
Siang hari menjelang. Adam yang sengaja tidak masuk kantor untuk memantau Mina, hanya duduk termenung di kursi putar ruang kerjanya. Adam sangat gelisah. Merutuki kebodohannya yang masih saja meneruskan ide konyolnya yang dapat mengancam keselamatan maidnya itu. Seharusnya memang ia tidak meneruskan ide konyol itu dan mencari wanita lain untuk melakukannya bukan palah wanita yang menjadi maidnya itu. Dan tentu berimbas pada keselamatan maidnya. Sedangkan ia hanya seorang wanita yang tidak tau menau mengenai dirinya dan kehidupannya yang terdahulu.
Adam menghela nafasnya kasar, ia menengadahkan kepalanya dan matanya menatap langit langit ruang kerjanya itu dengan tatapan kosong. Adam tidak tau bagaimana ia menghadapi Mina nanti.
Ia beranjak dari kursi yang ia duduki itu dan berlalu keluar dari ruang kerjanya. Adam menatap wanita yang sedang memunggunginya sedang menyiapkan makan siang. Sontak saja, Adam langsung menghampiri wanita itu dan memeluknya dari belakang.
"Eh...!!!" Mina kaget karena tiba tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang.
"Mr... kumohon jangan seperti ini... saya hanya-"
"Ssst... diamlah... ijinkan aku seperti ini sebentar saja..." Adam memotong kata kata Mina dan masih memeluk tubuh ramping Mina.
'Ya... Allah... ampuni hamba... karena hamba mau saja di peluk pria lain selain suami hamba... hamba mohon kuatkan iman hamba... Suamiku maafkan aku...' batin Mina sambil memejamkan matanya.
Adam merasakan tubuh Mina menegang. Ia langsung melepaskan dekapannya dari tubuh Mina dengan lembut dan membalikan tubuh wanita itu ke hadapannya. Ia menatap mata sembab Mina, ia menyentuh dan mengusap bibir serta pipi Mina yang tadi sempat di tampar oleh Jane.
Pandangan mata Adam lekat pada mata Mina. Mina memalingkan pandangan matanya dari mata tuannya ia tidak ingin menatap pria di depannya itu yang tentu saja bukan hal baik pikirnya. Pria itu langsung menangkup kedua sisi pipi Mina agar pandangan wanita itu tetap tertuju padanya.
"Mr... Makan siang anda sudah siap..." ucap Mina agar menyadarkan sang tuan yang masih menangkupkan wajahnya.
Mina menarik dirinya dari sang tuan, tapi pria itu malah menariknya dan mendekapnya dengan erat di dadanya. Tubuh Mina bergetar ketakutan dan berusaha untuk melepaskan dirinya dari dekapan sang tuan. Ia tidak mau membuat kehidupannya menjadi rumit. Seperti jatuh cinta pada majikannya dan menghianati janji sucinya bersama sang suami.
Namun dekapan sang tuan tetap begitu erat. Ia begitu takut. Ia bisa merasakan detak jantung tuannya begitu keras dan cepat. Tak terasa, air matanya meluncur begitu saja dari pelupuk mata Mina dan membasahi kemeja tuannya.
Adam yang merasakan dadanya basah, langsung menjauhkan kepala Mina dari dadanya dan menatap wanita itu dengan seksama. "Jangan menangis..." ucap Adam sambil mengusap air mata Mina dengan lembut.
"Kumohon Mr... jangan seperti ini..." Mina bertambah terisak.
"Jangan menangis..." lirihnya lagi. Dadanya begitu sesak melihat wanita di depannya menangis terisak. Tanpa ia sadari ia sudah mengecup mata Mina agar ia berhenti menangis.
Mina tercekat dan mematung. Ia tidak tau harus bagaimana. Ia ingin berlari namun, kakinya begitu berat. Ia merasakan bibir tuannya menyusuri pelipisnya dan turun ke pipinya. Lidahnya menyeka air matanya dan turun ke bibirnya mengecup bibirnya dengan lembut dan penuh kehangatan.
