
Pagi itu Calvin memberi makan kucingnya di balkon apartemen. Karena hari itu hari Minggu, Calvin pun menghabiskan waktunya untuk kucing peliharaannya dan tentu saja dengan si kembar yang selalu ia rindukan.
Setelah ia selesai memberi makan pada kucingnya, Calvin kemudian mencuci tangannya dan langsung pergi ke kamar orangtuanya.Tanpa mengetuk pintu, Avril pun masuk ke dalam kamar.
Kebetulan saat itu kedua orangtuanya belum bangun dan di lihatnya sang mama yang tidur di sofa, sedangkan papanya tidur di ranjang dengan posisi meringkuk tanpa selimut.
Avril yang mendengar seseorang membuka pintu, ia pun terbangun dan melebarkan matanya untuk melihat siapa yang masuk ke kamarnya.
"Calvin, kamu sudah bangun?" Tanya Avril dengan suara berat.
"Iya Ma, Mama kok tidur di sofa?" Tanya Calvin heran.
Karena tidak mau Calvin berfikiran yang macam-macam, Avril pun menjelaskan kepadanya kalau si kembar tadi malam rewel, makanya Avril tidur di dekat ranjang bayi. Bersyukur, Calvin pun tak melontarkan pertanyaan lagi.
Calvin kemudian melihat adik kembarnya yang sedang tertidur pulas. Dia memegang pipi kedua adiknya dengan lembut. Karena si kembar berada di ranjang bayi jadi Calvin tidak bisa mencium mereka.
Sementara Avril pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Lalu ia keluar kamar dan membantu Ahjumma menyiapkan sarapan pagi.
Sedangkan Calvin masih di dalam kamar dan berniat untuk mengganggu sang papa yang masih tidur. Ia naik ke atas ranjang dan mulai menggelitik badan papanya.
Boo Young yang kegelian pun terbangun dari tidurnya. Ia membalas kelakuan Calvin yang membuatnya terbangun.
"Sayang, mama kemana?" Tanya Boo Young sambil mencari keberadaan Avril.
"Mama keluar, katanya mau bantuin Ahjumma nyiapin sarapan." Jawab Calvin sambil mencubit perut sixpack papanya.
Boo Young pun beranjak dari tidurnya dan langsung pergi ke toilet untuk menggosok gigi dan mencuci mukanya. Kemudian ia keluar dari kamar mandi dan mengajak Calvin untuk berolahraga.
Ketika Boo Young keluar dari kamarnya, dia melihat Avril yang sedang berdiri melamun di dapur dengan tatapan kosong. Tapi dia tidak mau ambil pusing dan langsung menarik tangan Calvin untuk masuk ke ruang fitness.
Tak lama kemudian kedua mertua Avril keluar dari kamar dengan berpakaian rapi. Seperti yang di katakan Boo Young bahwa hari ini mereka berdua akan pulang ke rumah setelah sarapan pagi.
"Kamu pasti senang karena aku akan segera pulang dan kamu dengan bebasnya melakukan apa yang kamu suka!" Kata Jie Hyo yang tampak kesal.
"Honey, bisakah kamu diam. Kita sudah mau pulang, jadi jangan buat masalah lagi." Tegur sang suami.
Avril tidak membalas perkataan dari sang mertua, dia segera menyiapkan makanan di meja makan. Karena dia tidak hati-hati, sup panas pun tumpah ke tangannya hingga membuat kulitnya melepuh.
Jie Hyo yang saat itu dekat dengannya langsung menarik tangan Avril untuk di siram dengan air dingin. Jie Hyo juga menyuruh Ahjumma untuk mengambil salep luka bakar.
Dengan pelan, Jie Hyo mengoleskan krim ke tangan Avril yang tersiram sup panas. Sementara Avril hanya memandangi sang mertua yang masih meniup tangannya.
"Kamu selalu tidak hati-hati, tapi kamu menginginkan aku pergi dari sini!" Kata Jie Hyo dengan kesal.
Seperti anak kecil Avril menangis dengan kencang. Dia tidak bermaksud untuk mengusir mertuanya, hanya saja sang mertua tidak bisa menasihatinya dengan cara yang halus, sehingga membuat Avril selalu salah paham.
"Mama, aku tidak bermaksud mengusir mu, tapi mama selalu berkata kasar kepadaku, itu membuatku sakit hati hiks...." Kata Avril sambil menangis dengan keras.
Jie Hyo kemudian memeluk Avril dan meminta maaf kalau dirinya sudah berkata kasar kepadanya. Dia juga menyuruh Avril untuk melupakan semua perlakuan buruk terhadapnya, karena sebenarnya Jie Hyo hanya ingin menasihati Avril tapi caranya yang salah.
Pada saat itu juga Boo Young dan Calvin keluar dari ruang fitness. Boo Young tersenyum melihat orang yang ia cintai saling berpelukan.
