
" Hey... Mina... apa kau mendengarku...?" tanya Stanly sambil mengubas ngibaskan tangannya di hadapan wajah Mina.
." Eh... I ... iya Mr Stanly anda berbicara apa....?"tanya Mina.
Stanly menghela napasnya dengan kesal.
" Aku tau kau terpesona padaku, tapi tidak seharusnya sampai melongo seperti itu..." goda pria itu sambil tersenyum.
"Ah... ti.. tidak Mr... saya hanya..." kata kata Mina terpotong.
"Cepatlah bantu aku... ini sangat tidak nyaman i..." kata pria itu sarat dengan perintah.
Mina menghampiri pria itu dengan cepat. meraih handuk kecil di dalam baskom dan mulai membasuh luka di kepala Stanly dengan hati hati. Ini pertama kalinya Stanly menatap Mina dari jarak dekat. Aroma tubuh Mina menguar masuk ke dalam indra penciuman pria itu. Wangi dan segar walau dengan muka bantalnya itu. Stanly merasa aneh. Seakan wanita itu baru saja selesai mandi.
"Kau baru mandi Mina...?" tanya pria itu.
"Iya... Mr... " jawabnya.
"Kenapa bukannya ini masih terlalu dini untuk mandi...? Kau habis mimpi basah ya...?" goda pria itu.
"Tidak ... Mr... sebenarnya saya bermaksud untuk menunaikan sholat tahajud. Karena perasaan saya tidak enak. Belum sampai saya lakukan, anda telah datang menggedor pintu dan membunyikan bel tanpa henti..." jawabnya panjang lebar.
"Apa sholat itu...?" tanya Stanly.
"Menyembah Tuhan YME... Mr.." jawabnya singkat.
"Kenapa kau tidak ke Gereja dan berdoa disana? Apa dirumah doa mu akan terkabul" tanya pria itu.
"Maaf... Mr... saya muslim jadi saya tidak ke gereja...." jawab Mina singkat.
"Oh... ya sudah..." jawab pria itu.
Sebenarnya Stanly merasa kasihan pada wanita di depannya ini. Dia sedang begitu lelapnya tertidur harus terganggu dengan kedatangannya. Dan pertanyaannya tadi hanya untuk basa basi agar tidak ada kecanggungan di antara mereka.
Setelah selesai membersihkan luka memberinya obat dan yang terakhir membalutnya, Mina beranjak dari hadapan pria itu membawa bekas sisa kotoran darah dalam baskom itu ke dapur.
Mina membuatkan secangkir teh herbal untuk pria yang tengah berbaring di sofa itu.
"Teh... anda Mr..." kata Mina sembari meletakannya di atas meja di depan pria itu.
"Hmmm... terima kasih Mina..." kata pria itu sambil tersenyum.
"Sama sama..." jawabnya kemudian berlalu kembali ke dapur.
Stanly kembali duduk untuk menikmati teh herbal yang di suguhkan Mina untuknya.
'Mina memang yang terbaik' batinnya. Bahkan teh herbal itupun menjadi favorite untuk Stanly setelah kopi.
Mina pov...
Aku benar benar merasa canggung. Saat ini ada pria asing yang tengah duduk di sofa menikmati teh herbal yang kuseduh untuknya. Dari bau mulut dan juga tubuhnya, Mr Stanly baru saja tersadar dari mabuk... Mungkin....???
Meskipun pria itu adalah asisten pribadi dan juga kepercayaan tuannya, tapi aku sedikit takut dengan pria itu. Apa lagi pria itu senang sekali menebar pesona dengan senyumnya. Andai kata aku masih singgel, mungkin aku bisa saja terjerumus dalam pesonanya.
Apa lagi tadi pria itu terlihat tidak canggung membuka bajunya dihadapanku. Meskipun itu sangat waow bagiku untuk melihatnya tapi sangat tidak nyaman untukku. Ah... aku lupa, bukankah dia bule... tentu saja ia tidak punya malu.
