
Adam menatap Mina yang tengah mengajari materi pelajaran kepada Dwi Ariana putrinya itu. Adam tau, Mina seorang wanita yang supel cepat belajar dan tanggap dengan situasi. Karena itulah, ia di beri kesempatan untuk mengenang Sarah mendiang istrinya.
Selama kurang lebih 9 hari, Adam hanya akan memeluk Mina ketika wanita itu sudah tertidur dengan lelapnya. Serta Mina pun akan bersikap seperti biasa pada Adam ketika di hadapan kedua orang tua serta mertuanya. Adam begitu salut pada Mina. Ia mampu menutupi masalah di depan orang tua mereka. Sehingga ia tidak membuat orang tua menjadi kawatir.
Dua hari yang lalu orang tua Mina telah kembali ke Indonesia berasama sang adik dan di antarkan oleh Stanly kekasih dari sang adik ipar , Allina. Dan konsentrasi Mina hanya pada kedua anaknya serta kedua mertuanya. Untuk sang suami, ia bersikap seperti biasanya ketika di meja makan dan di ruang keluarga saja. Selebihnya, ia akan nampak diam dan cuek.
Tapi tetap memenuhi kebutuhan sang suami seperti, membuatkannya kopi. Menyiapkan pakaiannya serta yang lainnya. Mina bersikap seperti seorang pelayan yang melayani tuannya seperti dulu. Diam dan tidak neko neko.
Adam menghela napasnya pelan. Ia tidak lagi mendengar sebutan manja sang istri ketika hanya sedang berdua. Pria itu merasa ada yang hilang. Adam merasa ada sesuatu dalam dirinya hilang. Senyum istrinya tidak lagi tertuju padanya. Mina hanya memberinya senyuman ketika berada di tengah tengah keluarga. Adam merasa begitu terpukul. terpukul karena kesalahannya sendiri.
Adam menyesalinya namun sudah terlambat. Baginya, Mina wanita yang kuat. Jika wanita lain, ia akan marah marah serta memaki dirinya. Apa lagi mau mendengar curahan hatinya. Mendengarkan cerita tentang kisah cinta sang suami dengan wanita lain. Tidak akan ada yang kuat. Adam menyesal karena telah menyakiti istrinya. Meskipun kuat, Adam tau jika Mina adalah wanita yang rapuh. Dan bukannya mendukungnya dengan menguatkannya, ia malah menambah kerapuhan dalam diri Mina.
Adam akan meminta maaf pada sang istri. Ia tidak ingin terus menerus mendapat sikap cuek sang istri. Ia tidak tahan. Adam masih saja menatap Mina dari sofa yang ia duduki itu dengan senyum saat ia melihat sang istri bermain coret menyoret di wajah dengan putrinya.
'Sarah... Maafkan aku, aku mencintaimu selalu. Tapi aku juga mencintai istriku saat ini. Kau dan dia sama sama mendapatkan tempat yang tinggi di hatiku. Aku tau aku bersalah padamu. Tapi aku akan lebih bersalah lagi padanya karena akulah perusak kebahagiaannya. Kebahagiaan yang seharusnya ia dapat dengan mantan suaminya. Sekali lagi maafkan aku Sarah... Aku tetap tidak akan melupakanmu karena kau akan tersimpan di dalam lubuk hatiku yang terdalam...' batin Adam bergumam.
...
Mina tengah berdiri di dekat jendela kamar tidurnya. Ia tengah menatap pemandangan luar dengan senyum mengembang. Tangannya terulur mengelus perut buncitnya dan sesekali bergumam pada calon bayinya itu.
Adam menatap sang istri dari ambang pintu. Ya, ia terpesona pada istrinya yang sangat penyabar itu. Ia tidak pernah menyangka jika ia mendapatkan malaikat sepertinya. Setelah ia dulu mendapatkan malaikat seperti Sarah.
Adam merasa beruntung karena ia telah di beri dua malaikat yang singgah dan menemani hidupnya. Meskipun malaikat yang saat ini ia punya adalah hasil dari merebut malaikat milik pria lain. Adam bertekat tidak akan menyakiti wanitanya, istrinya, malaikatnya lagi kedepannya. Ia tidak ingin lagi melihat raut kesedihan dimatanya.
