My Maid And I

My Maid And I
Part 27. My Maid and I



Adam masih tidak percaya, dengan apa yang ia lihat saat ini. Mina, wanita bertubuh gempal dan berkulit sawo matang itu telah berubah menjadi wanita cantik saat ini.


Dari mana ia mendapatkan uang untuk perawatanya di salon ataupun body treatment yang begitu mahal di negara ini. Setaunya, Mina hanya melakukan pekerjaannya dan berdiam diri di dalam apartemennya tidak lebih. Itu yang ia lihat dari rekaman CCTV apartemennya selama ia berada di Kanada.


Sedangkan untuk pengeluarannya, ia tidak pernah sekalipun mendapatkan notifikasi dari pembayaran ATM nya yang berasal dari tempat body treatment manapun. Hanya dari sebuah super market saja tidak lebih. Itu pun 1 minggu sekali.


Adam melirik Mina dari tempat ia duduk. Wanita itu tampak lelah dan juga sedikit pucat. Meskipun gelap malam telah pekat, tapi mata tajam Adam masih dapat melihat wajah Mina yang tampak gemetar.


"Kau kenapa...?" tanya Stanly pada Mina.


"Sepertinya saya mabuk kendaraan Mr..." jawab Mina dengan tergesa gesa. " Bisakah kita berhenti dulu dan saya akan turun sebentar Mr... saya takut ini akan menjadi hal buruk...." pinta Mina memelas.


Melihat maidnya seakan tidak berdaya itu, Adam meminta asistennya untuk berhenti di sebuah mini market 7 Elevent. Sesampainya di parkiran, Mina langsung pergi ke sebuah toilet umum.


Beberapa saat kemudian, wanita itu menghampiri mobil dan masuk kembali ke dalam. Wajahnya terlihat basah. Ia mencuci mukanya tadi.


"Mr Stanly... bisakah anda meminjami saya jaz anda...???" tanya Mina ragu ragu.


"Kau kenapa Mina...?? apa kau sakit...??" tanya Stanly.


"Tidak... saya tidak sakit... hanya saja, AC di mobil ini terlalu dingin dan tubuh saya tidak kuat menahannya..." jawab Mina jujur.


"Baiklah..." kata pria itu kemudian melepaskan jaz nya dan memberikannya pada Mina.


"Pakailah... agar kau merasa hangat..." kata Stanly tidak menghiraukan orang yang tengah duduk di belakang mereka.


Adam mendengus kesal melihat tingkah kedua bawahannya yang seakan seperti sepasang kekasih itu. "Stan..." kata Adam pelan.


"Belilah makanan atau minuman ataupun sesuatu yang hangat untuk menghangatkan tubuhnya di super market. Aku tidak ingin ia sakit dan merepotkan kita...." sambungnya dengan dingin.


"Baik Boss..." kata Stanly.


"Mina... aku ke dalam dulu... aku akan membelikanmu sesuatu.... tunggu ya..." kata pria itu pelan.


Mina mengangguk pelan dan tersenyum. Adam yang melihat senyuman Mina tertuju pada asistennya itu, membuatnya marah dan naik pitam. Kata kata dingin dan kasar kembali keluar dari mulutnya.


"Mina, kau hebat sekali bisa menjerat Stanly dan membuatnya memberikan apa yang kau mau... aku jadi ragu apakah kau benar benar setia pada suamimu. Aku rasa itu adalah kedokmu untuk menutupi kebusukanmu agar tidak tercium oleh orang lain. Aku tidak percaya bahwa kau mampu bertahan tidak berhubungan dengan lelaki selama kau jauh dari suami mu. Aku juga tidak menyangka kau begitu murahan. Mau memberikan tubuhmu padanya hanya demi perhiasan di lehermu dan juga sepotong pakaian yang kau kenakan kini. Berhentilah sebelum kau patah hati. Ingatlah suamimu menunggumu. Dan juga ingatlah Stanly tidak pernah sekalipun tertarik untuk hidup dengan 1 wanita saja..." kata Adam mengingatkan.


Mina menangkap kata kata tuannya itu dengan perasaan terhina. Ia tidak pernah sekalipun berharap bisa bersanding dengan siapapun disini. Mengingat statusnya saat ini masih sah sebagai istri orang. Tidak memungkinkan dirinya untuk berharap bisa berhubungan dengan lelaki lain selain suaminya. Meskipun berada jauh darinya, sebisa mungkin Mina menjaga dirinya dan juga kehormatannya sebagai seorang istri.


