My Maid And I

My Maid And I
S2 MOO PART 25



Allan menatap Jane yang tengah menunggang kuda di depannya. Allan pun mengikuti Jane di belakang wanita itu dengan kudanya. Mengelilingi kandang kuda pribadi milik keluarga besar Milano. Ya... Saat ini, mereka berada di sebuah peternakan kuda milik kakek dan neneknya.


Dengan menggunakan pakaian berkudanya yang pas di tubuh epik milik Jane, membuat wanita itu terlihat begitu anggun dan cantik. Di mata Allan, Jane akan selalu cantik dalam keadaan apa pun. Bisa di bilang jika dia, begitu tergila gila pada wanita itu. Meskipun begitu, Allan masih saja menahan segala keinginannya untuk menyerang ataupun mengendalikan Jane dalam genggamannya. Iya tidak ingin jika Jane menerimanya karena sebuah keterpaksaan.


"Jane... Hati hatilah... Di sana sedikit becek..." Allan berseru dari atas kuda yang ia tumpangi. Entah, wanita itu mendengarnya atau tidak.


Tiba tiba,kuda yang di kendalikan oleh Jane terperosok masuk ke dalam sungai buatan yang airnya memang biasa untuk memandikan kuda kuda sang kakek. Jane tercebur ke dalam sana. Allan begitu panik. Ia langsung turun dari atas kudanya dan ikut masuk ke dalam air sungai itu. Allan berusaha mencari Jane.


Namun, wanita yang ia cari ternyata menggodanya. Air sungai itu sangat dangkal, tidak sampai dada. Hanya sebatas paha saja. Jane tertawa terbahak bahak karena berhasil mengerjai Allan serta membuat panik pria itu. Pakaian yang di kenaka Allan pun sama basah kuyup seperti milik Jane.


Allan yang tidak terima jika Jane mengerjainya, Allan langsung menghampiri Wanita itu dengan berlari sebisanya di aliran air. Jane berlari lari kecil menghindari Allan yang tengah mengejarnya.


"Hap..."


Allan berhasil menangkap pinggang Jane dan menguncinya.


"Kena kau... Dasar... Kau membuatku panik dan kawatir..." gumam Allan di sertai deru nafas yang tersengal sengal karena kelelahan mengejar wanita yang saat ini ada dalam dekapannya itu.


"Al... Bisakah kau melepaskan aku...?" pinta Jane pada Allan dengan dada yang mulai bergemuruh karena ia mendengar deru nafas Allan di telinganya.


"Aku tidak akan melepasmu lagi Jane. Aku sungguh takut kehilanganmu... Aku... Aku tidak bisa lagi mengendalikan hatiku. Aku... Aku sungguh sangat mencintaimu Jane... Aku mencintaimu melebihi cintaku pada diriku sendiri..." gumam Allan dengan masih memeluk Jane dari belakang.


Allan membalik tubuh Jane untuk menghadapnya, saat ia merasakan wanita itu gemetar. Terdengengar isakan dari mulut wanita itu. Kepalanya menunduk, namun Allan menangkup pipi wanita itu agar ia dapat melihat dengan jelas wanita yang selalu ia dambakan itu.


"Hey... Jane... Kenapa kau menangis...?" tanya Allan pada Jane.


"Al... Aku bukan wanita yang baik, carilah wanita yang baik untuk kau cintai. Aku tidak pantas untukmu. Aku wanita penuh dosa Al... Aku tak sanggup jika harus bersamamu. Menghadapi kedua orang tuamu serta saudara saudari mu. Terutama kakakmu. Aku tidak sanggup..." gumam Jane dengan masih meneteskan air matanya.


"Apa kau masih belum bisa melupakan Kak Adam...? Apa kau masih mencintainya...? Ck..." tanya Allan dengan raut wajah yang mulai tidak bersahabat.


Jane menggeleng.


"Aku tidak mencintai kakak mu. Aku hanya malu padanya. Karena aku telah merenggut kebahagiaannya. Aku takut karena pasti mereka membenciku... Aku tak sanggup Al.... Jika mereka membenciku..." jujur Jane.


"Aku akan selalu berada di sisimu Jane. Meskipun mereka tidak menyukaimu. Itu janjiku padamu. Apa pun yang terjadi, mari kita lalui bersama... Apa kau bersedia...?" tanya Allan dengan wajah penuh harap.


Jane menatap mata Allan dalam, mencari kebohongan di sana. Dan ia tidak menemukan kebohongan dalam padangan mata Allan yang ia lihat adalah pantulan wajahnya yang terlihat jelas disana.


Jane menggeleng pelan seakan tidak percaya.


