My Maid And I

My Maid And I
Part 19. My Maid and I



"Jadi, apa kau benar benar akan kembali ke Singapore setelah Mommy mu benar benar sembuh nak...?" tanya sang papa.


"Hmmm..." jawab Adam dengan di sertai anggukan.


Adam masih berkonsentrasi menatap ponselnya sehingga sang papa berdecak kesal dengan kelakuan putra sulungnya itu. Tanpa di ketahui Adam, sang papa berdiri di belakangnya dan mengintip apa yang sedang putranya itu lihat.


"Dia siapa nak...?" tanya sang papa dari belakangnya.


Adam berjinggat kaget mengetahui sang papa berada di belakang dirinya.


"Bukan siapa siapa Dad..." jawab Adam dengan tergesa gesa.


" Bukankah dia seorang perempuan...? Apa dia wanitamu....?" tanya sang papa.


"What...!!!" Adam tersentak kaget dengan pertanyaan papanya itu.


"No... no... Dad... She is'nt my women.... She is just my maid... only my maid ... ok... are you understand... Dad...?" kata Adam berang.


Sang papa hanya mengangkat bahunya tanda tidak mengerti. " Ok... My son... terserah kamu... pintaku jangan ada hubungan di luar sebuah ikatan pernikahan.... kau paham kan...?" kata sang papa dan berlalu dari ruang keluarga menuju kamar utama. Kamar tidurnya dan sang istri.


Adam menatap punggung sang papa sampai tak terlihat lagi karena telah masuk ke dalam kamar tidurnya.


Adam berlalu menuju kamar tidurnya dan mulai menghubungi asisten Stanly.


" Selamat malam Bos..." kata Stanly via vicall.


"Disini siang Stan..."jawab Adam dingin.


"Sorry Boss... tapi disini malam... he he he..." Stanly terkekeh.


"Ada apa Boss...?" tanya sang asisten.


"Bagaimana keadaan perusahaan Stan.....?" tanya Adam pada sang asisten. "Maaf mungkin aku harus kembali sekitar 1 atau sampai 2 bulan lagi ke Singapore. Mommy belum sepenuhnya sehat.... jadi untuk sementara kau yang menghandel bisnisku disitu....." tambahnya.


" Untuk saat ini keadaan perusahaan masih seperti biasa... kondusif dan terkontrol Boss... jadi anda tidak perlu kawatir... Anda hanya perlu berkonsentrasi pada kesehatan Nyonya besar saja... dan untuk maid anda, dia masih seperti biasa tidak ada hal aneh dari gelagatnya.... jadi anda tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak perlu...." kata Stanly panjang lebar.


"Hmmm.... aku percayakan semua padamu Stan... kalau begitu aku tutup... terima kasih..." kata Adam kemudian menutup sambungan vi callnya.


Adam berbaring sambil menatap langit langit kamarnya.


Ia teringat sesuatu dan bangkit dari rebahannya. Adam meraih kunci di atas meja dan keluar kamarnya.


"Selamat siang Tuan muda..." sapa seorang pelayan yang berpapasan dengannya.


"Hmmm....." jawabnya.


Dan berlalu menuju garasi di lantai bawah.


Setelah aba aba dari sang penjaga, Adam mengendarai mobilnya keluar halaman melewati gerbang itu dengan kecepatan sedang.


Adam memakai kaca mata hitamnya dan menelusuri siang hari jalanan kota dengan mobilnya.


Setelah 30 menit berkendara, Adam memarkirkan mobilnya di sebuah pemakaman exclusive bagi kalangan miliarder.


Ya... Adam menjenguk alm istrinya di sana.


Pusara sang istri yang ia tinggalkan setelah dulu dirinya begitu frustrasi yang tidak terima kenyataan sebenarnya.


Wanitanya telah terbaring di dalam sana. Dan selama 4 tahun ia tidak pernah mengunjunginya. Dulu Adam hanya berharap bahwa semuanya adalah mimpi. Tanpa peduli dengan kenyataan yang sebenarnya.


4 tahun lalu dirinya bagai orang gila. Mencari cari wanitanya, Sarahnya, cintanya. Meskipun selama 8 bulan sebelum Sarah meninggal ia sudah berada di sisi wanita itu mengukir memori kebersamaan mereka. Dan 2 bulan terakhirnya dengan Sarah untuk mensuport wanitanya agar sembuh dari kanker darah yang ia derita saat itu.


