My Maid And I

My Maid And I
Part 5. My Maid and I



Mina terjaga dari tidurnya. Tangannya meraba raba sisi ranjangnya mencari sesuatu dengan setengah sadar. Ia tersenyum sambil mencari sosok pria yang begitu ia rindukan.


Ketika ia membuka matanya, Mina bingung dimana ia berada saat ini. Dia berpikir bahwa dirinya telah kembali ke Indonesia. Lalu bagaimana ia bisa kembali kesini. Bukankah semalam ia bertemu dengan suami tercintanya. Itulah yang ada di benaknya saat ini.


Yang membuat aneh adalah semalam ia mendengar sang suami bisa berbicara bahasa Inggris. Sedangkan sang suami tidak pernah tertarik untuk berbicara maupun belajar bahasa itu.


Dan yang membuatnya lebih keras untuk berpikir bahwa ia telah mengungkapkan bahwa dirinya begitu merindukan prianya. Tapi bagaimana bisa dirinya telah berbaring di kasur yang menjadi tempat tidurnya di tempat ia bekerja!!!???


Sambil memukul jidatnya, Mina membuka mata lebar lebar dan menepuk nepuk pipinya. Mengingat ingat apa yang sebelumnya terjadi.


Bukankah semalam dia mendengar bahwa tuannya ingin mengembalikan dirinya ke agensi. Tuannya sedang berunding dengan asistennya. Dan ia frustasi dan meminum 2 kaleng cola.


Apakah ia mabuk... !!!!??? Dan mengatakan hal hal aneh...??? Bukankah ia tidak kuat meminum minuman bersoda... Sampai berhalusinasi suaminya didepannya. Atau memang lelaki itu nyata...!!!? Jadi siapa lelaki semalam ....??? Jangan bilang kalau itu tuannya atau asisten Stanly...!!!???


Sambil menggeleng kepalanya, Mina berharap itu bukan mereka. Betapa malu dirinya. Tak berperilaku baik.


Meski baru pukul 4 pagi waktu negara itu, keadaan ruangan dimana Mina saat ini begitu panas. Karena memasuki musim kemarau. Negara kecil yang diapit oleh Indonesia dan Malaysia itu memiliki iklim yang sama. Yaitu tropis.


Setelah benar benar sadar, Mina beranjak ke kamar mandi dan membersihkan diri. Mina mandi karena pagi itu ia berbau keringat. Jangan berpikir macam macam. Tentu saja karena malam itu, Mina tidak membuka jendela kamarnya.


Biasanya selain menghemat listrik, ia juga membuka jendela untuk menghirup udara segar dari lantai 12 Apartment yang ia tempati saat ini. Dengan wewangian bunga sabun mandinya, membuat ia begitu rileks, Mina masih menggosok punggung dan seluruh tubuhnya 1 per 1.


Tepat pukul 5 pagi, Mina keluar kamarnya dengan aura yang segar. Ia melihat kaleng cola yang ia minum itu masih tergeletak di tempat semula. Mina berjalan menghampiri meja dan mengambil kaleng cola kosong di meja makan tersebut kemudian membuangnya di tempat sampah.


Dia memutuskan untuk menerima apapun keputusan tuannya nanti. Seperti biasa ia memulai aktifitas hariannya dengan bebersih dan berbenah.


Walau lebih tepatnya rumah itu sudah bersih. Kalau di kampung halamannya, Mina membersihkan lantai rumahnya setiap 3 hari sekali. Karena ia disibukan dengan bercocok tanam di sawah. Jadi untuk membersihkan tempat tinggalnya itu ia lakukan ketika benar benar kotor.


Disini rumah selalu bersih dan mengkilap karena tidak ada penghuni lain selain dia dan tuannya. Meski begitu, Mina tidak tau mau mengerjakan apa disini. Yang ia tau, dia hanya melakukan tugasnya saja.


