
Stanly mengerjapkan matanya ketika dirinya mendengar gemuruh di pagi hari. Hujan deras yang disertai gemuruh membuatnya begitu kedinginan. Ia mengambil selimut yang ia jatuhkan di lantai.
'Tunggu... kenapa rasanya aku tidak memakai pakaian....!!!??? Ah... sial...' gerutunya dalam hati setelah mendapati dirinya telanjang bulat.
Stanly langsung bangkit dari ranjangnya dengan kepala masih pusing ia berlalu ke kamar mandi dan membersihkan dirinya di bawah shower. Bekas kiss mark bertebaran di mana mana. Ini kedua kalinya Stanly bercinta dengan wanita itu. Semalam ia tidak ingat berapa kali ia menggagahi wanita yang pernah ia ancam jika melakukan hal bodoh lagi.
Stanly menyugar rambutnya di bawah guyuran shower, membuat wajahnya lah yang tertimpa air itu. Untuk membersihkan kotoran kotoran yang memang sudah lama tidak ia lakukan.
Stanly keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrobe. Ia berhenti sesaat dan menatapi pakaiannya yang berserakan di lantai. Ia ingat, jika semalam dirinya bersama Sali. Karena mabuk berat, mungkin dirinya lah yang memaksa wanita itu.
Stanly memunguti pakaian yang berserakan itu dan melemparkannya di keranjang pakaian kotor. Ia menghampiri wardrobe pakaiannya dan mengambil kaos serta celana boxernya untuk ia kenakan di saat ingin bersantai di hari minggu yang kelabu ini.
Stanly memutuskan untuk pergi ke lantai atas apartemen, lebih tepatnya ke lantai 12 yang saat ini di huni oleh sahabat sekaligus Bossnya untuk mencari sarapan.
'Mungkin Mina sudah memasak sesuatu untuk sarapan....' batinya.
Seperti biasa, ia tersenyum sambil sesekali mengernyitkan dahinya karena pusing sehabis mabuk. Setelah menyematkan ibu jarinya di sela sela layar kecil yang menjadi akses pembuka pintu utama masuk milik sang Boss itu, pintu itu langsung terbuka.
Stanly masuk ke dalam, namun keadaan di dalam apartemen milik sang Boss dalam keadaan sepi. 'Mungkin mereka masih tidur karena pagi ini sangat dingin...' batin Stanly.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia akan kembali ke apartemennya sendiri, saat ia melihat pintu kamar Adam milik Bossnya itu terbuka. Perlahan lahan ia menghampiri pintu itu dan menengok apa yang sedang di lakukan sang Boss, sampai sampai lupa menutup pintu. Dari dalam sana terdengar Adam tengah bergumam.
"Pandang mataku, dan lihatlah seberapa besar aku menginginkanmu...!!!"
Matanya melotot sempurna, saat melihat apa yang terjadi di dalam sana. Adam dan Mina tengah bercinta.
Stanly tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia tidak pernah menyangka jika Mina mau menyerahkan dirinya pada Adam. Saat akan berbalik, Stanly mendengar tangisan Mina yang menyayat hati. Serta suara serak wanita itu yang meminta di lepaskan.
"Kumohon Mr... lepaskan saya... anda jangan keterlaluan Mr...!!!" ucap Mina di saat pria yang menjadi Bossnya itu mulai memompa miliknya ke dalam milik Mina.
Jeritan dan tangis Mina menjadi hal yang paling memilukan di telinga Stanly. Ia tidak berbuat apa pun untuk menolong Mina yang tengah di gagahi oleh Adam Bossnya itu. Ia tau, ia juga sama bejadnya dengan Adam. Ia juga pastinya telah memaksakan kehendaknya pada Sali.
Stanly berlalu keluar dari apartemen milik sang Boss untuk kembali ke apartemennya sendiri. Ia tidak tega mendengar jeritan pilu Mina. Walaupun seandainya ia menolong wanita itu, toh Adam sudah menyatukan miliknya dengan milik Mina, itu sama saja wanita itu telah kehilangan harga dirinya.
