
Ada adegan 21+ mohon untuk di skip jika belum cukup umur... Bijak memilih bacaan...
Ceklek...
Allina terkesiap mendengar pintu apartemen terbuka. Ia langsung bersembunyi di balik kelambu yang bertengger di samping pot bunga. Ia terkejut melihat pria yang ia cintai sekaligus ia rindui serta benci di saat bersamaan itu berada di sini. Allina menatap pria itu dari balik tirai. Stanly tengah duduk sambil meminum sebotol anggur. Pria itu tengah menatapi foto dirinya yang masih setia bertengger di dinding.
Stanly terus meminum anggurnya tanpa henti. Kesadarannya mulai hilang diganti dengan tawa penuh kebebasan. Stanly menggumamkan sesuatu yang masih bisa di dengar oleh Allina.
Dari balik tirai, Allina meneteskan air matanya mengetahui jika pria yang ia cintai itu, juga masih mencintai dirinya. Ingin rasanya Allina menghampiri pria yang ia cintai itu dan memeluknya erat. Namun, egonya masih tinggi. Ia tidak akan pernah melakukannya.
Allina tau, jika kemungkinan Stanly juga merindukan kebersamaan mereka dulu. Sehingga pria itu mengunjungi tempat ini. Saat ini, Stanly sudah mulai hilang kesadarannya dan terlelap di sofa sambil memanggil nama dirinya. Allina keluar dari tempat persembunyiannya dan brjalan menghampiri pria yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Stanly masih saja menggumamkan namanya tanpa henti serta mengatakan jika dirinya masih sangat mencintai Allina. Allina meneteskan air matanya lagi saat melihat Stanly dalam keadaan paling terpuruk dan di sebabkan oleh dirinya. Allina merasa bersalah pada pria itu.
Dengan Stanly yang masih duduk di sofa dengan mata terpejam, Allina mendekati pria itu kemudian mengecup bibir pria itu dengan lembut. Allina merasakan betapa dirinya merindukan kebersamaan dirinya dengan pria itu. Bahkan rasa dari bibir pria itu masih sama seperti dulu.
Allina tersentak kaget saat pria yang di ciumnya itu membalas ciumannya dengan ******* ******* penuh gairah. Mata Stanly masih terpejam. Namun pria itu membalas dengan sangat lincah. Setelah melepaskan ciumannya, Stanly membuka matanya dan menatap wanita yang sangat di rinduinya itu.
Senyum Stanly merekah saat menatap manik Allina yang berwarna grey itu. Warna mata yang sama persis dengan Adam sang kakak. Stanly merengkuh pinggang Allina dan menarik tubuh wanita itu agar lebih dekat pada tubuhnya. Allina sangat tidak siap saat pria itu menarik dirinya. Ia jatuh ke dalam pelukan Stanly dan merasakan detak jantungnya berirama dengan detak jantung pria itu.
Allina tau, Stanly dalam keadaan mabuk tidak sadarkan diri seakan dirinya hidup di dalam sebuah ilusi. Jadi, ia cukup untuk tetap bersikap selayaknya yang ia inginkan. Ia tau dan faham pada pria yang saat ini menatapnya dengan intens secara dekat itu. Pria itu tengah mabuk berat saat ini dan ketika pria itu sadar, ia tidak akan mengingat apapun.
Allina mulai mengelus dada bidang pria itu dada yang masih terbungkus kemeja putih. Stanly mulai merasakan gelenyar gairah. Allina tidak pernah senekat ini. Memberikan apa yang ia punya pada pria manapun. Ia menyerahkan dirinya pada pria itu tanpa berpikir panjang.
Stanly yang mengira Allina hanyalah ilusi, ia menerkam dan menikmati tubuh wanita yang ia cintai itu. Tanpa satu incipun tersisa. Setiap lekuk tubuh dan kulit lembut Allina ia kecap dengan penuh gairah dan syarat akan kepemilikan. Stanly mengerang saat bibirnya menemukan bukit kecil di dada Allina.
Sesaat, pakaian mereka terbang entah kemana. Dan mereka memulai penyatuan itu di sana. Stanly merasakan milik wanita itu masih begitu sempit. Ia merasakan bahagia menjadi yang pertama bagi wanita itu.
Mereka berpacu dalam kubangan gairah. Desahan serta jeritan dari mulut Allina menggema di ruang tengah itu. Stanly menghentakan tubuhnya penuh energi. Hentakan hentakan tubuh Stanly tak terhenti di situ begitu saja. Entah berapa lama mereka berpacu dalam ken*kmatan itu.