Adam melihat air mata Mina menetes dan wanita itu mengusapnya pelan. ."Saya, tidak pernah sekalipun menghianati suami saya. Meskipun saya seorang yang bodoh dan miskin, tapi saya dapat membedakan apa itu baik dan buruk. Anda tidak perlu menghina saya dengan asumsi anda. Saya tidak pernah berpikir akan menjerat siapapun disini. Seandainya saya ingin menjerat seseorang agar dengan cepat mendapatkan uang, saya tidak perlu bersusah payah kemari. Di Indonesia juga saya bisa melakukannya. Saya bisa dengan cepat menjerat seseorang disana. Maaf Mr... anda salah... saya masih takut dosa...." kata Mina sambil mengusap air matanya.


Adam tertohok dengan kata kata Mina. Benar, ia berasumsi pada wanita itu dan berpikir buruk pada wanita itu. Sebelum sempat membalas kata kata Mina, Stanly kembali dengan membawa makanan di tangannya.


"Mina... apa kau baru saja menangis...?"tanya Stanly.


Mina menggeleng dan tersenyum. "Saya baru saja menguap dan mengeluarkan air mata. Mungkin saya benar benar kelelahan Mr... karena seharian saya berkeliling mengikuti anda..."


Adam hanya menonton interaksi di antara Mina dan Stanly. Tidak ada kata kata terucap dari mulutnya. Ia mengingat kata kata kasar yang baru saja keluar dari mulutnya dan menghina Mina.


Benar apa yang wanita itu katakan. Tidak perlu ia bersusah payah bekerja menjadi asisten rumah tangga di negara orang. Jika hanya ingin menjerat pria pria kaya. Tentunya di Indonesia tepatnya negara wanita itu, pastilah banyak jika memang ia ingin mencari uang dengan cara cepat.


Adam menghela nafasnya dengan berat. Menyesali penghinaannya pada maidnya itu.


Di tatapnya Mina yang tengah meminum susu jahe dengan hati hati. Stanly juga masih setia menatap wanita itu dengan sesekali memberi perhatian padanya.


Mina mengeratkan jaz yang ia sematkan di bahunya. Adam menatap intens wanita itu dari belakang kursinya. Cahaya lampu dalam mobil membuat ia bisa melihat dengan jelas bahwa Mina mulai terlelap setelah meminum obat yang di berikan oleh asistennya.


"Stan... kita lanjutkan perjalanan pulang..." Adam memerintah.


"Iya... baik Boss..." jawab sang asisten.


Stanly mulai mengemudikan mobilnya keluar area parkiran mini market dan menuju jalan raya yang masih padat. Meskipun, jam digital di mobil masih menunjukan pukul 21: 15 pm, tapi jalan raya masih padat dengan mobil dan kendaraan lain yang berlalu lalang.


Sesampainya di parkiran apartemen, Adam memberi kode pada Stanly untuk membangunkan Mina. Adam keluar dengan santai dan menatap Mina yang tengah tertidur lelap dari luar mobilnya. Ia melihat Stanly melepaskan seatbelt yang melekat di tubuh Mina.


"Um.... apa kita sudah sampai Mr...?" tanya Mina pada Stanly yang berada tepat di hadapannya.


"Ah... kau sudah bangun...?" tanya Stanly kikuk dan memundurkan tubuhnya kembali ke belakang stir.


"Aku kira kau masih terlelap Mina.... karna kau sudah bangun, turunlah... kita sudah sampai...." kata pria itu pelan.


Mina membuka pintu mobil dan mulai turun dari sana dengan masih menggunakan jaz milik Stanly. Mina menangkap tatapan Adam tuannya itu dengan tatapan dingin. Mina menuju bagian belakang mobil tuannya itu dan meminta Stanly untuk membukakan pintu bagasi mobilnya.


Setelah mengeluarkan koper milik tuannya dan juga papper bag miliknya, Mina menutup pintu bagasi dengan keras. Mina beranjak dari sana dan berjalan menuju lift tanpa menatap tuannya mau pun asisten Stanly.


Adam berjalan di belakang Mina dan merebut kopernya dari tangan Mina.


"Biar aku yang bawa, nanti kau tambah sakit dan bisa lebih merepotkan aku...." kata Adam datar.


Mina berhenti dan menatap punggung tuannya. Mina hanya terdiam dan pasrah dengan kata kata tuannya. Ia kembali melanjutkan perjalanannya menuju lift.


Adam sudah sampai di dalam sana dan menatap Mina dengan tatapan yang sulit di artikan. Setelah Mina ikut masuk, pria itu menekan tombol angka 12 dan pintu lift tertutup membawa mereka ke atas.


Stanly dari kejauhan hanya menatap sang Boss dan Mina dengan terheran.