My Maid And I

My Maid And I
MOO PART 30. Perginya Salimah untuk selamanya.



Di sebuah desa kecil di Indonesia.


Di tengah derasnya hujan yang dingin serta berkabut dan juga dalam keadaan malam hari, seorang pria tengah duduk di kursi belakang ambulans milik Desa. Ia sedang menemani istrinya yang tengah berjuang untuk melahirkan. Ia meminta sang sopir untuk menyetir mobil ambulans yang di tumpanginya agar lebih cepat sehingga mereka sampai di Rumah sakit tepat waktu sebelum sang istri melahirkan di dalam mobil itu.


Pria itu adalah Jono Raharjo. Mantan suami dari Mina yang sekarang menjadi suami dari Salimah. Dan wanita yang saat ini akan melahirkan adalah dia. Salimah.


Keringat dingin mulai keluar dari pelipisnya. Namun, tidak ada rintihan dari mulut wanita itu. Hanya tatapan mata nya terus tertuju pada sang suami yang senantiasa menjaga dan terus berada disisinya saat ini.


Tatapan mata Salimah adalah tatapan mata yang menunjukan rasa bersalah. Bagaimana tidak, ia telah memanfaatkan kebaikan pria itu. Memanfaatkan pria itu untuk menjadi penutup aibnya yang tengah mengandung benih dari pria yang ia cintai dan benih yang ia bawa dari luar negeri.


Penyesalan yang mendalam menyelimutinya. Bagaimana tidak, pria itu memperlakukan dirinya dengan baik dan menyayanginya sepenuh hati dan juga tulus ikhlas. Meskipun ia telah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Bahwa ia mengandung benih dari pria lain.


Pria itu masih tetap menyayangi dan memperlakukan dirinya dengan baik. Meskipun ia tidak pernah sekalipun mengucapkan kata cinta. Tapi Salimah bisa merasakan sebesar apa tanggung jawab pria yang menjadi suami nya itu. Meskipun bukan lah cinta.


Yang menjadi penyesalan nya ialah, ia tidak memperlakukan Eko dan Dwi anak-anak dari pria itu dengan baik, sehingga mereka diambil paksa dengan jalur hukum oleh suami dari mantan sahabat nya. Saat ini hanyalah penyesalan yang menyelimuti seluruh hati dan pikiran Salimah. Seandainya waktu bisa ia putar kembali, ia akan menyayangi putra dan putri sang suami dengan tulus.


Air mata Salimah tidak bisa lagi di bendung dan mengalir meng-anak sungai di pipinya.


"Apa yang kau rasakan saat ini... Sal...?" tanya Jono pada Salimah.


Salimah tidak menjawab. Ia hanya menggeleng kan kepalanya sambil tersenyum dan berusaha untuk menghapus air mata nya dengan telapak tangannya.


"Aku harap, kamu kuat dan tahan dengan sakit yang kau rasakan. Karena aku sudah beberapa kali melihat kesakitan di wajah Mina saat ia akan melahirkan Eko dan Dwi dulu..." gumam Jono menasehati Salimah dengan lembut.


"Mas ... Maafkan aku yang sudah memanfaatkan kebaikan kamu... Aku benar-benar menyesal... aku harap kamu bisa memaafkan aku. Sungguh aku tak ada cara lain. Karena aku..." kata kata Salimah terhenti karena jari tangan Jono tiba tiba menekan bibir nya sambil menggelengkan kepalanya sebagai tanda bahwa ia tidak setuju dengan pernyataan istrinya itu.


Ia pun menyadari bahwa Salimah lah yang berada di sisi nya saat itu. Saat di mana ia tengah terpuruk dalam keputus asaan. Meskipun ia mengetahui bahwa bayi yang tengah di kandung Salimah bukan lah darah dagingnya, tapi ia tidak meminta perpisahan pada wanita itu. Meskipun kekecewaan yang mendalam ia alami saat itu.


"Jangan bicara soal itu lagi Sal... Aku tidak akan pernah mengungkitnya lagi. Bagiku, saat ini kamu dan bayi yang akan lahir lah , hal terpenting dalam hidup ku... meskipun, aku tau di mana keberadaan kedua anakku, tapi tidak dapat tergapai... hak ku sebagai seorang ayah pun tidak akan bisa memenangkan lagi hati mereka... jadi, janganlah lagi kamu menyalahkan dirimu sendiri... Aku ikhlas menjalani nya..." ucap Jono lembut.


Salimah yang tidak kuasa menahan air mata untuk keluar dari pelupuk matanya, kembali terisak dan menangis sesenggukan. Ia benar-benar menyesali perbuatannya itu.


Sesampainya di rumah sakit, setelah masuk UGD dan mengisi persyaratan serta pemeriksaan terhadap kandungan Salimah dan juga setelah pemasangan infus pada pergelangan tangan sang istri, Jono mengikuti brankar yang berisi Salimah yang tengah berbaring di atas nya itu menuju ruang bersalin. Jono menatap sang istri yang mulai lemah karena menahan sakit di bagian pinggang nya.


Setelah mendapat persetujuan dari sang istri, ia meminta dokter spesialis kandungan untuk melakukan tindakan operasi Caesar secepatnya. Karena, ia juga tahu jika Salimah memiliki riwayat penyakit darah tinggi yang akan menyebabkan bahaya pada sang istri serta buah hati mereka.


Sesampainya di depan ruang operasi, Jono di minta untuk menggunakan pakaian khusus dan mensterilkan seluruh pakaiannya sebelum akhirnya ia menemani sang istri di dalam ruang bersalin.


