
Saat ini, Adam di dalam pesawat yang akan membawanya ke negara Singapura. Di perjalanannya kali ini, Adam benar benar bersyukur bahwa dirinya meninggalkan orang tua dan juga saudara saudarinya dengan perasaan bahagia. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
Perjalanan panjang dari Kanada menuju Singapura yang memakan waktu 12 jam. Adam mulai menyenderkan kepalanya di senderan kursi yang ia duduki saat ini. Ia benar benar lelah saat ini dan tidak ada yang ia butuhkan selain istirahat dengan nyaman.
Meskipun menggunakan penerbangan dengan fasilitas first class, namun tidak membuatnya benar benar nyaman. Belum setengahnya dari perjalanan itu. Namun ada yang membuatnya begitu gusar.
Adam mengingat 3 jam sebelum ia berangkat ke bandara, ia berdebat dengan sang papa dan juga adik laki lakinya. Mempermasalahkan harta warisan yang tidak ingin ia terima. Namun di ahir perdebatan, Allan sang adik mau mengelola warisannya sebagai saham mewakilkan dirinya.
Uang yang cukup fantastis untuk sebagian orang, mengingat The Johansons Group Corporation (JHS COMPANY) itu bergerak di bidang alat alat kesehatan dan juga kebutuhan para medis.
Memang pas sekali jabatan itu di berikan kepada Allan. Karena adik laki lakinya itu bersekolah ilmu kedokteran dan adiknya itu mengerti apa saja yang di butuhkan tim medis.
Dirinya tenang saat ini untuk melanjutkan bisnisnya di negara Singapura tanpa harus memikirkan keadaan perusahaan sang papa. Meskipun itu tidak membuat Allan sang adik merasa puas dengan keputusan dirinya.
Pasalnya, Allan adiknya itu, tidak bisa meneruskan impiannya menjadi Dokter dan juga relawan. Meskipun melihat kemarahan dan kekecewaan dalam mata Allan, tapi adiknya itu sangat memahami situasi dan juga kondisi dirinya saat ini.
Adam menghela nafasnya pelan. Seakan beban di pundaknya ikut pergi dengan helaan nafasnya. Ia dapat memaafkan sang mama adalah sebuah keajaiban yang sangat besar. Ia tau, Sarah bahagia dengan keputusannya memaafkan sang mama.
'Kemanapun dan dimanapun, aku akan terus mengenangmu di dalam hidupku' gumamnya dalam hati. Adam memejamkan matanya dan mulai hanyut kedalam alam mimpi.
**********
Pukul 10 pagi di Singapura. Mina bergegas untuk membersihkan dirinya mandi dan berganti pakaian. Setengah jam lagi, asisten Stanly akan menjemputnya untuk medical cek up yang biasanya di lakukan para ART di negara itu setiap 6 bulan sekali. Mengingat ini merupakan hal yang sangat penting bagi setiap ART untuk kesehatannya.
15 menit kemudian, Mina telah bersiap dan menunggu di ruang tamu sambil duduk dan memakan sandwich tuna yang tadi ia buat. Setelah meminum milo dan juga memakan sandwichnya, Mina mengupas telur rebus dan mulai memakannya lagi.
Mina begitu lapar mengingat ia baru saja sarapan setelah selesai membersihkan seluruh apartemen dari pukul 6 pagi. 'Enam bulan sudah aku di sini, setengah bulan lagi aku akan mendapat gaji utuhku. Semoga hal hal baik selalu datang dan juga semoga hutang yang selama ini ku tanggung cepat terlunasi. Amin...' gumam Mina dalam hati kemudian ia beranjak membuang kulit telur beserta kotak kosong milo ke dalam tong sampah.
Ting tong....
ting tong....
ting tong....
Mina bergegas ke pintu depan dan membukanya.
"Good morning Mr Stanly...." sapa Mina sambil tersenyum.
"Ah... Mina... Good morning..." jawabnya sembari membalas senyum Mina.
, " Are you ready..?" tanya nya.
"Iya Mr... saya sudah siap..." jawab Mina.
