
"sayang... kau kembali...?" sapa ellen dengan nada tinggi. gadis itu berlari menghambur ke pelukan stanly.
"hmm... apa kau rindu padaku...?" ucap stanly yang masih melirik allina yang sedang mengatur nafasnya serta pandangannya agar tidak melihat ke dua sejoli yang sedang melepas rindu.
"mm... sangat... aku sangat merindukanmu sayang..." ucap ellen. yang bertolak belakang dengan hatinya. ia seakan ingin muntah karena mengucapkan kata kata bodoh itu untuk pria yang super duper nenyebalkan itu.
"kau sudah makan...???" stanly bertanya dengan lembut sambil menyelipkan anak rambut milik ellen ke belakang telinga gadis itu.
"aku belum makan sayang... aku baru saja kembali dari vancouver. tadi aku membersihkan apartement kita..." ellen mencoba untuk memerankan perannya sebaik mungkin.
"ayo masuk... kita makan bersama..." ajak ellen.
tangan ellen menggelayut manja di lengan stanly. mereka berjalan melewati allina yang tengah menundukan kepalanya.
"kak... aku masuk dulu ya... aku ingin mengenalkan kak stanly pada mommy dan daddy... aku ingin mengatakan pada mereka kalau kami saling mencintai, kakak tidak keberatan kan...??? ya... meskipun aku tau kau mantan kekasihnya..." ucap ellen yang ia buat sesantai mungkin. meskipun di hatinya juga di selimuti gemuruh yang tak berkesudahan.
bagai mana tidak, ia tengah memerankan seorang adik yang memacari pria yang di cintai kakak perempuannya.
"mm... masuklah... el... " ucap allina dengan nada suara yang ia buat se ceria mungkin.
stanly tersenyum sambil lalu dan melewati allina. sesampainya di dalam, ellen menghempaskan lengan stanly kasar.
"kak... mau sampai kapan kita bersandiwara begini...??" ellen bertanya.
stanly mengangkat bahunya sambil tersenyum.
"kak... apa tidak sebaiknya kau kejar kak allina dan tidak melibatkan aku...??" ellen mengusulkan.
"aku hanya ingin tau seberapa besar kakakmu mencintaiku..." ucap stanly santai.
"kak... bagai mana jika kelak aku juga jatuh cinta padamu... apa kau sanggup menerima tanggung jawab cinta dari dua wanita sekaligus...?" tanya ellen pelan dengan matanya yang menatap pria yang sangat di cintai allina itu.
stanly menatap ellen. tidak ada kebohongan disana. ia pun takan sanggup untuk membuat keputusan jika ia kelak harus memilih di antara mereka berdua. meskipun ia akan tetap memilih allina.
"kak... aku ingin mengakhiri sandiwara bodoh ini. aku ingin kau mengejar kak allina dengan ketulusan. aku yakin, dengan adanya sandiwara ini, kak allina tidak akan berharap lagi padamu... aku paham betul siapa dia... jika ia tau aku berhubungan denganmu, sudah barang tentu ia tidak akan pernah mendekatimu ataupun berharap padamu untuk bertanggung jawab..." ellen meyakinkan stanly.
stanly paham dengan apa yang di ucapkan ellen. allina nya tidak akan tega menyakiti saudaranya sendiri untuk mendapatkan kebahagiaannya.
"baiklah... kita akhiri sandiwara ini... akan ku kejar kakakmu dengan caraku..." jelas pria itu.
"baiklah... kak... aku mendukungmu..." ellen menyentuh lengan stanly sambil tersenyum senang. bertepatan dengan allina yang masuk ke dalam ruangan itu. allina melihat kedekatan mantan kekasihnya dengan adik kesayangannya itu dengan lapang dada.
tatapan mereka bertemu. allina hanya berlalu dengan santai melewati mereka berdua. ia sudah pasrah dengan keadaan dirinya. ia memasuki ruang tengah dan duduk disana dengan perasaan kecewa.
...
setelah melalui siang penuh gairah, adam tertidur sambil memeluk mina dengan keadaan polos tanpa pakaian. di bawah selimut, mina memeluk tubuh tegap berotot milik adam dan mengusapnya pelan.
ia menatap pria yang saat ini menjadi suaminya itu. mina tidak menyangka jika majikannya akan menjadi suaminya. bahkan menghayalkannya saja mina tidak berani. ia mengusap rahang kokoh milik adam. pria itu begitu tampan.
merasa adam telah nyenyak dalam tidurnya, mina berusaha melepaskan diri dari pelukannya dan beranjak dari ranjang. berlalu menuju kamar mandi. mina mendesis pelan saat mendapati miliknya bengkak karena pergulatan panasnya dengan sang suami tadi.
mina tau, dan ia merasakan betapa pria itu menginginkan dirinya serta mencintai dirinya dengan segala kekurangannya. mina tersenyum bahagia. ia merasa beruntung mendapatkan pria seperti adam.
setelah mandi dan berpakaian, ia berlalu keluar kamar. ia melihat ayah serta ibu mertuanya di taman belakang mansion. mereka tengah menikmati secangkir teh herbal sambil memandang bunga bunga yang bermekaran. mina tersenyum melihat keharmonisan mereka.