Saat akan dilakukan anastesi, Salimah meminta waktu sebentar pada dokter untuk berbicara dengan sang suami. Dokter spesialis kandungan itu pun memberinya waktu untuk berbicara.


"Mas... " Salimah menggenggam tangan Jono sambil menatap pria itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan


"Ada apa Sal...?" tanya Jono sambil menatap sang istri yang tengah berbaring di brankar.


"Jangan pernah berpikir yang tidak-tidak... Sal... aku sudah memaafkan kamu... berusaha lah dengan keras untuk selamat... setelah ini, kita bisa memulai lagi dari awal... " gumam Jono sambil mengusap lembut pucuk kepala sang istri.


"Berusaha lah dengan keras... aku menyadari bahwa aku mulai menyayangi kamu... " ucap Jono lembut. Kemudian, ia mengecup kening Salimah dengan penuh kelembutan.


"Dok... saya sudah siap..." ucap Salimah sambil memandang sang dokter dan sang dokter mengangguk tanda mengerti.


Jono memandang sang istri yang mulai tak sadarkan diri. Ia yakin bahwa anaknya dan Salimah bisa selamat. Ia berjanji akan menyayangi mereka seperti yang seharusnya. Dan akan menganggap bahwa anak yang dikandung oleh sang istri adalah anaknya.


"Sal ... aku berjanji akan menyayangi dia layaknya anak ku sendiri... " gumam Jono pelan sambil mengusap air matanya yang tengah mengalir dari pelupuk mata.


" Aku kira, aku mulai mencintai kamu... berjuang lah... kita mulai dari awal... " gumamnya pelan. Ia menatap sang istri dengan penuh sukacita.


"oekk... oekk..." seorang bayi perempuan telah berhasil keluar dari dalam perut Salimah. Bayi mungil nan cantik itu terus menangis seolah-olah tidak ingin ketenangan nya di usik.


Bayi dengan berat badan 2,6 kg serta panjang 47,5 cm itu terus saja menangis. Setelah memotong tali pusar yang menjadi penunjang hidup sang bayi, dokter itu meminta perawat untuk membersihkan tubuh sang bayi dari darah serta lendir sisa air ketuban yang masih menempel pada bagian tubuh sang bayi.


Dengan cekatan , sang perawat membersihkan tubuh sang bayi. Dan dengan segera, sang perawat membawa bayi mungil nan cantik itu kepada orang tua nya.


"Silahkan di adzan ni dulu bayi nya pak..." kata sang perawat sambil menyodorkan bayi itu pada Jono.


Jono menatap bayi mungil yang sedang terlelap itu dengan senyum yang tulus. Dan dengan merdu Jono mengadzani bayi itu penuh hikmat.


"Aku berjanji akan menyayangi kamu seperti aku menyayangi anak kandung ku... tumbuh lah dengan sehat dan penuh kebaikan... jadilah orang yang sukses dan berguna untuk semua orang... Kelak, sayangi dan hormati aku layaknya seperti ayahmu sendiri... " setelah bergumam lembut pada sang bayi, Jono mencium pucuk kepala bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.


Sesaat setelah Jono mengucapkan janji, dokter yang saat ini tengah membersihkan bagian dalam tubuh Salimah pasca pengambilan bayi itu, dilanda kepanikan... Tiba-tiba saja alat pendeteksi detak jantung yang ada di sana menunjukkan garis lurus. Seperti menandakan bahwa tidak ada lagi kehidupan dari dalam tubuh sang pasien.


Dengan segera, dokter itu memeriksa keadaan tubuh yang saat ini terbaring lemah di atas brankar operasi . Dan dengan cekatan dokter itu pun melakukan kejut jantung agar sang pasien bisa kembali ke keadaan semula. Namun, Tuhan berkehendak lain. Tubuh itu sudah tidak bernyawa.


Dengan penuh penyesalan, ia mengabarkan bahwa sang pasien telah meninggal dunia. Jono yang tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ia langsung meletakan sang bayi di atas dada sang istri. Agar kontak batin yang ada pada mereka bisa terkoneksi dan mungkin bisa menjadi mukjizat agar Salimah bisa terbangun kembali.


Sambil menatap wajah sang istri yang mulai memucat itu, Jono menangis sesenggukan. Bayi mungil nan cantik itu pun terus saja menangis di dada ibunya. Jono tak kuasa menahan air matanya untuk tidak menetes saat mendengar bayi mungil itu menangis.


" Maafkan kelalaian saya pak... tapi sungguh... tadi saat saya tengah membersihkan bagian dalam tubuh istri anda, tubuhnya masih stabil... Dengan penuh penyesalan, saya minta maaf kepada anda... "ucap sang dokter sambil menunduk.


Jono tentu saja marah... namun, ia tidak mungkin melawan kehendak Tuhan. Semarah apapun, ia tidak mungkin menuntut sang dokter. Sedangkan ia sendiri tau bahwa sang istri tadi baik baik saja saat sedang di bersihkan.


Ia hanya pasrah. Sambil memeluk tubuh bayi nya, Jono mencoba menenangkan diri serta menenangkan bayi yang tengah menangis itu agar berhenti menangis.


Dan ia mulai meninggalkan ruang operasi itu dengan membopong bayinya. Mengikuti brankar yang berisi tubuh Salimah yang sudah terbujur kaku menuju ruang jenazah.


Dari kejauhan, ia melihat ibu dan sang adik tengah tergopoh-gopoh berlari menghampiri dirinya.