Adam mendekati Mina dan memeluk wanita itu dari belakang tubuhnya. Adam ikut mengusap perut buncit milik istrinya. Bibirnya mengecup pundak serta leher istrinya. Menyesapnya penuh kerinduan. Ya... Kerinduan tentu saja. Meski tidak jauh dan tepat di hadapannya, tapi seakan jauh tak tergapai bagi Adam.
Saat ini, Adam hanya terdiam sambil menghirup aroma tubuh Mina melalui leher wanita itu. Adam merindukan saat saat mesra dengan sang istri. Adam menghentikan aksinya dan membalikan tubuh Mina untuk menghadapnya.
"Sayang... Maafkan aku... Aku bersalah padamu..." ucap Adam pelan sambil menatap netra Mina yang saat ini menatapnya penuh rindu.
"Kau tidak bersalah Bie... Aku yang bersalah... " ucak Mina lembut.
"Aku yang bersalah karena berharap kamu dapat melupakan mendiang istrimu dengan cepat. Tentu saja aku tau jika itu tidak mungkin. Karena wanita secantik Miss Sarah, tidak akan mudah untuk di lupakan. Apa lagi dia wanita yang sangat baik hati..." ucap Mina melanjutkan.
"Bie... Aku tau Miss Sarah cantik. Jika tidak cantik, tidak mungkin kau sangat mencintainya serta sesedih itu ketika mendengar kenyataan tentang dirinya... Iya kan...?" tanya Mina pada Adam.
"Apa kau pernah melihat photonya...?" tanya Adam bercanda.
"Bie... Apa mungkin photo wanita yang ada di laci ruang kerjamu yang ada di Singapura...?" tanya Mina pelan.
"Bagaimana kau bisa tau...? Apa kau pernah melihatnya di sana...?" tanya Adam pelan.
"Ya... Aku pernah melihatnya bie ketika aku membersihkan ruang kerjamu serta masih menjadi pelayanmu maidmu ... Photo wanita cantik berambut pirang yang tengah tersenyum di pantai itu pasti Miss Sarah ..." tebak Mina.
"Ya... kau benar Sayang... Dialah orangnya..." jawab Adam pelan.
"Pantas saja kau susah move on ya Bie..." ucap Mina sambil tersenyum.
"Karena Miss Sarah memanglah cantik..." senyum Mina tambah mengembang.
"Sayang... Apa kau tidak sakit saat aku membicarakan wanita lain di hadapanmu...?" tanya Adam lembut.
"Bie... Meskipun sakit, apalah daya ini untuk menolak apa lagi menghapus memori yang pernah ada di dalam hidupmu. Biarlah masa lalu menjadi sebuah memori indah di hati kita. Meskipun menyakitkan dan melukai, tapi cobalah untuk berdamai dengan masa lalu untuk masa depan kita yang ebih baik lagi Bie...." ucap Mina dengan masih menatap netra grey milik sang suami.
"Kau memang sangat baik hati dan menggemaskan sayang..." Adam langsung melahap bibir Mina dengan penuh gairah. Ia mencurahkan rasa rindu serta rasa cintanya pada pertemuan bibir dan bibir itu.
Adam terus mlumatnya hingga Mina kehabisan nafas. Ia sangat merindukan tubuh serta segala yang ada di dalam milik Mina. Ia mencintai Mina. Mencintai istrinya.
Adam menuntun Mina ke atas ranjang dan membaringkan tubuh wanita itu dengan lembut dsn pelan. Adam melepaskan ciumannya dan langsung menghampiri pintu untuk menguncinya. Ia melepas kaos yang menempel pada tubuhnya serta melepaskan celana pendek yang ia kenakan untuk menutupi aset berharganya.
Mina masih terengah engah di atas ranjang karena ia tidak cukup pasokan oksigen setelah mendapat serangan dari bibir sang suami di bibirnya. Saat ia akan bangkit untuk menyiapkan makan siang, ia di kejutkan dengan sang suami yang telah telanjang bulat di hadapannya.
"Sayang... Aku menginginkanmu..."