Lamunan Adam buyar ketika dari belakang tubuhnya terdengar langkah kaki yang anggun. Seorang wanita sedang menghampirinya membawa sebuket bunga lily kesukaan Sarah. Wanita yang tidak asing baginya itu tersenyum canggung.


Wanita itu adalah Jane Milano sahabat dari Sarah mendiang istrinya. Wanita yang 2 minggu yang lalu ikut menghadiri jamuan makan malam di rumah orang tuanya.


"Kau disini...?" tanya wanita itu sembari tersenyum pada Adam.


Adam memalingkan wajahnya dan tidak menjawab pertanyaan wanita itu. Adam beranjak dari dirinya berdiri dan meninggalkan pusara mendiang sang istri juga wanita yang membuatnya muak itu.


Belum sampai beberapa meter dari tempatnya tadi, tangan Adam telah di raih wanita itu.


"Aku tau kau marah padaku..." kata wanita itu memulai.


"Aku hanya berharap kau melupakan kejadian masa lalu itu dan membuka lembaran baru.... meski tidak denganku... aku berharap kau memaafkanku dan hidup bahagia...." kata wanita itu sambil melepaskan tangan Adam.


" Aku hanya ingin kau tau bahwa aku telah berubah..." sambung wanita itu.


"4 tahun telah menyadarkan aku tentang arti kehilangan... meski aku mati matian mencintaimu dan berharap kau membalas perasaanku dengan menfitnah sahabatku yang kala itu adalah istrimu, namun tetap saja cinta kalian begitu kuat dan kokoh tanpa ada celah bagiku untuk masuk di antara kalian... Aku begitu iri pada Sarah yang begitu bahagia mendapatkan kasih sayang dan juga cintamu.. aku berusaha untuk merebutmu darinya... aku juga ingin bahagia... tapi caraku salah... dan tanpa aku sadari aku telah kehilangan sosok sahabat yang tulus menyayangiku..." air mata Jane tumpah.


Wanita itu terisak mengingat dirinya begitu berdosa telah memisahkan 2 orang yang saling mencintai itu untuk selamanya.


Adam hanya terdiam tak bergeming. Karena Jane, Sarahnya menderita. Karena wanita itu hubungan dirinya dengan sang mama renggang. Karena wanita itu pula dirinya hampir gila karena kehilangan cintanya untuk selamanya.


Meskipun ia telah memaafkan sang mama, tapi untuk wanita di hadapannya saat ini mengapa begitu sulit. Adam berlalu meninggalkan wanita itu tanpa menengok ke belakang atau sepatah katapun dan berjalan menuju mobilnya. Adam mulai mengendarai mobil itu keluar dari area pemakaman.


Sementara itu wanita yang bernama Jane tengah menatap marah pada pusara mantan sahabatnya. 'cih, bahkan meskipun kau sudah menjadi tanahpun kau masih mendapatkan cintanya... bahkan air mata buayaku tak mempan dihadapannya... kau sungguh memuakan Sarah... aku benar benar membencimu... meskipun kau sudah menjadi tanah sekalipun.... lihat saja Sarah, aku akan mendapatkan hati suamimu lagi nantinya...' batin wanita itu sambil tersenyum simpul dan belalu meninggalkan pusara Sarah.


Adam tengah berada di halaman sebuah Mansion. Pikiran Adam terpatri pada masa lalu dimana dirinya dan Sarah tengah berjalan jalan sore. Dan tanpa sadar mereka sampai di sebuah tanah lapang dengan pemandangan indah di sekitarnya. Sarah berharap dirinya bisa membangun rumah kecil untuk mereka singgahi sampai hari tua.


Demi mewujudkan mimpi wanitanya itu, tanah lapang itu kini telah berubah menjadi mansion pribadinya yang dulunya akan ia tempati bersama dengan Sarah dan anak anak mereka kelak. Tapi sehari sebelum dirinya berhasil memberi kejutan itu, Adam begitu kecewa pada Sarah dan ternyata itu adalah fitnah keji wanuta yang baru saja ia temui.