Tidak terasa sudah pukul 9 pagi. Masakan yang ia masak sudah tersaji di meja. Hari ini hari Sabtu. Tuannya tidak ke kantor.


Jadi ia sedikit lebih siang untuk memasak sarapan tuaannya.


Ceklek...


Mina memalingkan wajahnya ke arah suara pintu terbuka. Ia mendapati tuannya telah rapi menggunakan pakaian kasualnya.


'Sepertinya ia akan pergi keluar' batin Mina.


"Good morning... Mr..." Mina menyapa tuannya yang baru saja keluar dari kamarnya dan berjalan menuju meja makan.


"Mina... di mana kopi ku...???" tanya Adam pada Mina.


"Ah... maaf Mr... saya baru saja membuatnya" kata Mina sambil meletakan secangkir kopi di depan tuannya.


"Mina..." kata pria itu ragu.


"Ya... Mr..." jawab Mina memalingkan wajahnya ketika ia akan beranjak kembali ke dapur.


"Ada apa ... Mr...???" tanya wanita itu ketika sudah berada di depan Adam.


"Apa kau sudah sadar dari mabukmu...???" tanya pria itu sambil menatap Mina yang terlihat lebih segar dan ceria dari biasanya.


"Iya ... Mr... saya sudah sadar..." kata Mina sambil tersenyum. "Maafkan saya Mr... saya tidak sopan telah mabuk mabukan di rumah anda" Sambung wanita itu.


"Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi" kata wanita itu.


Adam melihat dari raut wajah maidnya itu, tidak ada lagi ketakutan atau pun menunduk seperti biasanya. Mina lebih tepatnya menjadi sosok yang berbeda dari biasanya.


"Hmm... baiklah... kita lihat saja nanti" kata pria itu kemudian ia menyeruput kopinya.


"Iya... Mr... " jawab Mina kemudian ia berlalu kedapur untuk bebersih disana.


Adam menatap Mina dari tempat ia duduk. '5 bulan tepat hari ini ia bekerja disini' pikir Adam. Dan penampilannya masih sama menggunakan kaos oblong di atas lutut juga celana training panjang. Hanya saja wanita itu lebih ceria dari biasanya. Mungkin karena kejadian semalam.


Ia menumpahkan segala kerisauannya dengan mabuk. Sambil menatap punggung Mina dari belakang, Adam tersenyum. Mengingat bahwa maidnya itu tidak kuat minum cola. Apalagi kalau wanita itu minum bir atau yang lainnya... pria itu menggeleng pelan sambil memakan sarapannya.


Rambut yang mulai memanjang dan juga wajah Mina yang sedikit tirus dari biasanyalah yang membuat Adam sedikt memperhatikan wanita itu.


Di ingatnya semalam wanita itu begitu ringan dari penampilannya saat ini. Saat ia membopong wanita itu ke kamarnya untuk istirahat. Yang membuatnya terheran heran adalah... Bagaimana bisa dirinya menyentuh wanita selain Sarah mendiang istrinya itu.


Bahkan wanita itu adalah pembantunya alias pelayannya, maidnya. Sedangkan dia pernah mengembalikan ataupun memecat wanita yang berusaha menggodanya. Tidak ada 1 pun karyawannya ataupun maidnya yang lama yang membuatnya terulur untuk menyentuh mereka. Bahkan dengan godaan gila sekalipun.


Merasa di perhatikan oleh sang tuan, Mina menjadi salah tingkah dan beranjak ke tempat cuci baju. Disana ia begitu keras berpikir dan berusaha mengingat ingat tentang kejadian semalam.


'Kesalahan apa yang sudah aku perbuat, sehingga tuan itu benar benar memandangiku tanpa ekspresi' pikir Mina heran.


'Apapun itu, semoga saja bukanlah hal hal yang memalukan' kata wanita itu dalam hati.


Ia melanjutkan aktifitasnya untuk mencuci baju.