
Mina sedang berkutat di dapur ia tengah masak untuk makan siangnya. Ia membuat tahu gimbal komplit seperti yang biasa ia buat di kampung halamannya. Hanya saja, ia tidak menambahkan udang segar untuk gorengan gimbalnya ketika di kampung. Mengingat ia tinggal di daerah pegunungan yang jauh dari laut dan pantai.
Tentu saja itu berimbas dengan harga ikan dan hasil laut lainnya menjadi tinggi karena jauhnya transportasi dari asal ikan itu. Sedangkan Dirinya hidup di pelosok pegunungan yang jauh.
Mina bersyukur ia bisa memakan makanan yang sehat serta bergizi saat ini. Ia hanya berharap, keluarganya juga di beri kecukupan makanan dan juga kesehatan.
Mina meletakan makanan yang baru saja ia buat di dapu. Ia akan menjemur pakaian dahulu sebelum makan siang. Namun langkahnya terhenti ketika suara bel pintu berbunyi.
Ting... tong...
Ting... tong...
'Siapa ya...' batin Mina dan beranjak ke luar dari dapur menuju pintu utama masuk. Setelah mengecek di monitor bahwa asisten Stanly yang datang, ia segera membukakan pintu.
"Good after noon ... Mr Stanly..." sapa Mina.
"Hmm... good after noon Mina..." jawabnya.
Pria itu kemudian menyerobot masuk dan menuju dapur untuk mengambil segelas air minum. Mina yang masih berada di dekat pintu, segera menutupnya dan menghampiri sang asisten.
"Oh... ya... Mina... apa makanan untuk Mr Johanson sudah siap...?" tanya pria itu.
Mina yang di tanyai pria itu hanya melongo tidak menjawab. Ia sedang mencerna kata kata asisten tuannya itu dengan seksama.
"Mina... apa kau mendengarkanku...?" tanya Stanly sambil menyentuh bahu Mina.
Mina terlonjak kaget karena sentuhan tangan pria di depannya.
"Maaf... Mr... anda bicara apa...?" tanya Mina memperjelas.
"Apa makanan untuk makan siang Mr Johanson sudah siap...?" tanya pria itu mengulangi.
"Makan siang...? Mr Johanson tidak pernah memberi tahu saya atau meminta saya untuk memasak makan siangnya Mr... Mungkin anda salah dengar..." kata Mina mengingatkan.
Merasa tidak jelas dengan pernyataan sang boss tadi, Stanly langsung menghubungi Boss nya itu dengan segera.
Tut... tut...
tut...
"Hmmm.... ada apa Stan...??? Apa kau sudah sampai di rumahku...?" tanya Adam dengan suara malasnya.
"Iya.. saya sudah sampai Boss... hanya saja, Mina mengatakan bahwa anda sama sekali tidak menyuruhnya untuk memasak makan siang anda Boss... jadi, tidak ada makanan yang bisa saya bawa..." kata Stanly menjelaskan.
"Apa kau masih di sana Stan...? Ah... masudku, kau masih di rumahku...?" tanya Adam pelan namun dengan suara serak yang seram menurut Stanly.
"I- iya Boss..." jawabnya terbata.
"Apa yang Mina masak untuk makan siangnya...?" tanya Adam lagi.
"Sebentar saya tanyakan dulu...!" kata Stanly sambil mencari Mina di dapur.
"Tidak usah Stan... tidak usah tanya, bawa saja apapun yang ia masak... aku akan memakannya...!!!" kata sang Boss kemudian menutup sambungan teleponnya secara sepihak.
"Hallo... hall..." namun sudah terputus.
"Yah... di putus... belum sempat juga aku bicara lagi..." kata Stanly sambil menghela napasnyaπ§...
Agar boss Adam nya tidak lama menunggu. Dan juga agar dirinya tidak terkena semprot bossnya yang kadang labil itu....π π π π ...
"Mina... apapun yang kau masak sekarang, bungkuskan untuk Mr Johanson... tidak pakai lama....!!!" kata Stanly penuh penekanan.
"Ku tunggu di ruang makan...!!!" kata Pria itu sambil melenggang pergi ke ruang makan dan mendaratkan pantatnya di kursi.