"Ayo berangkat...." kata pria itu kemudian berlalu menuju depan pintu lift.
Mina meraih tas kecil yang sudah ia siapkan tadi di sofa dan bergegas keluar kemudiam menutup pintu dengan baik. Mina menyusul sang asisten dan berdiri di belakang pria itu. Sesaat kemudian pintu lift terbuka. Mina dan stanly masuk ke dalam lift tersebut. Di dalam lift, ada dua orang lain yang sama sama akan turun dari lantai atas.
Mina yang memakai celana jeans panjang pensil warna hitam yang dipadukan dengan kemeja panjang wanita bermodel tunik berwarna ungu yang kedodoran di tubuhnya serta rambut yang ia biarkan terurai sebahu, memperlihatkan kesan yang sederhana.
"Why... Mina...?" tanya pria itu.
"Maaf Mr... saya duduk di belakang saja..." kata Mina ragu ragu.
"Masuklah... duduk di depan aku bukan supirmu... " kata pria itu singkat.
"Iya... Mr..." kata Mina mulai masuk kedalam mobil dan mendaratkan pantatnya di sana.
Setelah menutup pintu, Stanly mengintari mobilnya dan masuk ke dalam. Pria itu mulai menyalakan mesin mobilnya dan menjalankan mobil itu dan mulai keluar dari parkiran apartemen.
Stanly melirik Mina sekilas. Pria itu tidak menyangka bahwa Mina telah berubah menjadi wanita cantik setelah kehilangan berat badannya. Pria itu begitu kagum dengan Mina.
Selama perjalanan tidak ada percakapan di antara mereka. Yang ada hanya suara deruman mesin mobil. Sesampainya di di sebuah Mall, Stanly memarkirkan mobilnya di tempat parkir bawah tanah.
Mina turu dari mobil dan bejalan mengikuti Stanly menuju pintu masuk mall. sesampainya di dalam, Stanly mengajak Mina menaiki lift dan menuju lantai paling atas mall. Sesampainya di atas, ia mengikuti sang asisten menuju sebuah klinic. Dari atas, Mina dapat melihat lantai di bawahnya sangat luas
Mendapat teguran dari Stanly, Mina mengikuti pria itu kemudian masuk ke dalam klinik dan duduk menunggu antrian. Setelah menunggu sekitar setengah jam, Mina mendapat panggilan dari perawat dan memintanya masuk kedalam.
Mina keluar dari ruangan tersebut dengan membawa gelas sterofoam dan menuju toilet. Sesaat kemudian ,ia masuk kembali dengan membawa gelas tersebut. Sesampainya di dalam,Mina di persilahkan untuk duduk dan diminta menjulurkan lengannya untuk memeriksa denyut nadinya dan kemudian di ambil darahnya.
Dokter muda bernama Andrew fang tengah memeriksa detak jantung Mina dan juga mata juga lidah. Asisten Dokter meminta gelas sterofoam yang berisi air kenc*ng serta tube kecil berisi darah Mina kemudian membawanya ke ruang kusus.
Sesaat kemudian, wanita itu keluar dengan membawa kertas hasil laboratorium dan memberikannya kepada sang Dokter. Pria itu meminta Mina untuk keluar menunggu hasil nya dari luar.
Mina keluar dengan santai dari ruang tersebut dan menghampiri asisten Stanly. Pria itu tengah duduk dan memainkan ponselnya.
"Mina apa sudah selesai...?" tanya pria itu.
"Hanya tinggal menunggu hasilnya keluar Mr..." kata Mina.
"Berapa menit...?" tanya pria itu.
"Saya tidak tau Mr..." kata Mina.
Sang asisten tidak bertanya lagi dan menuju ruang resepsionis dan bertanya pada seorang wanita yang menjaga disana. Beberapa saat kemudian, pria itu kembali menghampiri Mina.
"Sebaiknya kita pergi makan dulu keluar. Karena memakan waktu sekitar 1-2 jam menunggu hasilnya. Ayo... ke suatu tempat...." ajak pria itu.
Mina bangkit dari duduknya dan berjalan menekori Stanly keluar klinik.