Allan yang melihat gelengan kepala Jane, mengira jika wanita itu telah menolaknya. Allan tidak terima. Walau bagai manapun, ia harus tetap memiliki Jane seutuhnya. Ia tidak peduli apa pun.


Dengan secepat kilat, Allan menyambar bibir Jane dengan bibirnya. Mlumatnya secara membabi buta. Rasa manis masuk ke dalam mulutnya. Kata kata kepemilikan berpacu dalam benaknya. Ia begitu menginginkan wanita itu dengan cepat. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk berhenti.


Jane memberontak dari dekapan Allan. Meminta pria itu melepaskan pagutan serta dekapannya. Jane dapat merasakan panas tubuh Allan menjalar melalui pakaian mereka yang basah.


Jane merasakan jika pria yang saat ini tengah menikmati bibirnya itu begitu menginginkan dirinya. Jane berhenti memberontak dan pasrah dalam dekapan Allan dan membalas perlakuan Allan dengan lembut.


Menyadari mereka masih berada di tengah sungai, Allan membopong tubuh Jane dan membawanya ke pinggiran dengan masih membenamkan wajahnya di leher Jane, Allan berjalan menuju pinggiran sungai.


Deru nafasnya tak beraturan, begitu juga Jane. Tidak ada hal yang bisa membuatnya bahagia selain wanita itu saat ini. Jane merangkul leher Allan dan dengan berani ia memulai mencium bibir pria itu. Allan membalasnya dengan lembut dan penuh cinta. Jane dapat merasakannya. Merasakan betapa besar cinta Allan pada dirinya. Jane bahagia dalam pelukan pria itu.


Allan membawa tubuh Jane yang masih terbalut pakaian basah itu untuk masuk ke sebuah pondok yang biasa untuk beristirahat di kala lelah setelah memberi makan serta mencari rumput untuk para kuda.


Allan mulai hafal dengan tempat itu.


Pintu tertutup dan ia kunci dengan asal. Allan mulai membuka pakaian yang di kenakan Jane satu per satu. Menurunkan tubuh wanita itu dari dalam gendongannya untuk berdiri di atas lantai. Namun masih tetap mlumat bibir wanita itu, seakan tidak rela jika terlepas.


Setelah dirinya dan sang kekasih hati tak menggunakan apapun, Allan menggiring tubuh Jane ke atas tempat tidur dan jatuh di sana bersama sama.


...


Setelah pergulatan panas mereka berakhir, Allan memeluk Jane dengan posesif dari belakang tubuh wanita itu. Seakan takut jika wanita itu akan terlepas kembali dari dalam genggamannya.


Sedangkan Jane hanya terdiam dengan pandangan kosong menatap ke arah pintu. Namun telinganya masih mendengar deru nafas Allan yang mulai teratur. Ia tau, ini bukan pertama kalinya ia bercinta dengan Allan. Ini kali kedua baginya dan dengan orang yang sama. Ia tidak pernah bercinta dengan siapaun setelah kejadian itu. Ia terlalu fokus untuk meminta pertanggung jawaban pada pria yang salah.


Perlahan ia merasakan jika Allan menarik selimut tipis untuk menutupi tubuh telanjang mereka. Allan kembali memeluknya dengan erat serta menciumi punggung mulusnya. Jane memejamkan matanya sejenak. Mengisi kekuatan dalam dirinya untuk bisa menghadapi pria di belakangnya itu.


Seminggu lebih, ia dan Allan selalu bersama. Ia jadi banyak mengetahui tentang diri pria itu.


" Al..." gumam Jane.


"Iya... Sayang..." jawab Allan lembut.


"Ada apa...?" tanya Allan dan langsung membalik tubuh Jane untuk menghadap dirinya.


Allan melihat kilatan air mata di pelupuk mata Jane. Seakan hendak keluar begitu saja. Allan mengecupi kedua mata Jane dengan lembut.


"Sayang... Apa kau menyesal telah melakukannya denganku...?" tanya Allan lembut namun dengan dada yang sakit dan kecewa.


Jane menggeleng. Tanpa ia sadari air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Lalu... Kenapa kau menangis...?" tanya Allan lembut.


"Al... Aku berusaha untuk menepis persaan itu untukmu... Tapi, aku tak kuasa menahan nya... Ku kira aku mulai mencintaimu..." Jane berbicara dengan detak jantung yang tak karuan.


Allan yang mendengar itu langsung memeluk erat tubuh Jane dan menciumi seluruh wajah wanita itu dengan lembut serta air mata yang tak kuasa turun dari sudut matanya.


"Terima kasih Jane, terima kasih kau mau membalas perasaan cintaku. Besok kita kembali ke Kanada. Kita hadapi bersama keluargaku..." gumam Allan dengan masih tetap memeluk wanita itu.


Jane mengangguk dan tersenyum bahagia.