Sesaat kemudian, Allina dan Stanly ambruk di atas sofa bersamaan dengan deru nafas mereka setelah mencapai klimaks. Stanly mlumat bibir Allina penuh cinta dan kemudian terlelap dalam kebahagiaan.
Allina menatap pria yang tengah terbaring di sofa itu dengan senyum serta rasa haru. Sesaat ketika pikiran jernihnya kembali, Allina merasakan penyesalannya datang dan membuatnya bersedih. Meskipun begitu, pikirannya mengatakan, ia adalah wanita dewasa, dan bebas menyerahkan dirinya serta bebas bercinta dengan pria, dimanapun dan kapanpun ia mau.
Allina memunguti pakaiannya dan memakainya asal. Ia berjalan dengan sesekali bibirnya mendesis menahan ngilu di bagian selangkangannya. Ia mengambil selimut di kamar yang dulu ia tempati bersama pria itu dan menutupi tubuh telanjang Stanly dengan selimut itu.
Allina berlalu ke kamar mandi dan membasuh mukanya, membenahi tampilannya. Ia menatap wajah serta lehernya di cermin, ia mengelus bekas kiss mark yang bertengger di leher jenjangnya. Bekas percintaan dirinya serta pria yang begitu ia rindui cintai dan benci di saat bersamaan itu.
Setelah keluar dari kamar mandi, ia menatap sekali lagi pria yang tengah terbaring di sofa itu. Ia menatap Stanly yang tengah terlelap dengan senyum di wajahnya. Ia berpaling dan beranjak menuju pintu keluar apartemen itu.
****
Mina tengah duduk di sofa yang ada di kamar milik Adam. Ia memandang ke luar jendela yang menampakan pemandangan taman. Mina masih mengingat kata kata Allina. Ia merasa sedih karena adik dari suaminya saat ini masih belum bisa menerimanya. Dan kemungkinan pula, keluarga yang lain juga sama. Hanya terpaksa karena ada Adam.
Mina menghela nafasnya pelan dan menengadahkan kepalanya ke atas. Menatap langit langit kamar itu dengan tatapan kosongnya. Mina mulai merasakan sesak yang sangat besar di dadanya. Ia merasakan De Javu. Seperti merasakan lagi rasa sakit ketika pertama kalinya dirinya masuk ke dalam keluarga Mas Jono dulu. Mina menitikan air matanya, ia harus berjuang dari awal lagi untuk mendapatkan pengakuan serta kasih sayang dari keluarga suaminya saat ini.
Mina mengusap air matanya dengan telapak tangannya ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Dari balik pintu, Adam sang suami tengah masuk dan menatap Mina dengan senyum mengembang. Tangannya membawakan sepiring potongan buah apel dan semangka. Pria itu menghampiri dirinya dan duduk di sebelahnya.
"Apa kau baru saja menangis sayang...?" tanya Adam dengan suara lembutnya.
" Apa yang membuatmu bersedih..? Coba, ceritakan padaku... Aku ingin mendengarnya..." sambungnya.
Mina hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Bie... bisakah kau memberiku izin untuk memasak setiap hari...?" tanya Mina pada Adam.
"Jadi, kau bersedih karena tidak bisa setiap hari memasak ya...?" tanya Adam sambil tersenyum.
"Baiklah... Ratuku, aku mengizinkanmu untuk menguasai dapur istana ini..." Adam bertitah.
"Tapi... Bie..."
"Tapi apa... hmm...?" Adam bertanya.
"Ini bukan istanamu... tapi, istana orang tuamu..." ucap Mina masih ragu.
"Sayang... Maaf, istana kita belum selesai di bangun, masih membutuhkan beberapa bulan lagi untuk selesai. Kau jangan bersedih dulu ya... Aku tidak suka melihatmu bersedih... Makan dulu buahnya, anak kita butuh nutrisi..." Adam mencoba menghibur.
"Ayo... aku suapi... Aaaa...." pinta Adam sambil menyuapi buah menggunakan garpu.
...Mina hanya mengangguk pasrah dan membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya itu. Ia tidak ingin menambah beban pikiran sang suami dengan masalahnya saat ini. Biarlah ia mencoba untuk berdamai dengan Allina dan mencoba untuk mendekati adik suaminya perlahan....