My Maid And I

My Maid And I
Part 49. My Maid and I.



Hari hari Mina di lalui dengan sedikit lebih tenang. Pasalnya, sang tuan pergi ke luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis yang entah berapa hari. Sejak kejadian beberapa hari yang lalu itu, ia memang sengaja menghindari tuannya, agar ia tidak terus teringat hal hal yang tidak masuk akal itu.


Wanita yang menamparnya itu, juga tidak menampakan batang hidungnya lagi. Entah kemana dan entahlah mungkin saja ia pergi bersama sang tuan... Mungkin... ia tidak ingin berurusan dengan siapapun lagi di sini. Ia berharap, kontrak kerjanya segera berakhir dan bisa berkumpul kembali dengan suami dan anak anaknya.


Sesekali, Mr Stanly asisten dari tuannya itu datang untuk mengambil map yang di butuhkan di kantor milik tuannya. Hanya sapaan biasa saja untuk sekedar basa basi.


Meski sekarang dirinya merasa tenang, tapi ada sesuatu yang lain yang mungkin membuatnya begitu gelisah. Seakan ada kerinduan yang terpendam untuk seseorang. Seakan ia merindukan kehadiran sosok tuannya yang tidak hadir beberapa hari ini.


Mina langsung menggelengkan kepalanya. Menepis jauh jauh pikiran aneh yang datang menghantuinya saat ini. Mina masih berkutat dengan pekerjaannya. Yang memang belum kunjung selesai. Mina bebersih kesana kemari untuk menghilangkan pikiran pikiran aneh di kepalanya


Saat istirahat siang, ia meraih ponsel miliknya dan mengirim pesan via Whatss app untuk menangkal rasa rindunya pada sang suami. Namun setengah jam berlalu, sang suami tidak membalas pesan darinya itu. Akhirnya ia tertidur di dalam kamarnya.


Sore hari, Mina tengah memasak untuk makan malamnya sendiri. Ia begitu merindukan kampung halamannya. Ia sengaja memasak makan malamnya dengan menu ala kampung halamannya. Nasi kuning, ayam goreng, tempe orek, mie goreng sambal dll.


Setelah semua tersaji di meja makan, ia membersihkan dapur dan mencuci bekas alat masaknya yang kotor. Ia bergegas masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Ia ingin segera menikmati masakannya selagi masih hangat.


Mina tersentak kaget saat ia keluar dari kamarnya, sang tuan tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Mina menepuk nepuk pipinya dan mengedip ngedipkan matanya. 'Benarkah ini nyata... apa hanya ilusiku saja Mr. Adam ada di depan mataku...???' batin Mina.


"Apa yang kau lakukan...??" tanya suara bariton tuannya.


"Ah... tidak Mr... saya kira, anda hanya sebuah bayangan atau ilusi...!!!" jawab Mina asal.


"Bayangan...???" tanya Adam pelan.


Mina mengangguk." Anda baru kembali dari perjalanan bisnis anda...???" tanya Mina sekedar basa basi dan ia akan beranjak meninggalkan tuannya. Tapi, tangan Adam mencekal lengannya, membuatnya berhenti dan membalikan tubuhnya menatap sang tuan.


"Ada apa Mr...???" tanya Mina heran.


Adam menatap bola mata Mina dengan seksama. "Tidak... tidak apa apa... apa kau merindukanku...???" goda Adam.


"Tidak... Mr... saya tidak merindukan anda...!!!" jawab Mina dengan nada sedikit tinggi.


"Aku tau kau rindu padaku Mina...!" kata Adam percaya diri.


"Apa buktinya...???" tanya Mina.


"Buktinya, kau baru saja terpana melihatku dan mengira aku hanya ilusi.... apa itu belum cukup untuk membuktikan bahwa kau merindukanku...???" tanya Adam penuh percaya diri.


"Anda salah, saya tidak merindukan anda dan saya tadi hanya salah bicara...!!!" jawab Mina sambil menarik lengannya dari genggaman tangan sang tuan.


"Hey... ayolah... kau tidak perlu malu...!!!" ucap Adam.


"Apa yang kau masak...?" tanya Adam langsung duduk di kursi sebelah Mina duduk.