"sore... mom, dad..." sapa mina pada mertuanya.
"sore... sayang..." jawab marriane sambil tersenyum.
"kemarilah sayang... duduklah disini..." pinta marriane sambil menepuk kursi kosong di sebelah kiri dimana dirinya duduk.
mina duduk di kursi yang di tunjukan ibu mertuanya itu dan ikut menikmati sore hari dengan secangkir teh herbal yang sama persis dengan ibu serta ayah mertuanya.
"dimana adam...?" tanya alvin sang ayah mertua.
"dia sedang tidur dad..." jawab mina pelan.
alvin hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum. ia tau jika putra sulungnya itu tengah kelelahan sehabis bertempur dengan menantunya itu. di lihat dari bekas kiss mark yang bertebaran di leher sang menantu, ia yakin jika putranya itu begitu buas.
"tidak sayang... biar koki saja yang memasak... aku tau kau kelelahan..." ucap alvin dengan senyum di wajahnya. namun marriane langsung menyenggol lengan suaminya agar tidak membuat mina malu.
"baiklah... mom... dad... aku akan mencari koki untuk membatuku memetik sayuran yang segar di kebun...." ucap mina sambil berlalu ke dalam.
alvin dan marriane hanya geleng geleng kepala pasalnya menantunya itu tidak mau jika hanya duduk diam. ada saja yang ingin di lakukannya.
...
mina berlalu menuju dapur mencari keranjang besar untuk ia bawa ke kebun, saat akan melewati ruang tengah, ia mendapati allina tengah duduk termenung sendiri. sedang di ruangan lain, ia melihat stanly beserta ellen tengah bercengkrama. allina menangkap sosok kakak iparnya berdiri di dekatnya. tanpa kata kata, allina langsung beranjak dari tempatnya duduk dan berlalu menaiki tangga untuk menuju kamarnya.
mina merasakan perasaan allina saat ia melihat kedekatan ellen dan juga stanly. ada sesuatu yang janggal di antara mereka bertiga. mina meng urungkan niatnya untuk memetik sayuran di kebun. ia meminta salah satu pelayan untuk menggantikan dirinya memetik sayuran dan ia berlalu menghampiri ellen dan stanly yang tengah mengobrol.
"mr stanly... ellen..." sapa mina.
"kakak ipar..." seru ellen ceria.
"nyonya mina... selamat sore..." sapa stanly.
"apa yang kalian bicarakan...? sehingga kalian asik sekali mengobrolnya... boleh dong aku gabung..." ucap mina sambil duduk di dekat ellen.
"tentu kakak ipar... kenapa tidak..." ellen menyetujui. gadis itu bercengkrama dengan stanly dan mina sampai waktu makan malam tiba.
"sayang..." adam merangkul mina dari belakang. mina yang masih duduk di dekat ellen, tersentak kaget dengan suara khas sang suami.
"bie... kau sudah bangun...??" mina mendongakan kepalanya menatap wajah bantal adam.
"mm... aku mencarimu... kenapa kau pergi dan asik mengobrol dengan orang orang menyebalkan ini..." ucap adam dengan nada kesal.
"ck... ck... ck... kak... kenapa kau mengataiku orang menyebalkan...??" gerutu ellen yang tidak terima jika dirinya di sebut orang menyebalkan.
"ya bagaimana lagi aku harus menyebutmu jika bukan orang menyebalkan...?!" cecar adam kesal namun masih memeluk istrinya dari belakang.
"apa salahku kak...???" tanya ellen dengan nada tinggi.
"ya... itu karena kau mengikuti ide konyol stanly... kau tau aku tidak setuju..." tukas adam.
stanly hanya diam dan tidak berkata apa apa. ia tau maksud dari bossnya itu. ia pun telah mengakhiri sandiwaranya dengan ellen sedari tadi. meskipun ia masih duduk dengan gadis itu saat ini. stanly telah berjanji pada dirinya sendiri, ia akan mengejar allina dengan tidak melibatkan wanita ataupun gadis lain.
adam
mina
stanly
allina
ellen
like... coment... favorite... please...
biar tambah semangat nulisnya...
btw... tank you buat reader yang sempatin baca karyaku yang kadang amburadul...
😂😂😂😂😂 love you all...