
Pagi hari menjelang. Matahari malu malu menampakan sinarnya dari balik awan. Kabut pagi mulai berlarian menjauh di gantikan oleh kilauan cahaya matahari pagi yang berwarna oranye. Mina menggeliat pelan. Ia tertidur begitu lelap. Ia tidak pernah begitu nyenyak selama ini. Setelah kejadian yang menimpanya beberapa bulan lalu.
Mina tersentak kaget saat mendapati ada sebuah tangan melingkar di perutnya dan memeluk posesif dirinya. Saat ini ia tengah di peluk seseorang dari belakang tubuhnya. Ia tau jika tangan itu ialah tangan Mr Adam suaminya. Ia mencoba untuk melepaskan dirinya dari dekapan pria itu dan duduk hendak berdiri dan berlalu ke kamar mandi untuk membasuh muka. Namun, tangannya di cekal oleh pria yang masih terlelap itu dan menarik Mina ke dalam dekapannya. Mina tersentak kaget .
"Lima menit lagi sayang..." ucapnya sambil tersenyum dalam tidurnya.
"Mr... ini sudah siang... Saya harus bangun untuk menyiapkan sarapan anda... Jadi, tolong lepaskan saya..." ucap Mina memohon pada pria yang telah menjadi suaminya itu.
Mina merasakan Dee Javu saat tangannya di cekal dan di peluk erat seperti saat ini oleh Mr Adam. Seakan akan kejadian beberapa bulan yang lalu akan terulang. Mina bergidik ngeri. Kekawatiran di pikiran Mina mulai menghampiri, serta menguasainya. Mina takut kejadian itu terulang, saat ia merasakan kekasaran sang suami yang saat itu masih betsetatus tuannya.
"Mr... kumohon..." ucap Mina memelas serta gemetar.
Adam membuka matanya perlahan. Ia merasakan dadanya basah mungkin air mata Mina yang sudah mulai mengalir itu dan melepas dekapannya pada tubuh Mina agar ia dapat menatap wajah istrinya itu dengan keseluruhan. Adam langsung mengusap air mata Mina dengan lembut. Adam membawa wanita di depannya itu ke dalam dekapan hangatnya kembali untuk menenangkannya.
"Maaf... jangan menangis lagi ya... aku mohon... kau harus bahagia bersamaku... aku tidak ingin kau tidak merasa bahagia..." ucap Adam lembut dan mendaratkan kecupan di kening Mina.
"Mr..."
"Jangan panggil aku dengan sebutan Mr lagi..." ucap Adam lembut.
"Tapi Mr..."
"Sssstt... kalau kau memanggilku dengan sebutan itu, aku akan menghukum mu..." Adam memberi peringatan pada Mina.
"Tapi Mr..."
Cup... 💏...
Adam mendaratkan bibirnya di bibir Mina. Mina tidak siap di cium dan langsung membelalakan matanya. Mina mencoba melepaskan dirinya dari Adam. Tapi Adam malah mempererat dekapan serta kecupannya pada Mina.
Adam melepas kecupannya dan menatap manik hitam mata Mina dan terpaku di sana.
"Sudah ku katakan, jangan memanggilku Mr... Mr... dan Mr... lagi... tapi kau melanggarnya ..." ucap Adam pelan tangannya terulur membelai rambut Mina yang hampir menutupi pipi wanita itu.
"Itu hukuman jika kau masih memanggilku dengan Mr... lagi..." ucap Adam.
"Tapi, saya harus memanggil anda apa..." tanya Mina bingung.
"Terserah kamu sayang... tapi kumohon, jangan Mr lagi..." ucap Adam sambil membelai pipi Mina.
"Dan satu lagi, jangan terlalu formal padaku... aku suamimu, dan kau istriku. Ingat kau istriku dan aku suamimu... Kita harus bersikap layaknya suami istri kebanyakan. Kamu bisa memanggilku dengan sebutan Honey, Hubby, My Love mungkin... Tapi, jangan Mr..." cetus Adam.
"Baiklah... Hubby..." ucap Mina dan langsung membuat Adam gemas melihat sikap Mina. Adam menciumi wajah Mina habis habisan.
"Sudah... sudah... Mr... berhenti...!!!" ucap Mina kegelian karena di cium bertubi tubi.
Tapi, kau memanggilku dengan Mr lagi. Kau mau ku cium terus sepanjang hari...?" tanya Adam yang saat ini sudah berada di atas tubuh Mina.
"Tidak... M... Hubby... tidak... kumohon lepaskan aku... aku ingin pipis... Lagian, apa kau tidak risih padaku... Aku kan belum gosok gigi dan cuci muka...???" tanya Mina pada Adam.
"Aku tidak peduli sayang, asalkan itu kau..." ucap Adam sambil tertawa dan mencium kening Mina.
