak mau jika ellen salah paham padaku... " ucap allina mengingatkan dan berdiri dari kursi yang ia duduki.
"al..." ucapan stanly tertahan saat allina berbalik menatapnya serta menggelengkan kepalanya.
"aku harap, kau bisa bahagia dengan ellen... dia gadis yang baik..." ucap allina pelan namun dengan suara berat. gemuruh di dadanya tidak dapat terbendung.
allina menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"aku tidak ingin menyakiti perasaan ellen... dia adikku... dia mencintaimu... aku tidak pantas untukmu, aku yang telah meninggalkanmu dulu... aku tidak bisa kembali padamu dan menyakiti saudariku..." gumam allina sambil tersenyum getir.
"al... aku tau kau masih mencintaiku..." stanly sudah tidak tahan dengan penolakan serta penyangkalan allina.
"apa buktinya...??" tanya allina.
stanly mendekat dan memegangi kedua pundak allina. pria itu menatap mata sendu allina.
"dari tatapan matamu serta dari caramu mempertahankan janin yang kau kandung..." ucap stanly.
"aku tau, kau mengandung anakku..." stanly melanjutkan.
"kau salah... dia anakku..." allina mendengus kesal.
"kau takan mengandung jika tidak bercinta denganku di apartement siang itu..." stanly menegaskan.
"apa buktinya jika janin yang aku kandung itu anakmu... bisa saja aku berhubungan dengan pria lain..." allina menyangkal.
"aku yakin itu anakku al... karena aku yang pertama bagimu... karena aku yang telah mengambil mahkotamu... karena aku pula yang telah membuahinya. setelah kejadian itu, aku meminta orang kepercayaanku untuk mengikuti setiap kegiatanmu. kau tidak pernah sekalipun berhubungan dengan pria lain selain diriku..." ucap stanly dan menatap mata allina penuh kerinduan.
"aku tida-..." kata kata allina terputus saat bibir stanly mlumat bibirnya. gemuruh di dadanya bercampur bersatu dengan getaran kerinduan akan sentuhan pria yang ia cintai itu. allina lemas dalam dekapan pria itu. ia sungguh merindukan pria ini. pria yang sama, pria yang menjadi cinta pertamanya.
nafas allina terengah engah saat ciuman stanly terlepas. allina mengatur nafasnya agar stabil lagi. ia memegangi dadanya. ia merasakan detak jantungnya begitu cepat.
"al... aku tau kau masih mencintaiku..." bisik stanly di telinga allina saat pria itu medekap tubuh allina erat.
"menikahlah... denganku... aku akan bertanggung jawab pada janin yang kau kandung..." bisik stanly sambil mencium puncak kepala allina.
allina menggelengkan kepalanya. ia tidak mungkin merebut kekasih adiknya. "aku tidak bisa..." bisiknya pelan.
"kenapa...? apa karena ellen...???" tanya stanly dan langsung di angguki oleh allina.
"al... aku dan ellen hanya bersandiwara... jujur, awalnya aku mengira telah merusak ellen. tapi adikmu itu besikeras jika tidak pernah terjadi apapun di antara aku dan dia. sampai ia memintaku untuk menunjukan rekaman cctv ruang tengah dimana aku terbaring. aku tertegun, saat melihat jika dirimulah yang aku rusak... tapi aku cukup mengerti, karena kamulah yang memulai percintaan panas itu..." ucap stanly sontak membuat allina merona malu.
"al... menikahlah denganku... aku akan bertanggung jawab serta melindungimu dari apapun..." ucap stanly tulus.
"ak- aku... aku lapar..." jawab allina jujur yang memang saat ini sangatlah lapar.
stanly tersenyum, ia tau jika wanitanya itu malu untuk mengucapkan 'iya..' dan mengalihkan pembicaraan mereka dengan jawaban lain. dengan sigap stanly menawarkan apa yang ingin di makan wanita yang ia cintai itu.
"baiklah... apa yang ingin kau makan...?" tawar pria itu.
"omelet..." jawab allina sambil tersenyum.