My Maid And I

My Maid And I
Part 11. My Maid and I



Setelah selesai sarapan, Mina membereskan meja dan mencuci piring kotor di dapur. Dan melanjutkan mencuci pakaian tuannya dan juga dirinya yang sudah di rendam tadi.


Setelah selesai menjemur, Mina menilik jam yang ada di dinding. "Ternyata sudah jam setengah 12" gumam Mina.


Karena tidak ada lagi hal yang ia kerjakan, Mina berlalu ke ruang TV dan duduk di lantai dekat sofa. Mina mengambil remote TV dan menyalakannya.


Mina mengganti ganti chanel di Televisi itu dan belum ada acara yang menarik. Mina mematikan kembali TV itu dan berlalu ke kamarnya untuk istirahat.


Mina mencari handphone nya di nakas tapi tidak menemukannya. Ia baru ingat bahwa ia meletakannya di meja makan. Mina bangkit kemudian berlalu ke luar untuk mencari benda pipih itu.


Benda yang ia cari sekarang berada di tangannya. Mina ragu ragu untuk menekan nomor telepon suaminya. Setelah memutuskan dengan mantap, Mina mulai menekan nomor yang selalu ada di benaknya.


"+6285293217***" gumamnya sembari menekan angka tersebut dan kemudian meletakan benda pipih itu di dekat telinganya.


Tut... tut... tut...


tut... tut... tut...


tut...


"Hallo..." terdengar suara dari seberang.


"Hallo... ini siapa... ?" tanya suara yang berada di seberang.


Mina masih terdiam sambil tersenyum dan menitikan air mata.


"HALLOOOO..." suara itu mulai terdengar tidak sabaran.


Mina mulai membuka suara...


"M-Masss..." suara Mina tercekat karena saking bahagianya. "Ini aku..." sambungnya.


"Siapa...?" tanya suara dari seberang.


"Ini aku mas... Aku Mina..." suara Mina gemetar.


"Minaaa...!!!? Ini beneran kamu dek...? Aku nggak mimpi kan...? Kenapa baru mengabari....? Aku sudah putus asa karena tidak mendapat kabar dari kamu... Apa kamu baik baik saja...?" tanyanya panjang lebar suara dari seberang yang tidak lain adalah suami Mina.


"Iya... mas, aku baik dan sehat" jawabnya sambil tersenyum.


"Maaf, mas baru bisa mengabari kamu sekarang dan membuat kamu kawatir..." Mina menjelaskan.


"Apa kamu sehat... bagaimana keadaan anak anak, bapak ibu dan saudara saudara ... mereka baik baik saja kan....?" tanya Mina pada sang suami.


"Mereka semua sehat dek... bapak baru saja sembuh dari batuk dan masuk anginnya setelah beberapa hari tidak ke sawah.... ibu sedang sibuk buruh menanam padi di sawah Pak Lurah... anak anak belum pulang sekolah.... Eko berencana akan meneruskan SMP nya sambil mengaji di pesantren. Dan Dwi mau masuk SD... sekarang aku sudah tidak bekerja membawa mobil truk lagi... Pak Adi mempercayakan salah satu cabang toko materialnya padaku.... dengan gaji yang bisa dibilang cukup... karena aku harus bekerja setiap hari tanpa hari cuti..." kata sang suami menjawab pertanyaan Mina dengan


panjang lebar.


"Aku akan menyisihkan sebagian gajiku untuk membantu kamu melunasi hutang yang aku buat dulu.... Dek... Aku minta maaf karena dulu aku tidak mendengarkan nasihat kamu... sekarang kamu jadi ikut menanggung semua kesalahan yang aku buat... aku benar benar menyesal dek..." kata sang suami penuh penyesalan.


"Mas... Mas Jono tidak usah menyesali semuanya sekarang.... Nasi sudah menjadi bubur... kita jalani saja dan serahkan semuanya pada Allah... Meskipun menyesal, tapi penyesalan tidak bisa mengubah semua yang sudah terjadi kan... kita hanya perlu bersyukur karena kita masih di beri umur panjang dan juga kesehatan... hutang nanti akan terlunasi dengan seiring berjalannya waktu karena kita bekerja keras dan tidak berpangku tangan...." Mina mengingatkan sang suami agar terus bersemangat.


"Aku berterima kasih pada Allah dan juga orang tua kamu karena telah menghadirkan kamu di dalam hidupku dek..." suara sendu sang suami membuat Mina tak kuasa menahan air matanya.


"Dek... kenapa sepi... memang kemana majikan kamu...?" tanya sang suami.


"Ah... itu mas... majikn aku sedang pergi ke Benua Amerika... orang tuanya tinggal disana dan sedang sakit saat ini. Mungkin beberapa minggu disana....." kata Mina menjawab pertanyaan sang suami.


"Jadi bagus dong dek... kita bisa sering teleponan...." kata sang suami.


