
Mina berlalu menuju mobil yang terparkir di halaman rumah milik tetangga Bu Ratmi, Ibunya Mas Jono. Dengan berat hati, Mina melepas pelukannya pada putrinya Dwi Ariana. Bagaimana tidak, ia begitu ingin anaknya ikut bersamanya. Tapi, putrinya menolaknya karena merasa bahwa dirinya hanyalah orang asing.
Mina yang dulunya gemuk serta kulitnya kecoklatan, merupakan satu hal yang di ingat oleh putrinya. Dwi mengira bahwa dirinya ialah orang asing karena memang benar, saat ini begitu berbeda 180°. Tubuh langsing serta kulit yang putih membuatnya berbeda. Satu hal yang membuatnya kecewa, putrinya telah melupakan dirinya.
Mina menghampiri Joko dan menitipkan sebuah surat yang memang sudah ia tulis ketika berada di rumah sakit untuk Mas Jono. Ia menumpahkan segalanya pada isi surat tersebut tak lupa pula buku tabungan yang memang sudah ia siapkan untuk kebutuhan Dwi ke depannya. Dwi memutuskan ikut paman serta neneknya, karena Salimah istri Mas Jono saat ini tidak begitu menyukai anak anak.
Setelah berada di dalam mobil, Mina menatap mata Mr Adam yang menatapnya dengan senyum mengembang.
"Apa urusanmu sudah selesai Mina...?" tanya Mr Adam pada Mina. Mina hanya mengangguk dan tersenyum.
Mobil yang di kendarai pak sopir berlalu meninggalkan kampung dan menuju jalan raya yang memang sudah ramai kendaraan. Tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
Sesampainya di alamat yang di tuju, Mina turun di parkiran yang memang di khususkan untuk para orang tua yang akan mengunjungi putra putri mereka. Karena baru pertama kali, Mina mencari seseorang yang mungkin adalah pengurus pondok pesantren ini.
Sesampainya di kantor pengurus dengan tadi di antar oleh seorang santriwati, ia meminta izin pada pemimpin pondok pesantren untuk bertemu dengan putranya. Beberapa menit kemudian, ia melihat seorang anak laki laki yang menghampirinya dan duduk di kursi hadapannya.
"Ada yang perlu saya bantu...???" tanya anak laki laki yang duduk di seberangnya.
Mina menatap putranya yang saat ini telah beranjak dewasa. Seketika air matanya menetes. Mina mengusap air matanya dan tersenyum melihat wajah putranya yang lebih dominan terhadap wajah Mas Jono di banding wajahnya.
"Nak... ini ibu..." ucap Mina.
Eko, nama putra Mina, hanya menatap dengan seksama wanita yang mengaku ibunya. Eko ingat betul suara ibunya. Tapi untuk wajah, seingatnya, wajah serta tubuh dan kulitnya berbeda.
"Benarkah ini ibu...???" tanya Eko.
Mina mengangguk sambil tersenyum. Eko langsung meraih tangan ibunya dan mencium tangan itu dengan menitikan air matanya.
"Apa ibu akan tetap di sini...??? Tidak berangkat kerja lagi...???" tanya Eko. Mina tidak menjawabnya dan hanya tersenyum kemudian meminta izin pada ketua pengurus Pondok pesantren untuk mengajak Eko keluar sebentar.
Mina membawa Eko ke mobil yang di dalamnya ada Mr Adam. Sesampainya di dalam mobil, Eko terkejut melihat seorang pria bule duduk di kursi depan sedang tersenyum padanya.
"Siapa dia Bu...?" tanya Eko penasaran.
"Dia..."
"Aku calon Ayahmu... Kenalkan namaku Adam..." ucap Mr Adam sambil mengangkat tangannya untuk bersalaman dengan Eko. Eko yang masih mencerna bahasa Inggris yang ia dengar sambil meraih tangan Mr Adam dan menciumnya.
"Jadi, dia putramu Mina...?" tanya Adam pada Mina. Mina mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kau sudah menjelaskan semua permasalahan kita padanya...?" Adam bertanya pada Mina lagi.
