
Setelah dua hari, akhirnya Avril di perbolehkan memberi asi kepada si kembar. Raut bahagia pun terpancar dari wajah manisnya. Terlihat bayi kembar mungil yang belum ia kasih nama meminum ASI dengan agresif. Rasa ASI memang berbeda dengan susu formula, maka dari itu si bayi kembar sangat menikmati tetes demi tetes ASI yang keluar.
Avril tampak kesulitan ketika memberi ASI pada si kembar secara bersamaan. Seorang perawat beberapakali mengajarinya, beruntung saat itu sang suami sedang menemaninya, jadi dengan bantuan Boo Young, akhirnya Avril bisa menyusui si kembar sekaligus.
"Sayang, kamu kasih nama bayi kita!" Suruh Avril sambil menyusui si kembar.
"Nanti setelah kamu menyusui, kita diskusikan berdua ok!" Sahut Boo Young bersemangat.
Sebenarnya Boo Young belum sempat memikirkan nama untuk bayi kembarnya. Setiap malam ia tidak bisa tidur memikirkan nasib perusahaannya. Sedangkan Dinna berkali-kali mengancamnya untuk membuat perusahaan besar tidak mau bekerjasama dengan perusahaan Boo Young. Walaupun begitu, Boo Young selalu memperlihatkan wajah bahagianya dan tidak menceritakan masalahnya kepada siapapun.
Hal itu ia lakukan agar orang-orang yang ia cintai tidak merasakan kesedihan dan khawatir yang dia rasakan. Ia juga melarang Eun Soo menceritakan apapun tentang permasalahan perusahaan kepada Avril. Boo Young yakin, suatu saat nanti dia akan menemukan jalan keluar dari permasalahannya. Saat ini yang ia butuhkan adalah perusahaan besar yang mau menyuntikan dana pada perusahaannya, sehingga perusahaannya mampu memasarkan produknya sendiri.
"Sayang, kenapa kamu melamun?" Tanya Avril yang melihat suaminya melamun.
"Maaf sayang, aku lagi memikirkan nama untuk bayi kita!" Jawab Boo Young berbohong.
Padahal saat itu ia sedang memikirkan masalah di perusahaannya. Tapi sebisa mungkin ia menutupi hal itu dengan senyuman di wajahnya.
Karena Avril sudah selesai menyusui si kembar, ia pun meletakkan si kembar ke dalam ranjang bayi. Lalu mereka berdua mulai berdiskusi untuk memberi nama anak mereka.
"Karena kamu Ayah dari si kembar, jadi aku beri kepercayaan kepadamu untuk memberi nama mereka." Kata Avril sambil menggenggam tangan sang suami.
"Aku sebenarnya tidak ingin menamai mereka dengan nama Korea." ungkap Boo Young.
Kemudian Boo Young menyodorkan selembar kertas yang tertulis nama anak kembar mereka. Tetapi masing-masing memiliki dua nama, jadi Boo Young menyuruh Avril untuk memilih nama-nama tersebut. Afifah-Abidah dan Andriana-Indriana nama-nama yang tertulis oleh Boo Young di kertas itu.
"Bagaimana kalau kita suruh Calvin saja yang memilih namanya?" Ide Avril.
"Ide yang bagus!" Kata Boo Young bersemangat.
Tiba-tiba handphone Boo Young berbunyi, ia pun segera mengangkatnya karena panggilan itu dari sekertarisnya.
Raut wajah Boo Young seketika berubah setelah mengangkat panggilan itu. Setelah selesai menelpon, Boo Young kemudian meminta ijin kepada Avril untuk pergi ke kantor.
"Sayang, boleh tidak aku pergi ke kantor sebentar. Karena ada hal yang harus aku selesaikan." Pamit Boo Young.
"Tentu saja boleh, Semoga masalah di kantor cepat selesai." Sahut Avril mendoakan.
Mendapat ijin dari Avril, Boo Young pun kemudian berdiri dari duduknya dan berjalan keluar ruangan. Sebelum ia keluar dari ruangan, Boo Young terlebih dahulu mencium kening Avril.
Sebenarnya Boo Young tidak tega meninggalkan Avril dan si kembar sendirian di rumah sakit. Tetapi di harus ke kantor untuk menyelesaikan masalahnya dengan Dinna.
Sesampainya ia di kantor, Boo Young kemudian menemui Dinna yang sudah menungguinya di lobby perusahaan. Karena dia tidak ingin di lihat orang banyak, Boo Young kemudian mengajak Dinna ke ruang meeting.