*****
Setelah kepergian mereka berdua, Avril dan Boo Young pergi ke kamarnya. Sedangkan Calvin juga masuk ke kamarnya, karena dia mau mengerjakan tugas yang di berikan oleh profesor.
"Sayang, kamu masih marah? maafkan aku yang sudah kasar terhadap mu." Tanya Boo Young sambil memeluk Avril dari belakang.
Tapi saat itu Avril tidak menghiraukan perkataan Boo Young. Dia hanya diam dan mencoba melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya.
Tetapi Boo Young tidak mau menyerah, dia menarik tangan Avril hingga Avril jatuh terlentang di atas ranjang. Kemudian Boo Young menindihnya dari atas sambil mengelus pipi Avril yang ia tampar tadi malam.
Rasa kesal masih menghiasi wajah Avril, hingga dia menoleh ke sebelah kiri ketika Boo Young akan mendaratkan bibirnya. Karena Avril menolak, Boo Young pun tidak mau memaksanya dan ia pun beranjak dari tubuh Avril.
Mendapat penolakan dari Avril membuat Boo Young tampak kesal, ia pun kemudiaan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Lalu ia keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya.
Kring...Kring...Kring...
Tiba-tiba handphone Boo Young berbunyi dan panggilan itu ternyata dari Dinna. Boo Young kemudian mengangkat panggilan itu dan mengobrol sebentar. Memang mereka hanya membicarakan soal perusahaan, tapi hal itu membuat Avril terlihat kesal.
Padahal panggilan itu sudah berakhir, tapi Boo Young pura-pura kalau dia masih berbicara dengan Dinna. Dia hanya ingin tahu reaksi Avril saat ia sedang berbicara dengan wanita lain.
"Aku sedang tidak ada kegiatan. Istriku sedang sibuk mengurus si kembar, jadi aku banyak waktu."
Boo Young melirik ke arah Avril.
"Lagian istriku tidak perduli dengan siapa aku pergi."
Mata Boo Young kembali melirik ke arah Avril dengan senyum tipis, karena dia melihat raut wajah Avril yang nampak kesal.
"Ok! kita makan di restoran X."
Semua yang di katakan Boo Young hanyalah kepura-puraan. Dia ingin melihat reaksi Avril, apa yang akan ia lakukan kepadanya. Dan akhirnya, Avril merebut handphone Boo Young dan melihat ke layar kaca dan Avril pun mengetahui panggilan itu sudah berakhir sedari tadi.
Avril meras tertipu dan melempar handphone Boo Young ke atas ranjang. Lalu Boo Young menarik tangan Avril dan segera mendaratkan ciuman ke bibir ranum sang istri. Avril mencoba memberontak, tapi Boo Young lebih kuat darinya.
Bibir yang selalu ia rindukan kini sudah bisa ia nikmati dengan sepenuhnya. Apalagi Avril sudah melewati 40 hari setelah melahirkan, itu artinya Boo Young sudah bisa meminta haknya sebagai suami. Awalnya Avril menolak, tetapi serangan bertubi-tubi dari Boo Young membuatnya pasrah.
Dengan tersengal-sengal Avril menerima ciuman buas dari sang suami hingga ia terduduk di bibir ranjang. Karena Calvin sedang ada di rumah, Boo Young pun menghentikan aktifitasnya dan segera mengunci pintu kamar.
Avril hanya bisa pasrah mendapat serangan dari sang suami, walaupun sebenarnya dia juga sangat menikmati tapi hatinya masih marah kepada Boo Young yang sudah kasar kepadanya.
"Sayang, aku sudah boleh melakukannya kan?" Tanya Boo Young berbisik di telinga Avril.
Anggukan Avril bertanda bahwa Boo Young sudah di perbolehkan untuk menjelajahi ladang milik Avril. Dengan semangat Boo Young menurunkan bibirnya di area lereng dan meninggalkan beberapa jejak di sana.
Tak puas hanya di daerah lereng, ia pun kemudian membenamkan wajahnya di area pegunungan yang begitu indah. Tapi saat itu tiba-tiba gunungnya mengeluarkan lahar, jadi Boo Young tidak bisa bermain-main di daerah puncak gunung.
Akhirnya, Boo Young sampai juga di area ladang yang sudah sedikit becek. Dia bermain-main di daerah yang becek. Tentu saja Avril sangat menikmati semua apa yang di lakukan oleh sang suami.
Kini hingga tiba waktunya untuk bercocok tanam, Boo Young mengambil sebatang kayunya untuk ia tancapkan di ladang milik Avril, tetapi belum sempat Boo Young menancapkan sebatang kayu itu, tangisan si kembar menghentikan aktifitasnya.
Dan Avril beranjak dari ranjang merapikan pakaiannya dan menghampiri si kembar dan memberi mereka minum ASI. Sedangkan Boo Young tampak kecewa dan duduk di bibir ranjang dengan hanya berbalut handuk di pinggangnya.
Bersambung....