
Pesta megah nan mewah di langsungkan dihalaman mansion Johanson setelah acara pemberkatan. Allina dan Stanly nampak begitu bahagia. Begitupun Allan serta Jane. Raut bahagia selalu terpancar pada wajah mereka.
Tidak ada lagi dendam serta kesedihan. Yang ada hanyalah senyuman kebahagiaan terpancarkan dari wajah mereka.
Adam pun terlarut dalam kebahagiaan adik kembarnya. Tidak ada yang lebih indah dengan merelakan dendam di hati dan mengikhlaskan semua nya.
Sesaat matanya menatap wajah Mina yang terlihat begitu pucat seakan menahan sesuatu. Adam dengan sigap mendekati istri nya.
" Ada apa sayang...?" tanya Adam khawatir.
Mina hanya menggeleng kan kepalanya pelan sambil tersenyum menatap sang suami.
" Tidak apa apa... Bie... " jawab Mina lembut sambil tersenyum.
" Apa kau kelelahan... Ayo... Kita kembali ke dalam mansion..." Adam menatap wajah Mina yang mulai basah oleh cairan keringat.
"Tidak Bie... Aku ingin melihat acara pemberkatan serta pernikahan adik adik mu ini sampai selesai. Tapi... Aaakkkhhh..." Mina mengelus perutnya yang mulai kontraksi.
Adam dengan sigap langsung membopong tubuh istrinya dan mendekati sang Ibu serta sang Ayah yang masih terfokus pada acara pernikahan putra putri nya.
"Mom... Dad..." Adam memanggil mereka dengan lembut.
Marriane yang saat itu juga mulai panik karena ia melihat sang menantu mengerang kesakitan.
"Ada apa sayang... Apa yang terjadi pada menantu ku....?" tanya Marriane pada sang putra.
"Mom... Dad... Maaf... kurasa, aku akan melahirkan... jadi... aku harus pergi ke rumah sakit sekarang..." Mina meminta izin pada sang ayah serta ibu mertuanya dengan menahan rasa sakit yang sangat luar biasa dari dalam rahimnya.
"Apa... !!!" jawab mereka berdua dengan serentak dan membuat kaget sebagian tamu undangan yang duduk diantara mereka.
"Baiklah... Aku ikut denganmu... "ucap Marriane penuh kekhawatiran.
"Mom... nanti saja setelah acara ini selesai... kasihan Allina dan Allan... mereka sangat membutuhkan mommy disini di acara penting ini. Jadi, tidak perlu khawatir pada Mina karena Aku yang akan menemaninya di sana. Aku pamit Mom... Dad..." Adam berlalu dengan cepat menuju tempat parkir mobil nya. Mina hanya tersenyum lembut pada mertuanya meskipun wajahnya sudah sangat pucat pasi.
Marriane mengikuti anaknya dan sang menantu ke tempat parkir.
"Nak... Hati hatilah nanti aku akan menyusul kalian ke rumah sakit setelah acara ini selesai... Sungguh mommy minta maaf kepada mu karena tidak bisa menemani mu untuk saat ini..." ucap Marriane penuh sesal.
"Tidak perlu sedih Mom... aku pergi..." pamit Adam pada sang ibu. Marriane menatap kepergian anak dan sang menantu yang begitu kesakitan.
Setelah meletakan sang istri di kursi belakang mobil nya, Adam sekali lagi berpamitan pada sang ibu dengan tenang. Ia tidak menunjukkan betapa panik dirinya saat ini.
"Maaf... Mom... aku harus segera membawanya ke rumah sakit sekarang. Sampaikan kata maaf ku pada Allan dan Allina karena tidak bisa menemani mereka sampai acara selesai..."Adam berpamitan untuk yang kesekian kalinya pada sang ibu dan langsung masuk kedalam kursi kemudi. Di tatapnya wajah sang istri yang mulai basah oleh keringat.
Adam berusaha untuk mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang agar tidak membahayakan keselamatan dirinya sang istri serta calon anak nya.
"Aaaakhhh...." Mina merintih kesakitan sambil mengelus perutnya dengan lembut.
"Sayang... apakah sakit sekali..." tanya Adam sambil mengemudi ia berusaha untuk tidak panik.
"Bie... Tidak usah perduli kan aku untuk saat ini... Cukup dengan konsentrasi saat mengemudikan mobil mu... Aku tidak apa-apa... Jangan panik..." Mina berusaha untuk tidak terlihat begitu kesakitan lagi agar sang suami tidak panik.
"Baiklah sayang... Kita akan segera sampai... Tahan sebentar lagi ya ..." Adam berusaha memberikan ketenangan pada Mina.
Adam mendorong brankar menuju tempat persalinan bersama beberapa orang perawat serta dokter spesialis kandungan yang ia temui di IGD.
