
Masih Mina Pov...
Aku membuka mataku perlahan. Ku tatap sekitar, yang aku lihat pertama kali ialah Mr Adam. Bau obat menyeruak masuk ke dalam hidungku. Aku yakin bahwa saat ini, aku berada di rumah sakit atau klinik.
"Kau sudah siuman Mina...???" tanya Mr Adam padaku. Aku hanya menganggukan kepalaku pelan karena sambil berbaring.
Saat aku ingin duduk, tanganku terasa nyeri. Aku melihat tanganku, ternyata selang infus terpasang di pergelangan tanganku. Aku mencari sesosok orang yang aku rindui. Namun, dia tidak ada di sini. Air mataku seketika menetes.
Tangan Mr Adam tiba tiba meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku merasa tidak sendirian. Ku tatap mata grey milik Mr Adam. Yang aku lihat ialah penyesalan di matanya. Saat ini aku hanya pasrah degan alur serta jalan hidupku.
Aku berusaha untuk menerima kenyataan pahit ini dengan lapang dada. Setelah pulih, aku akan kembali ke rumah Mas Jono. Hanya ingin meminta alamat anak pertama kami Eko. Aku ingin tau di mana ia berada serta di pondok pesantren mana. Aku ingin menjenguknya sekaligus memberikan apa yang sudah aku rencanakan sejak dulu.
Untuk Dwi, aku tau jika putriku berada di rumah ibunya Mas Jono. Aku bingung, aku benar benar ingin kesana, tapi aku takut jika ibu dari Mas Jono tidak memperbolehkan aku ketemu Dwi.
Dua hari satu malam, telah berlalu. Mr Adam masih setia menungguiku disini. Pria itu masih berkutat dengan laptopnya yang ia bawa dari Kanada. Aku tau, jika ia tidak bisa melalaikan pekerjaannya. Aku merasa sangat bersalah pada pria itu. Pekerjaannya terbengkalai karena menuruti kemauanku. Kutatap wajahnya yang saat ini terus tertuju pada laptopnya. Aku tidak tau apa yang ia lakukan. Aku hanya berharap jika apa yang aku pilih saat ini, ialah hal yang benar.
Saat ini aku benar benar pasrah. Kemana jalan takdir akan membawaku, aku hanya mingikuti arus itu. Aku telah bersiap untuk keluar dari rumah sakit, setelah Dokter kandungan bernama Dito itu mengijinkan aku pulang.
Aku keluar dari ruang VVIP kelas 1 di Rumah Sakit daerah yang ada di kota ku. Aku meminta supir yang sama dari Kota Jogja itu untuk pergi ke Kantor Pengadilan Agama. Aku hanya ingin memastikan benarkah aku sudah bersih dari hubungan antara suami istri dengan Mas Jono.
Sesampainya di sana, aku duduk dengan di dampingi Mr Adam sambil menunggu antrian. Tentu saja, itu menjadi tontonan gratis bagi mereka. Bagaimana tidak, ada Bule tampan duduk di sebelahku dan menjagaku dengan posesif. Meski sedikit risih, tapi aku tau jika Mr Adam adalah pria yang bertanggung jawab.
Setelah mendapatkan panggilan, aku beranjak dari kursiku dan berjalan ke ruang Administrasi. Aku tersenyum getir, tanpa terasa air mataku menetes saat aku membaca akta perceraian kami. Aku tidak menyangka saat ini aku hanyalah seorang wanita buangan, wanita yang tidak di inginkan. Lebih tepatnya seorang JANDA.
Rasanya apa yang aku bangun serta aku pejuangkan dari dulu, hancur tak bersisa. Bukan aku yang menginginkan perpisahan ini. Bukan aku yang mengharapkan perpisahan ini. Aku tidak pernah berpikir ataupun berharap rumah tanggaku bersama Mas Jono hanya sampai disini.
Setelah puas memandangi Akta Cerai itu, aku berjalan gontai menghampiri Mr Adam. Pria itu menatapku dengan pandangan kosong. Aku tersenyum namun mataku berair. Pria itu langsung menghampiriku dan memelukku erat. Kami menjadi bahan tontonan di sini.
Aku berada di mobil menuju rumah Mas Jono. Sesuai rencanaku, aku akan tetap mengunjungi anak pertamaku Eko. Sesampainya di rumah itu, aku tidak turun, hanya menunggu dari dalam mobil dan menyuruh pak supir yang turun untuk meminta alamat pondok pesantren Eko. Setelah cukup lama pak supir masuk dengan secarik kertas. Mobil yang aku tumpangi, pergi meninggalkan halaman rumah Mas Jono. Meskipun dengan perasaan berat, untuk terakhir kalinya aku menatap pria yang aku cintai itu dengan tatapan kosong.
(Kira kira wajah Mas Jono seperti ini saat menatap kepergian mobil yang di tumpangi Mina... Btw... Maaf Mas Afdal Yusman... pinjam wajahnya... buat visualnya Mas Jono... soalnya pas banget...)
Perjalanan menuju pondok pesantren di mana Eko saat ini, melewati kampung yang di tinggali oleh ibunya Mas Jono. Untuk memperjelas apapun, aku tetap memberanikan diri untuk mengunjungi ibu dari Mas Jono.