Mina hanya diam mendengarkan ucapan pria itu kemudian mengangguk mengambil sebuah kotak makan siang yang ada di lemari dapur kemudian, mengisinya dengan apa saja yang tadi ia masak kemudian menyerahkannya pada sang asisten tuannya itu.
"Mr Stanly, makanannya sudah siap..." kata Mina dan menyerahkan sebuah kotak yang telah berisi makanan.
Pria itu menerimanya kemudian tersenyum pada Mina "Thanks... Mina... aku pergi dulu..." kata Pria itu kemudian berlalu ke pintu keluar dan pergi.
Mina kembali ke tempat jemuran. Setelah selesai menjemur, ia memakan makan siangnya dengan kurang semangat. Apa lagi tadi, ia melihat putrinya sedang tertidur karena lelah dan juga syok. Pastinya, ia sangat ketakutan tadi.
Ia menyesal, saat ini putrinya membutuhkan dirinya. Tapi, ua tidak ada disisinya. 'Apa yang harus aku lakukan? Oh... Tuhan.... ' batinnya meronta air matanya pun mengalir deras. Makanan yang baru saja ia makan beberapa suap, tergeletak di meja begitu saja. Dirinya pinsan tergeletak di lantai, karena tidak kuat menahan beban hidupnya yang saat ini harus jauh dari putra putri nya.
------
Stanly baru saja memasuki ruangan sang Boss dengan menenteng kotak seal ware berisi makan siang Boss nya itu. Pria itu, masih saja berkutat dengan map yang tadi ia tinggalkan dan sesekali memanggil staf dari divisi yang bersangkutan dengan isi map nya. Stanly menghela nafasnya pelan srbelum mendekati sang Boss.
Adam tersenyum menatap asistennya telah kembali. Dilihatnya sebuah paper bag yang tentunya berisi makan siangnya itu.
Adam bangkit dari kursi kebesarannya dan menghampiri Stanly dengan wajah cerahnya.
"Apa yang kau bawa...?" tanya nya penuh penasaran.
"Entahlah... Boss... saya juga tidak tau isinya...!!" jawab Stany.
"Suruh Alice untuk membawakanku piring serta perlengkapan makanku dan katakan untuk segera membawanya kemari...." seru Adam antusias.
"Baik... Boss..." jawab Stanly dan berlalu meninggalkan ruangan Adam.
Beberapa saat kemudian, datanglah wanita dengan membawa peralatan makan yang tadi di inginkan sang Boss. Dengan hati hati ia membuka penutup seal ware yang fi dalamnya sudah tertata rapi sayuran rebus, telur rebus, tahu serta tepung yang di goreng berisi udang dan sayuran. Tak lupa kotak saus kacang yang terselip di sampingnya.
Alice, sang sekretaris meletakan dengan apik makanan tersebut di meja. Setelah mempersilahkan Bossnya untuk makan, ia kembali ke ruangannya yang berada di luar.
Adam menatap bingung makanan di depannya dan tidak tau bagai mana caranya ia memakannya. Tanpa menunggu lama, ia memanggil Stanly untuk datang ke hadapannya.
Stanly menghela nafasnya pelan. Karena seharian, dirinya memenuhi kebutuhan Bossnya itu dengan sabar.
"Iya... Boss..." jawab Stanly ketika sudah berada di dalam ruangan Adam.
"Bagaimana cara memakannya...?" tanya Adam bingung.
Stanly mengangkat bahunya dan menggelengkan kepalanya tanda tidak tau. Adam menghela nafasnya dan meminta asistennya itu mencicipinya terlebih dahulu.
Stanly mengambil sayuran wortel yang di rebus, kemudian mencocolkan di saus kacang dan melahapnya.
Ia merasakan sensasi nikmat di mulutnya. Dan menganggukan kepalanya di hadapan sang Boss... serta mempersilahkan pria di depannya untuk menikmatinya.
Adam mulai memakan makanannya dengan santai. Sesekali ia meminum air putih agar ia dapat mencerna makanannya.
'Ini... sungguh nikmat...' batinnya dan melahap habis makanannya.