"Nasi kuning... anda mau...???" tanya Mina santai.


"Boleh... sana ambilkan...!!!" ucap Adam.


Tanpa banyak bicara, Mina mengambil nasi beserta lauk pauknya di piring sang tuan. Adam yang melihat makanan di hadapannya itu, tidak sabar ingin mencicipinya.



"Silahkan di nikmati Mr...!!" kata Mina.


"Hmmm... oke...!!!" Adam mulai menyendok nasi itu dan membawa sesuap ke mulutnya.


"Enak...!!!" ucap Adam tanpa sadar.


"Benarkah...???" tanya Mina sambil tersenyum.


Sesaat, Adam terpana pada senyuman Mina. Tanpa ia sadari, tangannya terulur untuk menyentuh pipi Mina. Mina yang merasa tuannya itu mulai bertindak aneh, ia mulai mengeluarkan jurus andalannya.


"Ehem... Mr... kenapa anda mulai lagi...???" ucap Mina.


"Oh... Sorry... aku lupa...!!!" ucap Adam ketika ia mulai tersadar dari hal tidak masuk akalnya lagi. Adam mulai memakan masakannya sambil merutuki dirinya yang hampir saja terlepas kendali.


Hari hari di perjalanan bisnisnya tidak ada yang istimewa. Meskipun tidak kurang stok wanita cantik disetiap negara yang ia kunjungi tapi, entah mengapa ia lebih merindukan sosok perempuan di sampingnya yang masih bersetatus istri orang itu. Ada getaran aneh yang entah datang dari mana. Ia begitu menginginkan maidnya.


Ia merindukan wanita itu sampai ia tidak fokus pada pekerjaannya dan hampir saja ia kehilangan tender besar. Adam menatap Mina yang sedang menikmati makanannya. Sesekali wanita itu memainkan ponselnya.


Jika saja ia tidak begitu memikirkan perasaan dan penolakan halus wanita itu, sudah dari pertama saat ia menginginkan wanita itu untuk menerima serta memaksakan keinginannya pada wanita itu.


Mina yang merasa di pandang sang tuan dengan intens, hanya mendengus kesal. Sejak kejadian sang tuan menciumnya, ia lebih berani untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan dan sedikit mengurangi ketakutannya pada sang tuan, agar sang tuan tidak lagi bersikap kurang ajar seperti saat itu.


Bukannya sok syantik dan sok jual mahal. Tapi, ada hati yang perlu ia jaga. Yaitu... hati suami tercintanya. Mina merasa, bekerja dengan tuan tampan merupakan ujian terberatnya semasa ia hidup. Selain pria itu begitu tampan dan rupawan, ia tentu kaya raya dan punya uang banyak. Untuk wanita manapun, pasti klepek klepek di hadapannya dan bersedia jatuh dalam pelukannya. Mina tidak ingin ia menjadi penghianat di dalam kehidupan rumah tangganya.


Selesai menyantap makan malamnya, Mina meninggalkan sang tuan yang masih duduk di kursi ruang makan yang memang belum selesai menyantap makan malamnya. Mina membereskan peralatan makannya dan membawanya ke kitchen sink, meninggalkan ponselnya tergeletak di meja makan.


Adam yang memang masih menikmati masakan Mina, belum beranjak dari meja makan. Ia menatap punggung maidnya itu dari tempat ia duduk. Seakan ia tengah menatap istrinya yang sedang beberes dan bebersih. Adam merasa, ia dan Mina seakan sepasang suami istri yang sedang memainkan peran mereka masing masing di ruangan itu.


Sesaat Adam tersenyum sambil menikmati makan malamnya dan masih menatapi punggung sang maid dengan intens. 'Wanita ini yang sangat aku inginkan. Entah sejak kapan ia mulai masuk dalam relung hatiku... mulai mengisi kekosongan hatiku. Aku menginginkan wanita ini menjadi milikku... Entah sejak kapan pula aku mulai berhasrat padanya... Tapi, dia selalu menolakku dan masih saja setia pada pasangannya... Wanita seperti ini yang memang aku cari . Padahal, dulu aku membencinya...' Batin Adam sambil menggeleng pelan. Menepis jauh jauh pikiran konyol yang mulai merayap memenuhi otaknya.