"Aku sudah tidak butuh kerjasama dengan perusahaan mu! jadi tolong, jangan pernah datang lagi ke perusahaan ku!" Bentak Boo Young dengan nada tinggi.
Boo Young menyunggingkan bibirnya, ia tersenyum sinis ke arah Dinna. Kali itu Boo Young benar-benar memandang Dinna sebagai wanita murahan yang tidak bermoral.
"Asal kamu tahu, lebih baik aku jatuh miskin dari pada aku menjalin hubungan dengan wanita murahan sepertimu!" Kata Boo Young meledek Dinna.
Dinna tampak kesal setelah mendengar perkataan Boo Young. Baru kali ini dia merasakan rasanya di tolak oleh pria yang ia sukai. Kalau biasanya ia selalu menolak pria-pria di luar sana, berbeda dengan saat itu yang malah tidak di anggap oleh pria yang sudah beristri.
Memang banyak wanita di luar sana lebih cantik dan seksi, tetapi tidak semua pria tergiur dengan hal itu. Karena pria yang setia itu selalu mengingat istri dan anak-anaknya yang sedang menunggunya pulang.
Walaupun dulu Boo Young termasuk pria playboy, tetapi kini baginya Avril lebih dari cukup. Avril yang selalu memanjakannya, memperhatikannya dan mampu mengimbangi amarahnya. Itulah yang di butuhkan seorang suami, yang membuat Boo Young ingin selalu di dekat sang istri.
"Kamu cantik dan kaya, tapi sayangnya harga dirimu terlalu murahan. Kamu tahu, tidak semua laki-laki menyukai wanita seperti mu, jadi jangan berlagak sombong atas kekuasaan mu di hadapanku!" Kata Boo Young menekankan.
Dengan kesal Dinna keluar dari ruang meeting, sedangkan Boo Young tersenyum dengan bangganya karena sudah berhasil membuat Dinna marah dan pergi. Tak menyangka dirinya bisa menolak seorang Dinna yang begitu cantik dan aduhai.
Kekuatan cinta terhadap Avril membuatnya mati rasa terhadap wanita lain. Ia pun keluar dari ruang meeting itu dan langsung pergi ke ruang kerjanya. Kemudian ia memanggil semua team eksekutif untuk memberikan ia laporannya.
"Bagaimana dengan perusahaan X, apakah mereka masih belum menunjukan tanda-tanda ketertarikan mereka dengan perusahaan kita?" Tanya Boo Young kepada salah satu team eksekutif.
"Belum ada satupun perusahaan besar yang mau bekerjasama dengan perusahaan kita." Jawabnya.
Boo Young hanya bisa mendengus kesal, lalu ia menyuruh team eksekutif keluar dari ruangannya. Merasa tidak ada yang bisa ia lakukan, ia pun berdiri dari kursi kebesarannya. ia kembali ke hotel yang ia sewa dekat rumah sakit, ia mandi dan berganti pakaian.
Setelah semua selesai, ia kemudian balik ke rumah sakit. Di sana sudah ada orangtuanya dan Calvin di dalam ruangan. Sang mama terlihat sedang menyuapi Avril dan Calvin mencoba mengajak bicara adiknya. Sedangkan sang papa makan spaghetti dan duduk di sofa yang ada di sana.
Melihat orang yang ia kasihi terlihat bahagia, membuat Boo Young seperti memiliki kekuatan lagi. Semangatnya untuk membahagiakan mereka pun terngiang-ngiang di kepalanya.
Calvin yang menyadari kedatangan papanya, ia pun berlari dan memeluk sang papa. Calvin sangat merindukan Boo Young, karena semenjak Avril melahirkan, dia jarang ada waktu untuk Calvin. Boo Young kemudian menggendongnya dan menghampiri Avril.
"Wahhh... sedang makan apa neeh? enaknya di suapi!" Ledek Boo Young.
"Kamu juga mau di suapi?" Sahut sang mama.
Jie Hyo pun menyodorkan sesendok makanan di mulut Boo Young. Tentu saja Boo Young tidak menolaknya dan langsung melahap isi sendok itu. Calvin pun menertawakan Papanya yang seperti anak kecil.
Kemudian Boo Young menurunkan Calvin dan mengambil sebuah kertas yang tadi ia berikan kepada Avril dan ia berikan kepada Calvin. Lalu Boo Young menyuruh Calvin untuk memilih nama untuk sang adik kembarnya.
"Bisakah kau memilih nama untuk adik kembar mu?" Suruh Boo Young.
Pilih Afifah-Abidah atau Andriana-Indriana?
Bersambung...