Di tengah perjalanan, aku melihat Joko, adik dari Mas Jono sedang duduk di pos ronda bersama 2 orang temannya. Aku turun dan menghampiri Joko, tentu saja setelah mendapat izin dari Mr Adam. Saat ini, aku mulai menggantungkan hidupku pada pria itu sampai janin di perutku lahir.
Joko tertegun dan menatapku dengan seksama. Kulambaikan tanganku untuk mengawali pertemuan ini. Senyum yang aku paksakan diwajahku tidak menutupi kesedihanku.
Aku mengangguk dan menghampiri adik iparku ah ralat... aku tidak tau harus menyebutnya apa.
"Apa kabar...???" tanyaku pada Joko.
"Kabarku baik Mbak... la Mbak gimana kabarnya...???" tanyanya padaku.
"Aku juga baik Jok..." ucap ku.
"Ibu di mana...???" tanyaku pada Joko.
"Ibu di rumah Mbak... lagi istirahat. 5 minggu pasca oprasi, kondisi ibu belum sepenuhnya baik seperti sedia kala. Ibu juga berharap jika bisa bertemu dengan Mbak... untungnya Mbak berkunjung kesini. Ayo... Mbak, aku antar ketemu ibu...." ucap Joko dan menuju motornya.
Tangan ku di cekal seseorang, tentu saja itu adalah Mr Adam. Ia memintaku untuk mengikuti Joko dengan menggunakan mobil saja dari pada ikut motor itu, kata pria itu berbahaya bagi janin yang ada di perutku.
Kulihat, Joko tertegun menatap pria yang merangkulku dengan posesif. Aku tersenyum getir sambil menatapnya dan langsung masuk ke dalam mobil. Joko menendarai motornya dan mobil yang aku tumpangi, mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di sebuah halaman rumah, aku turun sendirian. Mr Adam beserta pak supir tetap di dalam mobil untuk menunggu. Joko mengajakku masuk dan menemui ibu. Aku tidak menyangka, ibu dari Mas Jono saat ini sangat kurus. Terlihat begitu rapuh. Tidak seperti tahun tahun sebelumnya.
Wanita itu tampak tua dengan sebagian rambutnya memutih. Dulu wanita ini begitu sombong dan angkuh, tidak mau menerimaku dengan segala kekurangan serta kelebihanku. Tapi aku tidak pendendam. Karena aku yakin, dengan kesabaran, sekeras apapun hati seseorang, maka akan luluh dengan sebuah kesabaran yang utuh. Layaknya sebuah batu yang terkikis tetesan air setiap waktu, maka batu itupun suatu saat nanti akan terbelah.
Mataku bertatapan dengan mata tua milik ibu. Tidak ada lagi kesombongan serta keangkuhan. Yang ada hanya kerapuhan.
"Asalamuallaikum Bu...???" sapaku pada Ibu.
"Wa'allaikum salam..." ucapnya dan melambaikan tangannya memintaku untuk mendekat.
"Bu..." ucapku dengan berlinang air mata.
Ibu memelukku dengan erat. "Maaf ... " ucapnya dengan suara berat. Setelah melepaskan pelukanku, ibu menatap seksama wajahku.
"Maaf... karena aku, kau dan Jono harus berpisah. Karena aku pula, kamu harus bersama dengan majikanmu. Aku tau nduk, kamu tidak mungkin menghianati anakku. Aku juga tau, seberapa besar cinta kamu pada Jono anakku. Maafkan ibu yang tidak tau diri ini. Aku berhutang nyawa padamu. Karena Jono memutuskan untuk menceraikanmu dan menerima sejumlah uang agar nyawaku dapat tertolong. Jono memilih ibu, menyelamatkan nyawa ibu dan uang yang Jono terima untuk biaya oprasi ibu. Tanpa memikirkan apakah ia menyesal atau tidak. Rasanya, lebih baik aku mati dari pada mengorbankan kamu. Tapi saat ini melihatmu baik baik saja, ibu merasa lega. Aku harap, pria yang menjadi majikanmu itu memperlakukan kamu dengan baik. Ibu berdoa yang terbaik buat kamu. Sekarang Jono sudah menikahi Salimah. Teman kamu dulu. Sekarang, carilah kebahagiaanmu. Maafkan ibu karena dulu ibu tidak memperlakukan kamu dengan baik..." ucap Ibu Ratmi panjang lebar yang palah membuatku menjadi lebih sedih namun ada sedikit kelegaan di hatiku.
Thanks buat para reader yang sudah membaca karyaku... 😊😊😊... Meski karya yang amburadul... 😂😂😂... Mau lanjutin ke season 2 tapi pembacanya saja masih sedikit tidak banyak peminat... Sudah sangat menguras otak juga membuat karya ini, tapi readernya sedikit...😂😂😂 Nasib. Karya ini akan segera tamat. Capek juga berkutat sama ponsel setiap hari, sampai sampai suami mengira aku selingkuh...😂😂😂... Nasib...
Sekali lagi, terima kasih buat para reader yang berkenan membaca karya ku. Meski readernya tidak banyak yang lain, itu cukup membuatku senang, setidaknya ada yang mau menyempatkan membaca karya dari penulis amatiran sepwrti aku....💞💞💞💞💞