Bahkan di berita berita dan juga di televisi swasta dulu ketika di Indonesia memamerkan bule yang tengah berwisata di pantai hanya menggunakan dalaman saja di tempat umum lagi tanpa rasa malu sedikitpun. Mungkin itu sudah jadi kebiasaan mereka.
Aku menggelengkan kepalaku dan berjalan menuju kamar sang tuan. Mengambil sebuah kaos berwarna putih milik sang tuan untuk pria itu yang notabene adalah asisten tuannya.
" Pakailah Mr..." kataku pada pria itu.
" Kaos ini baru... mungkin saya lancang mengambilnya untuk anda. Tapi saya takut anda sakit karena terus bertelanjang dada. Meskipun sebentar lagi matahari akan terbit...." kataku sambil menyodorkan kaos yang masih terbungkus plastik.
" Oh... iya... terima kasih Mina..." kata pria itu sambil menerima kaos yang kuberikan.
"Um... Mina..." kata pria itu ketika aku akan berbalik ke dapur.
"Iya... Mr..." kataku menatap pria itu.
"Bisakah kau memakaikannya...? Lenganku masih sakit dan sulit untuk memakainya sendiri..." kata pria itu.
"Baiklah... Mr... kemarikan kaos itu..." kataku meminta kaos itu dari tangannya.
"Uh... hati hati ... Mina..." rintih pria itu.
"Ah... maaf Mr... saya tidak sengaja..." kataku sambil membenarkan kaos itu agar terpasang dengan baik.
"Sudah selesai Mr... kalau begitu, saya permisi..." kataku dan berlalu ke belakang.
"Iya... Mina... terima kasih..." jawab pria itu dengan tersenyum.
Mina pov...
end...
********
Stanly pov...
Aku benar benar tidak menyangka. Mina wanita yang 5 bulan lalu berkulit coklat dan bertubuh gempal itu, kini berubah menjadi wanita yang cantik bertubuh langsing serta kulitnya memutih. Meskipun gaya pakaiannya masih seperti biasanya memakai kaos oblong dan celana panjang. Tapi tidak bisa menutupi bahwa dirinya telah berubah.
Wanita itu tampak manis dan ayu. Aku juga tidak menyangka dalam beberapa bulan saja ia mampu menurunkan berat badannya yang terbilang cukup sulit untuk kaum hawa lain.
Sungguh hebat wanita itu.
Aku tersenyum pelan. Sesapan demi sesapan teh yang Mina buat membuatku nyaman. Setelah mabuk ini yang sangat aku butuhkan.
Sambil mengingat kejadian beberapa jam yang telah berlalu.
Peristiwa pengeroyokan tadi di bar sebuah tempat hiburan ternama di negara ini membuatku sangat marah. Bagaimana tidak, seorang wanita tengah berjuang melepaskan diri dari cengkraman pria negro dengan tatapan memelas.
Aku hanya bermaksud membantu melerai mereka saja tidak untuk ikut campur dalam dalam urusan mereka. Tapi apalah dayaku, meskipun seorang master petarung sekalipun, dikeroyok lebih dari 4 orang membuatku kalah.
Wanita yang tadi kuselamatkan telah pergi entah kemana. Tanpa mengucapkan terima kasih ataupun maaf karena wajahku yang tampan ini telah babak belur disebabkan olehnya.
Kutatatap layar ponselku, waktu menunjukan pukul 3 pagi. Aku mengirim pesan via Whats Apss untuk Boss Adam bahwa aku menginap di ruang tamunya saat ini. Aku merebahkan tubuh lelahku di sofa. Aku benar benar merasa nyaman. Seakan aku mencari kenyamanan ini seumur hidupku.
Tanpa terasa mataku tertutup dan mulai terbuai dengan mimpi alam bawah sadarku.
Stanly pov...
end...