Adam hanya mengangguk tanda mengiyakan. Sementara Eko, masih menjadi pendengar setia, karena ia hanya mengerti beberapa kata kata yang sedang di obrolkan ibunya serta bule itu.
"Bu.. kita akan kemana...?" tanya Eko penasaran.
"Kita pergi sebentar, ibu sudah meminta izin pada ketua pengurus untuk membawamu keluar. Ibu harap, nanti apa yang ibu ceritakan padamu, tidak akan membuatmu kecewa..." ucap Mina sambil menatap putranya.
Sesampainya di sebuah restoran, Mina keluar dari dalam mobil yang di ikuti oleh Putranya serta Mr Adam dan pak sopir. Mereka duduk di sebuah tempat lesehan yang nyaman. Mereka memesan makanan yang tertera di sana.
Sambil menunggu pesanan datang, Mina mengelus lengan putranya yang kini sudah tumbuh tinggi dan tampan. Ia tidak menyangka jika akan secepat ini ia melihat putraya tumbuh. Rasanya baru kemarin ia melahirkannya serta menyuapi bubur halus, melatihnya berbicara dan melatihnya berjalan.
Saat ini ia sudah duduk di kelas 2 SMP. Putranya yang lebih dominan Mas Jono, terlihat tampan serta gagah. Mina tersenyum bahagia. Adam yang melihat Mina tersenyum pun ikut merasakan kehangatan wanita itu pada putranya.
Sesaat kemudian makanan yang mereka pesan datang.
Mereka menikmati makanan tersebut dan sesekali Eko meminta ibunya untuk memakan makanan yang ia suapkan kepadanya. Mina tersenyum bahagia, seakan kebahagiaannya yang lama hadir kembali. Mina mengusap kepala putranya yang memakai peci has pesantrennya.
Setelah selesai makan, mereka masih duduk disana sambil memakan desert yang tadi sempat di pesan oleh Adam. Kusus untuk mereka. Adam menyuruh pak supir untuk menunggu di mobil karena mereka masih harus membicarakan hal penting. Setelah pak supir berlalu pergi, Mina mulai berbicara pada putranya.
"Nak... ibu bermaksud untuk bercerita dan mengatakan hal yang mungkin membuatmu kecewa..." ucap Mina lembut.
Eko menatap ibunya sambil memakan desert cake yang ia punya.
"Kamu sudah tau kan kalau bapak dan ibu mu ini sudah berpisah dan tidak bisa hidup bersama lagi...?" ucap Mina sambil meraih tangan putranya dan di genggamnya erat.
Eko menghentikan acaranya memakan desert dan menatap ibunya dengan sedih. Ia mengangguk dengan pelan dan menunduk. Ia tau jika orang tuanya tidak mungkin bersama lagi. Ia tadi hanya berusaha untuk bersikap biasa biasa saja pada Ibunya, walaupun ia begitu kecewa pada Ibunya. Ia tau jika pria bule itu ialah pria yang membuat renggangnya hubungan Bapak dan Ibunya. Tapi ia berusaha untuk tegar. Ia tidak mau tau urusan orang dewasa yang begitu rumit itu. Tapi ia berusaha untuk selalu bersikap positif.
"Maafkan ibu nak... Ibu salah... karena tidak mendengarkan kamu dulu... Saat ini, meskipun ibu kembali, ibu hanya untuk meminta restu kamu sebagai anak, karena ibu akan menikah dengan bule itu. Ibu tidak mungkin kembali pada bapakmu, selain ibu sudah tidak pantas, ibu rasa bapakmu sudah bahagia dengan hidupnya saat ini. Satu hal yang meski kamu tau, apa pun kabar tentang ibu di luar negri ialah tidak benar. Ibu tidak pernah menghianati bapakmu... Sekalipun. Jadi nak... ibu mohon maafkan ibu. ..." ucap Mina berharap pada putranta.
"Kamu akan tau dan mengerti saat kamu sudah dewasa nanti..." Mina mengelus kepala putranya dengan lembut.
Sementara Adam, menatap Mina dan anaknya dengan tatapan bersalah.