Mina menutup hidungnya yang tiba tiba saja mencium bau yang sangat tidak enak, membuatnya mual dan ingin muntah. Ia menepis wajah Adam dan langsung menjauh dengan segera dari pria itu saat ia merasakan mual yang sangat hebat. Mina langsung berlari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan kuning yang berasal dari perut kosongnya.
"Hoek... hoek... hoek..."
Adam mendendekati Mina dan memijat tengkuk Mina perlahan. Ia tidak merasa jijik atau apapun. Yang ia rasakan ialah rasa iba, Karena perlakuannya, Mina menjadi menderita saat mengandung hasil dari perbuatannya.
"Hubby... menjauhlah... ini sangat menjijikan." ucap Mina sambil masih memuntahkan isi perutnya itu.
Melihat kondisi Mina yang mengenaskan, membuat Adam merasa lebih bersalah. Adam memapah wanita itu untuk ke luar dari kamar mandi setelah Mina buang air kecil dan membasuh mukanya. Ia duduk di atas ranjang dan merasa begitu lelah. Tubuhnya seakan lemas tak bertenaga. Adam keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur.
Sesaat kemudian, Adam kembali dengan membawa segelas air putih hangat untuk Mina. Langkahnya terhenti saat ia mendengar gumaman Mina pada sang janin.
"Meskipun aku tidak menghendaki kamu hadir, tapi aku akan menerimamu dengan bahagia. Aku akan mencintaimu seperti aku mencintai anak anakku yang lain. Kumohon, jangan lagi kau siksa aku dengan mual yang sangat tidak mengenakan ini. Aku ingin kau baik baik saja. Aku ingin kau cukup nutrisi. Aku juga ingin, kau tumbuh dengan baik... Jadi, bersikap baiklah kau di rahim ibu... ya sayang..." ucap Mina sambil mengelus pelan perutnya yang mulai membuncit.
Adam tertegun mendengar ucapan Mina. Ia mendekati Mina dan langsung memberikan air putihnya agar segera di minum untuk meredakan rasa mual di perutnya.
"Terima kasih..." ucap Mina dengan tersenyum pada Adam setelah menenggak habis minumannya.
"Hmm... Iya sayang..." ucap Adam sambil menerima gelas kosong dari Mina. Adam mengusap lembut pipi Mina
Sejak kehamilan Mina di ketahui karena perbuatannya, Adam diam diam memberikan perlindungan dan perhatian tanpa sepengetahuan dari wanita itu. Ia begitu posesif menjaga Mina dan mengatur apapun yang akan di konsumsi Mina. Ia tidak ingin, anaknya kekurangan gizi. Namun, Mina selalu saja memuntahkannya.
Bahkan, ia diam diam mengambil sampel urin wanita itu untuk di tes sebulan setelah kejadian pemerkosaan itu. Ia begitu syok mengetahui Mina sedang mengandung benihnya saat wanita itu bahkan belum sembuh dari trauma yang ia sebabkan. Dan hal itu lah yang membuat Adam begitu bersikeras untuk membuat Mina menjadi miliknya. Melakukan berbagai cara untuk membuat suami Mina melepasnya dengan suka rela. Ia bahkan menyiapkan uang yang sangat banyak agar pria itu melepasnya.
Adam tau, ia sangat jahat karena telah memisahkan dua orang yang saling mencintai itu. Tapi, ia juga tidak ingin kehilangan wanita yang lambat laun menguasai hati dan pikirannya. Untuk Sarah, mendiang istrinya akan selalu ada di hatinya yang paling dalam. Ia menjadi sebuah kenangan yang terindah yang pernah terjadi di hidupnya.
Adam yang melarang Mina pun langsung mengalah saat wanita itu begitu bersikeras untuk menyiapkan sarapan untuknya. Wanita itu begitu keras kepala dan begitu tidak patuh. Tidak seperti Mina yang ia kenal dulu. Ia mulai selalu membantah saat ini. Mungkin itu adalah bawaan dari janin yang di kandungnya.
Adam menghela nafasnya pelan saat melihat wanita itu begitu bersemangat ketika keluar dari kamar. Mina begitu ceria dan penuh energi. Tidak seperti beberapa saat yang lalu.
Ia menatap Mina yang tengah berkutat menyiapkan sarapan di dapur. Kehamilannya tidak bereaksi terhadap bau masakan yang ia buat. Adam menggelengkan kepalanya melihat wanitanya itu menguasai dapur milik kediaman orang tuanya itu. Bahkan kepala koki tidak berani membantah ucapan dari wanitanya itu.
Pria yang ia ketahui sudah ikut lama di kediaman orang tuanya ini hanya menunduk lesu karena tidak boleh melakukan apapun. Dan menuruti instruksi dari tuan muda pertamanya. Untuk memenuhi keinginan istri dari sang tuan muda pertamanya. Hanya menjadi penonton setia.
'Aku harap kau mulai nyaman sayang...' batin Adam saat ia pun hanya menjadi penonton setia di dekat Mina.