Ia tidak ingin dengan melihat tubuh telanjang Mina, dan palah ikut menginginkannya. Meski nantinya ia akan menyesali tindakannya yang membiarkan hal itu terjadi begitu saja tepat di depan matanya.
Stanly berjalan dengan langkah gontai menuruni tangga untuk kembali ke apartemennya. Dalam hatinya menyesali dirinya tidak menolong Mina. Namun, ia cukup memahami seorang pria yang tengah menahan hasratnya sangatlah tidak mengenakan. Biarlah hal diantara Mina dan Adam sahabat sekaligus Bossnya itu, menjadi urusan mereka.
Stanly menatap langit langit ruang tengahnya dengan seksama. Ia teringat kata kata Sali bahwa wanita itu akan kembali besok. Sontak Stanly langsung mencari ponselnya dan menghubungi wanita itu.
☆
☆
☆
Setelah menuntaskan hasratnya, Adam langsung tertidur dengan masih menindih Mina. Sementara Mina sudah tidak sadarkan diri sedari tadi pingsan dengan mata yang bengkak karena sepanjang pergulatan panas itu, ia hanya menangis. Adam merasakan kenyamanan yang tidak pernah ia rasakan beberapa tahun terakhir. Adam tersenyum dalam mimpinya dan membenamkan lebih dalam lagi kepalanya di ceruk leher Mina.
Mina terbangun dari pingsannya merasa sesak nafas karena sesuatu yang menindihnya begitu berat. Ia mengerjapkan matanya, Mina menitikan air matanya lagi. Ketika mendapati bahwa yang beberapa saat lalu terjadi itu adalah sebuah kenyataan bukan mimpi.
Mina berusaha untuk terlepas dari bawah kungkungan tuannya itu. Perlahan lahan ia menggeser tubuh tuannya agar tidak menindihnya lagi. Saat mina akan beranjak dari ranjang, kakinya lemas karena paksaan tuannya dan penolakannya tadi membuat pria yang tengah berbaring itu berbuat kasar pada dirinya.
Mina tidak pernah merasa sekotor dan sehina ini seumur hidupnya. Pria yang selama ini di hormatinya dan di patuhinya, dengan tega memaksakan kehendaknya pada diri Mina. Tidak lagi mempedulikan penolakan halus dan juga penjelasan masuk akal yang ia lakukan.
Mina masih mencium bau alkohol dari pria itu di tubuhnya. Mina menyadari, mungkin jika tuannya tidak mengonsumsi minuman itu, pikiran jernihnya masih ada dan tak mungkin tega memaksakan kehendaknya.
Mina duduk di tepi ranjang milik tuannya itu dengan sesekali merintih. Rasa lelah juga lapar yang mendera serta mual yang membuatnya gemetar seakan akan tumbang saat ini juga. Mina menatap cahaya yang tembus dari kaca luar jendela. Tatapan matanya kosong. Air matanya mulai mengalir lagi.
Tubuhnya sakit, tapi yang lebih sakit lagi adalah hatinya. Ia membenci dirinya sendiri karena tidak dapat menjaga kehormatannya sebagai seorang istri. Ia menyesali tidak bisa melawan pria yang menjadi tuannya itu dengan sekuat tenaga.
Mina bangkit dari duduknya. Memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Dengan sekuat tenaga, ia menggeser tubuhnya dengan hati hati. Tatapan matanya tertuju pada pecahan botol kaca yang tergeletak di lantai.
Mina memungut pecahan botol itu dan menatap pria yang saat ini tengah berbaring di atas kasur itu. Mina berpikir, lebih baik mengakhiri hidupnya atau menjadi pembunuh. Air matanya tidak berhenti mengalir menatapi tubuh telanjangnya di kaca yang bersender di dinding kamar itu.
Tiba tiba kepalanya pusing berputar putar. Mina ambruk di atas lantai dengan masih membawa pecahan botol di tangannya.
😱😱😱😱
yang nggak suka di Skip aja...😂😂😂 maklumi penulis amatiran. cuma untuk mengisi waktu luang saja. Buat yang sudah komen, thanks yah... 🙆🙆🙆🙆 semoga kedepannya lebih baik...