
Adam memasuki kamar tidurnya dengan membanting pintu. Gejolak dalam hati serta amarahnya pada Allan belum juga menyurut. Setelah memukuli sang adik ia masih saja belum bisa meredamnya sedikit pun. Ia teringat mendiang istrinya yang sangat menderita saat itu. Sarahnya. Cintanya. Adam sungguh tidak habis fikir dengan kelakuan Allan yang sangat membuatnya emosi tingkat dewa saat ini.
Adam memukul mukul dinding kamar tidurnya dengan keras karena frustasi. Sehingga tangannya terluka karena bekas pukulannya. Darah mengalir di jari jarinya. Tangannya masih mengepal dengan sangat erat.
CEKLEK...
Adam memalingkan wajahnya menuju pintu yang terbuka. Di lihatnya Mina tengah tersenyum sambil menghampirinya. Kemarahan Adam mulai menyurut perlahan. Ia menyadari, meskipun seandainya ia membunuh Allan sekalipun, Sarahnya tidak akan pernah kembali dan hidup lagi.
"Bie..." gumam Mina sambil menghampiri dimana Adam berdiri.
Mina melihat raut kemarahan di mata serta wajah sang suami. Ia yakin jika telah terjadi sesuatu di antara suami dan adik iparnya di ruang diskusi.
Mina menatap kepalan tangan sang duami yang tengah meneteskan darah segar di lantai marmer kamar mereka. Mina kaget serta tercekat dengan apa yang ia saksikan saat ini.
"Bie... Apa yang terjadi...?" buru buru Mina menghampiri Adam dan meraih tangan yang masih saja mengalirkan darah itu.
"Aku tidak apa apa... Tenang lah... Jangan pikirkan apapun..." jawab Adam dengan suara dingin.
"Biar aku obati lukamu Bie... Jika kamu belum bisa bercerita denganku dan berbagi masalah denganku, aku tidak apa apa. Asalkan kamu mau aku obati dulu lukamu... Nanti infeksi, berbahaya untuk mu..." ucap Mina dan menuntun Adam menuju ranjang mereka. Meminta Adam untuk duduk sambil menunggu ia mengambil kotak P3K yang ada di luar ruangan mereka.
Mina tau, ada masalah yang besar di antara suami dan adik iparnya. Mina hanya berusaha untuk mencoba sabar dan mengerti akan situasi saat ini.
Adam memperhatikan Mina yang sangat telaten membersihkan luka dan mengobatinya dengan Povidon Iodine di jari jarinya. Ia menatap sang istri yang sangat cantik saat ini. Ia tau, sesaat ia telah melupakan kenangan dengan Sarah. Ia merasa sangat bersalah pada mendiang istrinya itu. Namun, hatinya tak dapat di pungkiri jika ia mengasihi istrinya saat ini.
'Sarah... Maafkan aku...' batin Adam menjerit.
"Bie... sudah selesai..." gumam Mina pelan dan berhasil mengalihkan Adam dari lamunannya.
Adam mencekal tangan Mina ketika ia akan beranjak pergi dan menarik serta mendudukan tubuh istrinya itu di pangkuannya.
"Ada apa Bie ...?" tanya Mina lembut.
Adam hanya menatap dalam mata Mina dan menyelaminya. Tanpa berkata apa pun pada sang istri. Sedangkan Mina, ia masih saja terdiam serta berusaha mencari kebenaran dalam sorot mata Adam.
"Sayang... Aku ingin berbagi cerita masa laluku pada mu... Apa kau bersedia...???" tanya Adam ragu ragu.
Mina mengangguk dengan tersenyum sambil menatap mata abu abu milik sang suami.
"Ceritalah Bie... Aku siap mendengarkan..." jawab Mina pelan.
"Berjanjilah padaku, apapun yang kau dengar dari mulutku, kau tidak akan pernah meninggalkan aku..." pinta Adam pada Mina.
Mina hanya mengangguk pelan.
"Mulailah... Bie..." Mina mengizinkan.
Adam menelan kasar salivanya dan menghela nafasnya pelan.
"Kau tau Sayang... Wanita yang mengaku sebagai kekasihku itu?" ucap Adam memulai.
Mina mengangguk paham siapa dia dan hanya diam mendengarkan.
"Dia adalah sahabat Sarah, mendiang istriku..." tambahnya.
"Dulu, mereka begitu dekat dan menekuni profesi yang sama. Yaitu dunia permodelan. Diantara mereka tidak ada hal yang saling mengunggulkan diri sendiri. Mereka bersaing secara sehat serta saling mendukung satu sama lain...." Adam menghela nafasnya pelan.