Kecupan kecupan ringan di bibirnya, membuat Mina begitu frustrasi. Bagaimana tidak, ia begitu merindukan sentuhan suaminya, lelakinya, tapi yang menyentuhnya saat ini bukanlah suaminya melainkan tuannya, majikannya. Mina seakan gila dan frustrasi disaat yang bersamaan.
Perlahan lahan, Adam mengendorkan dekapannya pada Mina dan masih mengecupi wajah wanita itu agar ia bisa lebih rilex dan tenang. Mina langsung melepaskan diri dari tuannya dan menjauhinya saat tangan pria itu mulai menelusup ke dalam kaos yang ia kenakan.
"Mr... Saya mohon untuk kedepannya, jangan lakukan ini lagi... saya tidak ingin terlibat masalah apapun disini..." Mina memulai pembicaraannya pada sang tuan.
"Saya hanya pelayan anda... saya mohon, izinkan saya bekerja dengan tenang sampai finish kontrak. Saya tidak mau terlibat asmara terlarang dengan anda. Walau bagaimanapun, saya hanya seorang wanita yang lemah dan bisa terlena dengan apa yang anda lakukan barusan. Saya mohon pada anda Mr... saya mohon dengan sangat, jangan pernah lagi anda menebarkan pesona anda pada saya... saya takut itu akan merusak reputasi anda serta menghancurkan kepercayaan suami saya pada diri saya..." Mina berbicara dengan nada lemah karena tubuhnya gemetar.
Adam hanya menatap tubuh Mina yang kurus dan tidak tega ia gemetar ketakutan di hadapannya. Ia memalingkan pandangannya ke arah lain agar ia tidak ingin memeluk wanita itu kembali. Ia seakan ingin menangis begitu mendengar penolakan Mina dengan halus.
Wanita itu selalu mengingatkan dirinya tentang reputasi serta kedudukan dirinya. Tidak sekalipun ia menggodanya selama dirinya bekerja disini. Bahkan, wanita itu menghormati dirinya lebih dari siapapun.
Adam mengusap wajahnya kasar. Seakan frustrasi terhadap masalah saat ini. Ia menginginkan wanita di depannya ini lebih dari apapun. Tapi wanita ini menolaknya dengan lembut dan selalu mengingatkan posisi wanita itu di sini.
"Baiklah... Mina... kita makan siang bersama... lupakan apa yang baru saja terjadi... anggap saja tidak pernah kita lakukan..." Adam langsung duduk di kursi ruang makan.
Mina beranjak dari tempatnya berdiri menuju dapur dan membasuh mukanya di sana agar lebih segar serta pikiran jernihnya bisa kembali lagi, sebelum ia kembali menghampiri tuannya untuk makan siang bersama.
---------------
Malam hari menjelang. Setelah makan malam dan membersihkan piring kotor, Mina langsung masuk ke dalam kamarnya setelah sang tuan juga masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat. Selama makan malam berlangsung, mereka hanya terdiam, sama seperti makan siang tadi. Tidak ada percakapan dan juga obrolan. Mereka terdiam dengan pikiran mereka masing masing.
Mina meraih ponselnya yang ia letskan di atas meja kecil dekat ranjangnya, mencari nomor telpon suaminya. Ia begitu kawatir, seharian ini sang suami tidak bisa di hubungi. Sedari pagi hingga saat ini ia tidak bisa di hubungi. Mina takut terjadi apa apa pada sang suami. Karena tidak seperti biasanya, ia sangat sulit untuk di hubungi.
Perasaannya kini tidak karu karuan, selain permasalahan tadi pagi saat dirinya di tampar wanita yang mengaku sebagai kekasih tuannya. Bahkan ia lebih merasa tidak tenang saat sedang memikirkan suaminya. Seakan sedang terjadi sesuatu.
'Ya... Allah... lindungi suami hamba dan juga hamba dari segala bencana ... ampuni hambamu yang bodoh ini... lindungi rumah tangga hamba agar selalu berada dalam jalanmu... amin...'
Mina berdoa dalam hatinya, agar ia lebih tenang dari segala pikiran pikiran buruk yang menghantuinya. Setelah hatinya lebih tenang, ia membenamkan kepalanya di bantal sebelum ia terlelap dalam tidurnya.