Di atas brankar rumah sakit milik keluarga suami nya itu, Mina tersenyum lembut pada sang suami. Entahlah... ia tidak lagi merasakan sakit. Saat ini, ia mulai kehilangan kesadaran nya. Adam begitu panik. Namun sesaat ia lega karena sang istri tidak lah pingsan melainkan di suntik bius oleh dokter spesialis kandungan yang akan melakukan tindakan operasi.
Ia cukup khawatir karena ini pertama kali ia menghadapi wanita yang akan melahirkan. Tanpa persetujuan dari sang istri, ia langsung meminta sang dokter spesialis kandungan untuk melakukan tindakan operasi.
Ia tidak ingin melihat kesakitan di wajah Mina. Ia takut jika Mina tidak akan sanggup untuk bertahan dan akhirnya meninggal kan dirinya sendiri dengan bayi yang baru ia lahir kan nantinya. Ia tak akan pernah sanggup.
Adam menemani Mina sampai 2 jam persalinan. operasi Caesar berjalan dengan baik dan kini lahir lah seorang bayi laki-laki dengan berat badan 2,7 kg. dan panjang 50,7 cm.
Wajahnya begitu tampan dan begitu mirip dengan Adam ketika ia masih bayi.
Adam mendekati sang dokter dan meminta untuk memegang tubuh bayi nya itu serta mengadzani bayi mungil itu dengan lantunan suara yang lembut di telinga bayi yang baru saja di bersihkan oleh perawat dan memakai kain lembut di tubuhnya itu.
"Selamat datang di dunia ini sayangku... baby boy ku..." gumam Adam penuh haru. Ia menangis sesenggukan menatap bayi mungil yang tengah menatapnya itu. Mata hitam bayinya menatap penuh dengan binar.
Suara tangisannya tadi begitu nyaring ketika baru di keluarkan dari dalam perut sang ibu. Adam mengusap pipi bayinya itu dengan lembut. Dan menciuminya dengan penuh sukacita.
Adam menatap sang istri yang masih terbaring lemah di atas brankar ruang operasi. Paramedis tengah membersihkan sisa sisa darah yang ada di dalam rahim istri nya itu. Setelah berhasil mengeluarkan ari ari sang penunjang kehidupan anaknya ketika masih di dalam rahim ibu nya itu.
Adam menghampiri sang istri dan mencium puncak kepala wanita itu dengan penuh cinta.
"Bangun lah sayang... setelah itu kita akan memberi nama untuk anak laki laki kita..." gumam Adam lembut.
💐💐💐💐💐
Malam menjelang... Mina tersadar dari dalam tidur nya. Setelah obat bius yang ada pada diri nya telah hilang dan digantikan dengan rasa pusing serta mual. Ia menatap sekeliling ruangan itu dengan keheranan. Ia sudah di kelilingi oleh keluarga besar sang suami. Mereka tengah menatapnya serta tersenyum bahagia dan bangga.
Mina menatap sang suami yang tengah menimang bayi mungil itu dengan perasaan haru. Bagaimana tidak, pria itu nampak sangat luar biasa tampan saat ini.
"Bie...." gumam Mina lemah.
Adam langsung menghampiri sang istri dengan masih menimang bayi nya itu dan memperlihatkan hasil karya nya pada sang istri.
"Sayang... lihat lah... hasil karya ku ... Betapa tampannya dia... seperti diriku..." gumam Adam penuh haru.
"Kita akan memberi nama anak kita ini siapa...? tanya Adam lembut.
Mina mendudukkan tubuhnya dengan dibantu oleh sang ibu mertua yang sedari tadi duduk di kursi samping ranjang rumah sakit nya itu. Mina begitu bahagia karena ia tidak lagi merasakan kesedihan yang mendalam setelah ia berhasil melahirkan bayi nya itu. Ia mendapatkan kasih sayang serta perhatian dari ibu mertua nya itu.
"Bie... Aku ingin memberinya nama Hayden... apa kau setuju...?"tanya Mina sambil menatap netra sang suami.
Adam mengangguk setuju dan tersenyum mengembang.
"Nama yang bagus sayang... Aku setuju dengan usulan mu..." Adam memberikan bayinya pada sang istri. Agar bayi nya itu dapat menyusu pada ibunya.
Allina dan Jane duduk di atas sofa dengan di dampingi oleh suami suami mereka masing-masing. Sambil menyusui sang bayi, Mina menatap dua pasang pengantin baru itu dengan perasaan bersalah. Dan merasa tidak enak karena membuat keluarga besar sang suami harus ikut menemani nya di rumah sakit.
Mina berharap agar keluarga besar ini akan selalu mendapat kan kebahagiaan seta kesejahteraan di dalam hidup ini.