"Sampai suatu hari ia hadir di antara aku dan Sarah. Melakukan hal picik untuk memisahkanku dengan Sarah. Dengan bantuan Mommy serta Allina dulu, ia berusaha menyingkirkan Sarah dari sisiku. Dengan maksud yang tidak jelas ku ketahui. Aku begitu syok saat itu, mengetahui jika Sarah telah menghianatiku dan tengah mengandung buah cinta dari selingkuhannya itu. Yang ternyata dan tak lain adalah darah dagingku sendiri. Sayang kau tau... Aku begitu terpukul dan marah saat itu. Mengetahui jika orang yang ku cintai berkhianat. Aku mengusir Sarah dari kehidupaku waktu itu. Dan membiarkan dia menderita dengan hidup serba kekurangan di luaran sana..." Adam kembali menghela nafasnya pelan sebelum melanjutkan.
"Hubunganku dengan Jane hampir menempuh ke jenjang pernikahan. Tepatnya sehari sebelum pesta pernikahanku dengan Jane, Aku bertemu dengan pria yang telah di bayar oleh Jane itu di sebuah Club malam. Pria yang mengaku sebagai kekasih Sarah. Karena mabuk, pria itu mengatakan semua kebenarannya padaku. Aku begitu geram saat itu. Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Jane sebelum menuju ke jenjang yang serius. Mencari semua keburukannya dan aku beberkan melalui vidio yang tersedia di balik altar untuk pernikahan kami waktu itu. Dan setelah aku terlepas dari Jane, aku kembali mencari Sarah untuk minta maaf padanya dan memulai semuanya dari awal lagi..." Adam tersenyum penuh dengan kepuasan.
"Singkat cerita, Sarah menerimaku kembali. Dengan perut yang membuncit seperti dirimu saat ini, ia begitu bahagia karena dapat kembali bersamaku. Tapi, kebahagiaannya menghilang ketika dirinya terjatuh dari tangga dan mengakibatkan kontraksi pada kandungannya. Sarah melahirkan ketika bayi itu berusia 7 bulan dalam kandungannya. Bayi laki laki itu lahir dalam keadaan lemah dan akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya tepat seminggu setelah ia lahir. Sarah begitu syok dan depresi. Aku berusaha untuk mendukungnya dengan semangat serta mendampinginya setiap hari. Hingga suatu ketika, ia di divonis terkena penyakit kanker darah. Selama sisa hidupnya hanya bergantung pada obat, kemo terapi dsb. Itu membuatnya semakin menderita dan akhirnya ia pun ikut pergi meninggalkan aku untuk selamanya..." Adam meneteskan air matanya mengingat betapa menderitanya Sarah kala itu.
Mina mengangguk paham dengan apa yang di ceritakan oleh sang suami. Mina mengusap air mata sang suami dengan jarinya dengan lembut. Ia melihat kesedihan yang begitu mendalam di mata suaminya itu. Mina merasakan betapa besar cinta sang suami pada mendiang istrinya itu. Mina menyadari, jika pria di depannya ini, sangatlah rapuh.
"Bie... kenapa Miss Jane masih saja mengejar dirimu sampai saat ini. Meskipun kau sudah berulang kali menolaknya...??" tanya Mina penasaran.
"Akupun tidak pernah tau apa yang ia maksud. Ia selalu memintaku untuk bertanggung jawab, dan bertanggung jawab. Sedangkan aku tidak tau kesalahan apa yang ku perbuat padanya. Hingga hari ini aku mengetahuinya. Kesalah pahaman Jane yang mengira aku telah merenggut keperawanannya. Dan ia berusaha memisahkan aku dengan Sarah serta saat kemarin ia berusaha untuk mengacaukan acara 7 bulanan yang ku selenggarakan untukmu. Ia juga berusaha untuk memisahkanmu dariku. Dan kau tau sayang...? Ternyata Allan lah yang telah merenggutnya. Ia menceritakan segala sesuatunya tadi. Hingga membuatku emosi dan memukulinya berulang kali. Aku tidak pernah menyangka jika Allan yang aku banggakan itu tak lain hanyalah seorang pecundang. Aku begitu marah saat ia tidak berusaha untuk menghentikan tindakan Jane pada Sarah. Serta ia telah di butakan cintanya pada wanita itu...." nada suara Adam begitu geram di telinga Mina.
Mina hanya mampu merasakan betapa besar rasa penyesalan serta rasa cintanya pada mendiang istrinya. Mina hanya mampu menghela nafasnya pelan. Karena ia hanyalah orang luar yang tidak tau apapun masalalu suaminya itu.
"Bie... Apa kau akan memaafkan Allan...?" tanya Mina dengan suara lembut.
"Entahlah... Sayang aku tidak tau...!!" jawabnya pelan.
"Apa dengan mendendam dan membenci Allan kau akan mendapatkan kembali Miss Sarah...? Sedangkan ia telah tenang di sisi Tuhannya...!!" Mina mengingatkan sang suami.
Adam hanya menatap Mina dengan penuh tanda tanya.