"La... memang kamu membuat kesalahan apa...?" tanya sang suami penasaran.


"Gini... lo... mass... Kemarin 2 hari setelah tahun baru dan mulai ke rutinitas awal, aku masak nasi goreng untuk sarapan majikanku karena sayuran dan bahan lainya sudah habis sewaktu menjamu tamu di pesta malam tahun baru... dan hanya tersisa telur dan beras yang aku ingat sih... mas..." kata Mina panjang lebar mulai bercerita.


"La... terus ko bisa sampai mau di kembalikan...?" tanya sang suami bingung.


"Ya... itu dia mas permasalahannya.... karna dia orang bule(menurut orang Indonesia yang menyebut orang berkulit putih itu dengan sebutan BULE) jadi sarapan mereka kan ala kebarat baratan gitu mas... emang kayak kita nggak pagi nggak siang nggak sore nggak malam makan nasi... ya terus dia tanya 'apa tidak ada makanan lain....' terus aku jawab tidak ada sayuran daging atau lainnya gitu mas ke majikan aku... terus dia berkata'kenapa tidak lapor padaku' sambil marah dan emosi... dan berkata aku bodoh apa gimana ya... seingatku..." kata Mina sambil mengingat.


"Jadi kamu sering di marahi ya dek...?" tanya pria yang menjadi suaminya. "Maaf... karena aku , kamu jadi menanggung itu semua dek..." sambungnya.


"Mas... aku cuma cerita kok... aku nggak apa apa... bukannya aku mengeluh ke kamu mas..." kata Mina pelan.


"Aku sayang kamu dek...." kata pria itu pelan.


"Iya.. mas... aku tau... aku juga sama..." balas Mina.


Keduanya saling terdiam beberapa saat dengan pikiran masing masing.


"Jadi... kita boleh teleponan seminggu sekali ya... Dek??" tanya sang suami.


"Nggak papa kan... mas...?" tanya Miba balik.


"Hmm... iya tidak apa apa.... yang penting kuta selalu sehat dan jaga diri kita masing masing...!!" kata sang suami.


"Maaf... Mas... aku belum bisa kirim uang... ini juga belum selesai potongan... masih 1 setengah bulanan lagi baru selesai potongan... dan hanya sisa 100 Dollar saja setiap bulan... " kata Mina pada sang suami.


"Memang kamu disitu di gaji berapa dek....??" tanya sang suami.


"530 Dollar... Mas... itu rata rata pembantu baru di sini yang belum ex manapun... jadi potongan setiap bulan selama 6 bulan 430 Dollar ... makanya aku baru punya uang sedikit... belum bisa kirim... mas maaf..." Mina menjelaskan.


"Tidak apa apa dek... gunakan gaji pertama mu untuk beli sesuatu yang kamu ingin... selama jadi istriku, aku jarang memberimu hadiah... aku memang suami yang tak berguna... maaf ya dek... kamu malah menikahi orang seperti aku.... ." kata sang suami.


"Mas... jangan begitu.... aku tidak pernah menyesal hidup dengan kamu menikah dengan kamu... meski kamu bukan cinta pertama aku, tapi aku berharap kamu cinta terakhirku... jangan pernah berbicara seperti itu lagi ya...." Mina memohon.


"He em... dek... aku tidak akan membahas itu lagi. Aku harap ita selalusehat san bertemu lagi nanti..." kata sang suami.


Karena keasikan ngobrol melepas rindu, mereka tidak menyadari bahwa 30 menit telah berlalu. Setelah mengutarakan apa yang ada di benak mereka, akhirnya Mina menyudahi percakapan mereka.


"Mas... kita sudahi dulu ya percakapan kita.... aku tidak enak hati sama majikan aku... nanti kapan kapan kita sambung lagi... jaga diri jaga kesehatan dan juga salam untuk orang tua kamu dan aku..." kata Mina.


"Iya... dek... kamu juga sama ya..." kata sang suami dengan suara berat.


"Iya... mas... aku tutup... Assallamu'allaikum...." kata Mina.


"Iya... Wa'allaikum sallam..." jawab sang suami.


Tut.. tut...


Setelah menutup percakapan itu, Mina meletakan kembali benda pipih itu di meja. Mina senang sekaligus sedih, karena ia tidak bisa mendampingi anaknya saat ini ketika mereka butuh bimbingan.


Tapi mengingat mereka sehat dan baik baik saja serta sang suami yang punya pekerjaan tetap membuatnya sedikit lega. Pasalnya, bekerja menjadi sopir truk bermuatan berat memiliki resiko tinggi.


Kini ia bertambah begitu semangat menjalani hari harinya di Singapore. Mina terus berusaha untuk lebih sabar dan lebih bersemangat demi keluarga tercinta.


'Semoga kita bisa bertemu kembali' do'a Mina dalam hati.